I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Berubah


__ADS_3

Aeleasha dan Rafael sudah berada di dalam mobil dengan berbagai macam pertanyaan di pikirannya saat ini ketika pria yang berada di balik kemudi tersebut tidak mau mengatakan akan mengajak ke mana.


Apalagi ia masih belum mengerti tentang kalimat ambigu dari Rafael.


Kalimat mengenai balas budi yang dimaksud oleh mantan suaminya tersebut. Ia merasa khawatir jika pria dengan tubuh tinggi tegap yang fokus mengemudi tersebut meminta hal yang tidak bisa diberikannya.


'Sebenarnya apa yang diinginkan oleh brother dariku sebagai sebuah balas budi? Ia tidak akan meminta yang macam-macam padaku, kan?' lirih Aeleasha yang saat ini memangku putranya.


Arza bahkan sudah tertidur di pangkuannya, sehingga tidak membuatnya merasa terganggu ketika sedang sibuk melamun. Jika putranya tidak tidur, mana mungkin ia bisa diam. Itu semua karena Arza sangat aktif dan tidak pernah bisa diam.


Sementara itu, berbeda dengan yang dirasakan oleh Rafael ketika merasa sangat senang bisa menuntut balas budi pada wanita yang masih ia cintai tersebut.


Rafael dari dulu ingin sekali mengajak anak dan istri liburan ke sebuah hotel mewah bintang lima. Namun, ia dulu hanyalah seorang pekerja rendahan dengan gaji tidak seberapa, sehingga hanya bisa berkhayal tanpa menjadi kenyataan.


Namun, berbeda dengan posisinya saat ini yang lebih mudah dalam menginginkan sesuatu.


Tentu saja merupakan hal yang mudah bagi seorang pemimpin perusahaan untuk mengajak ibu dan anak tersebut liburan di hotel mewah.


Meskipun ia tahu bahwa hari ini bukanlah saat yang tepat karena Aeleasha dan Arza pasti merasa lelah, setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang 20 jam di udara.


Namun, ia berpikir tidak ada waktu setelah ini karena akan sibuk dengan acara pernikahan. Bahkan tadi ia pergi tanpa memberitahu sang ibu bahwa akan menjemput Aeleasha.


Ia hanya mengatakan akan melakukan meeting di luar kota saja. Dengan sebuah pertimbangan, bahwa ia ingin sekali menghibur Aeleasha yang sedang terluka karena ulah sang suami, Rafael tidak mau menunda hal itu dan berpikir saat ini adalah waktu yang tepat.


'Aku mengatasnamakan balas budi untuk menghiburmu dari kesedihan yang kamu rasakan, Aeleasha. Aku tahu jika saat ini kamu sangat terluka dan bersedih, tapi menyembunyikannya dariku agar aku tidak menghabisi pria sialan itu.'


'Lihat saja nanti, jika sampai bajingan itu tidak bertanggungjawab atas perbuatan menyakitimu, aku pasti akan merebutnya darimu.'

__ADS_1


Puas beragumen sendiri di dalam hati, kini mobil yang dikemudikan oleh Rafael sudah tiba di pelataran parkir sebuah hotel bintang lima. Ia melirik sekilas ke arah sosok wanita yang terlihat sangat khawatir dengan wajah memerah tersebut.


Namun, ia malah merasa sangat senang bisa membuat Aeleasha terlihat ketakutan hanya gara-gara ia mengajak ke sebuah hotel mewah.


'Ia pasti berpikir aku akan berbuat macam-macam padanya. Astaga! Apa ia tidak mengenalku setelah hidup bersama selama tiga tahun dalam ikatan rumah tangga?'


Saat Rafael merasa kesal ketika melihat respon dan ekspresi dari Aeleasha seperti sangat ketakutan, di sisi lain, wanita yang masih tidak berkutik dengan memangku putranya, beberapa kali mengerjapkan mata ketika melihat bangunan megah tinggi menjulang di hadapan.


Mendadak perasaan Aeleasha saat ini tidak karuan karena otaknya sudah berpikir macam-macam pada sosok pria di balik kemudi tersebut.


'Tidak! Mana mungkin brother mengajakku ke sini untuk menagih balas budi yang dimaksud tadi. Astaga! Apa ia sudah berubah karena dikuasai oleh dendam padaku karena menyakitinya di masa lalu dengan memilih Arsenio?'


