I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Perintah menikah


__ADS_3

Tiana kini mulai menceritakan anaknya dengan wajah senang. "Sedari kecil, Rafael itu sangat suka menolong orang lain yang sedang kesulitan. Bahkan ia sampai pernah ditipu, tapi tetap saja tidak mau berhenti menolong orang lain. Aku sampai harus mendidiknya lebih keras agar tidak dimanfaatkan orang."


"Wah, benarkah seperti itu? Kalau begitu, aku sangat beruntung bisa mengenal putra Anda." Alesha terkekeh kecil.


Alesha diam-diam menyimpan kegelian yang sedari tadi menggelitik perutnya. Ia tidak tahu kalau citra Rafael di depan ibunya merupakan anak sebaik itu. Sungguh membuatnya ingin tertawa.


Alesha mengakui pria itu memang penolong dan cukup tahu diri menyadari siapa yang telah menyelamatkan masalahnya untuk membayar biaya operasi ibunya, tetapi cara lelaki itu bernegosiasi baginya seperti iblis yang hendak menukar kebebasan hidupnya.


Hiperbolis memang, tetapi Alesha tidak pernah mengira hatinya bisa menjadi penuh dengan risau dan kekhawatiran akhir-akhir ini.


Di sisi lain, Rafael sejak beberapa menit lalu mengamati Alesha bersama ibunya dari kejauhan. Entah harus memuji berapa kali lagi, kemampuan sandiwara Alesha memang hebat. Ia tidak menyangka wanita itu akan secepat itu mencairkan suasana dengan ibunya.


Diam-diam Rafael tersenyum. Entah kapan terakhir kali ia melihat ibunya tersenyum dan tertawa lepas seperti hari ini.


Lelaki itu kemudian mendekati kedua wanita yang sedang asyik mengobrol tersebut. Ia duduk di samping Alesha.


"Kalau dilihat seperti ini, kalian terlihat sangat serasi, ya." Tiana menatap kedua sejoli itu dengan senyum yang tak luput dari wajahnya.


Tiana benar-benar bahagia karena putranya akhirnya membawa seorang wanita ke rumahnya. Karena semenjak kepergian mantan istri Rafael, putranya tidak pernah sekalipun membawa wanita ke rumah.


Apalagi di rumah baru mereka ini, Rafael adalah perempuan pertama yang diundang ke rumah.


Terlebih lagi, ia sangat menyukai penampilan Alesha yang terlihat sederhana. Paras manisnya, serta senyuman yang lembut itu sudah menjadi pelengkap sempurna di matanya.


Bukan hanya berparas manis, Alesha juga memiliki sikap yang manis. Tiana sangat menyukainya.


Melihat Alesha berada di rumahnya saat ini, membuat Tiana sungguh menginginkan sosok putri di sisinya. Ia sangat ingin sekali membuatnya tinggal bersamanya.


"Kalian sudah seperti ini, Mama senang sekali melihatnya." Tiana kembali bersuara. "Di saat-saat seperti ini, banyak hal yang bisa terjadi jika terlalu lama mengulur-ngulur hubungan. Mama dengar dari teman-teman, banyak kasus hamil diluar nikah dan malah membuat hubungan semakin renggang."

__ADS_1


Rafael menahan napasnya, kemudian diam-diam memandang Alesha yang sama-sama meliriknya dengan perasaan tidak enak. Seolah keduanya mendapatkan sinyal yang sama.


Sampai kemudian Tiana menumpu dagunya pada kedua tangannya sambil memandangi keduanya dengan seksama.


"Bagaimana kalau kalian langsung menikah saja secepatnya?"


Tentu saja kini ekspresi wajah dari Alesha dan Rafael benar-benar terlihat sama, seolah mewakili perasaan saat ini. Mereka sangat shock mendengar kalimat terakhir dari wanita paruh baya tersebut.


Meskipun Rafael sudah mengetahui akan berakhir menikah, tetap saja ia merasa bahwa sang ibu terlalu ikut campur dalam kehidupan pribadinya.


Sementara Alesha yang saat ini merasa sangat bingung karena sedang memikirkan operasi sang ibu. Tidak mungkin ia menikah diam-diam tanpa sepengetahuan wanita yang sangat disayanginya tersebut.


Ruangan itu kini hanya berisi suara denting sendok yang beradu dengan piring. Tidak ada yang berani membuka mulut selain untuk makan sejak Tiana mengungkapkan pendapatnya untuk menyuruh mereka menikah.


