I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Sebuah kebohongan


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Alesha yang berjalan menyusuri gang menuju ke rumahnya, beberapa kali menarik napas dan berusaha untuk menenangkan diri agar nanti tidak menangis ketika menceritakan tentang perihal pernikahannya dengan Rafael yang sudah berakhir.


'Jangan sampai kamu menangis di depan ibumu, Alesha. Itu akan membuatnya bersedih dan berakhir buruk pada kesehatannya.'


Saat Alesha berjalan, beberapa kali ia menyapa para pria yang meronda dan tidak memperdulikan tatapan penuh pertanyaan dari mereka semua, sehingga saat ini ia mempercepat langkah kakinya.


Hingga ia pun sampai di depan rumah dan mengetuk pintu, lalu mengucapkan salam. "Bu, Buka pintunya. Ini aku, Alesha."


Masih mencoba untuk mengetuk pintunya, kini Alesha menunggu hingga pintu dibuka dari dalam dan beberapa saat kemudian terbuka, menampilkan wajah kuyu bangun tidur wanita paruh baya di hadapannya.


"Alesha?" Suara serak khas bangun serta mata membulat sempurna dari wanita yang tadinya seolah tidak percaya ketika mendengar suara dari putrinya, tapi ternyata benar dan ia refleks langsung melihat ke sekeliling.


Untuk memastikan apakah putrinya pulang dengan sang suami. "Di mana suamimu?"


Alesha seketika menghambur memeluk erat tubuh sang ibu. "Aku rindu Ibu dan pulang sendirian tanpa suami."


Sebenarnya ia ingin mencium punggung tangan sang ibu seperti yang dilakukan biasanya, tapi tidak bisa melakukannya karena saat ini tidak tahu apakah bisa menahan tangisnya saat menjelaskan.


Ia yang tadi sudah mengambil ponsel, langsung mengambil foto ketua memeluk sang ibu dan beberapa saat kemudian menarik diri dengan melepaskan pelukan.


"Sebentar, Bu." Kemudian Alesha mengirimkan pesan pada Alex serta foto saat memeluk sang ibu.


Sementara itu, Lia Nuraini kini langsung bergerak untuk menutup pintu karena ingin berbicara serius dengan putrinya. Kemudian ia menarik tangan putrinya dan mengajaknya duduk.


"Alesha, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu pulang sendirian seperti ini? Apa kamu bertengkar dengan suamimu?" Masih penasaran dan pikirannya kini sudah dipenuhi berbagai macam pertanyaan, Lia Nurani tengah menatap intens wajah putrinya yang terlihat sangat tenang, seolah tidak terjadi apapun.


Saat ini, Alesha langsung meraih punggung tangan sang ibu dan mengambil napas teratur sebelum menceritakan semua yang terjadi pada hubungan rumah tangganya bersama Rafael saat sudah kandas.


"Sebelum aku menceritakannya pada Ibu, berjanjilah padaku bahwa tidak akan sakit karena efek terkejut begitu mendengar apa yang terjadi pada rumah tanggaku dan Rafael."


Merasa jika sesuatu yang buruk terjadi pada putrinya, Lia Nuraini saat ini mencoba untuk menata hati dan tidak tahu apakah ia akan bisa menahan diri untuk baik-baik saja seperti permintaan dari putrinya.


Namun, ia berusaha untuk memenuhi permintaan putrinya karena tidak ingin membuat khawatir satu-satunya wanita yang dimiliki.


"Ceritakan pada Ibu sekarang karena lebih baik mengetahui daripada bertanya-tanya seperti ini. Ibu akan baik-baik saja meski sesuatu hal yang buruk menimpamu, kita akan menghadapi bersama-sama."


Alesha sebenarnya merasa tidak tega melihat wajah muram sang ibu saat berbicara dan berjanji padanya, tapi ia tidak ada pilihan lain selain mengatakan itu karena khawatir terjadi sesuatu yang buruk.

__ADS_1


Sebenarnya sepanjang perjalanan menuju ke rumah, ia tidak berhenti merapal doa agar sang ibu baik-baik saja begitu ia menceritakan mengenai perjanjian pernikahan dengan Rafael.


