I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Menunggu ucapan terima kasih


__ADS_3

Tubuh Rafael seketika terempas ke lantai dan saat ia berniat untuk bangun, sudah ditahan oleh Alex karena duduk di atasnya dan langsung mengarahkan pukulan bertubi-tubi pada wajahnya.


"Dasar pria bodoh dan berengsek! Aku benar-benar akan menghabisimu, berengsek!" Alex sudah tidak bisa lagi bersabar melihat wanita yang ia cintai sepenuh hati mendapatkan perlakuan kasar dari Rafael yang selalu mengancam.


"Aku tidak rela Alesha yang sama sekali tidak bersalah selalu hidup dengan mendapatkan ancaman dari pria berengsek sepertimu, Rafael! Ini adalah hukuman yang pantas untuk pria yang bahkan tidak mengakui darah dagingnya sendiri!"


Alex benar-benar murka dan seperti orang kesetanan saat mengarahkan pukulan bertubi-tubi pada pria di bawahnya. Ia sama sekali tidak perduli pada Rafael yang mencoba untuk melindungi diri dengan menutupi wajah dan berusaha melawan.


Satu-satunya hal yang membuatnya ingin menghabisi Rafael adalah karena Alesha tengah mengandung, tapi tidak mendapatkan perhatian. Namun, malah dituduh melakukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah dilakukan bersamanya.


"Alex, hentikan!" teriak Alesha dengan suara serak karena tubuhnya sangat lemah.


Ia seperti tidak punya tenaga untuk sekedar berteriak. Apalagi melihat respon dari Rafael yang penuh kebencian padanya saat pemikirannya benar.


Bahwa Rafael sama sekali tidak mengakui janin yang ada dalam rahimnya dan malah menuduh Alex adalah ayah biologisnya. Awalnya ia berjanji tidak akan pernah memaafkan Rafael yang menuduhnya.


Hanya kebencian yang dirasakan olehnya dan berjanji tidak akan pernah mau menemui Rafael lagi. Namun, begitu melihat Alex yang menghukum Rafael dengan meninju wajah bertubi-tubi, tentu saja membuatnya berubah pikiran dalam hitungan detik.


Alesha sangat mengkhawatirkan keadaan Rafael dan tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada pria yang sangat dicintainya tersebut. Jadi, berusaha untuk melakukan apapun untuk menyelamatkan Rafael dengan menghentikan Alex yang kesetanan.


"Namun, teriakannya seolah sama sekali tidak diperdulikan oleh Alex yang masih mengarahkan pukulan bertubi-tubi pada pria yang saat ini masih telentang di atas lantai dengan tubuh diduduki.


"Alex, berhenti! Aku akan sangat membencimu jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada Rafael!"


Namun, Alex tetap tidak memperdulikan larangan Alesha karena masih ingin meledakkan amarah dengan membuat wajah Rafael hancur agar wanita yang dicintainya tidak lagi mencintai pria itu.


"Aku akan membunuhnya, Alesha. Pria seperti ini tidak pantas untuk dibela wanita baik sepertimu!" Alex bahkan semakin menghujam pukulannya lebih kuat.


Sementara itu, Rafael yang berusaha untuk menutupi wajah dengan lengannya sambil melawan, lama-kelamaan kalah juga dan merasakan kenyerian luar biasa saat bogem Alex mendarat beberapa kali.


Hingga ia mendengar suara bariton dari Alex saat penuh kemurkaan ketika tidak menyalahkannya. Belum sempat ia memikirkan tentang kata-kata Alex, semakin terkejut dengan suara teriakan Alesha yang juga sudah menangis tersedu-sedu.


"Jangan, Alex! Hentikan! Jangan menyakitinya karena aku tidak akan pernah bisa memaafkan diri sendiri saat terjadi hal yang buruk padanya. Tolong jangan buat ayah dari anakku mati karena aku sangat mencintainya!"


Alesha bahkan sudah tidak lagi duduk di kursi roda karena buru-buru bangkit berdiri. Bahkan tidak hanya diam di belakang Alex yang masih duduk di atas tubuh Rafael yang sudah babak belur karena mencoba untuk menghentikan.