Perintah Tiana tentu saja membuat Rafael dan Alesha sontak kebingungan. Situasi seperti ini tidak ada dalam praduga mereka hingga dua anak manusia itu tidak memiliki persiapan apapun untuk menghadapinya.


Rafael sama sekali tidak pernah memikirkan jika ibunya akan bersikap buru-buru seperti ini. Ia kira pertemuan ini hanya akan berhenti pada perkenalan dan basa-basi semata.


Sedangkan Alesha kini tergeming dalam pikirannya sendiri. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Usulan pernikahan yang diajukan oleh ibu Rafael tentu saja tidak mungkin baginya.


Alesha memang sudah menandatangani perjanjian pernikahan kontrak itu dengan Rafael, tetapi ia tidak menyangka kalau waktunya akan secepat ini.


Terlebih lagi, keadaannya berubah sekarang. Alesha tadinya tenang-tenang saja dan mengira kalau proses operasi ibunya akan berlangsung secepat mungkin, tetapi ternyata persiapan yang harus dilakukan lebih rumit daripada yang ia duga.


Suara dentingan sendok dalam ruangan itu perlahan-lahan berhenti.


"Bagaimana? Ibu serius, ini. Akan lebih bagus kalau kalian menikah secepatnya." Tiana bersuara, kembali membahas pernikahan itu.


Alesha benar-benar tertekan dengan pikiran dan kekhawatirannya. Ia takut segalanya mulai perlahan-lahan berada di luar kendalinya, lalu akan mulai kehilangan kesempatan dan kemudian segalanya menghilang dari jangkauan.

__ADS_1


Alesha takut terlalu sibuk dan tidak bisa menjaga ibunya dengan baik. Pernikahan itu jelas harus ia tahan.


"Ma, aku tidak bermaksud menganggap hubungan kami tidak begitu serius, tapi harus mengenal Rafael lebih banyak dan lebih baik lagi sebelum kami memutuskan untuk menikah."


"Aku yakin Rafael pun memikirkan hal yang sama. Kami sama-sama baru mengenal dan menjalin hubungan yang perlu lebih banyak dibenahi lagi."


Rafael menjelaskan dengan sangat halus dan juga berhati-hati, berharap bahwa perkataannya dapat dijadikan pertimbangan oleh Tiana.


"Itu benar, Ma. Kami harus memikirkan ini secara matang terlebih dahulu." Rafael menyetujui.


Mereka berdua kemudian saling melirik, memberikan sinyal bahwa keduanya memiliki tujuan yang sama.


"Alesha, Rafael itu sudah mapan, sudah dewasa dan kamu juga sudah cocok untuk menikah. Kalau kalian terus-terusan menunda pernikahan, apa kata orang-orang terhadap Rafael yang sudah dewasa ini."


"Rafael bisa dianggap tidak serius dan memanfaatkanmu yang masih muda dan nama baikmu juga akan dibawa-bawa." Tiana memberi argumen kontra.


"Lagipula, untuk proses saling mengenal lebih dalam, itu bisa saja dilakukan setelah menikah. Itu justru akan lebih baik." Wanita itu menambahkan, tetap ngotot dengan pendapatnya.


Alesha kini menginjak kaki Rafael pelan, mengisyaratkannya untuk membuka suara untuk menyangkal ibunya itu.


Akan tetapi, belum sempat lelaki itu mengeluarkan kata-kata dari mulut, ibunya itu lebih dulu membuka suaranya.


"Bagaimana kalau aku menemui orang tuamu, Alesha? Bagaimana tentangnya? Aku jadi tidak sabar bertemu dengan siapa yang telah membesarkan perempuan semanis dirimu." Tiana kini tersenyum lebar, menatap Alesha penuh harap.


Alesha kini menarik napasnya kuat-kuat, hampir saja gelagapan. Ia sesaat melirik kesana-kemari sembari berpikir apa yang harus dikatakan dan sesaat kemudian, otaknya mulai bekerja.


Ia terkekeh kecil dengan intonasi tak enak. "Ma, lagi-lagi sepertinya aku harus meminta maaf. Mommy baru akan pulang dari perjalanan bisnisnya dua bulan lagi."


"Karena itulah aku tidak bisa memutuskan sendiri untuk pernikahanku dalam waktu dekat atau mempertemukan kalian." Akhirnya satu kebohongan lagi lolos dari bibir Alesha.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2