"Sebenarnya, aku dan Rafael sudah bercerai, Bu." Alesha tidak langsung melanjutkan ceritanya karena melihat respon sang ibu yang sangat terkejut dengan membulatkan mata.


"Apa? Bercerai?" Lia Nuraini benar-benar sangat shock begitu mendengar jika rumah tangga putrinya telah berakhir saat selama ini terlihat baik-baik saja dan tidak ada masalah sama sekali.


"Bagaimana bisa? Bukankah kalian berdua saling mencintai dan selalu terlihat romantis di depan semua orang? Bahkan rumah tangga kalian masih seumur jagung. Kenapa tiba-tiba bisa bercerai?"


Hati seorang ibu saat ini benar-benar hancur begitu mengetahui nasib malang putrinya yang tidak bisa mempertahankan pernikahan saat usia masih satu bulan.


Ia sebenarnya ingin memarahi putrinya, bagaimana bisa berpisah dengan menantu sebaik Rafael, apalagi biasanya juga sangat baik padanya serta putrinya.


"Sekarang ceritakan semuanya pada Ibu tanpa terkecuali. Kenapa kalian bisa bercerai saat usia pernikahan bahkan baru seumur jagung?"


Ia menatap ke arah putrinya yang terlihat sangat tenang dan tidak seperti kecewa atau sakit hati maupun bersedih setelah berpisah dengan sang suami dan itu membuatnya merasa sangat aneh.


Karena merasa sangat lega bahwa sang ibu masih baik-baik saja karena tidak terkena serangan jantung begitu mendengar ceritanya, kini Alesha tidak membuang waktu mulai menceritakan semua hal.


Dimulai dari pertemuannya dengan Rafael di sebuah Mall serta perjanjian pernikahan dengan sejumlah uang yang didapatkan untuk membiayai rumah sakit.


Sementara itu, beberapa kali hati seorang ibu kembali hancur saat mengetahui bahwa kehancuran rumah tangga putrinya itu karenanya.


"Maafkan, Ibu. Jika Ibu tidak sakit hari itu, mana mungkin kamu akan menjalani pernikahan kontrak dengan Rafael dan menipu hati seorang ibu serta mertua yang baik hati."


Alesha seketika langsung memeluk sang Ibu serta mengusap punggung belakang wanita paruh baya yang sangat disayanginya agar tidak merasa bersalah atas semua yang terjadi padanya.


"Ibu, jangan pernah menyalahkan diri sendiri dan membuatku merasa menjadi seorang putri yang tidak berguna. Jika Ibu melakukan hal itu, bukankah sia-sia perjuanganku selama ini?"


"Aku adalah putrimu dan sudah sewajarnya melakukan apapun untuk menyelamatkan wanita yang telah melahirkanku? Jadi, wajar aku melakukan pernikahan kontrak dengan Rafael karena kami sama-sama saling membutuhkan."


Alesha memang menceritakan semua hal mengenai pernikahan kontrak yang dijalani dengan Rafael, tapi sama sekali tidak mengatakan mengenai kehamilannya karena itu hanya akan menambah beban sang ibu.


'Aku tidak tahu berapa lama bisa menyembunyikan kehamilan ini, tapi paling tidak sekarang tidak ingin menghancurkan hingga beberapa kali perasaan ibuku.'


Alesha saat ini mendengar suara sang ibu yang menangis dan tubuh bergetar, sehingga membuatnya merasa bersalah, tapi sedikit lega karena tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada wanita paruh baya yang sangat disayanginya.


'Syukurlah semuanya baik-baik saja dan Ibu tidak terkena serangan jantung setelah mendengar ceritaku. Ya Allah, terima kasih atas semuanya hari ini. Semoga ibu akan selalu sehat dan tidak akan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi pada rumah tanggaku dengan Rafael.'

__ADS_1


Saat ini, ibu dan anak itu saling memeluk seolah tidak bisa melepaskan karena ingin meluapkan semua yang dirasakan hari ini. Bahkan tidak memperdulikan detik waktu yang terus bergulir dan malam semakin larut.


Keduanya bahkan sama-sama berkeluh kesah mengenai takdir mereka yang hanyalah berasal dari kalangan menengah ke bawah dan berbanding terbalik dengan sosok Rafael yang memiliki kekayaan melimpah.


