I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Butiran debu


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Alesha yang dari masih duduk di tempatnya, sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada dua pria yang terlihat seperti sedang berdebat dan ia sangat yakin sedang membahas tentangnya.


Ia merasakan keanehan ketika melihat Alex menepuk pundak Rafael dan berbicara di dekat daun telinga.


'Astaga! Apa yang baru saja Alex katakan pada Rafael? Dia tidak sedang menjelekkan mahasiswinya sendiri, kan? Apa yang harus kukatakan pada Rafael nanti jika pria itu kembali kesal dan marah padaku?' lirih Alesha di dalam hati dan semakin membuatnya merasa sangat terkejut begitu melihat Alex melambaikan tangan dan tersenyum padanya.


Ia awalnya mengerjap bingung dan membuatnya merasa sangat aneh ketika pria yang tengah mengulas senyuman padanya tersebut melangkah pergi dari kantin setelah menyapanya.


Hingga ia refleks tersenyum dan menganggukkan kepala, tanda membalas sapaan Alex.


'Rasanya sangat aneh melihat seorang Alex Clarkson yang sangat dingin itu tersenyum dan bersikap ramah padaku. Padahal dulu, aku sangat geram padanya karena sangat irit berbicara denganku saat menjadi sugar baby-nya.'


'Sebenarnya, Alex adalah tipe sugar daddy paling sempurna menurut versiku. Ia tidak pernah sekali pun menyentuhku karena hanya ingin ditemani pergi kemanapun, sedangkan pria lain, pasti akan memanfaatkan kesempatan dengan meraba, meremas dan mencium.'


Sebenarnya Alesha adalah seorang wanita polos yang tidak pernah dekat dengan seorang pria sebelum menjadi sugar baby. Hingga pertama kali mendapatkan sugar daddy suka menyentuh dan meremas dadanya, membuatnya sangat murka dan menampar pria itu.


Hingga ia malah akan dipenjarakan oleh pria kaya itu. Namun, berkat teman yang juga berprofesi sebagai sugar baby cukup lama, ia bisa selamat dan mendapatkan omelan panjang lebar.


Saat itu, ia menyadari bahwa tidak mudah untuk mendapatkan uang banyak. Ia bahkan harus merelakan tubuhnya ditelusuri oleh tangan para sugar daddy yang memberinya banyak uang.


Namun, ada satu hal yang membuatnya bisa bertahan, yaitu sampai sekarang masih perawan karena memang tidak pernah mau menerima sugar daddy yang menginginkan tubuhnya.


Ia berpikir, hanya sekedar meraba tidak akan membuat keperawanannya hilang. Jadi, ia selalu waspada dan selalu menyimpan sebuah alat pertahanan diri, yaitu alat kejut listrik untuk jaga diri.


Alesha akan langsung mengeluarkan senjata itu jika sampai ada yang ingin memperkosanya.


'Entah apa yang Alex katakan pada Rafael tadi. Lebih baik aku menanyakannya nanti,' gumam Alesha yang berjenggit kaget begitu mendengar suara bariton dari Rafael.

__ADS_1


Ia yang dari tadi fokus melihat ke arah Alex, sama sekali tidak menyadari jika Rafael baru saja datang dan duduk di hadapannya sambil menggebrak meja.


"Matamu bisa keluar dari tempatnya saat kamu tidak berkedip menatap sugar daddy-mu itu!" sarkas Rafael yang saat ini sudah mengarahkan tatapan tajam pada Alesha.


Bahkan ia tadi merasa sangat murka pada Alex, sekarang pada sosok wanita di hadapannya yang terlihat masih menyimpan rasa cinta pada mantan sugar daddy-nya.


Bahkan embusan napas kasar kini lolos dari bibirnya begitu mengingat sikap wanita di hadapannya sama persis dengan Aeleasha Charlotte—mantan istrinya dulu yang sama sekali tidak pernah bisa digapai karena mencintai pria lain.


Hingga meninggalkan luka tak berdarah di hatinya dan ia merasa sangat marah jika kejadian itu akan terulang lagi. Meskipun ia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada wanita di hadapannya karena hanya berdasarkan sebuah perjanjian semata.


'Aku tidak akan menjadi korban dari orang-orang egois seperti kalian. Kali ini, tidak akan pernah kubiarkan orang lain memanfaatkanku,' umpat Rafael yang kali ini sudah tidak lagi bisa menahan kesabaran dengan menjadi orang bodoh.


