
Pipi Aeleasha terasa seperti terbakar akibat perbuatan Arsenio.
Saat beberapa saat lalu ia sibuk menyadarkan diri, agar tidak terbuai dengan kenakalan pria yang menghukum, sedangkan tadi sudah mengatakan ingin digigit saja, tetapi tidak dipenuhi oleh sang suami.
Ia yang ingin menyelamatkan diri dari kekuasaan pria itu, kini mengarahkan tangan untuk mendorong dada bidang kuat pria yang mengungkung posisinya hingga tidak berkutik.
Namun tenaganya yang tentu saja tidak sebanding dengan Arsenio, sama sekali tidak bisa berhasil untuk melepaskan diri.
Ia menyadari bahwa suaminya yang sangat nakal tersebut tengah mengirimkan denyut kenikmatan kecil hingga menembus tubuhnya.
Bahkan ia selalu merasa seperti hari ini, yaitu merasakan kombinasi antara panas dan nyeri di waktu yang bersamaan.
Ingin ia mengeluarkan ******* dengan meneriakkan nama pria itu.
Sebenarnya beberapa saat lalu, Arsenio hanya ingin menghukum sang istri sebagai balasan menggigit tangan. Namun, berubah sangat bergairah.
Beberapa saat kemudian melepaskan pagutan dan menatap intens wajah cantik yang sangat dipujanya tersebut. "Akan lebih baik lagi saat aku melanjutkannya."
Saat ini, Aeleasha seperti merasakan setiap syaraf yang dimiliki hanya terfokus pada satu titik. Hingga ia tidak yakin bisa menahan lebih lama penyiksaan manis yang dilakukan oleh sosok pria yang tidak memberinya kesempatan sama sekali untuk berpikir jernih.
Lagi dan lagi ia meneriakkan nama pria itu dengan mata yang masih terpejam saat tubuhnya gemetar hebat.
Aeleasha kini merasakan tubuhnya melebur, mengambang di puncak nirwana paling tertinggi yang bisa digapai bersama dengan puncak kenikmatan.
Suara lenguhan panjang yang menghiasi ruangan kamar mereka seolah sebuah alunan musik paling indah bagi indra pendengaran Arsenio saat ini.
'Aku adalah orang pertama yang berhasil mengirimkan denyut kenikmatan untukmu dan sekaligus orang terakhir. Bahkan setelah pertunjukan kecilmu yang sama sekali tidak menolak perbuatanku, seperti biasa karena selamanya kamu seutuhnya milikku,' lirih Arsenio yang baru saja mengangkat wajahnya dan ingin melihat raut wajah sang istri yang masih memejamkan kedua mata.
Ia mengusap lembut wajah yang berubah merona itu dan seperti biasa, ingin menggoda.
__ADS_1
"Saat merasakan kenikmatan, kamu sampai tidak bisa berpikir untuk sekedar berbasa-basi menolakku." Arsenio membaringkan tubuhnya di samping Aeleasha dan melingkarkan tangan pada perut datar di balik gaun tersebut, seolah ingin menunjukkan kekuasaannya.
"Kamu selamanya milikku. Semuanya terbukti setelah pertunjukan kecilmu tadi."
"Aku tidak akan melakukan yang lebih jauh dari itu sampai kamu memohon sendiri padaku. Jadi, kamu tidak perlu takut malam ini aku akan menghajarmu."
Arsenio mengusap lembut wajah yang mulai berangsur kembali seperti semula karena sudah tidak semerah tadi.
Hal berbeda kini tengah dirasakan oleh Aeleasha saat ini karena merasa sangat malu pada sosok pria yang baru saja mengungkapkan sejuah kejujuran sekaligus mengejeknya hanyalah wanita lemah.
Bahkan ia ingin sekali lari dari sana dan menyembunyikan diri di tempat yang tidak akan pernah ditemukan sang suami. Sosok pria yang telah menjungkirbalikkan perasaan dan mengalihkan dunianya semenjak pertama kali bertemu hingga sekarang menjadi seorang istri.
