
Arsenio saat ini merasa di atas angin begitu melihat sosok wanita di hadapannya seolah pasrah dan memilih untuk patuh. Ia hari ini sangat puas dan senang karena bisa membuat kelinci kecilnya masuk dalam jebakan.
'Aku tidak akan pernah melepaskanmu setelah masuk ke dalam, sayang karena begitu melihat kejutan dariku, pasti kamu akan terharu dengan menyerahkan diri padaku hari ini.'
Puas bergumam sendiri di dalam hati, Arsenio yang langsung menutup kedua mata Aeleasha, kini membuka pintu ruangan kamar yang sudah disiapkan olehnya sebagai tempat memadu kasih.
Begitu memutar kunci pada lubang, langsung membuka kenop pintu dan menuntun Aeleasha yang tidak bisa melihat apapun untuk berjalan menuju ke arah ranjang king size di tengah-tengah ruangan tersebut setelah sebelumnya mengunci pintu.
Ruangan dengan nuansa pink yang sangat manis dan identik dengan sesuatu yang lucu begitu indah terlihat.
Saat ini Arsenio sudah membuat sang istri mendaratkan tubuh di atas ranjang dan tanpa membuka suara, ia bergerak untuk mengambil sesuatu dari laci.
Ia memilih tali berbahan lembut seperti pita yang tentunya tidak akan pernah membuat sosok wanita yang masih diam, duduk di atas ranjang tersebut merasa sakit.
Kemudian sudah mengarahkan sang istri agar bersandar di punggung ranjang karena akan mengikat kedua tangan wanita itu sambil mendekatkan wajahnya ke dekat daun telinga wanita yang masih diam saja, lalu berbisik di sana.
"Aku tidak akan mengizinkanmu kabur setelah masuk ke ruangan ini."
Sementara itu, Aeleasha yang masih merasakan gelap karena tidak bisa melihat apapun, merasa sangat aneh karena perbuatan sang suami yang sudah mengikat kedua tangannya.
"Sayang, apa yang kau lakukan? Kenapa mengikat kedua tanganku? Apa yang sebenarnya ada di sini? Di sini tidak ada binatang melata seperti ular atau buaya, kan?"
Tentu saja saat ini otak Aeleasha seketika membayangkan berbagai macam hal buruk begitu Arsenio berbisik di telinga dengan mengatakan tidak boleh kabur. Ia membayangkan jika tiba-tiba ada ular yang menggerayangi dan membelit tubuhnya.
Hal itu membuat tubuhnya benar-benar merinding karena ketakutan. "Sayang, jangan bercanda! Buka penutup mataku. Aku harus melihat ada apa di dalam sini."
Sementara itu, Arsenio yang sama sekali tidak berniat untuk menuruti permintaan wanita dengan suara bergetar karena ketakutan itu malah membuatnya merasa sangat bersemangat untuk menggoda lebih jauh.
"Mungkin saja, tapi tenang saja karena aku tidak akan membuatmu mati digigit ular ini."
__ADS_1
Arsenio yang tadinya menatap intens sosok wanita dengan posisi tangan terikat pada kedua sisi ranjang besi tersebut, kini melanjutkan kegiatannya.
"Sayang. Lepaskan aku! Jangan membuatku takut seperti ini. Aku benar-benar bisa gila karena ketakutan. Aku mau keluar sekarang dan tidak jadi ingin melihat apa yang ada di dalam ruangan ini," ujar Aeleasha dengan suara bergetar hebat karena kali ini benar-benar sangat ketakutan.
Apalagi ia membayangkan jika ular benar-benar melilit tubuhnya, sedangkan ia tidak bisa berlari karena Arsenio mengikat kedua tangannya.
Tidak hanya itu saja, kali ini ia merasakan kakinya juga diikat setelah dibuka lebar-lebar hingga membuatnya semakin bertambah ketakutan.
"Astaga, kamu mau apa?"
Degup jantung Aeleasha yang berdetak semakin kencang saat kembali berpikir bahwa Arsenio ingin menyiksa. Meskipun tadi ia sendiri yang meminta untuk masuk ke dalam ruangan kamar tersebut, tetapi tidak pernah menyangka jika akan berakhir seperti ini.
Ia benar-benar sangat ketakutan sekarang dan ia berpikir jika binatang melata akan naik ke tempat tidur dan perlahan menggigit dan membunuhnya.
Membayangkan jika itu benar-benar terjadi, bulu kuduk meremang seketika. "Sayang, jangan bermain dengan hal yang berisiko!"
