I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Memberikan sebuah pelajaran


__ADS_3

Tentu saja saat ini Aeleasha merasa sangat malas untuk menanggapi sikap Rafael yang menurutnya berubah nakal karena berani menggodanya. Padahal dulu tidak pernah bersikap seperti itu.


"Kamu banyak berubah, Brother. Siapa yang mengajarimu nakal seperti ini? Apakah wanita yang merupakan calon istrimu? Sepertinya ada perkembangan cukup bagus darimu setelah dekat dengan seorang sugar baby."


"Apa ia tidak menelponmu dan menanyakan kamu sedang di mana? Mama tidak tahu, kan? Bahwa kamu datang ke sini karena menjemputku."


Tanpa pikir panjang, Rafael menggelengkan kepala. Ia seperti tengah memikirkan ejekan dari Aeleasha dan berpikir, apakah itu semua benar? Bahwa menjadi berani berbicara secara vulgar itu karena dekat dengan sang sugar baby?


Bahkan ia pun pernah sekali mencium Alesha di depan Alex yang notabene adalah mantan sugar daddy.


Namun, Rafael tidak tertarik untuk membahas mengenai wanita lain di depan mantan istrinya tersebut. Hingga kini ia pun berpikir bahwa perubahan sikapnya karena pengaruh usia.


Usia sangat matang untuk Rafael dan membuatnya merasa seperti pria dewasa yang makin seksi.


Hingga beberapa saat kemudian, Aeleasha membuyarkan lamunan Rafael yang dari tadi diam.


"Memangnya kapan kamu akan kembali?"


"Setelah semua hal di sini selesai, tapi rasanya aku tidak ingin kembali ke sana untuk menikah. Bagaimana jika aku diam di sini bersamamu tanpa memikirkan yang lain?" Rafael sudah menyuapkan suapan terakhir dan membuatnya menaruh kotak makanan tersebut ke atas meja dan beralih untuk mengambil air minum untuk Arza.


"Aku tidak akan pernah mau menemuimu lagi, jika sampai melakukan hal itu. Jangan membuat nama baik seorang wanita tercemar, Brother. Apalagi ibu mertuamu memiliki riwayat penyakit jantung."


"Jika itu sampai terjadi, yang ada nanti kamu akan menyesali keputusanmu. Cepat kembalikan ponselku karena aku ingin memeriksa sesuatu."


"Mengenai si berengsek itu?" umpat Rafael yang kini memilih untuk meraih kotak makanan miliknya dan mulai menikmati makanannya.


Hingga ia pun kini sudah mengunyah makanan yang menjadi menu sarapan paginya. "Sebenarnya hanya ingin mengecek, kira-kira siapa yang merindukanku saat aku pergi."

__ADS_1


"Sudah jelas jawabannya, jadi tidak perlu dijawab." Rafael yang saat ini tengah menatap sosok wanita yang dicintainya, merasa geram.


"Sepertinya kamu akan selalu menutup mata dengan bayanganku yang selalu setia berada di belakangmu, Aeleasha. Setelah makan, bersiaplah. Kita akan mengunjungi lokasi yang akan menjadi bisnismu. Aku ingin kamu melihat sendiri, apakah cocok atau tidak."


Ada sebuah rahasia yang Rafael tutupi dari Aeleasha saat ini. Bahwa ia tahu beberapa rahasia besar mengenai Arsenio. Ya, tadi pagi ia joging pagi sambil memeriksa ponsel mantan istrinya tersebut.


Di sana, ada pesan yang langsung dihapus olehnya. Itu dari mertua Aeleasha yang menyuruh untuk tetap berada jauh dari Arsenio karena ada bahaya yang mengincar.


Tentu saja ia merasa khawatir pada keselamatan Aeleasha. Jadi, ia berencana untuk mencari orang yang bertugas melindungi wanita itu.


Bahkan ia menyuruh salah satu rekan bisnis yang ada di kota ini untuk membantunya mengenai mengenai apa saja yang diperlukan ketika merintis usaha baru, yaitu restoran.


