
Sosok pria yang saat ini tengah berdiri di dekat jendela kaca raksasa di ruangan kerja dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku.
Hingga menampilkan otot-otot yang menyilaukan mata tersebut, tak lain adalah Nick Fernando putra dari Jack Adelardo—adik Giovanni Adelardo yang merupakan pemilik dari perusahaan yang ia pimpin saat ini.
Nick adalah seorang pria dengan tubuh tinggi tegap, serta kulit putih dan rambut coklat keemasan. Iris mata kebiruan yang terlihat semakin menambah kesan maskulin dari pria itu, membuatnya disukai banyak wanita, tetapi sampai saat ini belum juga menikah.
Ia sudah memimpin perusahaan milik pamannya untuk menggantikan sang ayah yang sedang sakit jantung dan gagal ginjal. Hingga mengharuskan cuci darah setiap seminggu sekali di rumah sakit dan tidak bisa beraktivitas di kantor seperti biasa.
Semua itu karena gaya hidup yang buruk dan suka minum minuman kemasan dengan bahan pengawet yang pastinya merusak organ dalam, yaitu ginjal.
Sang ayah memang tidak menyukai air putih dan setiap hari minum minuman kemasan. Tentu saja sesuatu yang berlebihan tidaklah baik karena akan berakibat merusak organ-organ vital di dalam tubuh.
Awalnya, Nick hanya menghabiskan uang dengan pergi ke club malam karena berpikir jika pamannya merupakan pria yang kaya raya dan tidak akan habis kekayaan jika hanya digunakan untuk ia bersenang-senang.
Dulu, Nick merasa sangat yakin jika pamannya yang tidak memiliki keturunan tersebut akan mewariskan semua harta yang dimiliki kepadanya karena ia adalah satu-satunya kerabat dengan mengalir darah yang sama. Keluarga Adelardo hanya memiliki dua bersaudara dan satu keturunan, yaitu dirinya.
Namun, semua yang ia yakini seketika musnah harapan begitu tiba-tiba pamannya mengadopsi pria yang awalnya menjadi pekerja di perusahaan hanya karena menyelamatkan nyawa saat mobil masuk ke jurang.
Padahal ia yang melakukan itu, agar pamannya segera meninggal dan harta jatuh ke keluarganya. Tentunya ia yang akan menjadi pewaris tunggal dari kekayaan Giovanni Adelardo.
Hingga ia ditampar oleh kenyataan pahit karena realita tak seindah ekspektasi begitu ada Arsenio di sisi pamannya.
Saat ini, Nick baru saja menutup panggilan telpon dan wajah memerah terlihat jelas, seolah mewakili bahwa saat ini sangat murka begitu berbicara dengan pria di seberang telpon.
__ADS_1
Namun, beberapa saat kemudian, ia tertawa terbahak-bahak dan terdengar sangat miris jika mengetahui apa yang saat ini dirasakan.
Refleks ia melempar dengan kekuatan penuh benda pipih yang berada di dalam genggaman begitu mengetahui kabar di media sosial mengenai pamannya yang mengumumkan telah mewariskan seluruh kekayaan pada pria asing yang sama sekali tidak ada ikatan pertalian darah.
"Bangsat! Arsenio, aku tidak akan pernah tinggal diam saat kau menguasai semua harta pria bodoh tidak berguna itu!" Nick mengepalkan tangan dengan raut wajah memerah.
"Kenapa aku mempunyai seorang paman yang sangat gila karena memberikan seluruh kekayaan pada orang asing. Padahal akulah yang jelas merupakan keponakan dan masih mengalir darah yang sama."
Masih belum puas ia mengumpat, Nick semakin merasa kesal begitu pintu diketuk dari luar dan beberapa saat kemudian, terlihat seorang wanita dengan setelan hitam seksi yang menampilkan lekukan tubuh berjalan mendekat dengan kaki jenjang putih mulus ke arahnya.
"Nick, apa kau sudah melihat beritanya?" tanya Zea yang menampilkan wajah pucat dan berbeda dengan penampilan seksi yang selama ini terlihat.
