
Beberapa saat lalu, dua wanita paruh baya yang dalam perjalanan pulang menuju ke rumah, kini sibuk berbincang mengenai calon cucu pertama mereka.
Tiana yang selama ini sangat mengharapkan putranya segera memberikan cucu, terlihat sangat bersemangat ketika membahas mengenai kehamilan Alesha.
"Alhamdulillah, Jeng. Doa-doa kita didengar oleh Tuhan. Aku sudah lama menunggu masa ini dan sempat putus asa begitu mengetahui cerita sebenarnya mengenai putra-putri kita yang ternyata menipu saat menikah."
"Namun, ternyata Tuhan masih berpihak pada para orang tua yang ingin putra-putrinya bahagia saat menjalani hidup rumah tangga dan memiliki keturunan yang akan meramaikan rumah yang sangat sepi."
Tiana tadi membelikan semua kebutuhan ibu hamil agar menantunya tercukupi semua nutrisi serta vitamin untuk calon cucunya.
Bahkan tidak mengizinkan ibu Alesha untuk mengeluarkan uang. Ia merasa harus bertanggung jawab pada menantu kesayangan karena perbuatan putranya yang keterlaluan saat mengucapkan talak 1 dan tidak mengetahui kehamilannya.
Apalagi semenjak mengetahui bahwa pernikahan mereka terjadi berdasarkan kontrak, seperti tidak mempunyai muka berhadapan dengan besannya tersebut. Hingga ia pun kini ingin menunjukkan niat baiknya demi bisa mengobati rasa bersalah.
Nasib baik besannya tersebut mau memaafkan dan tidak pernah menyalahkan perbuatan putranya yang memanfaatkan kemalangan Alesha. Karena berpikir bahwa semua itu sudah menjadi garis dari Tuhan untuk Alesha.
Lia Nuraini kini juga ikut tersenyum dan mengiyakan pemikiran dari Tiana. Ia tadi bahkan hanya mengambil buah-buahan yang baik untuk ibu hamil karena semua sudah diambilkan oleh besannya.
__ADS_1
"Semoga putriku bisa menjaga dengan baik titipan dari Tuhan yang dipercayakan padanya. Alhamdulillah semua kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka sudah selesai karena ternyata sama-sama saling mencintai."
Lia Nuraini bahkan saat ini berpikir jika hidup putrinya akan dilimpahi kebahagiaan karena memiliki suami yang sangat mencintai dan baik seperti Rafael.
"Oh ya, kira-kira cucu kita laki-laki apa perempuan ya, Jeng. Pasti Jeng ingin punya cucu laki-laki sebagai cucu pertama." Lia Nuraini berharap jika besannya tersebut tidak merasa kecewa jika sampai yang dilahirkan oleh putrinya adalah anak perempuan.
Jadi, ia berpikir bahwa saat ini ingin mengetahui perasaan wanita itu untuk memastikannya sendiri. Namun, jawaban dari besannya tersebut membuatnya merasa sangat lega dan tidak lagi khawatir jika yang dilahirkan oleh putrinya adalah anak perempuan.
"Mau perempuan atau laki-laki tetap harus disyukuri karena anak adalah titipan dari Tuhan yang harus dirawat dengan baik tanpa membeda-bedakannya." Tiana kini menatap ke arah gang yang menuju rumah besannya.
"Mungkin Alesha sedang tidur karena tadi dokter menyarankan untuk lebih banyak beristirahat." Lia Nuraini kini bersitatap dengan besannya karena tengah memikirkan sesuatu yang mungkin sama.
Namun, mereka sama-sama menggelengkan kepala karena tidak ingin membenarkan apa yang dipikirkan saat ini.
Hingga Tiana seketika turun dari mobil dengan terburu-buru karena khawatir jika apa yang saat ini sama-sama dipikirkan dengan besannya tersebut benar.
"Rafael tidak boleh macam-macam pada Alesha yang masih hamil muda dan sangat rawan untuk melakukan hubungan intim," ucap Tiana yang saat ini langsung berjalan menuju ke arah pintu dan menggedor beberapa kali.
__ADS_1
Ia khawatir jika putranya terlalu serakah karena sudah mengetahui bagaimana perasaan Alesha sebenarnya. Jadi, sangat khawatir jika Rafael melakukan hubungan intim karena tidak bisa menahan diri saat berduaan di dalam rumah.
Apalagi status mereka adalah suami istri yang sah, tapi layaknya pengantin baru karena hanya melakukannya satu kali dan itu pun tidak diingat akibat mabuk. Ia bahkan sudah menunggu beberapa menit dan tidak kunjung dibuka meskipun sudah memanggil nama putra dan menantunya.
"Kenapa belum dibuka juga? Jangan-jangan ...."
Tiana tidak bisa melanjutkan perkataannya karena memijat pelipis dan mendengar suara dari wanita paruh baya yang baru kini berada di sebelahnya.
"Mungkin mereka ketiduran dan tidak mendengar." Lia Nuraini tadi meminta sang supir untuk menurunkan barang-barang yang ada di bagasi, sehingga membiarkan besannya membuat keributan di sore hari.
Ia memang sempat mengkhawatirkan jika menantunya akan melakukan tugasnya sebagai seorang suami di saat kehamilan putrinya sedang rawan dan tidak baik-baik saja. Namun, ia tidak berani berkomentar ataupun melarang.
Jadi, masih berusaha untuk berpikir positif dan menenangkan besannya agar tidak marah-marah pada putranya. Apalagi mereka pernah muda dan mengerti seperti apa seorang suami jika dekat dengan istri.
Apalagi bisa dibilang masih pengantin baru, pastinya tidak akan bisa menahan diri dari godaan nafsu saat bersama dengan pasangan yang halal.
To be continued...
__ADS_1