Sementara itu, Aeleasha hanya bisa tersenyum masam karena ponselnya masih belum dikembalikan. Jadi, saat ini merasa curiga pada mantan suaminya tersebut.


"Lebih baik kamu jujur padaku, Brother! Apa ada pesan di ponselku yang membuatmu takut jika aku kembali pada pria itu?"


Suara dering ponsel milik Rafael kini memecahkan suasana sepi di ruangan hotel. Tanpa membuang waktu, ia sudah menjawab dengan bersikap tenang.


"Halo, Rafael. Kenapa belum pulang juga? Ibu khawatir pada Alesha karena ia semalam ada acara di kampus, jadi tidak pulang ke rumah. Apakah kamu bisa menjemputnya nanti sore? Acara akan selesai pada sore hari."


Rafael kini memilih bangkit berdiri dari posisinya dan menjauh dari mantan istri yang tengah menatapnya.


"Alesha semalam tidak pulang ke rumah, Ibu?"


"Kamu jangan berpikir buruk pada putriku karena kemarin, dosen di kampusnya mampir untuk mengabarkan tentang hal itu dan meminta izin padaku. Aku hanya mengabarkan padamu karena tidak ingin ada masalah di kemudian hari. Bahwa Alesha tidak pulang semalam karena aku memberikan izin padanya untuk mewakili kampus mengikuti acara lomba."


Rafael saat ini sudah berpikir macam-macam mengenai wanita yang akan dinikahinya. Bahkan kini mengepalkan tangan kanan ketika membayangkan bahwa Alesha semalaman bersama Alex.

__ADS_1


'Dasar wanita murahan! Aku pikir ia akan berubah menjadi lebih baik setelah aku ancam agar tidak berhubungan dengan Alex lagi, tapi ternyata masih saja berani melakukan itu di belakangku. Awas saja nanti, aku akan memberikannya hukuman!'


Rafael yang mood hari sedang baik karena bisa bersama dengan mantan istri dan anak, memilih untuk tidak mempermasalahkan hal itu di telpon.


"Ibu tenang saja. Aku akan menjemput Alesha nanti sore."


Rafael pun mematikan sambungan telepon karena memilih untuk tidak mengiyakan perintah dari mertuanya tersebut. Meskipun di dalam hati sangat dongkol karena membayangkan jika Alesha berbuat liar saat ia tidak ada.


Hingga suara dari Aeleasha, membuat Rafael menoleh ke belakang.


"Pulanglah, Brother. Aku masih belum terlalu memikirkan mengenai restoran. Namun, jika sudah ada tempatnya, biarkan aku mengurusnya bersama orang lain nanti. Aku tidak ingin calon pengantin baru kelelahan karena mempersiapkan restoran." Aeleasha kini sudah bertekad untuk menjadi wanita mandiri dan tangguh.


Jadi, ia tidak ingin ada Rafael yang selalu setia menemaninya. Kemudian menepuk bahu kokoh pria di hadapannya.


"Pergilah, Brother! Jangan membuat mertuamu cemas. Kasihan mama juga karena sudah tua, tetapi belum bisa melihatmu bahagia."


"Buat Mama bahagia suatu saat nanti setelah istrimu melahirkan."


"Pernikahan ini hanya palsu. Jadi, jangan berpikir jika ini adalah ikatan suci. Namun, jika kamu ingin aku pergi, aku tidak bisa tetap di sini karena jatah balas budi telah habis. Sepertinya, aku memang harus pergi dari sini karena ada satu hal yang perlu kubereskan."


Rafael saat ini memilih untuk bergerak meninggalkan mantan istri yang mengusirnya tersebut menuju ke arah kamar mandi karena ingin melakukan ritual membersihkan diri.


Hari ini, ia memang harus kembali karena ibunya akan murka padanya jika dua hari tanpa kabar dengan mematikan sambungan telepon.


'Selain memberikan pelajaran pada Alesha, sepertinya aku akan mendapatkan hukuman dari mama,' gumam Rafael yang saat ini berjalan keluar dari ruangan kamar hotel menuju ke kamarnya yang ada di sebelah untuk bersiap pulang.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2