I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Operasi


__ADS_3

Rafael sudah tiba di rumah sakit dengan sang istri yang beberapa kali mengeluh sakit pada perut yang kontraksi. Bahkan tadi sang ibu serta mertuanya juga mengikuti dari belakang.


Ia sengaja menyuruh sopir untuk mengemudikan kendaraan karena fokus pada sang istri, agar bisa menenangkan wanita yang beberapa kali meringis kesakitan di sebelahnya.


Buru-buru Rafael membuka pintu dan disambut oleh perawat IGD dan membawa brankar. Ia pun membantu sang istri yang saat ini tengah kesusahan karena menahan rasa sakit di perut membuatnya tidak tega.


"Hati-hati, Sayang." Rafael saat ini benar-benar tidak tega melihat sang istri yang tengah kesakitan.


Ia bahkan mengingat saat Alesha tadi menyebutkan kata kematian dan membuat pikirannya benar-benar sangat kacau karena khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk pada sang istri ketika melahirkan.


'Ya Allah, lindungilah istriku agar selamat saat melahirkan dan bayi yang dilahirkan juga baik-baik saja tanpa kekurangan suatu apapun,' gumam Rafael yang saat ini berusaha untuk bersikap tenang dan tidak panik melihat sang istri yang seperti sangat kesakitan.


"Aaarggh ... sakit sekali, Suster! Apa bayiku sudah mau keluar?" lirih Alesha yang saat ini sudah berkeringat karena menahan rasa sakit semenjak perjalanan ke rumah sakit..


Meskipun rasa sakitnya muncul dan hilang, tetap saja membuatnya meringis kesakitan. Hingga ia semakin bertambah kesakitan begitu tiba di depan UGD dan membuatnya tidak berhenti untuk mengeluh serta mengusap perutnya.


Hingga ia tidak ingin ditinggalkan oleh sang suami dan berharap selalu ditemani ketika melahirkan, agar mengerti bagaimana perjuangan seorang istri saat bertaruh nyawa.


"Kami akan memeriksa terlebih dahulu sudah pembukaan berapa agar mengetahui jalan lahirnya," sahut perawan yang saat ini langsung mengarahkan ibu yang akan melahirkan tersebut mengikuti aba-aba darinya untuk bernapas secara teratur dan membuangnya.


Sementara itu, Rafael yang saat ini berada di luar karena sang istri masih diperiksa terlebih dahulu. Ia sudah berjanji akan menemani Alesha di ruang bersalin saat melahirkan nanti.


Ia yang menunggu perintah dari perawat, kini mendengar suara ibu serta mertuanya baru saja datang dan membuatnya merasa lega karena akhirnya ada yang menemani dan tidak sendirian di sana.

__ADS_1


"Bagaimana, Sayang? Apa Alesha sudah ditangani oleh dokter?" tanya Tiana yang saat ini tidak sabar ingin melihat kondisi menantunya yang tadi sudah kesakitan.


"Sudah, Ma. Alesha sedang berada di dalam dan pernah diperiksa sudah pembukaan berapa." Rafael yang mengerti pembukaan ibu hamil yang akan melahirkan karena dulu pernah mendengarkan penjelasan dari dokter yang menangani Aealeasha.


Sementara itu, Lia Nuraini dari tadi sibuk merapal doa demi kelancaran putrinya yang akan melahirkan cucu pertama di keluarganya. Bahkan ia membawa tasbih agar tidak berhenti berdoa.


"Semoga putriku tidak merasakan kontraksi yang lama karena ia dari dulu tidak tahan merasakan sakit. Makanya tadi terlihat sangat kesakitan karena dari dulu sakit sedikit saja sudah seperti sangat parah. Apalagi sakitnya melahirkan jauh lebih luar biasa rasanya."


Rafael yang berniat untuk menanggapi perkataan dari mertuanya yang membuat bulu kuduknya merinding, kini menolehkan kepala ke arah perawat yang melambaikan tangan padanya agar mendekat.


