I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Memberikan banyak luka


__ADS_3

Kemudian Aeleasha meraih piring berisi makanan dan kembali duduk, lalu menikmati makanannya. Ia ingin makan banyak untuk mengisi tenaga karena masih ada rencana yang belum diselesaikan.


Seperti yang dikatakan oleh Rafael, setelah makan, mereka akan pergi ke Mall terbesar di kota itu dan membiarkan Arza bermain di time zone sepuasnya.


Padahal ia sebenarnya merasa sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh, tetapi tidak ingin sendirian menghabiskan waktu di dalam kamar.


Sementara itu, akhirnya Rafael hanya menuruti perintah dari Aeleasha karena sibuk dengan Arza yang sudah merengek di pangkuannya.


"Baiklah, kamu makan saja. Aku akan mengajak putraku berkeliling di sekitar sini. Lihatlah dia, masih seperti dulu. Arza tidak pernah bisa diam karena sangat aktif. Ayo, Sayang. Kita jalan-jalan, oke."


Aeleasha hanya mengangguk perlahan dan mengangkat tangan membentuk simbol oke dengan ibu jari dan telunjuk.


Sementara Rafael sudah menggandeng tangan mungil Arza yang berlari kecil. Seolah menjelaskan rasa bosan ketika berada di dalam restoran mewah itu.


"Sabar, Putraku! Astaga! Apa kamu akan selalu seperti ini hingga besar nanti? Sangat aktif dan tidak pernah bisa diam," ucap Rafael yang sudah berjalan mengikuti langkah kaki mungil bocah laki-laki itu.


Masih tersenyum simpul, Rafael terlihat berbinar karena merasa sangat bahagia karena bisa bersama bocah laki-laki yang dianggapnya seperti anak kandung sendiri tersebut. Ia sudah berada di area luar restoran dan mengikuti Arza ke manapun berjalan.


Sementara itu, di dalam restoran, Aeleasha terlihat menikmati makanannya. Ia ingin makan banyak sebagai sumber tenaga. Namun, baru separuh, ia merasa perutnya seperti diaduk-aduk dan refleks langsung membekap mulutnya.


Bahkan Aeleasha sudah buru-buru bangkit berdiri dari posisinya saat ini dan berlari ke toilet dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari. Hingga tatapannya berhenti pada satu titik, yaitu sebuah gambar yang ada tulisan toilet.


Begitu berada di dalam toilet, ia sudah memuntahkan seluruh isi perutnya. Tentu saja makanan yang tadi dimakan keluar semua.


Hal itu membuat tubuhnya sangat lemas dan wajah pun semakin pucat. Tidak hanya itu saja, bahkan bulir air mata sudah menghiasi bola mata Aeleasha saat ini.


Hingga beberapa saat kemudian, Aeleasha menangis tersedu-sedu di dalam toilet tanpa membekap mulut karena berpikir tidak akan ada yang mengenalnya.

__ADS_1


Ia sama sekali tidak memperdulikan tanggapan dari beberapa orang yang mungkin berada di dalam toilet. Aeleasha hanya ingin menumpahkan semua kesedihan yang saat ini dirasakan ketika mengetahui bahwa sekarang hamil anak kedua dari benih Arsenio.


'Kenapa aku hamil selalu disaat yang tidak tepat? Apakah ini sudah menjadi takdir hidupku yang menderita ketika ada janin di rahimku? Apa yang saat ini dilakukan oleh suamiku?'


'Apakah ia merasa kehilangan setelah mengetahui aku kabur bersama Arza? Apa suamiku kebingungan dan mencariku? Kenapa aku masih memikirkan pria yang telah menyakiti hatiku?'


Saat ini, Aeleasha masih berada pada posisi berjongkok di lantai toilet dengan wajah sembab penuh air mata. Entah sudah berapa menit ia menangis tanpa mempedulikan apapun.


Hingga ia menyadari bahwa Arza saat ini mungkin mencarinya, membuat Aeleasha memilih untuk bangkit berdiri secara perlahan.


Ia menunduk sambil mengusap perutnya yang datar. "Sayang, kamu harus kuat seperti saudara laki-lakimu. Bantu mommy agar tidak terpuruk saat daddy-mu tidak bersama kita."


Aeleasha kemudian berjalan keluar setelah membersihkan diri. Bahkan ia mencuci muka di depan wastafel, agar tidak terlihat jelas baru saja menangis.


'Brother tidak boleh mengetahui jika saat ini aku hamil. Jika sampai ia tahu, akan membuat hubungannya dengan Alesha kacau. Tidak, jika sampai itu terjadi, akulah yang salah dan berdosa.'