"Mungkin jika Ibu tidak miskin seperti ini, hidupmu tidak akan semalang ini, Alesha. Maafkan Ibu karena tidak bisa membahagiakanmu dalam hal materi, tapi malah menyusahkanmu hingga memutuskan untuk menjalani pernikahan kontrak dengan Rafael."


Alesha saat ini menggenggam erat telapak tangan sang ibu dan menggelengkan kepala untuk membantah pemikiran wanita yang sangat disayanginya tersebut.


"Ibu tidak boleh berbicara seperti itu karena rezeki semua manusia sudah tertakar dan tidak akan pernah tertukar. Rafael dulu adalah orang yang sama seperti kita, tapi takdir berpihak padanya dan merubahnya menjadi seorang pria hebat serta konglomerat."


"Siapa tahu nanti aku juga akan berubah menjadi seorang konglomerat dan bisa membahagiakan Ibu begitu menikah dengan pria kaya yang sangat mencintaiku sepenuh hati." Alesha bahkan saat ini sudah tersenyum lebar untuk menghibur wanita paruh kaya di hadapannya agar tidak terus menyalahkan diri sendiri.


Namun, saat ini yang dilihatnya adalah wajah sang Ibu sudah bersimbah air mata dan membuatnya kembali merasa bersalah. Refleks ia kembali memeluk sang ibu untuk menyalurkan aura positif agar tidak terus bersedih dan menyalahkan diri sendiri.


"Sudahlah, Bu. Jangan terus menangis dan merasa bersalah padaku. Aku sama sekali tidak menyesal melakukan semua ini dan juga saat ini baik-baik saja. Aku akan melanjutkan hidup sebagai putri Ibu dan tidak lagi sebagai menantu keluarga Zafran."


"Ibu tidak merasa kecewa padaku, kan karena aku tidak bisa lagi memberikan kemewahan pada Ibu?" Saat Alesha baru saja menutup mulut, merasakan nyeri pada lengannya karena dicubit oleh sang ibu yang terlihat marah.


"Apa kamu berpikir Ibu bersedih karena tidak bisa lagi merasakan kemewahan memiliki seorang menantu kaya?" Lia Nuraini benar-benar sangat kesal serta kecewa pada putrinya karena berpikiran seperti itu.


Sementara itu, Alesha seketika tertawa karena menunjukkan sebuah kelegaan pada sang ibu yang masih baik-baik saja setelah ia menceritakan semua hal yang terjadi padanya.


"Alhamdulillah Ibu baik-baik saja dan tetap bisa marah padaku. Aku benar-benar bersyukur atas semua nikmat ini. Aku sangat bahagia, Bu karena bisa menjadi putri yang berguna untuk ibunya."


"Aku adalah putrimu dan mengetahui semua hal tentang Ibu. Jadi, aku tadi hanya bercanda. Jadi, jangan diambil hati, Bu. Sekarang dan mulai hari ini, aku akan kembali tinggal di sini bersama ibu dan kita bisa hidup bahagia seperti dulu. Karena Ibu tidak akan kesepian lagi."


Kini, Alesha melepaskan pelukannya dan mengusap lembut bulir air mata di wajah sang ibu. "Ibu tidak boleh menangis karena putrimu saat ini merasa sangat bahagia karena sudah berhasil menyelesaikan dengan baik pernikahan kontrak."


Saat ini, Lia Nuraini hanya diam dan membiarkan apapun yang dilakukan oleh putrinya karena jujur saja ia jauh lebih sedih karena menjadi satu-satunya orang yang membuat putrinya menjalani pernikahan penuh kepalsuan.


"Alesha, bagaimana dengan Rafael? Apa ia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padamu setelah hidup bersama selama satu bulan?"


"Lalu, Kenapa kamu datang dan membawa apapun dan sendirian? Tadi Kamu naik apa ke sini malam-malam? Kenapa tidak pagi atau siang datang ke sini?" tanya seorang ibu yang sangat mengkhawatirkan putrinya.


Mendapatkan pertanyaan bertubi-tubi dari sang ibu yang merasa sangat khawatir padanya, Alesha ingin menghapuskan kekhawatiran itu.


Kemudian ia langsung menjelaskan semua hal dengan memberikan sebuah kebohongan bahwa ia baru saja menghadiri pesta ulang tahun sahabatnya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2