Ada nada ketakutan yang terdengar sangat jelas dan suara serak itu menegaskan bahwa saat ini benar-benar sedang dilanda kekhawatiran luar biasa saat memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk menimpanya.
Sementara Arsenio yang hanya tersenyum smirk, kini mengungkapkan keinginan agar Aeleasha lebih rileks dan tidak ketakutan berlebihan.
"Tenanglah. Ada kejutan khusus menantimu. Kamu akan merasa bahagia setelah melihat ini."
Sementara Aeleasha yang masih belum bisa tenang, meskipun mendapatkan kalimat penghiburan dari sosok pria yang sama sekali tidak bisa dilihat olehnya.
Bahkan saat ini, ia membayangkan akan menjadi santapan ular dan tubuhnya berpindah pada perut binatang melata tersebut hingga membuat merinding. Namun, kulitnya seketika meremang begitu merasakan sesuatu di lehernya yang mulai basah.
Arsenio yang tidak ingin membuang waktu, sudah melabuhkan bibirnya pada leher jenjang nan putih itu dan berniat untuk meninggalkan jejak kepemilikan di sana.
Berharap bahwa semua orang bisa melihat jejak kepemilikan yang ingin ia tunjukkan pada dunia.
__ADS_1
Ia dari tadi memang telah mengincar ceruk leher putih yang ingin sekali diberikan jejak kepemilikan di sana dan menunjukkan pada dunia bahwa Aeleasha hanyalah miliknya.
Kini, ia perlahan menunduk dan mendaratkan bibir di sana dan melaksanakan keinginannya.
Awalnya Aeleasha merasa sangat aneh sekaligus kebingungan saat merasakan sensasi kenyerian luar biasa pada lehernya akibat perbuatan Arsenio.
Hingga ia membuka mulut sebagai bentuk nada protes ketika menyadari berada pada posisi sangat intim dengan pria yang diakuinya memilki pahatan sempurna dengan aura sejuta pesona tersebut. Meskipun saat ini tidak bisa melihatnya karena mata masih tertutup.
Bahkan jantungnya berdetak sangat kencang dan seolah seperti mau meledak begitu merasakan perbuatan pria yang tidak berhenti menjelajahi lehernya.
"Sayang, hentikan! Apa yang sedang kamu lakukan?" lirih Aeleasha yang hanya bisa menggenggam erat telapak tangan karena tidak bisa melakukan apapun selain itu. Apalagi posisinya saat ini benar-benar tidak menguntungkan dengan tangan dan kaki yang terikat.
Bahkan ia kali ini benar-benar tidak memahami apa yang sedang dilakukan Arsenio padanya. Alih-alih menunjukkan apa yang ada di ruangan kamar itu, tetapi malah sibuk menjelajahi leher.
Bahkan saat ini, pipinya terasa seperti terbakar saat merasakan bibir tebal sang suami berada di ceruk lehernya. Hingga membuat urat syaraf menegang hingga terbuai dengan kenakalan pria yang mengirimkan sensasi luar biasa dan membuat sensasi perut seolah berputar.
Tidak hanya itu saja, beberapa saat kemudian, ia merasakan tangan kuat Arsenio mengusap kedua sisi lengannya.
Bahkan ia menyadari saat ibu jari Arsenio kini sudah berhasil menggoda sepanjang tubuh yang mulai bergairah. Ia menyadari bahwa pria yang bermain-main dengannya tersebut tengah mengirimkan denyut kenikmatan kecil hingga menembus tubuhnya.
Dengan sudut bibir melengkung ke atas, Arsenio yang kini masih asyik menggoda Aeleasha dengan posisi berpakaian lengkap karena tidak ingin terburu-buru menyiksa wanita yang sangat dicintai tersebut agar segera hamil dengan setiap hari menanamkan benih di rahim itu.
Hanya Aeleasha yang selamanya ia inginkan, hanya wanita dengan mata tertutup itu yang diinginkan untuk melahirkan anak kedua, bukan wanita lain.
Arsenio masih asyik menggoda Aeleasha yang dari tadi mengungkapkan nada protes padanya agar melepaskan penutup mata. Namun, ia merasa belum saatnya.
Sementara di sisi lain, Aeleasha kini sudah meliuk-liuk seperti cacing kepanasan dan tidak bisa menolak setiap sentuhan dari jemari dengan buku-buku kuat milik Arsenio. Apalagi bibir tebal sang suami seolah menunjukkan tidak berniat untuk melepaskan.
Bahkan terasa sensasi berputar lepas kendali dari dirinya, ia makin tidak bisa berpikir
__ADS_1
To be continued...