
Suara gemericik air yang terdengar oleh Alesha kini berhenti. Menandakan bahwa sosok pria yang dari tadi dipikirkan sudah selesai mandi dan pastinya sebentar lagi akan keluar dari kamar mandi.
Karena tidak ingin ketahuan oleh Rafael bahwa ia sebenarnya belum tidur, kini buru-buru memejamkan mata kembali seperti beberapa saat lalu dan ingin mendengar apa yang dilakukan oleh pria yang setiap hari pulang malam dan tidak pernah berkomunikasi dengannya.
Selama dua minggu terakhir ini, Alesha sebenarnya merasa sangat tersiksa karena selalu cuek dan tidak berkomunikasi saat malam hari dan ketika pagi hari berakting seperti layaknya istri sesungguhnya di depan mertua.
Meskipun melakukan itu hanya saat berada di luar kamar dan kembali dingin ketika berada di dalam. Padahal ia ingin sekali melihat Rafael mengungkapkan ada protes pada sikap datarnya, tetapi seolah pria itu sama sekali tidak peduli dan membiarkan berbuat sesuka hati.
Hal itu membuat Alesha merasa sangat kesal sekaligus marah, tetapi tidak bisa mengungkapkan karena berpikir jika sampai murka karena ketidakpedulian Rafael padanya, akan ditertawakan karena sangat konyol.
'Rasanya aku sudah tidak kuat lagi untuk menahan semuanya. Aku harus menahan diri untuk tidak marah pada Rafael yang sama sekali tidak peduli padaku.'
Saat Alesha yang memejamkan mata mendengar suara pintu kamar mandi dibuka dan juga suara langkah kaki Rafael, kini masih menunggu apa yang akan dilakukan pria itu.
Meskipun sudah menduga bahwa Rafael akan ganti pakaian santai dan tidur di sofa seperti biasanya, tetap saja ingin mengetahui sesuatu yang lain yang dilakukan pria itu.
Sementara itu, Rafael yang saat ini mengenakan handuk sebatas pinggang dan bulir air membasahi wajah, sekilas menatap ke arah sosok wanita yang dari tadi belum berubah posisi karena masih sama seperti sebelumnya.
"Ia bahkan tertidur seperti kerbau karena sama sekali tidak terbangun mendengar kepulanganku." Kemudian berjalan ke arah ruang ganti untuk mengambil pakaian.
Beberapa saat kemudian, Rafael yang sudah memakai pakaian santai, mendaratkan tubuhnya di atas sofa dan menggosok rambut yang masih basah. Ia bahkan tidak mengalihkan pandangan pada siluet wanita di atas ranjang.
'Rasanya sangat aneh dan seperti ada batas di antara kami semenjak aku hampir saja kebablasan. Kenapa aku bisa sebodoh itu dan ia terlihat sangat menikmati perbuatanku.'
'Apakah ia memang sangat menikmatinya? Apakah tidak ada sesuatu yang dirasakannya?' gumam Rafael yang saat ini tengah memikirkan sesuatu mengganjal di hatinya mengenai Alesha.
__ADS_1
Rafael mengembuskan napas kasar dan ia benar-benar merasa sangat miris ketika mengingat mengenai status pernikahan yang dua kali dijalaninya dan seperti tidak ada perubahan sama sekali.
Bahkan ketika mengingat hal itu, ia tertawa miris mengungkapkan apa yang saat ini dirasakan. "Aku sudah menikah dua kali, tapi melakukan apapun sendiri."
"Menikah adalah hal paling konyol dalam hidupku," ujar Rafael yang saat ini melempar handuk kecil di tangan ke lantai.
Tanpa berniat untuk menyisir rambutnya yang masih basah, Rafael saat ini mengempaskan tubuhnya dengan berbaring di sofa dan tentu saja kakinya yang panjang menggantung karena tidak menopang seluruhnya.
Bahkan ia meletakkan tangan dengan menutup kedua mata dan menghembuskan napas kasar yang menghiasi ruangan kamar.
Merasa bahwa hidupnya sama sekali tidak ada yang berubah karena hanya berstatus sebagai suami di atas kertas, membuatnya menyesal melakukan sebuah pernikahan atas dasar perjanjian semata.
