I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Terluka, tapi tak berdarah


__ADS_3

Beberapa saat lalu, sosok pria yang baru saja memasuki area lobby, tak lain adalah Alex yang saat ini merupakan pimpinan perusahaan keluarga dan berniat untuk mengajak bekerja sama Rafael.


Ia sebenarnya tidak ingin bertemu dengan pria yang telah merebut wanita yang dicintainya, tapi karena perusahaannya saat ini sedang mengalami krisis dan membutuhkan suntikan dana dari perusahaan besar seperti milik Rafael, sehingga membuatnya ingin meminta tolong.


Bahkan Alex seolah menahan rasa malu karena harus meminta bantuan dari Rafael saat hatinya masih belum sembuh karena kehilangan sosok Alesha.


Kemudian ia berjalan menuju ke arah resepsionis dan mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan dan menyebutkan namanya.


Hingga beberapa saat kemudian, sang resepsionis mengatakan boleh menemui pemimpin perusahaan dan sudah ditunggu oleh asisten pribadi di lantai teratas bangunan itu.


Kini, Alex melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah lift dan saat ini menatap ke arah angka digital yang bergerak naik ke lantai paling atas perusahaan pria yang sangat tidak disukainya.


"Jika bukan karena ingin menyelamatkan perusahaan keluarga serta banyak staf yang menggantungkan hidupnya, mana mungkin aku datang ke sini dan mempermalukan diri sendiri."


Embusan napas kasar terdengar sangat jelas mewakili perasaan Alex yang sebentar lagi akan bertemu dengan pria yang bahkan beberapa minggu terakhir ini ia cueki saat mengirimkan pesan ataupun meneleponnya.


Ia benar-benar khawatir jika Rafael dendam padanya dan tidak mau membantu. "Jika ia tidak mau membantuku, apa yang harus kulakukan?"


Alex kini mendengar suara denting lift yang berbunyi dan beberapa saat kemudian, pintu kotak besi tersebut terbuka dan menampilkan sosok pria yang berdiri di hadapannya dan membungkuk hormat serta tersenyum menyapanya.


"Selamat datang, Tuan Alex." Steven yang tadi baru saja masuk ke dalam ruangan kerjanya, sangat terkejut begitu mendapatkan telpon dari resepsionis di lobby perusahaan.


Ia bahkan tidak menyangka jika pria yang diketahui merupakan saingan dari bosnya tersebut tiba-tiba datang ingin bertemu.


Bahkan ia sempat mengirimkan pesan dan beberapa kali menelpon karena disuruh bosnya, tapi tidak pernah ditanggapi oleh pria yang berdiri di hadapannya.


Jadi, begitu mengetahui pesan dari resepsionis bahwa Alex datang ke perusahaan, seketika membuatnya berpikir bahwa bosnya akan merasa senang.


"Mari, saya antar ke ruangan Bos." Steven sengaja tidak mengatakan jika di dalam sana ada wanita yang menjadi rebutan pria itu karena berpikir jika nanti tidak jadi masuk.


Sementara itu, Alex yang tadi tersenyum simpul pada asisten pribadi Rafael yang masih sangat muda, kini berjalan mengekor menuju ke arah ruangan kerja yang pernah didatanginya.


Hingga melihat pria itu mengetuk pintu dan langsung membukanya, lalu menyuruhnya untuk segera masuk.


Ia pun melangkahkan kaki panjangnya memasuki ruangan kerja Rafael dan seketika membulatkan mata karena tidak menyangka akan melihat pemandangan menyayat hati dari pasangan suami istri yang kembali meninggalkan luka tak berdarah di hatinya.


'Alesha? Ya Tuhan, kenapa saat aku memberanikan diri dan menguatkan hati untuk datang ke sini, malah bertemu dengan wanita yang telah meninggalkan luka tak berdarah yang sampai sekarang bahkan belum bisa kusembuhkan?'


Alex benar-benar sangat menyesal karena memutuskan datang hari ini ketika ada Alesha dan melihat perbuatan intim wanita yang pernah sangat dicintainya tersebut duduk di pangkuan Rafael.