__ADS_1


"Berhenti, Alex!" teriak Alesha yang kini menarik kerah kemeja dari Alex agar segera berhenti memukuli Rafael yang terlihat penuh darah di bagian wajah dan membuatnya merasa sangat bersalah sekaligus tidak tega dan iba.


Hal inilah yang ditunggu-tunggu oleh Alex agar Alesha mengatakan hal yang sebenarnya pada pria yang dipukulinya agar sadar dan tidak selalu berkata-kata kasar dengan menuduh yang tidak pernah dilakukan.


Alex sebenarnya menemui Alesha siang ini karena ingin mengatakan bahwa ia rela melepaskan wanita yang sangat dicintainya tersebut karena sudah mengetahui bagaimana perasaan Rafael saat tadi menemui di kantor.


Ia datang ke perusahaan Rafael hanya ingin memastikan bagaimana perasaan pria itu pada Alesha agar bisa mengambil keputusan apakah ia akan terus bertahan menyiksa diri untuk menunggu wanita yang dicintai berpaling padanya.


Atau memilih merelakan setelah mengetahui bahwa Rafael mempunyai perasaan yang sama seperti Alesha. Bahwa keduanya sama-sama saling mencintai, tetapi tidak pernah mau mengakuinya karena alasan keadaan.


Ia mengetahui bahwa Rafael mencintai Alesha. Karena tadi tidak mau melepaskan wanita yang sangat dicintainya.


Hal itu menunjukkan bahwa seorang pria sangatlah mencintai wanita hingga tidak mau melepaskan untuk pria lain. Meskipun dengan banyak alasan karena merasa gengsi untuk mengakuinya.


Jadi, begitu suara teriakan menyayat hati dari wanita yang menariknya agar melepaskan Rafael, membuat Alex kini merasa dadanya terasa sesak dan terjatuh di sebelah pria yang sudah berkali-kali dipukul dengan tangannya.


'Ternyata rasanya sesakit ini saat mendengarmu mengatakan kejujuran ketika mengakui perasaanmu pada pria sialan ini yang telah merebutmu dariku, Alesha. Padahal aku ingin mendengarnya langsung darimu sudah cukup lama, tapi ternyata rasanya sangat sakit sekali.'


Alex merasa dadanya berdegup kencang dengan tangan gemetar begitu mendengar pengakuan cinta wanita yang sangat dicintainya pada pria lain.


Bahkan bola matanya berkaca-kaca saat ini karena tidak kuasa menahan kesedihan karena merasa bahwa cintanya saat ini sudah kandas dan sama sekali tidak punya harapan.


"Lihatlah ini? Jika hatiku bisa terlihat, seperti inilah yang terjadi saat kamu mengakui perasaanmu." Alex saat ini tengah menatap wajah pucat dengan dihiasi bulir air mata yang sebenarnya membuatnya tidak tega dengan mengatakan apa yang dirasakan.


Hingga ia pun merasa sangat bersalah saat melihat Alesha menangis tersedu-sedu di hadapannya.


"Alex, maafkan aku. Aku tidak tahu jika semuanya akan jadi seperti ini. Ini bukanlah kemauanku karena semuanya terjadi tanpa bisa kukendalikan. Maafkan aku karena menyakitimu."


Alesha sebenarnya ingin sekali meraih telapak tangan yang masih terlihat gemetar itu, tapi ia tidak bisa melakukannya karena menyadari ada batasan di antara pria dan wanita.


Bahwa saat ini statusnya masih menjadi istri Rafael dan mengandung benih pria yang telentang di atas lantai dan menjadi pusat perhatian dari beberapa orang yang melintas.


Seolah semua orang yang berkerumun untuk melihat ke arahnya, seperti tengah menonton syuting film. Alesha sama sekali tidak memperdulikan hal itu karena satu-satunya yang dipikirkan hanyalah ingin menghentikan ulah Alex yang berniat untuk menghabisi pria yang dicintainya.


Hingga ia tidak bisa menghentikan bulir air mata yang sudah menganak sungai di wajahnya saat melihat Alex yang patah hati dan kecewa karena ditolak olehnya.

