
Rafael yang sudah tiba di rumah sakit, bertanya pada salah satu perawat dan langsung melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah lift karena ruangan VVIP ada di lantai atas.
Tentu saja selama berjalan, ia menormalkan cukup jantung yang berdetak melebihi batas normal karena dikuasai oleh amarah ketika mengingat semua perbuatan wanita yang telah menipunya habis-habisan.
Begitu keluar dari lift dan berjalan menuju ke arah ruangan VVIP di sudut sebelah kiri. Begitu menemukan ruangan yang dituju, berhenti sejenak untuk mengambil napas teratur agar tidak terlihat tengah menahan gejolak amarah di dalam hati.
'Tarik napas ... embusan,' gumam Rafael yang tengah melakukan metode untuk menenangkan diri.
Setelah dirasa perasaan lebih tenang, tanpa mengetuk pintu, ia langsung masuk ke dalam dan dilihat ada kerumunan beberapa wanita paruh baya yang sudah diketahui merupakan rekan dari ibu Alex yang tadi menghubungi.
Kemudian pandangan beralih mencari seseorang yang dari tadi ingin sekali dilihat Seperti apa wajahnya begitu bertemu dengannya. Rafael yang saat ini bersitatap dengan iris kecoklatan Alesha, tersenyum simpul untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
'Rasanya sekarang aku ingin mencekik lehernya agar tidak bisa bernapas,' gumam Rafael yang saat ini membuka suara untuk menyapa semua orang di dalam ruangan perawatan terbaik Rumah Sakit tersebut.
Tentunya sama sekali tidak tertarik untuk melihat pria dengan kaki menggantung yang berada di atas ranjang perawatan karena ia merasa sangat muak.
"Selamat siang, semuanya," ucap Rafael yang saat ini menunggu hormat pada semua orang sebagai salam perkenalan.
"Maaf karena tidak mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Saya terburu-buru karena hari ini ada acara mendadak dan harus segera menjemput istri tercinta." Kemudian Rafael tersenyum pada Alesha dan melambaikan tangan.
"Sayang, mama dan ibu menunggu kita di rumah karena sudah ada beberapa sanak keluarga yang datang. Semalam, belum semua sana keluarga yang datang ke hotel untuk mengucapkan selamat atas pernikahan kita karena suatu hal."
__ADS_1
Alesha yang dari tadi merasa cukup jantungnya seperti mau meledak begitu melihat Rafael dan berpikir bahwa nasibnya akan berakhir setelah hanya berada berdua dengan pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.
Dengan ragu-ragu, Alesha berjalan mendekati sang suami dan menoleh ke arah sahabatnya. Saat ini, Stella adalah satu-satunya penyelamat yang diharapkan bisa membelanya di depan Rafael.
'Bagaimana bisa Rafael tiba-tiba datang ke sini? Siapa yang memberitahunya mengenai rumah sakit dan juga ruangan tempat Alex dirawat? Apakah mak lampir ini? Atau Alex mencari tahu sendiri karena memang ia bukanlah orang sembarangan yang bisa melakukan apapun,' gumam Alesha yang berusaha untuk bersikap tenang dan tidak terlihat gugup di hadapan semua orang.
Meskipun sebenarnya jantungnya seperti hampir meledak ketika bersin atap dengan iris tajam berkilat milik pria dengan tubuh tinggi tegap di hadapannya tersebut.
Kemudian berakting di depan sama orang dengan tersenyum simpul dan berbicara. "Sayang, biarkan sahabatku ikut di mobil dan sekalian kita mengantarkan ke tempat kos. Tadi aku menjenguk dosen bersama temanku."
Tentu saja ia mengerti bahwa semua yang dikatakan hanyalah omong kosong semata karena sejatinya, Rafael sudah mengetahui jika Stella bukanlah teman kuliah, melainkan rekan sesama sugar baby karena dulu pertama kali bertemu dengan Rafael saat di mall dan sedang berkumpul bersama beberapa teman di salah satu food court.