Puas beragumen sendiri di dalam hati, akhirnya Aeleasha memilih untuk berjalan keluar dari toilet dan membulatkan mata begitu melihat pria yang baru saja ia gumamkan ternyata ada di depannya.


"Brother? Kenapa ada di sini? Bukankah tadi keluar dari restoran untuk mengajak Arza berkeliling?"


Sementara itu, Rafael saat ini menatap intens sosok wanita di hadapannya dan membuatnya memicingkan mata ketika melihat wajah Aeleasha masih basah. Menandakan bahwa wanita itu baru saja mencuci muka.


"Arza merasa sangat bosan dan mencarimu, tapi kamu tidak ada. Jadi, aku bertanya pada waiters dan mengatakan jika kamu berlari ke toilet. Sekarang jelaskan padaku! Kenapa menangis lagi? Apa kamu kembali mengingat bajingan itu? Bukankah tadi aku sudah mengatakan untuk melupakan Arsenio khusus hari ini?"


Tidak ingin membuat sosok pria di hadapan tersebut khawatir dan menuduhnya macam-macam, akhirnya Aeleasha langsung menggelengkan kepala. Seolah menegaskan bahwa pemikiran mantan suaminya salah.


"Kamu salah, Brother. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan karena aku tadi sakit perut. Jadi, langsung berlari ke toilet, tapi sekarang sudah mendingan. Apa sekarang saja kita berangkat ke Mall? Aku ingin menguras habis isi kartu kreditmu sebelum kamu menikah."

__ADS_1


"Setelah menikah, semua uangmu adalah milik istrimu. Jadi, aku tidak mungkin bisa memintanya karena sangat tidak pantas jika merampas hak Alesha."


Alesha sengaja mengalihkan perhatian Rafael, agar tidak lagi mengungkit tentang Arsenio karena hanya semakin membuatnya bersedih.


Sementara itu, Rafael melupakan pertanyaan yang sebenarnya menunggu jawaban dari Aeleasha karena ia saat ini tersenyum lebar saat menanggapi keinginan dari wanita wajah cantik tersebut.


"Aku sama sekali tidak keberatan kamu melakukan itu. Bahkan meskipun statusku di nanti sudah menikah, itu tidak akan merubah apapun karena hanyalah sebuah perjanjian semata."


"Perjanjian pernikahan yang tidak akan merubah perasaanku padamu karena aku sangat mencintaimu dari dulu hingga sekarang."


Seperti biasa, Aeleasha hanya bisa menelan kasar saliva saat untuk kesekian kali Rafael kembali menyatakan cinta padanya dan tentu saja tidak bisa dibalas dengan jawaban menerima.


"Apakah aku perlu mengulangi jawabanku, Brother? Apa kamu tidak merasa bosan mendengarnya?" Aeleasha diam tak berkutik begitu bibirnya dibungkam oleh Rafael dengan jari telunjuk dan sebuah gelengan kepala.


"Tidak! Kamu hanya perlu mendengarnya saja karena aku tidak butuh jawabanmu Jika Itu adalah sebuah penolakan. Aku baru mau mendengarkan jika kamu menjawab iya." Rafael kemudian menurunkan jari yang berada di bibir merah Aeleasha karena beralih menggandeng pergelangan tangan kiri wanita itu.


"Izinkan aku untuk menggenggam tangan ini hanya untuk hari ini. Aku tidak tahu apakah memiliki kesempatan di lain hari. Jadi, aku ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum menyesal karena sebentar lagi akan menikah."


"Setelah menikah, tidak mungkin bisa melakukan hal kecil seperti ini karena akan mencemarkan nama baikmu jika sampai dianggap sebagai perusak rumah tanggaku."


Tanpa menunggu jawaban dari Aeleasha, Rafael sudah berjalan menuju ke arah pintu keluar dengan menggenggam arah pergelangan tangan kanan mantan istrinya itu sambil menggendong Arza.


Sementara Aeleasha hanya diam karena tidak ingin menyakiti sosok pria yang sangat berjasa besar pada hidupnya. Seperti yang dikatakan oleh Rafael tadi, atas dasar balas budi, ia memilih untuk memenuhi keinginan mantan suami sirinya tersebut.


'Aku hanya bisa melakukan ini untuk membahagiakanmu setelah banyak luka yang kuberikan padamu, brother,' gumam Aeleasha yang hanya bisa mengungkapkan apa yang dirasakan di dalam hati.


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2