Ia bahkan sangat tidak suka dengan pria yang tadi seolah mengejeknya dan juga Alesha yang terlihat seperti sangat mencintai pria bernama Alex. Ia berjanji pada diri sendiri, tidak akan membiarkan pria itu menang dan menertawakannya.


Sudah cukup ia terluka satu kali. Kali ini, tidak ingin terluka lagi karena berpikir harus merubah sifatnya yang lemah karena selalu disebut pria berhati malaikat oleh mantan istri sirinya.


Meskipun tidak terlalu kencang, tetap saja membuatnya sangat terkejut. Kini, ia mengarahkan tatapan tajam pada sosok pria di hadapannya tersebut.


"Perbuatanmu ini bisa membuat orang terkena serangan jantung karena terkejut! Astaga! Sebenarnya apa yang terjadi padamu hari ini? Kenapa masalah pekerjaan kamu lampiaskan padaku? Apakah setiap hari kamu akan marah padaku jika mendapat masalah di tepi kerjamu?"


Bahkan raut wajah memerah kini seolah mewakili perasaan Alesha saat ini yang sangat marah sekaligus kesal pada sikap pria di hadapannya tersebut.


Alesha tidak bisa mentolerir lagi perbuatan pria itu karena semakin hari arogan dan serasa mencekiknya, sehingga kesulitan bernapas.


Jika Alesha sangat marah dengan sikap arogan Rafael, berbeda dengan yang kali ini tengah dirasakan pria yang selalu dibayang-bayangi masa lalu itu.


Rafael kini berpikir jika kemarahan Alesha hanyalah sebuah alasan untuk menutupi perasaan sebenarnya pada pria itu. Ia berpikir jika wanita di hadapannya sangat munafik karena hal yang sama dilakukan oleh mantan istri padanya dengan marah dulu.

__ADS_1


"Dasar wanita munafik!"


Alesha yang kali ini membulatkan mata begitu mendengar kalimat penghinaan dari Rafael, refleks bangkit dari posisinya yang duduk di kursi.


Tidak hanya itu saja, bahkan ia langsung mengambil gelas berisi jus jeruk yang tadi dipesan dan menyiram ke arah wajah Rafael.


"Kaulah pria munafik itu!" umpat Alesha yang kini merasa sakit hati dengan hinaan yang baru saja dilontarkan oleh Rafael.


Tanpa memperdulikan pria yang telah basah karena perbuatannya, ia kini memilih untuk berjalan menuju ke arah pintu keluar tanpa menoleh ke belakang lagi.


Ia sangat shock dengan pria yang baru saja menyebutnya munafik, padahal belum lama bertemu.


'Berengsek! Bisa-bisanya dia berbicara seperti itu padaku. Padahal baru bertemu beberapa hari. Apa dia pikir aku adalah seorang pelacur?'


'Apa dia menyamakan sugar baby dengan seorang pelacur? Sialan! Rasanya aku ingin membatalkan semua perjanjian kontrak pernikahan itu, tapi tidak punya uang untuk mengganti biaya rumah sakit yang sudah dibayar oleh bajingan itu.'


Alesha memilih untuk mencari udara segar di taman rumah sakit dan duduk di bangku yang telah disediakan di sana. Ia mengembuskan napas kasar saat mengingat kilas balik dari perjalanan hidup yang tidaklah mudah.


'Seandainya aku dulu aku menerima cek dari ibu Alex, mungkin nasibku tidak akan seperti ini. Aku sangat membanggakan harga diri saat pekerjaanku dipandang rendah oleh orang lain. Dasar bodoh, kau Alesha! Jika aku memegang cek yang kusobek hingga jadi kepingan kecil dulu, mungkin bisa menampar pria sialan itu.'


Refleks Alesha terbahak saat menyadari kebodohan yang dilakukan karena berpikir untuk menjual harga diri hanya demi ingin melawan seorang Rafael Zafran yang merupakan pimpinan di salah satu perusahaan besar.


"Bahkan aku hanya memiliki harta berharga itu. Tidak boleh sampai kujual hanya demi ingin mengalahkan dan mendapatkan pengakuan pria berengsek itu. Aku tidak mungkin bisa melakukannya karena hanya butiran debu di mata orang kaya seperti pria sialan itu."


Baru saja ia menutup mulut untuk merutuki kebodohan, Alesha seketika menoleh ke belakang dan melihat seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.


"Alesha ...."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2