
Alesha bahkan kini tersenyum sendiri seperti orang gila begitu mertua dan sang ibu pergi setelah berpamitan padanya. Kalimat bernada godaan dari Rafael membuatnya merasa sangat berbunga-bunga.
Meskipun itu hanyalah sebuah candaan untuk menggodanya, tetap saja ia merasa jika hal simpel tersebut sangat mewakili perasaannya. Bahwa ia memang ingin saling mengungkapkan perasaan jika nanti hanya berdua.
'Ibu dan mama sangat pengertian sekali dengan memberikan kesempatan untuk kami berduaan,' gumam Alesha yang kini melihat Rafael datang bersama perawat sambil membawa kursi roda.
"Biar saya lepas dulu infusnya, Nyonya." Sang perawat kini melakukan tugasnya sesuai dengan prosedur setelah pasien dan anggota keluarga melakukan banyak keributan di Rumah Sakit.
Tentu saja mereka jauh lebih senang jika pasien itu pulang saja daripada kembali melakukan hal sama seperti beberapa saat lalu.
Sementara itu, Alesha hanya menganggukkan kepala sambil menatap ke arah pria yang seperti tengah menggodanya. Ia mengerucutkan bibir ketika melihat Rafael malah mengedipkan mata ke arahnya sambil tersenyum menyeringai.
'Kenapa Rafael berubah menjadi pria nakal, sih! Menyebalkan. Aneh sekali melihatnya seperti itu,' gumam Alesha yang kini hanya diam saja dan berniat untuk memberikan hukuman saat nanti berada di dalam mobil.'
Alesha yang kini merasa sangat lega begitu tangannya bisa bergerak bebas begitu infus sudah terlepas.
Ia menggerakkan tangannya beberapa kali untuk memastikan apakah ada rasa nyeri yang dirasakan karena efek diinfus. Hal yang paling dibencinya adalah membiarkan jarum menembus kulitnya.
Karena sebenarnya ia dari kecil sangat takut pada jarum suntik. Hanya saja, dua kali ia ditusuk jarum saat memasang infus ketika tidak sadarkan diri dan membuatnya merasa sangat lega karena tidak melihatnya secara langsung.
Bahkan tadi ia sengaja menatap ke arah Rafael saat perawat melepaskan jarum infus karena takut, tapi sengaja tidak menunjukkan pada pria itu jika ia sebenarnya adalah wanita yang penakut.
Pasti kelemahannya akan dijadikan candaan oleh Rafael karena baru hari ini ia melihat ternyata suka bercanda seperti pria nakal.
"Silakan turun, Nyonya." Perawat tersebut menoleh ke arah sosok pria yang dari tadi hanya diam saja di tempatnya. Padahal tadi sudah berpesan.
"Anda bisa mengambil kendaraannya sekarang, Tuan. Bukankah tadi saya sudah mengatakannya?" Sang perawat kini menatap pria yang malah terlihat diam saja sambil menatap ke arah sang istri yang berada di atas ranjang.
Sebenarnya dari tadi Rafael tidak berkedip menatap ke arah wajah Alesha yang menurutnya semakin dilihat semakin cantik.
Hingga ia tersadar dari rasa terpesonanya pada sang istri begitu mendengar suara dari perawat dan membuatnya menolehkan kepala begitu menyadari kebodohannya.
"Aaah ... sepertinya saya berubah pikiran, Suster."
"Maksudnya? Berubah pikiran tidak jadi pulang?" tanya sang perawat yang saat ini tengah menahan kesabaran agar tidak merasa kesal dan mengungkapkannya pada pria di sebelahnya tersebut.
Bahkan Alesha pun memicingkan mata karena berpikir jika Rafael membuatnya kesal jika sampai membatalkan niatnya untuk pulang. 'Astaga! Apa yang sebenarnya dilakukan suamiku?' umpatnya di dalam hati.
__ADS_1
Hingga ia pun membulatkan matanya begitu mengetahui maksud dari sang suami.
