I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Tentang pria itu


__ADS_3

Satu jam setelah Rafael membuat keributan di restoran dengan meninju wajah pria yang telah menghina Alesha, ia kini sudah kembali ke kantor.


Sementara asistennya yang menyelesaikan masalah di restoran dan bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan olehnya.


Apalagi tadi ia sempat mendorong pria yang menghina Alesha hingga terhempas kemeja dan membuat porak-poranda beberapa meja dan kursi. Tentu saja ia pun harus membayar ganti rugi pada pria yang bapak belur bagian wajah karena perbuatannya.


Bahkan Rafael seketika menggebrak meja kerja.


"Berengsek! Aku tidak pernah berpikir jika semua ini akan terjadi. Alesha ... apakah ia sadar jika pekerjaannya dulu membuatku terhina seperti ini!"


Embusan napas kasar memenuhi ruangan kerja Rafael dan karena tidak bisa melupakan kejadian di restoran, kini mengambil ponsel miliknya dan melakukan video call.


"Aku ingin tahu apa yang akan kau katakan begitu mengetahui bahwa aku ketemu dengan pria yang pernah menyewa jasamu." Rafael berbicara dengan beberapa kali menghembuskan napas kasar dan menunggu hingga panggilan diangkat.


Namun, setelah beberapa detik berlalu, panggilannya mati tanpa mendapatkan jawaban. Hal itu membuatnya merasa sangat kesal dan semakin bertambah marah pada Alesha.


"Alesha pasti sengaja tidak mau mengangkat telpon dariku. Apakah ia akan langsung mengangkat panggilan dari Alex?"


Membayangkan hal itu, Rafael kembali meluapkan amarah dengan mengempaskan tangan untuk meninju udara di sekitar.


"Berengsek ... berengsek! Kenapa hari ini suasana hatiku semakin buruk gara-gara Alesha dan pria itu. Membayangkan Alesha selama ini melayani para pria tua demi uang, membuatku semakin marah saja."


Rafael saat ini manakah air putih yang ada di hadapannya hingga tandas. Kemudian tidak langsung mengembalikan gelas ke atas meja, tapi berakhir melemparkannya ke lantai.


"Alesha ... Alesha ... Alesha!" teriak Rafael yang saat ini menatap ke arah gelas yang sudah berubah menjadi serpihan dan menghiasi lantai.


"Apa tidak ada pekerjaan lain yang bisa kau lakukan dulu selain menjadi sugar baby?" Rafael seketika menoleh ke arah pintu yang terbuka.


Ia melihat sang asisten sudah kembali dan membungkuk hormat sambil melaporkan semua yang terjadi.


"Semua sudah berhasil dibereskan dan tidak ada gugatan yang dilayangkan oleh pria itu, Presdir. Restoran juga sudah meminta ganti rugi dan langsung saya transfer uangnya." Steven tadi sekilas menatap ke arah pecahan gelas dan mengetahui jika suasana hati khususnya tidak baik.


Jadi, ia tidak ingin berlama-lama berdiri di hadapan pria yang masih diliputi oleh angkara murka tersebut.


Ia awalnya tidak tahu apa penyebab dari pertikaian, tapi mengetahui semuanya begitu mendengar penjelasan dari pria yang tadi dibuat babak belur.


Steven berpikir bahwa perbuatan bosnya sangat gentlemen karena melindungi nama baik seorang istri yang dihina oleh pria lain. Jujur saja ia merasa kagum pada pria yang saat ini masih duduk di kursi kebesarannya.


"Baiklah. Kau selalu menyelesaikan masalah dengan cepat. Terima kasih. Oh ya, urus pekerjaan hari ini karena otakku tidak bisa diajak kompromi. Aku ingin pulang ke rumah."


Rafael kini bangkit berdiri dari kursi dan langsung berjalan menuju ke arah pintu.


Sebelum keluar, ia menepuk bahu kokoh asisten pribadinya. "Suruh orang untuk membereskan itu sampai bersih karena aku tidak ingin terkena pecahan gelas besok."

