I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Wanita yang menarik perhatian


__ADS_3

"Berikan saya kesempatan, Pak .…" Alesha mencicit dengan intonasi pelan, dengan terpaksa memasang wajah meminta belas kasihan.


Namun, lelaki itu malah melirik arlojinya. "Kamu mau mengganggu jam pelajaran saya?"


Alesha lantas menundukkan kepalanya seraya memajukan bibirnya tanpa sadar. Ia lantas perlahan memundurkan langkahnya, bergerak sedikit demi sedikit menuju pintu keluar.


Mau tidak mau, Alesha harus keluar dari kelas itu. Namun, ketika ia sampai tepat di depan pintu, suara lelaki itu kembali menginterupsinya.


"Tunggu!" Suara Alex membuat Alesha kembali berbalik. "Tulis surat permintaan maaf dan berikan pada saya jika kamu ingin mengikuti kelas selanjutnya," ucapnya, membuat Alesha sontak membulatkan mata. "Sepuluh lembar dan harus selesai hari ini," tambahnya.


Alesha seketika melebarkan kelopak matanya. Ia lantas mengepalkan tangan. Wanita itu meringis tanpa suara. Sampai kemudian tanpa mengucap apapun, ia langsung keluar dari kelas dengan segala sumpah serapah yang tertahan dari mulutnya.


Alesha tidak tahu apa celah yang ia lewatkan hingga harinya begitu sial. Padahal ketika ketika bangun tidur, ia sudah mengamalkan senyuman untuk menyambut hari barunya.


Ia juga tersenyum pada tenaman-tanaman di halaman rumah ketika menyiraminya. Rasanya tidak ada satu keburukan pun yang telah dilakukan hari ini, tetapi mengapa ia seperti sedang dihujani hukuman?


Alesha kembali menghela napasnya kasar. Kini ia duduk di taman, mengerjakan hukuman yang telah diberikan Alex padanya. Meski dalam hati terus saja heran.


Ketika ia baru saja merasa lega karena Alex ternyata lupa tentangnya begini, ternyata masih tetap saja harus berhadapan dengan lelaki itu. Bukan hanya itu, mantan sugar daddy-nya malah memberikan sejuta kesialan untuknya.


Akan tetapi, anehnya, perasaan Alesha malah terasa semakin kacau. Jantungnya terus saja bergemuruh dengan meriah, seakan ada pesta besar di dalam sana.


Rasanya sampai ingin mendekam jantungnya sendiri agar tidak berdetak heboh seenaknya. Akan tetapi, wanita itu tidak tahu bagaimana caranya. Semakin ia menyangkal, semakin ragu dengan hatinya. Apakah masih ada sisa-sisa perasaan dari masa lalu itu di hatinya?


Alesha seketika memejamkan matanya kuat, lantas tertawa sinis. "Mana mungkin," gumamnya.


Akan tetapi, ia malah mengacak-acak rambutnya sendiri. "Ah, sialan. Kenapa dia masih terlihat tampan dan memesona?" racaunya. "Sama persis seperti dulu. Tidak ada yang berubah sedikit pun, kecuali otaknya."


Wanita itu terus-terusan mengeluh frustasi, lantas ia lampiaskan dengan menulis surat permintaan maaf itu pada kertas-kertas kosong itu.


Alesha seolah semakin kesulitan mengendalikan hatinya sendiri. Padahal, baru saja ia berjanji untuk pura-pura tidak mengenal pria itu dan tidak berurusan lagi dengannya.

__ADS_1


Akan tetapi, sayangnya, kebohongan hanyalah pura-pura. Dalam hatinya masih dengan jelas mengingatnya.


Bahkan sekarang, ketika Alesha benar-benar tidak ingin berurusan dengannya lagi, ia malah terlibat masalah dengannya. Rasanya bisa gila kalau terus seperti ini.


Wanita itu merasa sia-sia saja menguatkan niat, menegaskan hatinya sendiri dengan susah payah dan segelintir usaha lainnya agar tidak terpengaruh. Akan tetapi, pada akhirnya, ia tetap saja goyah pada lelaki bernama Alex Claire itu.


***


Alex Claire. Eksistensinya ditakuti, tetapi selalu menjadi topik hangat perbincangan. Di samping itu, juga menjadi nama yang tabu. Hampir seluruh mahasiswa di fakultas mengenalnya sebagai dosen killer. Bahkan mahasiswa-mahasiswa di luar fakultasnya pun setidaknya pernah mendengar tentangnya.


Alex adalah dosen paling muda yang mengajar di kampus itu. Bukan hanya itu, ia juga memiliki wajah yang rupawan.