"Bukan, Suster." Kemudian mengarahkan jari telunjuknya pada kursi roda di sebelah kirinya. "Ini! Saya tidak jadi memakai ini dan menyuruh Anda mengantar istri saya sampai ke depan karena akan langsung menggendongnya sampai parkiran."
Awalnya Rafael berniat untuk menggendong ala bridal style saat membawa pulang Alesha ketika menuju ke arah parkiran. Namun, merasa ragu apakah ia sanggup melakukannya karena mengetahui bahwa area parkiran cukup jauh.
Jadi, dari tadi mempertimbangkan dan membiarkan perawat membawa kursi roda saat melepaskan infus.
Namun, karena tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bersikap romantis pada sang istri yang membuatnya menyadari perasaannya yang sesungguhnya sangat mencintai Alesha, sehingga bertekad untuk menggendongnya.
"Terima kasih, Suster karena sangat sabar menghadapi keluarga kami yang dari tadi membuat keributan di rumah sakit." Kemudian Rafael bergerak untuk berjalan mendekati wanita yang terlihat seperti keberatan dan menolaknya untuk digendong.
"Aku tidak ingin jatuh karena kamu tidak kuat menggendongku. Aku berat, Rafael." Alesha berusaha menyadarkan yang saat ini berniat untuk merenggut tubuhnya dan ia berniat untuk menghindar.
Tentu saja Rafael merasa sangat kesal atas panggilan Alesha saat hanya berdua dan sangat berbeda dengan yang tadi ditunjukkan ketika ada ibu dan mamanya. Ia kali ini memasang wajah masam mengungkapkan kekesalannya.
"Rafael ... Rafael! Memangnya aku adikmu, apa! Tidak sopan memanggil suami dengan nama saja seperti kamu sebayaku saja. Kamu tahu tidak jika itu disebut njangkar atau tidak sopan di suku kami, yaitu suku Jawa."
Alesha yang memang belum terbiasa memanggil Rafael dengan panggilan sayang saat berdua saja, sehingga keceplosan memanggil nama saja dan tidak menyangka jika pria dengan wajah babak belur itu mengungkapkan nada protes.
Bahkan sampai menyangkut pautkan dengan suku segala. Padahal ia sudah tahu jika itu tidak sopan dilakukan oleh seorang istri pada suami. "Iya ... iya, aku mengerti! Lalu kamu ingin memanggilku apa?"
Jadi, kini melakukan rencananya untuk menggendong Alesha menuju ke parkiran. "Nanti saja kita bahas berdua. Sekarang kita harus segera pulang daripada diusir. Kamu jangan meremehkan kemampuanku tidak kuat menggendongmu karena aku akan membuktikannya."
Kemudian Rafael langsung mengangkat tubuh Alesha dan menggendong ala bridal style menuju ke arah parkiran setelah sang perawat membantu membukakan pintu.
"Terima kasih, Suster," sahut Rafael yang bersamaan dengan Alesha, sehingga langsung bersitatap dan saling tertawa.
Kini, Rafael berusaha untuk tidak terlihat lelah ketika menuju ke arah parkiran sambil menggendong wanita yang hanya diam saja dan kini bisa melihat banyak orang yang menatap ke arahnya.
"Semua orang pasti mengatakan bahwa kamu adalah wanita paling beruntung karena memiliki pasangan yang sangat perhatian seperti ini. Suami yang rela menggendong istri yang tengah hamil menuju ke arah parkiran."
Rafael berbicara sambil menatap ke arah wajah memerah seperti kepiting rebus itu. "Kenapa? Kamu malu dilihat banyak orang?"
"Iya," ucap Alesha yang dari tadi ingin sekali menyembunyikan wajahnya agar tidak dilihat oleh banyak orang saat melintas menuju ke parkiran.
Bahkan ia sengaja menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rafael begitu mengetahui ada yang memotret atau mungkin merekam saat lewat tadi.
__ADS_1
Ia khawatir jika ada yang memposting di akun media sosial untuk dibuat konten dan mendadak viral, sehingga akan membuatnya malu dikenali banyak orang.