"Istri Anda memanggil, Tuan. Saat ini sudah pembukaan 6 dan pasien akan langsung dipindahkan ke ruangan bersalin. Jadi, Anda boleh menemani istri untuk memberikan kekuatan," ucap sang perawat yang saat ini kembali ke ruangan untuk mengurus proses persalinan.


Rafael yang tadi Langsung menjawab iya pada perawat, kini beralih menatap ke arah sang ibu serta mertuanya. "Tolong doakan Alesha, Ma, Bu. Semoga proses persalinannya lancar. Ibu serta anak selamat tanpa kekurangan apapun."


"Sudah, sana pergi karena Alesha butuh dukunganmu di sampingnya!" ucap Tiana yang saat ini tengah menekuk aku apa putranya agar kuat dan tidak tegang ketika menunggu istri melahirkan.


"Jangan tegang dan aku selalu berikan semangat pada anak Ibu." Lia Nuraini saat ini sudah berkaca-kaca karena merasa khawatir sekaligus bahagia ketika putrinya saat ini sudah dewasa dan sebentar lagi akan memiliki seorang anak dan memberikannya cucu.


Rafael saat ini menganggukkan kepala dan berusaha untuk menormalkan perasaannya yang tidak karuan. "Iya, Ma, Bu. Aku menemui istriku sekarang."


Kemudian ia perjalanan menemui sang istri yang saat ini terdengar suara rintihan kesakitan dan membuatnya merinding sekaligus merasa iba.


Hingga begitu iya melihat wanita yang saat ini tengah menggeliat dengan memegangi perut dan wajah meringis kesakitan, mendapatkan omelan dari sang istri.

__ADS_1


"Sayang, kenapa lama sekali? Aku benar-benar kesakitan dan tidak kuat lagi. Apakah aku akan mati hari ini?" sarkas Alesha yang kini kembali meringis kesakitan karena kontraksinya sangat kuat.


Ia menatap ke arah sang perawat yang tadi membuatnya sangat terkejut karena diperiksa dengan menggunakan tangan ketika melihat pembukaan. Hal yang sama sekali tidak pernah ia duga karena sang perawat bisa melakukan hal seperti itu.


"Suster, ibu bahkan sangat sakit sekali! Aku benar-benar sudah tidak tahan!" teriak Alesha yang semakin meringis menahan rasa nyeri pada perutnya yang luar biasa sakit.


Ia sudah membaca mengenai persalinan dan juga diarahkan oleh perawat tadi untuk mengambil napas dan mengeluarkannya untuk menormalkan rasa sakit yang dirasakan.


"Anda harus melakukan yang tadi saya suruh, Nyonya." Menatap wajah pucat ibu hamil yang hendak melahirkan tersebut.


Alesha saat ini berusaha setenang mungkin dan melakukan arahan dari wanita itu, tapi tetap saja semakin bertambah sakit dan tidak tahan lagi, sehingga membuatnya menatap ke arah suaminya yang dari tadi menggenggam erat tangannya.


"Aaarggh ... Sayang! Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak kuat menahan rasa sakit ini. Aku operasi saja!" sarkas Alesha yang saat ini merupakan hal yang dari dulu ia inginkan adalah berharap bisa melahirkan normal.


Namun, pada kenyataannya ia tidak tahan dengan rasa sakit luar biasa yang seperti mematahkan seluruh tulang-tulangnya.


Ia tidak peduli jika perutnya akan dipenuhi oleh jahitan karena yang dipikirkan saat ini adalah tidak merasakan sakit lagi ketika kontraksi luar biasa yang saat ini membuatnya tidak berhenti kesakitan.


"Aku operasi saja karena sudah tidak tahan rasa sakitnya!" sarkas Alesha yang menatap tajam ke arah sang suami agar menurutinya.


Sementara itu, Rafael yang dari tadi juga tidak tega melihat istrinya menahan kesakitan, sehingga langsung menganggukan kepala tanda setuju dan berbicara pada perawat di hadapannya.


"Lakukan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh istriku. Aku tidak bisa melihatnya kesakitan seperti ini," ucap Rafael yang akan berusaha untuk memberikan terbaik pada Alesha dan anaknya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2