Tidak bisa dijelaskan bagaimana ketampanannya ketika dilihat langsung. Para mahasiswi sastra terkadang akan bilang bahwa ketampanannya seperti seraphim. Sebagian yang lain akan bilang bahkan seraphim pun akan iri jika disandingkan dengannya.


Wajar saja jika lelaki itu selalu menjadi topik perbincangan hangat di kalangan mahasiswi di kampusnya.


Ya, Alex Claire memanglah topik menyenangkan untuk dibicarakan. Sayangnya, itu hanya berlaku bagi para mahasiswa maupun mahasiswi yang tidak pernah mendapatkan masalah atau berurusan dengannya.


Habis nasib baik dan kesabarannya. Seperti yang telah diceritakan Stella pada Alesha. Berurusan dengan dosen killer itu tidaklah baik.


Namun, sosok Alex Claire yang sekarang agak berbeda dengan sosok yang dikenal Alesha dulu. Lelaki itu sekarang tidak mengenalnya atau mengingatnya sama sekali.


Sementara Alex Claire yang Alesha kenal adalah mantan sugar daddy-nya yang dulu selalu meminta untuk mengikuti ke mana saja.


Alex dulu hanyalah seorang duda yang kesepian dan terpuruk karena istrinya meninggal akibat kecelakaan, sehingga untuk mengobati kesepian dan upaya melupakan sang istri, lelaki itu menyewa Alesha sebagai sugar baby untuk menemani.


Akan tetapi, sekarang Alesha baru tahu kalau lelaki itu tiba-tiba saja menjadi dosen killer yang kini begitu disegani.


Dulu, Alesha akan merasa senang ketika bertemu dengannya. Bukan hanya karena uang yang ia berikan sebagai upah menjadi sugar baby, tetapi juga karena perasaan yang dimiliki wanita itu padanya.


Namun, sekarang keadaannya sangat berbalik. Alesha malah takut perasaannya kembali.

__ADS_1


Bagi Alesha, pertemuannya dengan Alex adalah pertemuan penuh cemas yang menggerogotinya, sedangkan sudut pandang di lain sisi, berbeda.


Bagi Alex, pertemuannya dengan Alesha adalah pertemuan pertama. Pertemuan yang menyebalkan, tetapi di saat yang sama juga menarik baginya.


Lelaki itu tak mengerti mengapa dirinya seperti telah melakukan hal-hal tidak berguna.


Menghukum mahasiswi baru, itu adalah keputusan yang dibuatnya secara spontan. Ia secara setengah sadar menyuruh gadis itu melakukan hukuman darinya dan menyuruh memberikan surat permohonan maaf itu padanya.


Padahal, niat aslinya hanyalah agar ia bisa menemui mahasiswi baru itu lagi.


Lelaki itu tak tahu pasti apa yang membuatnya sampai repot-repot memperhatikan wanita itu.


Namun, yang ia tahu, ia merasakan getaran yang bergemuruh di dadanya sejak pertama kali melihat wanita itu.


Bukan detakan jantung yang biasa bergemuruh atas kecemasan, ketakutan, atau kekhawatiran yang menghampirinya. Namun, itu adalah gemuruh di dadanya yang menyenangkan.


Ketika pertama kali melihatnya di kantin kampus, Alex melihatnya tak lebih dari seorang mahasiswi ceroboh yang kebetulan berhadapan dengannya, tetapi semakin lama ia memperhatikan, tak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita itu.


Tak disangka, ternyata ia bertemu dengannya lagi untuk yang kedua kali di kelasnya. Alex dengan senang hati menggunakan kesempatan itu untuk mempermainkan gadis itu.


Ia dengan sengaja menjebak mahasiswi barunya dengan menghukum, hanya agar bisa bertemu dengannya lagi.


Akan tetapi, nyatanya, kalau menghitung untung-rugi, lelaki itu justru rugi karena telah mengusir dari kelasnya. Ia sekarang hanya bisa menyesali sendiri atas kecerobohannya.


Sampai kemudian, ia mendekat ke arah jendela kelas yang menghadap pada taman kampus, di mana terdapat danau kecil, pohon-pohon besar yang berdiri kokoh dan memberi suasana rindang, serta beberapa kursi dan meja kayu yang sengaja dipasang untuk duduk-duduk.


Pandangan Alex lantas teralihkan ketika melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Wanita itu. Ia duduk di salah satu kursi dengan beberapa lembar kertas kosong yang ditaruh di mejanya.


Aeleasha Indira. Kalau Alex tidak salah memeriksa, itu adalah namanya. Nama satu mahasiswi yang absen dari kelasnya hari ini.


Lelaki itu tanpa sadar terus menatapnya. Meski dari kejauhan, wanita itu masih tetap saja berhasil menarik perhatiannya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2