'Brother bukanlah pria yang seperti itu. Aku sangat mengenalnya, tapi kenapa masih meragukannya? Daripada aku sibuk menebak apa yang akan dilakukan ketika mengajakku ke sini, lebih baik bertanya agar tidak tersiksa dengan pertanyaan yang menarik di otakku.'


Puas mengumpat di dalam hati, Aeleasha yang masih menahan beban berat putranya, kini menatap ke arah mantan suaminya tersebut setelah mesin mobil dimatikan.


"Brother, kenapa mengajakku ke sini? Bukankah tadi aku menyuruhmu untuk mengantarkanku ke rumah daddy?"


Namun, dengan sangat tenang, Rafael membuka sabuk pengaman dan beranjak keluar tanpa menjawab pertanyaan dari sang mantan istri.


Hingga kini, ia sudah berada di luar mobil dan meraih ponsel di saku celana. Rafael mengetik pesan bahwa ia akan pulang terlambat dan berharap sang ibu tidak menelpon dan mengganggunya hari ini.


Ia bahkan langsung mematikan ponsel agar tidak terganggu dengan siapapun yang menghubungi ketika sedang bersama dengan Aeleasha dan Arza.


Rafael hari ini ingin memberikan kenangan terakhir yang mungkin tidak akan pernah bisa dilupakan saat bersenang-senang dengan dua orang yang sangat berarti untuknya tersebut.


Tidak ada pilihan lain, Aeleasha terpaksa keluar dari mobil setelah Rafael membuka pintu dan meminta Arza dari pangkuannya.

__ADS_1


"Biarkan aku yang menggendong Arza karena dia pasti sangat berat. Kamu pasti akan sakit pinggang jika menggendong Arza terus."


Rafael yang sudah mengulurkan tangan, kini bisa menggendong bocah laki-laki yang sangat dirindukan.


Sementara itu, Aeleasha yang masih menampilkan wajah masam karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Rafael. Ia akhirnya memilih untuk mengarahkan ukuran ringan pada lengan kekar di balik kemeja serta jas berwarna hitam tersebut.


"Kamu belum menjawabku, Brother! Menyebalkan sekali!"


"Jangan membuatku berpikiran buruk tentangmu jika tidak mau menjawab! Cepat katakan padaku, kenapa mengajakku ke sini?"


Tentu saja Aeleasha tidak akan pernah menyerah sebelum mantan suaminya tersebut mengatakan apa maksud membawanya ke hotel mewah.


Sementara itu, Rafael masih seperti biasa, yaitu bersikap datar tanpa berniat untuk menceritakan tentang keinginannya yang dulu tidak terpenuhi. Namun, sekarang ia bisa dengan mudah mengajak Aeleasha dan Arza untuk bersenang-senang di hotel mewah.


Ia yang tadinya berjalan menuju ke arah lobi hotel, seketika menghentikan langkah ketika mendengar suara teriakan dari Aeleasha.


"Brother! Jawab aku! Jika tidak, aku tidak akan mau masuk!" teriak Aeleasha dengan tidak berniat untuk beranjak dari tempat ia berdiri.


Ia hanya mengarahkan tatapan tajam pada pria yang kini berbalik badan dan menatap ke arahnya.


"Bukankah aku sudah mengatakan jika nanti kamu akan tahu sendiri? Ingatlah, bahwa aku sudah menolongmu?" Rafael merasa seperti tengah menikmati permainan yang saat ini membuatnya sangat bersemangat ketika melihat wajah memerah dari Aeleasha.


Sebenarnya, ingin sekali ia tertawa terbahak-bahak menanggapi respon mantan istrinya tersebut saat salah paham, tetapi berusaha untuk menyembunyikan apa yang dirasakan dan memilih melanjutkan perkataannya.


"Ingatlah kebaikan yang kulakukan padamu. Jadi, bukankah sudah sewajarnya aku meminta balasan?"


"Rasanya aku seperti tidak mengenalmu, Brother. Kamu seperti orang lain saat mengatakan balasan dari perbuatan baik. Dulu kamu tidak pernah mengharap imbalan atas kebaikan yang dilakukan, tapi kenapa sekarang berubah? Apa itu semua karena kamu sudah menjadi seorang pemimpin perusahaan dan punya banyak uang?"

__ADS_1


Aeleasha masih mengarahkan tatapan penuh selidik dan mengintimidasi. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa pria berhati malaikat yang selalu dipuji dan dikagumi tersebut, berubah menjadi seperti ini.


To be continued...


__ADS_2