
Sementara di sisi lain, hanya mengerucutkan bibir saat melihat sikap nakal sang suami yang sudah berencana untuk menyemai benih di rahimnya.
'Dalam hal yang berhubungan dengan hal vulgar, suamiku selalu menjadi pemenang. Pasrah adalah pilihan yang tepat hari ini karena aku yakin dia tidak akan membuatku tenang seharian. Apalagi para pelayan sedang tidak ada karena diliburkan.'
'Astaga! Suamiku ini benar-benar sangat nakal,' lirih Aeleasha yang bisa menatap seringai tajam mengintimidasi dari pria dengan rahang tegas tersebut.
Sementara itu, sebenarnya beberapa saat yang lalu, Arsenio merasa sangat bergairah begitu merasakan kulit putih Aeleasha saat berbisik.
Mengetahui tentang kelemahan sang istri dan tersenyum smirk, sehingga tidak membuang waktu untuk menyerang titik sensitif wanita yang menurutnya baru saja mengatakan omong kosong di hadapannya saat menyuruhnya berhenti.
Tentu saja saat ini ia merasa di atas angin karena melihat wanita yang duduk di atas ranjang tersebut beberapa saat kemudian meledak karena perbuatannya.
"Kamu menikmati semuanya, Istriku."
Aeleasha yang terlihat memerah pipinya karena seluruh tubuh seketika menegang dan menghangat akibat perbuatan sosok pria yang tersenyum smirk karena berhasil mengintimidasinya.
'Suamiku yang mesum.'
Berbagai macam perasaan bercampur aduk menjadi satu di otak Aeleasha. Ia tidak berniat untuk membuka mulut.
"Sayang, tapi jangan seperti ini. Lepaskan ikatan pada tangan dan kakiku. Apa yang sebenarnya kamu lakukan padaku? Apa kamu mau menyiksaku?" lirih Aeleasha yang ingin menghentikan kegilaan sang suami padanya.
Apalagi tadi saat otaknya menyuruh sang suami untuk berhenti, tetapi respon tubuhnya menjerit, menyuruh pria itu agar segera membawanya meledak bersama dalam puncak kenikmatan untuk merasakan definisi orgasme yang spektakuler seperti biasa.
Baru saja ia menutup mulut, melihat respon Arsenio yang menggelengkan kepala dan tentu saja mengetahui apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi.
Meskipun di hati kecilnya merasa sangat senang karena pria itu tidak menuruti keinginannya, tetap saja ia tidak mungkin melakukan hal itu.
Kali ini, ia menyadari bahwa nafsu mengalahkan segalanya dan kini hanya ingin merasakan sensasi meledak yang membuatnya kembali mendesah dan meneriakkan nama pria yang benar-benar masih membuatnya merasa seolah menjadi ratu di hati sang raja.
Hingga ia kini mendengar suara bariton dari pria yang berdiri menjulang di hadapannya.
__ADS_1
"Ruangan ini adalah tempat kita mereguk asmara, Sayang dan malam ini, kita akan bersama mendakinya. Mendaki puncak kenikmatan seperti biasa kita datangi bersama, tapi di tempat berbeda. Aku sudah berkonsultasi dengan para dokter ahli untuk membuatmu hamil anak perempuan."
Ia mengetahui dari dokter bahwa agar bisa memiliki anak perempuan, harus berhubungan intim dua sampai tiga hari sebelum masa ovulasi, menghindari orgasme, melakukan posisi **** khusus, menambah makanan dengan kandungan asam, berendam air hangat sebelum berhubungan intim.
Arsenio kali ini meloloskan kalimat itu dari bibirnya dan berpikir Aeleasha harus bersiap untuk mendapatkan benih darinya.
"Setelah menyemai benih di rahimmu, untuk mendapatkan peluang bayi perempuan, kamu mengonsumsi makanan yang memiliki rasa asam serta kaya akan vitamin C. Aku sudah menyuruh kepala pelayan menyiapkan yang alami. Ada buah jeruk, jambu merah dan strawberry."
Sementara itu, Aeleasha yang sebenarnya tidak suka buah asam, kini terlihat beberapa kali mengerjapkan kedua mata.