Jika selama ini ia selalu tersenyum dengan menampilkan deretan gigi putih yang rapi ketika masuk ke dalam ruangan pria yang menjadi kekasihnya tersebut, tetapi hari ini sangat berbeda karena wajahnya sudah menjadi bahan perbincangan semua orang karena video yang tersebar saat mabuk.
Impiannya adalah mengusir Arsenio dari posisi presiden direktur dan akhirnya ia yang menggantikannya karena sudah bosan menjadi CEO di anak cabang perusahaan.
"Kau masih berani menampakkan wajahmu di depanku?"
Suara gemeretak gigi dari rahang tegas yang masih menampilkan aura penuh kemurkaan tersebut, berhasil membuat bulu kuduk Zea berdiri karena ketakutan.
Zea tahu jika semua ini memang salahnya karena tanpa sadar mengungkapkan segalanya ketika mabuk dan sama sekali tidak pernah menyangka jika tengah dijebak oleh orang suruhan dari paman sang kekasih.
"Maafkan aku, Nick. Aku hari itu kesal padamu karena kau terlalu sibuk dengan pekerjaan dan kita jarang berkencan."
__ADS_1
"Jadi, aku pergi ke club malam sendirian dan tidak pernah menyangka akan dijebak oleh orang yang disuruh pamanmu." Zea berbicara dengan wajah dan meremas salah satu bagian rok yang dikenakan.
Wajah Zea saat ini dipenuhi oleh rasa penyesalan teramat besar ketika menggagalkan semua rencana besar sang kekasih yang sangat dicintai. Ia tahu jika pria di hadapannya tersebut seolah enggan untuk menatapnya.
Akan tetapi, terpaksa karena ia sudah berdiri tepat di hadapan pria dengan wajah memerah tersebut. Hingga Zea seketika berjenggit kaget begitu suara teriakan dari pria dengan rambut keemasan tersebut menggema dan memecahkan keheningan di ruangan cukup luas tersebut.
"Pergi dari hadapanku! Aku sudah muak padamu! Dasar wanita tidak berguna!" umpat Nick yang tidak bisa mengendalikan diri atas kegagalan wanita yang sebenarnya hanya ia manfaatkan untuk menjebak pria bernama Arsenio.
Pria yang sangat ingin disingkirkan karena menjadi kesayangan pamannya. Padahal dulu saat kecil, selalu mendapatkan apa yang diinginkan.
Semua itu karena pamannya menuruti setiap hal yang diminta olehnya karena memang pria itu tidak mempunyai seorang anak. Hingga sang istri meninggal dan tidak berniat untuk menikah lagi sampai sekarang.
Ia sangat tahu jika pamannya sangat mencintai istrinya yang meninggal karena penyakit kanker. Selalu dimanjakan dengan segala kemewahan dari sang ayah dan juga pamannya, menjadikan Nick sangat arogan dan berbuat sesuka hati.
Sementara itu, Zea yang tidak ingin kehilangan sosok pria dengan paras rupawan dan juga merupakan pemimpin perusahaan, kini langsung menggelengkan kepala karena tidak ingin hubungannya berakhir.
"Tidak, Nick. Aku sangat mencintaimu dan tidak ingin hubungan kita berakhir hanya karena masalah yang berhubungan dengan pria kesayangan pamanmu itu. Kita bisa menyusun rencana lagi dan menghancurkan Arsenio. Aku janji, kali ini tidak akan gagal."
"Jangan memutuskan hubungan kita karena aku tidak ingin berpisah denganmu." Zea saat ini berjalan mendekat dan memegang lengan kekar di balik kemeja berwarna putih tersebut.
Ia ingin seperti biasanya dengan bermanja-manja di ruangan kerja sang kekasih.
Akan tetapi, tidak bisa melakukannya saat tubuhnya terhuyung ke belakang atas perbuatan pria yang mengempaskan tangannya.
__ADS_1
To be continued...