__ADS_1


"Baik, Presdir. Hati-hati saat berkendara karena Anda sedang diliputi amarah." Steven menganggukkan kepala dan mengambil ponsel untuk menghubungi orang agar segera membersihkan ruangan kerja tersebut.


Rafael hanya tersenyum masam dan berjalan keluar menuju ke arah lift. Ia kembali menghubungi Alesha, tapi kali ini tidak melakukan video call karena hanya panggilan suara.


Ia masih mencoba untuk berpikir positif bahwa Alesha tidak ingin berbicara melalui video call. Jadi, beralih melakukan panggilan suara dan menunggu hingga diangkat.


Namun, ia kembali diliputi oleh api amarah karena empat kali menelpon tidak kunjung dijawab.


Kini, Rafael sudah berada di parkiran dan masuk ke dalam mobil. Kemudian menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya meninggalkan area perusahaan.


"Jika aku pulang sekarang, mungkin tidak akan bisa menahan amarah. Aku akan marah dan berteriak pada Alesha, lalu mama mengetahuinya dan pasti akan bersedih. Tidak, aku tidak boleh egois dan membuat mama jadi korban."


"Tahan emosimu, Rafael. Lebih baik kamu tidak pulang sekarang karena hanya akan menimbulkan keributan di rumah."


Kini, ia mengambil jalan menuju ke arah tempat tinggal mantan istrinya dan berharap bisa bertemu dengan Arza, sehingga meredam amarahnya saat melihat tingkah lucu dan menggemaskan dari putranya tersebut.


"Baiklah, aku akan pulang nanti sore setelah bertemu dengan Aealeasha dan Arza. Aku hampir lupa bahwa hari ini ingin mengatakan pada Aealeasha mengenai kejadian puluhan tahun yang lalu."


Rafael berpikir bahwa tidak mungkin menyembunyikan kenyataan itu seumur hidup karena Aealeasha berhak tahu.


Meskipun nanti akan membuat mantan istrinya tersebut bersedih, lama kelamaan akan sembuh seiring berjalannya waktu.


Setelah hampir satu jam menempuh perjalanan, kini Rafael membelokkan kendaraan ke area perumahan elit yang menjadi tempat tinggal mantan istrinya.


Itu karena semua kemewahan yang didapatkan olehnya juga merupakan pemberian dari wanita itu. Jadi, tidak pernah perhitungan pada wanita yang dulu membalas budi kebaikannya dengan mengalihkan perusahaan atas namanya.


Rafael yang baru saja turun dari mobil, disambut oleh security. Ia tersenyum dan langsung menuju ke arah pintu utama.


Karena ia sering ke sana, sehingga sudah merasa bahwa rumah itu seperti rumah sendiri. Begitu ia melihat salah satu pelayan di dalam rumah, langsung mencari informasi.


"Apa Aealeasha ada di kamar?"


Pelayan wanita harus bayar yang sudah satu bulan bekerja di sana langsung menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan. "Selamat datang, Tuan Rafael. Nyonya ada di ruang tengah karena ingin menemani tuan Arza bermain."


"Padahal saya sudah mengatakan agar di kamar saja untuk beristirahat, tapi tidak mau dan bilang ini bersama putranya."


Rafael sudah sangat hapal dengan sikap keras kepala dari mantan istrinya dan kini mengulas senyuman sambil memberikan kode bahwa ia akan langsung pergi ke ruang tengah untuk menemui mereka.


Begitu tiba di ruangan luas yang dipenuhi oleh banyaknya mainan Arza, Rafael kini bisa melihat saat Aealeasha tengah duduk di sebelah putranya yang sedang bermain Lego.


"Papa datang," seru Rafael yang saat ini upacara mendekati anak laki-laki yang langsung bangkit berdiri dan berlari ke arahnya serta menghambur memeluknya.


"Papa!" teriak Arza yang kini sudah beralih dalam gendongan.