Tentu saja ia kebingungan sambil menggigit bibir bawahnya begitu melihat sosok pria yang merupakan suaminya.
Jantungnya yang saat ini berdetak sangat kencang begitu melihat tubuh sixpack yang terpampang nyata di hadapannya penuh dengan cetakan otot perut yang sangat seksi.
Entah mengapa ia merasa seperti sangat ingin meraba bagian itu, tetapi menahan diri dengan sekuat tenaga karena malah merasa seperti seorang wanita nakal.
'Dia selalu terlihat sangat tampan dan seksi,' lirih Aeleasha yang kali ini seketika kembali mengerjapkan kedua mata begitu melihat perbuatan sang suami.
Meskipun ia bukanlah seorang perawan bodoh dan sering melihat tubuh telanjang sang suami, tetap saja tidak bisa menghilangkan sifat malu karena pada kenyataannya bukanlah seorang wanita yang nakal dan suka menggoda.
Jika tadi ia masih bisa melihat cetakan otot perut yang sangat seksi itu dengan mata telanjang, tetapi tidak untuk melihat seorang pria dengan paras tampan itu berbuat lebih.
Namun, saat ia berpaling, suara bariton Arsenio yang baru saja mengatakan hal yang sama sekali tidak pernah dipikirkan. Hingga membuat bulu kuduknya meremang.
Sementara itu, Arsenio yang terkekeh geli menanggapi sikap Aeleasha saat memalingkan wajah, seperti baru pertama kali melihat bagian bawah tubuh seorang pria. Padahal jelas-jelas wanita itu sering melihatnya.
'Hari ini, aku akan merubahmu, Sayang,' gumam Arsenio yang kini ingin merubah Aeleasha menjadi lebih liar dan tidak malu padanya.
"Jangan pernah memalingkan wajahmu, Sayang karena kamu pun harus bekerja."
Aeleasha yang sama sekali tidak pernah menyangka jika akan mengungkapkan kalimat ambigu, tetapi sudah bisa dicerna olehnya kemana pembicaraan itu.
__ADS_1
Namun, ia masih enggan untuk menuruti perintah itu Jika ia awalnya berpikir bisa menghindar, merasakan tangan dengan buku-buku kuat itu mendarat pada dagunya dan menatap tajam mengintimidasi, sehingga kini ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan wajah.
Tentu saja sangat tahu apa maksud perkataan itu dan membuatnya merasa semakin bingung jika harus melakukan hal tersebut.
Refleks Arsenio tidak ingin membuang waktu.
"Aku akan membuat keinginanmu menjadi kenyataan. Jadi, menurutlah padaku.
Arsenio kali ini benar-benar ingin membuat Aeleasha patuh pada semua perintahnya.
"Lakukan ini!" Arsenio memberikan contoh.
Sementara itu, Aeleasha kini membulatkan kedua mata. Ia masih tidak menanggapi perintah yang hanya dijawab dengan sebuah gelengan kepala.
"Aku tidak mau," lirihnya yang kini akhirnya menjawab dengan nada frustasi.
"Astaga. Bukankah aku tadi sudah berhasil membuatmu mencapai puncak dua kali? Sekarang harus melakukan hal yang sama sebelum permainan utama dimulai."
Tanpa mempedulikan penolakan, Arsenio kemudian langsung mengarahkan kepala wanita yang dari tadi menolaknya dan membuatnya merasa sangat kesal.
"Nikmati semuanya!" ujar Arsenio dengan tersenyum smirk.
Namun, ia tidak ingin terburu-buru menyelesaikan kegiatan liarnya karena ingin lebih lama melakukan itu epuas hati. Tentu saja untuk melakukan penyiksaan manis pada sosok wanita yang sangat dicintai.
"Nikmati aku sepuasmu, Honey."
Arsenio kini sudah mengedipkan mata pada sosok wanita yang saat ini masih ditahan kedua sisi kepala dengan tangan agar tidak bisa menghindar dari pandangan.
"Jangan memalingkan wajahmu karena ada pemandangan indah di hadapanmu ini."
To be continued...
__ADS_1