
Rafael menepuk sofa yang berada di sebelahnya dan berharap agar sang istri tidak kabur dan menyelesaikan masalah dengan Alex, sehingga keduanya sama-sama bisa mengikhlaskan perasaan tanpa terbebani rasa bersalah satu sama lain.
Hingga ia tersenyum simpul begitu sang istri patuh padanya dan duduk di sebelahnya. Meskipun terlihat sangat canggung dan seperti merasa tidak enak pada Alex.
Akhirnya ia memutuskan untuk membuka pembicaraan pribadi yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan yang baru saja dijelaskan oleh Alex.
"Baiklah." Alesha mengembuskan napas kasar dan saat ini merasakan bahwa apa yang baru saja dikatakan oleh sang suami benar adanya.
Bahwa ia tidak perlu menunda-nunda sesuatu yang bahkan bisa diselesaikan hari ini karena Alex sudah ada di hadapannya.
Sementara itu, Alex yang sama sekali tidak berniat untuk membuka suara karena jujur saja ia tidak suka dengan situasi yang dianggap membuatnya sangat susah untuk bernapas ketika melihat raut wajah penuh penyesalan dari wanita yang pernah mencintainya.
'Rafael benar-benar ingin membuatku melupakan Alesha dan merelakan kebahagiaannya,' gumam Alex yang saat ini hanya mengunci rapat bibirnya dan mendengar penjelasan panjang lebar dari Rafael.
"Jadi, tujuanku yang sering menghubungimu dulu adalah untuk menyelesaikan masalah di antara kita yang sempat tertunda. Aku ingin meminta maaf padamu karena telah merebut Alesha darimu, tapi semua yang terjadi di antara aku dan dia merupakan garis dari Tuhan."
Rafael menghentikan sejenak penjelasannya untuk melihat ekspresi wajah murung dari Alex dan membuatnya tidak tega karena harus menyakiti pria yang merupakan saingannya dulu.
"Maafkan aku karena harus mengatakannya sekarang, Alex. Ikhlaskan Alesha dari hatimu karena aku tahu bahwa saat ini masih mencintai istriku. Meskipun kamu akan tetap mencintai Alesha, tapi tidak akan bisa membuatmu memilikinya karena sekarang hatinya adalah milikku."
Kemudian ia beralih menoleh ke arah sang istri dan menggenggam erat telapak tangan untuk memberikan sebuah kekuatan agar istrinya tersebut segera menyambung perkataannya jika ada yang ingin disampaikan pada Alex.
Meski sangat tidak tega ketika menatap Alex yang seolah tidak berani memandangnya sama sekali, seolah ia adalah kuman jahat yang tidak boleh dilihat atau didekati.
__ADS_1
Namun, Alesha bisa memahami bagaimana perasaan Alex yang terluka karena ia memutuskan hubungan dan mengingkari janjinya.
"Alex, tetaplah menjadi pria berharga di mataku dan hiduplah bahagia bersama wanita lain karena jodohmu bukan aku. Ada seseorang yang ditakdirkan untukmu dan saat ia datang, kamu tidak boleh menyebutkan namaku karena itu hanya akan menambah masalah dari hubunganmu dengan wanita lain."
Ingin sekali ia menepuk lengan kekar di balik jas berwarna biru tersebut, karena berpikir itu akan sedikit menenangkan perasaan seorang Alex yang kini dianggapnya sebagai seorang teman dan tidak lebih dari itu.
Namun, ia tidak mungkin melakukan itu di depan sang suami yang sangat posesif. Jadi, hanya bisa mengungkapkan melalui kata-kata dan membuatnya tidak berniat untuk melakukannya pada Alex.
"Alex, maafkan aku atas semua perbuatanku yang telah menyakitimu dan benar seperti apa yang dikatakan oleh suamiku tadi. Kamu tidak boleh menyimpan perasaan pada wanita yang sama sekali tidak bisa dimiliki."
Kalimat terakhir yang lolos dari bibirnya sebenarnya disadari bahwa saat ini bagaikan sebuah tombak yang menancap tepat di hati Alex.