'Matilah aku sekarang. Selain kata paling buruk adalah seorang pelacur, hari ini dia akan menghinaku apa lagi?' gumam Alesha yang saat ini tidak langsung mendapatkan jawaban dari Rafael.
"Wah ... merupakan sebuah kehormatan bisa bertemu dengan seorang pengusaha sukses seperti Anda, Tuan Rafael Zafran. Saya istri dari Leo Waldy. Anda mengingat saya, kan? Saya semalam datang ke acara resepsi pernikahan yang ada di hotel bersama suami."
Wanita paruh baya tersebut berjalan mendekat dan mengulurkan tangan. "Saya tadi sudah bertanya pada istri Anda karena sangat hafal dengan wajah cantiknya. Ternyata benar apa yang tadi saya tanyakan bahwa wanita cantik ini adalah istri Anda."
Sementara itu, Rafael langsung menganggukkan kepala dan menyambut uluran tangan dari wanita paruh baya tersebut yang dimengerti olehnya bahwa ibu dari Alex mendapatkan nomornya, pasti dari wanita yang berdiri di hadapannya tersebut.
"Tentu saja saya masih ingat Anda, Nyonya. Terima kasih karena sudah mengingat istri saya. Maaf, saya harus buru-buru karena ditunggu oleh beberapa sanak keluarga yang sudah datang ke rumah, jadi harus pergi."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Tuan Rafael," sahut Ana Maria yang saat ini melakukan hal sama seperti sahabatnya dengan mengulurkan tangan. "Saya Ana Maria—ibu dari Alex Claire yang merupakan dosen istri Anda di kampus."
Kini, Rafael mengerti seperti apa wanita yang tadi menghubungi dan terpaksa menyambut uluran tangan tersebut. "Saya turut berduka cita atas musibah yang menimpa putra Anda—Mr. Alex."
Kemudian Rafael yang baru saja menurunkan tangan, beralih menatap ke arah sosok pria yang diketahui mengalami masalah pada bagian kaki setelah kecelakaan. "Semoga Anda cepat sembuh, Mr. Alex."
Sementara itu, Alex yang merasa sangat aneh dengan kedatangan dari pria yang sangat dibenci, benar-benar malas untuk menanggapi, tetapi terpaksa harus mengikuti akting dari Rafael dengan tersenyum simpul.
"Terima kasih, Tuan Rafael." Alex yang baru saja menutup mulut, mengepalkan tangan karena merasa sangat marah melihat pemandangan yang ada di hadapan.
'Sialan! Si berengsek ini sengaja melakukan itu karena ingin menunjukkan pada semua orang mengenai kepalsuan yang dibangun,' gumam Alex yang saat ini tengah menatap dengan kesal.
Rafael yang ingin membalas dendam atas perbuatan Alex yang menghubungi Alesha meskipun sudah mengetahui bahwa statusnya adalah merupakan istri. Jadi, bergerak untuk memeluk pinggang ramping Alesha di depan semua orang untuk memperlihatkan keromantisan mereka.
"Baiklah, saya harus pergi sekarang." Kemudian beralih menatap ke arah Alesha yang dipeluknya. "Temanmu bisa naik taksi karena kita harus cepat saat ditunggu oleh sanak saudara. Nanti biar aku yang membayar ongkos taksi temanmu."
Karena ingin memastikan bahwa tidak ada yang berani melawannya, Rafael saat ini beralih menatap ke arah wanita yang pernah dijumpai di mall ketika pertama kali bertemu dengan Alesha ketika membicarakan mengenai masalah sugar baby.
"Kamu tidak keberatan pulang naik taksi, bukan?"
Entah mengapa, saat ini Stella hanya mengangguk patuh untuk setuju pulang naik taksi dan merasa tidak keberatan. "Anda pulang saja sekarang bersama Alesha. Lagipula saya ada janji dengan teman dan tidak langsung pulang ke tempat kos."
__ADS_1
To be continued...