I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Jangan nodai tawa Arza


__ADS_3

'Apa yang harus kulakukan? Saat ini, rasanya aku ingin membawa kabur wanita ini ke tempat jauh yang tidak akan pernah ditemukan oleh bajingan bernama Arsenio itu. Namun, ada ibu yang pastinya akan bersedih jika mengetahui hal ini.'


'Atau aku berbicara saja dengan mama secara baik-baik agar menerima Aeleasha kembali sebagai menantunya? Mama sangat menyayangi Aeleasha seperti putri kandung sendiri. Aku yakin pasti akan menerimanya kembali sebagai menantu.'


'Mungkin ini adalah jalan dari Tuhan atas segala doaku agar mendekatkan jodohku,' gumam Rafael yang saat ini masih tidak berkedip menatap ke arah Aeleasha yang terlihat sangat kacau.


Mata sembab dan wajah dipenuhi dengan kulit air mata serta rambut acak-acakan, seolah menjelaskan bahwa wanita di hadapannya tersebut saat ini sangat hancur perasaannya ketika dikhianati oleh pria yang dipercaya dan dicintai.


Bahkan saat ini ia merasa sangat marah pada Arsenio. Ingin sekali menghancurkan pria itu, tetapi di sisi lain, itu merupakan sebuah keberuntungan untuknya karena bisa kembali dekat dengan wanita yang masih belum bisa dilupakan hingga saat ini.


Meskipun beberapa minggu terakhir ini, hubungannya dengan Alesha semakin baik, tetapi ia tidak bisa membandingkan dengan sosok wanita di hadapannya saat ini.


Jika boleh memilih, tentu saja ia akan memilih wanita lemah yang selalu membutuhkan perlindungan tersebut dibandingkan dengan Alesha.


Alesha Indira adalah seorang wanita kuat, serta tegar dan bisa menghadapi masalah apapun dibandingkan sosok wanita yang berada di hadapan saat ini.


Bahkan ia berpikir jika masalahnya akan langsung selesai jika ia membatalkan perjanjian dan pastinya wanita itu akan merasa senang karena bisa lepas darinya.


"Baiklah. Aku tidak akan pernah memberitahu bajingan itu bahwa kamu ada bersamaku. Kamu tenang saja dan bisa mempercayaiku. Lalu, apa rencanamu setelah datang ke sini? Apa kamu akan menuntut cerai Arsenio?"


"Apa kamu akan menyuruh ayahmu untuk membantu menyelesaikan masalah ini? Jika membutuhkan bantuanku, katakan saja. Aku akan dengan senang hati membantu."


"Kamu tahu, Aeleasha? Dari tadi aku menahan sekuat tenaga agar tidak memelukmu. Padahal aku ingin memberikan pelukan hangat untuk sekedar menenangkan perasaan yang hancur."


Sebenarnya Aeleasha ingin melakukan hal yang sama seperti pria itu katakan, tetapi tidak bisa karena takut ada kesalahpahaman.

__ADS_1


Apalagi ia mengetahui bahwa sosok pria yang berjongkok di hadapannya masih sangat mencintainya. Semua itu terlihat sangat jelas dari tatapan yang teduh dan sama seperti beberapa tahun lalu.


Ia tidak ingin memberikan harapan palsu dan kembali menyakiti pria yang sudah dianggap sebagai saudara sendiri tersebut.


Seandainya ia bisa dengan mudah merubah perasaan tersebut, mungkin akan bersedia menerima cinta Rafael. Namun, menyadari bahwa semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Aeleasha sampai saat ini masih mencintaimu sang suami. Meskipun ia merutuki kebodohannya sendiri karena tidak bisa menghilangkan rasa cintanya setelah dikhianati.


Di lubuk hati terdalam, ia berharap jika semua yang terjadi hanyalah sebuah kesalahpahaman. Bahwa foto-foto yang dilihatnya merupakan rekayasa.


Bahwa sang suami sampai saat ini masih sangat mencintainya. Itulah harapan yang ingin ia simpan agar tidak membuatnya semakin terpuruk dalam kehancuran.