Namun, ia yakin bahwa seiring berjalannya waktu, pria itu akan baik-baik saja dan hidup bersama wanita yang ditakdirkan untuk menjadi pasangan Alex.
Ia adalah orang pertama yang ingin Alex bahagia dan segera move on atas perasaan cintanya.
Memakai sebuah candaan pada ucapannya agar suasana di dalam ruangan yang penuh ketegangan karena hanya ia yang berbicara, dianggap adalah cara terbaik untuk tidak membuat Alex tidak semakin patah hati karenanya.
Jujur saja ia baru kali ini membuat seorang pria patah hati dan benar-benar merasa sangat bersalah, tapi tidak bisa melakukan apapun karena memang tidak bisa mengendalikan hatinya yang berpaling pada seorang Rafael.
Satu-satunya yang diharapkannya adalah Alex bahagia dengan seorang wanita yang sangat mencintainya dan bisa mengerti perasaan pria sebaik itu.
Alesha yang baru selesai menjelaskan apa yang dirasakan pada Alex, kini melirik sang suami karena belum ada jawaban apapun dari Alex meskipun ia dan Rafael berbicara panjang lebar.
__ADS_1
Seolah keduanya tengah memberikan sebuah kode mengenai apa yang harus dilakukan sekarang saat Alex belum juga berkomentar mengenai permohonan maaf mereka.
Bahkan juga sekaligus support untuk pria itu agar terus menjalani hidup dengan baik tanpa patah hati berlebihan karena tidak bisa memiliki wanita yang dicintai.
'Astaga! Kenapa Alex jadi orang bisu yang seolah tidak ingin berbicara di hadapanku,' gumam Alesha yang saat ini kembali dikuasai oleh rasa bersalah karena tadi Alex mau berbicara dengan Rafael.
Namun, begitu ia membuka suara dan mengungkapkan perasaannya, pria itu sama sekali tidak berniat untuk menjawab.
'Maafkan aku, Alex," lirih Alesha yang saat ini pasrah pada apa yang dilakukan oleh Alex karena sudah tidak tahu lagi cara untuk mengungkapkan penyesalan yang dirasakan pada pria itu.
Sementara itu, Rafael masih sabar menunggu Alex membuka suara dan memilih untuk memeriksa proposal yang dibawa oleh pria itu.
Ia sebagai sesama pria tentu saja mengetahui bahwa Alex tengah menyusun kata-kata untuk diungkapkan dan itu tidak mudah bagi seorang pria yang benar-benar patah hati karena sangat tulus mencintai seorang wanita yang tidak bisa dimiliki.
'Sepertinya Alex benar-benar tengah menata kata-kata yang pas untuk menanggapi perkataan dari istriku, sehingga berpikir sangat lama sampai belum berbicara juga dari tadi.'
Di sisi lain, Alex saat ini berpikir jika pasangan suami istri tersebut mengatakan semuanya di waktu yang tidak tepat karena beban di otaknya saat ini sangat berat. Ia harus memikirkan perusahaan yang hampir bangkrut.
Hingga ditambah satu lagi masalah mengenai Alesha yang memintanya untuk melupakan dan juga mengiklaskan saat ia sendiri sangat kesusahan melakukannya.
Namun, ia sadar tidak mungkin akan terus diam saja seperti orang bisu karena itu akan membuat rasa bersalah Alesha semakin besar. Akhirnya ia membuka suara karena tidak ingin Alesha yang tengah hamil itu banyak pikiran karena tersiksa rasa bersalah padanya.
Kini, ia menatap ke arah sosok wanita yang dari tadi tidak ingin dilihatnya karena hanya bersitatap dengan iris kecoklatan tersebut, seolah membuatnya tidak bisa menghilangkan bayangan Alesha.
__ADS_1
Namun, ia berusaha untuk tidak lagi berharap hal yang membuatnya akan semakin larut dalam kesedihan karena patah hati.
To be continued...