__ADS_1


Tentu saja ia yang masih sangat mencintai Alesha, sakit hati melihat pemandangan yang membuat jantungnya tidak beraturan dan seolah luka yang masih menganga di hatinya, kini kembali terbuka lebih lebar.


"Alex?"


Alesha yang dari tadi memang ingin bangkit dari pangkuan sang suami karena tidak ingin pria yang merupakan ayah dari janin di dalam rahimnya tersebut kembali bergairah dan menyerangnya seperti pagi ini.


Bahwa semalam dan hari ini ia sudah dihajar habis-habisan sampai 3 ronde, jadi khawatir jika sampai sang suami bergairah di kantor dan mengajaknya bercinta untuk kesekian kalinya.


Namun, tidak pernah ia sangka jika hari ini bisa bertemu dengan Alex setelah satu bulan lamanya lost contact.


'Pasti Alex sakit hati melihat posisi kami yang sangat intim. Kenapa semua ini harus terjadi dan menyakiti pria sebaik Alex?'


Kini, Alesha merasa lega karena sang suami melepaskan tangan dari perutnya, sehingga ia bisa berdiri dan tidak ingin membuat Alex merasa sakit hati karena melihat keintimannya.


"Wah ... tumben sekali kamu datang ke perusahaanku, Alex? Padahal aku beberapa kali menghubungimu, tapi kau acuhkan." Rafael segera bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan mendekati pria yang masih diam saja dan ia tahu apa penyebabnya.


Bahkan saat ini wajah Alex yang berubah merah dan sudah bisa dipastikan jika pria itu masih memiliki perasaan pada sang istri. Bahwa Alex merasa cemburu padanya melihat ia bermesraan di depan mata.


"Maafkan aku, Alex karena tidak menyangka jika kamu akan datang saat istriku datang ke kantor."


Rafael bisa merasakan seperti apa hati Alex saat ini karena dulu juga pernah berada di posisi seperti itu ketika melihat Aealeasha yang sangat bahagia hidup bersama Arsenio.


Jadi, ia berusaha untuk memposisikan diri sebagai Alex karena pernah merasa menjadi orang paling menderita di dunia saat kehilangan Aealeasha.


Ia pun tidak membuang waktu dan menjelaskan tujuannya datang ke perusahaan Rafael. Kemudian berjalan mendekati pria dengan kemeja putih yang dibalut dengan jas berwarna hitam tersebut.


Alex saat ini mengulurkan tangannya karena ingin menyapa terlebih dahulu sebelum mengungkapkan tujuannya datang ke sana.


"Aku adalah presiden direktur Perusahaan Claire dan berniat untuk mengajakmu bekerja sama. Karena perusahaan mengalami sedikit masalah dan membutuhkan suntikan dana, jadi bisa dibilang aku saat ini ingin memanfaatkanmu untuk membantuku."


Akhirnya Alex yang sama sekali tidak melirik ke arah Alesha karena berpikir hanya membuatnya sakit hati, sehingga kini ingin segera pergi setelah mendengar keputusan Rafael.


Ia bahkan kini menyerahkan proposal miliknya yang dikeluarkan dari dalam tas setelah melepaskan jabatan tangan yang disambut oleh Rafael beberapa saat lalu.


"Ini adalah proposal kerjasama yang kutawarkan. Aku sangat berharap kau tertarik untuk menanamkan modal pada perusahaanku." Alex benar-benar merasa takdir sangat buruk padanya karena sang ayah menyerahkan perusahaan ketika berada dalam fase krisis.


Bahkan sebuah solusi gila yang awalnya membuatnya menolak mentah-mentah karena ia tidak ingin bertemu dengan Rafael.


Namun, beberapa hari berpikir dan introspeksi diri, menyadari bahwa jika menolak, ia terlihat sangat egois karena sama sekali tidak memperdulikan nasib para staf perusahaan.

__ADS_1


Kini, ia menunggu jawaban yang lolos dari bibir tebal pria yang berdiri di hadapannya dan mencoba untuk membuka proposal yang diterima.


Hingga ia mendengar suara dari wanita yang sangat dirindukannya dan ingin sekali dipeluknya untuk meredakan perasaan membuncah yang menyeruak dan menyiksanya.