Sempat ia berpikir untuk mempertahankan pernikahan yang bermula dari sebuah perjanjian semata dengan Alesha, tapi masih bimbang karena khawatir pada mantan istrinya.
Apalagi saat ini posisi mantan istrinya tengah hamil dan membutuhkan perhatiannya karena tidak ada suami yang memperhatikan.
"Lalu, apakah hal yang sama dilakukan oleh Arsenio dan sangat membenci Aealeasha begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya?" Rafael yang tadinya menutup mata dengan tangan, kini menyingkirkannya dan bisa menatap langit-langit kamar dengan cahaya lampu remang-remang.
Ia selama ini memikirkan nasib mantan istrinya, tapi tidak tega mengatakan hal yang sebenarnya dalam posisi hamil muda.
"Aku tidak boleh mengatakan hal yang sebenarnya pada Aealeasha karena akan berakibat buruk pada janin yang dikandung." Rafael yang baru saja menutup mulut, berjenggit kaget begitu mendengar suara dari Alesha.
"Apa maksudmu? Aealeasha hamil? Lalu ibu mantan istrimu yang menjadi penyebab utama kematian orang tua suaminya?"
Alesha yang tadinya ingin berpura-pura tertidur dan hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rafael, seketika membulatkan mata begitu mengetahui kenyataan tersebut.
__ADS_1
Refleks ia berbalik badan dan menatap ke arah sosok pria yang berbaring di atas sofa tersebut. Bahkan segera bangkit untuk menghampiri agar bisa berbicara lebih dekat karena sangat penasaran dari mana Rafael tahu mengenai semua itu.
"Katakan padaku karena aku ingin tahu semuanya!" Alesha benar-benar ingin mengetahui awal mula dari semua hal yang membuatnya merasa curiga pada pria di hadapannya tersebut.
Bahkan Alesha saat ini berpikir beberapa kemungkinan yang terlintas di kepala karena mengetahui bahwa sang suami masih belum bisa move on.
Meskipun ia tahu bahwa menyebutkan kata suami bisa dibilang sangat konyol karena di antara mereka hanyalah sebuah pernikahan di atas kertas semata.
Rafael yang tadinya terlentang di atas sofa seketika bangkit dan ini duduk sambil menatap wanita yang terlihat sangat penasaran tersebut.
"Bukankah kamu dari tadi tidur? Atau kamu memang belum tidur karena hanya berpura-pura?" Rafael berbicara dengan memicingkan mata untuk menatap manik kecoklatan wanita yang sudah mendengarkan semua ocehannya.
'Sial! Kenapa aku tadi malah mengoceh kesana-kemari dan didengar oleh Alesha? Sekarang ia jadi tahu semuanya. Bagaimana bisa aku menjelaskan bahwa saat ini Aealeasha ada di Jakarta?'
"Cepat jawab saja dan jangan mengalihkan pembicaraan!" sarkas Alesha dengan raut wajah kesal dan kini memilih untuk mendaratkan tubuhnya di sebelah pria yang seolah ingin mengalihkan pembicaraan dan tidak mau menceritakan hal yang baru saja didengar olehnya.
"Aku tadi tidak sengaja terbangun saat mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka, tapi memang tidak langsung bangun karena berniat untuk melanjutkan tidur. Namun, kebetulan kamu berbicara mengenai mantan istrimu dan aku bisa mendengar semuanya."
Alesha bahkan saat ini tidak mengalihkan pandangan pada pria yang seolah hendak bersembunyi dari pertanyaannya. Ia berharap Rafael mau menceritakan semuanya kepadanya.
"Apakah Aealeasha saat ini ada di Jakarta?" Akhirnya ia mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
Hingga ia seketika langsung lemas saat melihat sosok pria yang ada di hadapannya menganggukkan kepala. Padahal sejujurnya ia ingin sekali Rafael tidak mengiyakan tuduhannya.
'Ya Tuhan, apa yang kutakutkan benar-benar terjadi. Kenapa semuanya terjadi saat aku mulai merasakan hatiku bergetar karenanya? Apa yang harus kulakukan sekarang saat Rafael selalu menghabiskan waktu dengan mantan istrinya?'
__ADS_1
To be continued...