Akhirnya, saat ini memilih untuk menggeleng perlahan karena berpikir jika Rafael akan terluka jika ia hanya diam saja dan tidak berkomentar apapun untuk menanggapi.


"Kamu hanya perlu membantuku, Brother. Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa karena berpikir untuk merahasiakan ini dari ayahku. Jika ayahku tahu aku ada masalah dengan suamiku, pasti akan membuat perhitungan dan masalah akan bertambah rumit."


Rafael sudah menduga jawaban dari Rafael karena sangat hafal seperti apa watak wanita itu yang selalu menyembunyikan masalah dari orang lain. Menganggap kemampuan diri seperti seorang wonder woman yang kuat dengan menyelesaikan masalah sendiri tanpa pihak keluarga.


Berusaha terlihat kuat, padahal sejatinya hanyalah seorang wanita lemah yang suka menangis tersedu-sedu ketika menghadapi masalah.


Namun, ia tidak mungkin memarahi wanita lemah itu dan memilih untuk menuruti semua keinginan tersebut dengan sebuah anggukan kepala.


"Baiklah, lakukan apapun yang menurutmu benar. Aku akan selalu berada di belakangmu dan mendukung keputusanmu, Aeleasha. Aku akan menyuruh orang untuk mencarikan apartemen karena itu jauh lebih aman daripada kontrakan."


Ingatlah hal ini, jangan pernah merasa sungkan untuk meminta bantuanku karena semua yang kumiliki adalah milikmu juga. Aku tidak akan pernah bisa menjadi sehebat ini tanpamu dan juga pria yang saat itu. Jadi, sudah sewajarnya aku membantumu, bukan?"

__ADS_1


"Aku masih mempunyai uang, Brother. Jadi, kamu tidak perlu repot-repot untuk mencari apartemen untukku." Aeleasha tidak ingin ada campur tangan dari Rafael saat ia mencari tempat tinggal karena nanti akan terbebani dengan kalimat balas budi.


Namun, seolah pria di hadapannya tersebut mengerti apa yang ada di otaknya saat ini dan membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali, begitu mendengar tanggapan dari Rafael.


"Aku ikhlas membantumu dan tidak perlu memikirkan tentang balas budi. Aku tidak akan meminta imbalan darimu. Jadi, kau tenang saja. Lebih baik, tenangkan hatimu dan kita bersenang-senang bersama Arza. Aku ingin menghibur perasaanmu yang terluka dengan memberikan liburan di hotel mewah ini."


Rafael menggeser tubuhnya sedikit ke kanan untuk menunjuk ke arah sosok balita di atas ranjang king size yang tiduran sambil memegang ponsel.


Hingga suara tawa Arza menggemaskan terdengar dan membuat ia dan Aeleasha bersitatap.


"Jangan nodai tawa putra kita dengan suara tangisanmu itu."


Aeleasha yang saat ini hanya diam dan mengunci mulut rapat-rapat, kini tidak berkedip menghadap ke arah putranya yang sudah tidak menangis.


Hingga beberapa saat kemudian, ia hanya berbicara lirih, "Apa aku bisa melakukannya?"


"Demi kebahagiaan Arza, kamu pasti bisa. Jangan tunjukkan kesedihanmu di depan seorang anak karena itu akan membuat mereka merekam dan menyimpan dalam memori otaknya."


"Ia akan mengingat itu di seumur hidupnya. Penuhi memori Arza dengan segala kebahagiaan, bukan kesedihan." Rafael memang tidak bisa menghilangkan kalimat anak kita karena dari dulu hingga sekarang masih menganggap Arza adalah putranya.


"Arza selamanya akan menjadi putraku, jadi aku akan memberikan apapun yang bisa membuatnya bahagia."


Aeleasha yang merasa sangat terharu dengan perkataan dari Rafael, ini sudah tidak bisa menahan diri lagi dan refleks langsung lembur memeluk pria yang sangat ia sayangi seperti saudara laki-laki sendiri.


"Brother. Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika tidak bertemu denganmu. Maafkan aku karena selalu membuatmu berada pada posisi yang sangat pelik seperti ini."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2