"Turunkan aku! Aku kuat berjalan. Lihatlah beberapa orang ada yang mengambil gambar kita. Kamu larang mereka, gih! Agar tidak disalahgunakan," seru Alesha yang saat ini merasa jika khawatirannya sangat wajar karena di zaman modern seperti ini sering sekali ditemukan konten-konten hasil dari merekam orang tanpa izin.
Rafael yang sama sekali tidak peduli dengan nada protes dari sang istri, kini menggelengkan kepala. "Aku tidak keberatan mereka merekam aksi romantis yang kulakukan dan menjadi viral media sosial."
"Aku bahkan akan menjadi inspirasi dari banyak para suami yang kurang memperhatikan istrinya ketika hamil. Tapi jika ada yang berani macam-macam dengan menyalahgunakan ke hal-hal negatif, akan menjebloskan mereka ke penjara. Jadi, kamu tidak perlu takut atau khawatir."
Rafael saat ini menurunkan Alesha begitu tiba di dekat mobilnya. Ia mengambil kunci mobil dari saku celana dan memencet remot. Kemudian membuka pintu untuk Alesha.
"Masuklah, Istriku yang cantik." Tersenyum saat melihat wajah masam sang istri ketika membungkuk untuk masuk ke dalam mobil.
"Dasar lebay!" sarkas Alesha benar-benar merasa bahwa sikap yang ditunjukkan oleh Rafael sangat berlebihan dan membuat bulu kuduknya meremang seketika.
Saat duduk di kursi depan dan melihat Rafael menutup pintu mobil tanpa memperdulikan ejekannya, Alesha kembali mengungkapkan nada protes begitu pria itu masuk dan duduk di balik kemudi.
"Jangan bersikap lebay seperti tadi. Lihatlah! Bulu kudukku rasanya meremang seperti ini!" Alesha sengaja membuka lengannya untuk menunjukkan apa yang dirasakan agar Rafael percaya padanya.
Sementara itu, Rafael saat ini hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah Alesha saat ia mencoba untuk bersikap romantis seperti di film-film.
"Kenapa di dunia nyata melakukan ini malah diejek lebay? Namun, saat di film-film romantis, malah membuat para wanita ingin mendapatkan itu dari pasangannya? Bahkan mereka berhalusinasi serta berkoar-koar dan berharap bisa mendapatkan pasangan romantis seperti yang di film-film."
Rafael bahkan sering melihat beberapa wanita saat makan di restoran yang membicarakan mengenai tokoh idola mereka di film bersikap sangat romantis dan berharap suatu saat nanti mendapatkan suami yang seperti itu.
Namun, saat mempraktekkannya pada istri sendiri malah diejek lebay. Padahal ia susah payah untuk melakukannya demi bisa membuat sang istri merasa menjadi satu-satunya wanita paling berharga di dunia.
Kini, ia memasang wajah masam untuk menunjukkan rasa kesal karena tanggapan Alesha dan menyalakan mesin mobil, lalu mengemudikan kendaraan meninggalkan Rumah Sakit menuju ke rumah mertua.
Di sisi berbeda, Alesha yang merasa tertampar dengan pernyataan yang merupakan sebuah fakta dari pria di balik kemudi itu, kini tidak langsung menanggapi dan tengah memikirkan kalimat yang pas.
'Benar juga yang dikatakan oleh suamiku ini. Bukankah aku dulu bersama teman-temanku sangat berharap mempunyai seorang suami yang perhatian dan romantis seperti di film-film yang kami tonton.'
'Seharusnya aku merasa senang dan bangga dong karena Rafael berubah menjadi pria romantis untuk pertama kalinya di depanku. Dasar bodoh!' gumam Alesha yang saat ini sibuk merutuki kebodohannya.
'Lebih baik aku diam saja dan tidak berkomentar karena dari tadi salah melulu,' gumamnya sambil menatap kosong ke arah depan dan terlihat banyaknya kendaraan melintas memenuhi jalanan ibu kota.
Karena memilih untuk mencari aman agar tidak kembali dimarahi oleh sang suami yang cerewet, Alesha berharap hubungannya yang mulai membaik tidak dipenuhi oleh konflik hingga rumah tangganya dipenuhi masalah lagi.
__ADS_1
To be continued...