__ADS_1


Bahkan tidak hanya itu karena saat ia masih belum bisa menenangkan diri, melihat sosok pria yang tak lain adalah Rafael perlahan bangkit dari posisi dan langsung mengeluarkan suara bariton sambil menatapnya.


"Apa? Apa yang kamu katakan tadi Alesha? Aku ayah dari janin di rahimmu? Bagaimana bisa? Bukankah kita tidak pernah sekalipun melakukannya?" Rafael kita akan berbicara sangat lirih ketika bertanya dengan wajah penuh pertanyaan dan penasaran.


Namun, yang terjadi adalah sebaliknya karena wanita yang ia ajak bicara sama sekali tidak mau menjawab pertanyaannya dan bangkit berdiri meninggalkannya menuju ke arah IGD.


"Alesha, tunggu!" teriak Rafael dengan merasakan rasanya di luar biasa pada bagian sudut bibir dan wajah ketika berteriak.


Ia berdiri dengan tubuh sempoyongan untuk mengejar wanita yang sudah menghilang di balik pintu dan diikuti oleh perawat yang mendorong kursi roda.


Bahkan sama sekali tidak memperdulikan Alex yang membuatnya babak belur hingga meringis kesakitan karena satu-satunya yang ingin diketahui hanyalah kenyataan mengenai pernyataan Alesha yang membuatnya benar-benar sangat terkejut hari ini.


Rafael ingin berbicara empat mata dengan Alesha tanpa adanya orang-orang yang menonton aksi baku hantam yang beberapa saat lalu terjadi.


'Apa yang sebenarnya terjadi? Apa Alesha jujur mengatakan pada Alex bahwa aku adalah ayah dari janin yang dikandungnya? Ia bahkan mengatakan pada Alex sangat mencintaiku dan tidak ingin terjadi sesuatu padaku?'


'Apa maksud semua ini sebenarnya? Kenapa saat aku berpikir bahwa pria yang dicintai oleh Alesha adalah Alex dan akan segera menikah setelah kami bercerai secara sah di pengadilan, ternyata yang terjadi malah sebaliknya?'


Rafael bahkan bisa melihat raut wajah mengenaskan dari Alex yang terlihat sangat kecewa dengan pengakuan Alesha yang meminta maaf karena tidak bisa menerima cinta pria itu.


Jadi, sekarang dengan menahan rasa sakit di wajah serta bibirnya, Rafael langsung berjalan menuju ke arah IGD untuk menyusul Alesha.


Sementara itu, Alex yang saat ini masih terduduk di lantai dengan menopang kedua lutut, seketika tertawa terbahak-bahak seperti orang tidak waras karena merasa bahwa nasibnya sangat miris hari ini karena cerita cintanya sudah berakhir.


Bahkan ia sama sekali tidak memperdulikan jika dianggap orang gila oleh semua orang yang menatapnya. Ia hanya ingin melepaskan rasa yang memuncak dengan tertawa terbahak-bahak untuk meredakan semua rasa sedihnya saat patah hati luar biasa.


'Alesha, aku sangat mencintaimu dan ingin kamu hidup bahagia. Meski tidak bersamaku. Aku akan mencoba membuang rasa cinta ini, meskipun sadar tidaklah mudah,' gumam Alex yang saat ini masih tidak berniat untuk bangkit dari lantai.


Hingga ia mendengar suara dari belakang dan membuatnya menoleh ke arah belakang. Ia kini melihat seorang wanita muda dengan seragam putih yang mengulurkan coklat padanya.


Alex bahkan kini menatap kesal pada wanita dengan name tag dokter muda tersebut karena berani mengajaknya berbicara saat sedang patah hati.


"Makanlah ini karena kandungan dalam coklat bisa membangkitkan kebahagiaan bagi orang yang tengah patah hati sepertimu."


"Dasar wanita gila!" sarkas Alex yang kini bangkit berdiri tanpa menerima coklat yang diberikan padanya karena ia memilih untuk berlalu pergi menuju ke arah parkiran tanpa menoleh ke belakang lagi.

__ADS_1


"Selamat tinggal Alesha. Tugasku sudah selesai dan aku menunggu saat kamu mengucapkan terima kasih padaku setelah hidup berbahagia dengan Alesha."


To be continued...


__ADS_2