Bahkan semakin sakit hati begitu mendengar panggilan sayang dari Alesha pada Rafael.


"Sayang, seharusnya mengajak tamu untuk duduk. Bukannya terus berdiri seperti itu," sahut Alesha yang saat ini benar-benar merasa tidak enak pada Alex karena memperlihatkan keintiman mereka dan bisa melihat seperti apa ekspresi dari wajah pria dengan iris tajam berkilat itu.


'Padahal aku ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf atas semua yang kulakukan padamu dan juga berterima kasih karena telah menyatukan kami. Tapi bagaimana bisa melakukannya jika belum apa-apa saja sudah membuatmu terluka seperti ini?'


Alesha yang bergumam sendiri di dalam hati sambil berjalan mendekati dua pria yang sama-sama memiliki arti penting di hatinya, kini berpikir harus memberikan waktu untuk dua pria itu berbicara dan ia berniat untuk keluar sementara waktu.


Namun, bingung harus pergi ke mana dan setelah berpikir, berniat untuk ke kantin menikmati makanan yang dijual di sana.


"Aaah ... benar juga! Maafkan aku, hingga lupa menyuruhmu duduk jika tidak diingatkan oleh istriku." Rafael memberikan kode dan mempersilakan Alex untuk duduk.


Alex saat ini hanya menuruti perintah Rafael dan mendapatkan tubuhnya pada sofa tanpa menatap ke arah Alesha.


Ia hanya ingin cepat selesai pertemuan dengan Rafael dan berharap mendapatkan persetujuan, lalu segera angkat kaki dari ruangan yang dianggapnya seperti neraka.


'Sial! Rasanya aku tidak bisa bernapas saat ini hanya karena melihat kemesraan Alesha yang seperti sangat bahagia bersama dengan Rafael. Alesha, kapan aku bisa merelakan hatiku yang telah kuserahkan sepenuhnya padamu?'


Saat Alex baru saja mendaratkan tubuhnya di sofa sebelah Rafael duduk, mendengar suara Alesha dan membuatnya mengerti kenapa wanita itu berniat untuk menghindar darinya.


"Aku akan membiarkan kalian berdua membicarakan mengenai masalah bisnis. Jadi, Aku akan pergi ke kantin karena perutku sangat lapar dan ingin makan sesuatu." Alesha tidak ingin memanggil sayang pada sang suami karena menghormati Alex.


Ia masih bisa melihat cinta di mata pria yang pernah menjadi bagian terpenting dalam sejarah hidupnya.


'Lupakan aku dan buang cintamu yang tidak akan pernah ada endingnya karena hanya akan menyiksamu, Alex.'


Saat Alesha menunggu persetujuan sang suami saat berpamitan, yang terjadi malah sebaliknya karena ia tidak diizinkan untuk keluar.


"Jangan berkeliaran di kantin. Jika lapar dan ingin makan sesuatu, biarkan staf di kantin yang mengantarkannya ke sini. Aku tidak ingin kamu lelah dan terjadi sesuatu hal yang buruk pada anak kita." Rafael ingin menyelesaikan semuanya Hari ini agar hidup mereka bertiga tidak dibebani oleh rasa bersalah.


"Lagipula, kebetulan ada Alex di sini, bukankah kamu ingin berbicara padanya?" tanya Rafael yang saat ini memberikan kode pada sang istri agar duduk di sebelahnya.


Ia tahu bahwa sang istri saat ini tengah menghindar karena merasa tidak enak pada Alex saat melihat kemesraan mereka. Namun, saat ini berpikir jika itu jauh lebih baik dan segera diselesaikan saja, agar sama-sama merasa tenang dalam melanjutkan hidup.


Alesha seketika terdiam dan merasa kebingungan untuk menjawab titah dari sang suami yang menurutnya sangat tidak tepat waktunya.

__ADS_1


'Suamiku benar-benar tidak bisa melihat kondisi Alex yang saat ini tengah terluka. Apa aku tega menambah luka di hatinya saat ia sangat baik padaku?'


To be continued...


__ADS_2