__ADS_1


Sementara itu, Aealeasha mengerutkan kening begitu melihat ia yang biasanya datang di sore hari, tapi masih siang sudah tiba. "Brother tidak bekerja?"


Namun, Aealeasha menyadari kebodohannya karena saat ini melihat bahwa pria itu tengah memakai setelan jas lengkap yang merupakan baju zirah ketika berada di kantor.


"Sepertinya Brother sedang bolos kerja." Aealeasha kini bangkit dari bantal kecil yang menjadi alas duduknya.


Rafael yang tadi langsung menggendong Arza dan menciumnya dengan gemas, seketika menyadari bahwa ia merupakan sesuatu. Ia tidak menjawab pertanyaan Aealeasha yang dijawab sendiri.


"Astaga! Papa hari ini lupa tidak bawa jajan, Sayang."


"Tidak apa-apa," sahut Arza yang kini menunjuk ke arah Lego. "Papa main sama Arza."


"Baiklah, Papa setuju." Rafael kini menurunkan Arza di tempat semula dan sekilas sendiri ke arah wanita yang berdiri menjulang di hadapannya.


"Duduklah. Bukankah dokter mengatakan agar kamu beristirahat total? Jangan bandel kalau dibilangin." Rafael kini menepuk tempat duduk yang tadi ditempati oleh wanita yang sudah mengerucutkan bibir tersebut.


Sementara itu, Aealeasha yang tidak ingin menjadi bulan-bulanan Rafael, seketika kembali duduk dan menjelaskan apa yang dirasakan.


"Aku setiap hari selalu menghabiskan waktu di kamar dengan tiduran. Bahkan rasanya pinggangku seperti mau patah saja karena hanya berbaring setiap detik. Baru hari ini aku ini menemani putraku bermain, tapi malah mendapatkan omelan."


Rafael yang sudah sibuk membantu Arza untuk memasang Lego membentuk seperti gambar rumah, kini ia merasa bersalah karena membuat Aealeasha kesal.


"Maaf. Ternyata cuma tiduran juga membuat capek, ya? Aku baru tahu. Ternyata kehamilanmu yang kedua ini jauh lebih kuat. Karena meskipun kamu memforsir tenaga, ternyata masih kuat dan hanya pingsan sekali."


Rafael masih sangat ingat saat kehamilan pertama Aealeasha dulu yang lebih sering menangis di tempat tidur dan tidak kuat untuk berjalan.


Bahkan menyediakan wadah khusus sebagai tempat muntah karena setiap hari selalu mual serta mengeluarkan apapun yang masuk ke dalam perut.


Aealeasha kini mengangguk lemah karena saat mengingat kehamilan pertama dulu benar-benar bergantung sepenuhnya pada pria di hadapannya tersebut serta mertua.


"Iya, aku dulu hanya menjadi beban untuk kalian karena selalu menyusahkan." Aealeasha berbicara sambil mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat benjolan kecil karena berusia 12 minggu.


Rafael yang sangat tidak suka ketika mantan istrinya tersebut selalu berkata seperti itu jika mengingat masa lalu. Jadi, ia mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan tujuannya datang lebih awal.


"Aku ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting. Sebenarnya tidak tega mengatakan padamu, tapi aku tidak bisa menyimpan rahasia ini selamanya."


Aealeasha saat ini terdiam karena berpikir ada sesuatu hal buruk akan didengarnya dan ia menyiapkan mental sebelum mengetahuinya dari mantan suami yang sangat baik padanya.


"Itu tentang apa? Apakah tentang pria itu?" Aealeasha bahkan saat ini sangat susah untuk menyebut nama sang suami yang diketahui telah mengkhianatinya dengan berselingkuh.


Apalagi luka di dalam hati belum sembuh hingga sekarang dan setiap mengingat sang suami yang sama sekali tidak menemukannya, membuatnya merasa sangat terluka dan berpikir bahwa pria itu sibuk bersenang-senang dengan wanita lain.


Rafael seketika menganggukkan kepala karena memang hal yang akan diceritakannya berpuncak pada pria bernama Arsenio tersebut.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2