'Mau ditaruh di mana mukaku saat ini? Aku ingin segera pergi dari sini dan tidak mau melihat wajah suamiku. Aku sangat malu,' umpat Aeleasha yang saat ini masih enggan untuk membuka kedua mata.
Hingga suara dari sosok pria yang makin mengeratkan pelukan, kini membuat kulitnya lagi-lagi meremang seketika.
"Apakah kamu tadi merasakan kenikmatan tidak terkira? Sampai lemas seperti ini dan seperti tidak mempunyai daya lagi untuk sekedar membuka mata dan juga bersuara. Aku hitung satu sampai tiga, jika masih tidak membuka suara, akan menghukummu.
Arsenio sengaja mengatakan kalimat ambigu karena ingin menggoda habis-habisan sang istri yang selalu malu padanya. Tak lupa seulas senyuman terukir dari bibir saat melihat pergerakan wanita yang langsung membuka mata dan ber-sitatap dengannya.
"Ternyata kamu cerdas juga, Honey," ujar Arsenio yang kini beralih mengedipkan mata dan bisa melihat raut wajah Aeleasha kembali merona dan diketahuinya merasa malu.
Tentu saja ia semakin merasa sangat senang melihat sikap menggemaskan dari sosok wanita yang berniat untuk memalingkan wajah dan menghindar tersebut.
Aeleasha yang tadinya mengerti dengan arti dari kalimat bernada vulgar dari sang suami, berniat untuk segera kabur dari atas ranjang dan berlari ke arah kamar mandi.
Setelah memalingkan wajah, ia bangkit dari posisi yang awalnya berbaring di atas ranjang dan berniat untuk turun. "Aku mau pergi ke toilet sebentar."
Namun, ia tidak berkutik lagi saat tubuhnya ditahan oleh tangan kekar Arsenio yang melingkar di pinggangnya. Tidak sampai di situ, ia baru menyadari kebodohannya saat pria nakal itu semakin mendekati daun telinga dan membisikkan sesuatu hingga membuat bulu kuduk meremang seketika.
__ADS_1
"Jangan kabur dengan beralasan konyol."
"Astaga! Aku mau kencing, konyol bagaimana maksudmu?" rengut Aeleasha dengan wajah masam karena tidak berhasil membuat sang suami melepaskan.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu, tapi aku akan mengantar istriku tersayang. Aku akan menggendongmu."
Aeleasha lagi-lagi menelan kasar salivanya saat mendengar pertanyaan yang malah membuat otaknya traveling kemana-mana.
'Sialan! Otak kotor ini sudah membuatku menjadi wanita yang terlihat sangat bodoh di depan suamiku. Seandainya aku bisa menghilang saat ini juga dari hadapan pria tampan ini, mungkin tidak akan semalu ini,' umpatnya di dalam hati.
"Aku mau berjalan," ucap Aeleasha yang kali ini berbicara tanpa menatap netra dengan silinder hitam yang selalu dianggap sanggup menenggelamkan dirinya.
Baru saja ia menutup mulut, mendengar suara dari sosok pria yang semakin membuatnya seperti tidak mempunyai muka lagi.
"Aku tidak akan membiarkan wanita lemah yang lemas sepertimu jatuh. Kedua kakimu tidak akan sanggup menopang beban tubuhmu setelah kamu meledak dalam kolam hasrat beberapa menit yang lalu," ujar Arsenio dengan tersenyum smirk dan mengedipkan mata.
To be continued...
Jangan lupa masukkan ke rak baca karya dari Eka Pradita. Terima kasih 🙏
One Night Destiny
Eka Pradita
Satu malam yang kelam di mana ketika Zoya mabuk dia dipertemukan dengan seorang pria kaya raya yang kejam hingga berakhir di atas ranjang. Tanpa sadar kesuciannya hilang. Namun, Zoya menganggapnya sebagai jalan keluar dari masalah yang kini dihadapinya.
Bagaimana jika ternyata cinta satu malam itu sampai membuatnya hamil? Apakah Lucas akan mempertanggungjawabkan apa yang telah diperbuatnya? Ikuti kisahnya sampai tamat hanya di One Night Destiny.
__ADS_1