I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Tentang Aeleasha


__ADS_3

Langit malam begitu kelam.


Namun, kelap-kelip kota yang begitu gemerlap bagai paradoks yang membentangkan jarak antara ekuator dan biosfernya.


Setiap sudut kota selalu berlomba-lomba memamerkan hiruk-pikuk kehidupannya. Selalu ada lagu-lagu yang dinyanyikan bersama-sama dengan iringan ukulele atau gitar.


Dentingan gelas yang menyuarakan tangga nada acak dalam bilik-bilik kelab. Atau bahkan kepulan asap rokok beserta bincang-bincang panjang yang menyingkirkan kedinginan.


Seolah hanya langit yang kesepian.


Sebuah kota dan hiruk-pikuknya, pada kenyataannya hanya menyuarakan kesepian dengan lebih lantang. Dalam nyanyian yang digaungkan, mungkin ada putus asa yang dibungkam.


Dalam gelas-gelas kaca berisi arak itu, mungkin ada ingatan yang ingin dilupakan. Dalam beberapa batang rokok yang dibakar serta bincang-bincang panjang, mungkin ada kehangatan yang sangat dirindukan.


Kota itu hanyalah sebuah latar sandiwara dan Alesha adalah bagian dari lakon-lakon di dalamnya.


Lakon yang penuh kebohongan. Lakon yang selalu menjalankan perannya dengan baik di setiap babak dan reka adegan yang berbeda.


Menjadi seorang yang bersemangat di hadapan teman-temannya, menjadi seorang andal di hadapan klien-kliennya, menjadi anak yang baik di hadapan ibunya, atau bahkan menjadi orang yang kuat di hadapan orang asing.


Itulah Aaleasha Indira. Gadis berusia dua puluh tahun dengan segala kisah peliknya.


Entah berapa ratus ribu lembar buku yang akan habis untuk menceritakan tentang pemilik nama itu. Ia sendiri pun tidak tahu. Sebab baginya, segala pelik dan kerumitan dalam hidup yang dialami pada akhirnya hanya berakhir menjadi kehampaan yang mengurung isi kepalanya seperti saat ini.


Wanita itu menutup matanya sejenak sembari menikmati semilir angin malam yang menerpa wajahnya.


Ia tahu segala permasalahan berjalan berdampingan seiring ia beranjak dewasa. Namun, untuk sebentar saja, ia ingin seperti ini. Ia ingin melupakan segalanya sesaat sembari melihat lalu lalang jalanan dari atas jembatan pedestrian.


Sewaktu kecil, ia selalu mengira hidup sebagai anak gadis merupakan hal yang begitu menyenangkan. Ibunya seringkali mendandani rambutnya seperti seorang putri kala merengek meminta.

__ADS_1


Terkadang mereka juga membuat tiara dengan bunga-bunga untuk dipakai di kepala. Alesha selalu mengira bahwa ia adalah putri dalam dongeng sungguhan.


Meski hanya tinggal bersama wanita paruh baya tersebut tanpa sempat merasakan kasih sayang ayahnya, merasa kasih sayang ibunya sangat cukup untuk membahagiakannya.


Walau sesekali terbesit pertanyaan dalam pikiran Alesha, apakah ibunya tidak merasa kesepian hidup tanpa suami, atau apakah ibunya tidak pernah berniat untuk menikah lagi. Pemikiran itu hanya berhenti terjebak dalam pikiran singkatnya.


Oleh karena kekosongan sesosok figur itu, Alesha maupun ibunya selalu berusaha saling mengisi satu sama lain.


Namun, semakin beranjak dewasa, ia menyadari bahwa kekosongan yang berusaha mereka isi itu tidak akan pernah utuh. Alesha pada akhirnya selalu bertanya-tanya mengenai keberadaan ayahnya yang bahkan tidak ia ketahui seperti apa rupanya itu.


Pernah pada suatu hari ia bertanya kepada ibunya tentang ayahnya. Saat itu ia masih SMP. Masih menjadi gadis penakut yang tidak berani tidur sendirian setelah menonton film horor bersama teman-temannya.


Alhasil, malam-malam ia mengetuk pintu kamar ibunya dengan heboh sambil meminta tidur bersama.


Mereka berdua berbaring sambil melihat langit-langit kamar yang memperlihatkan noda kekuningan akibat bekas bocor di musim penghujan.


Bersiap menjawab pertanyaan Alesha, ibunya menghidupkan lampu tidur yang remang lalu mematikan lampu utama.


"Alesha, maafkan ibu karena selama ini berusaha menyembunyikannya darimu." Wanita paruh baya tersebut menghela napas sesaat.


"Ibu selalu berusaha menghindar untuk membahas topik ini bukan karena tidak ingin menceritakannya padamu."


Alesha mengganti posisinya dengan memiringkan badan hingga pandangan matanya terpusat pada ibunya.


"Namun, karena kamu sudah besar, ibu akan memberitahumu sekarang." Jeda sesaat, Ibu Alesha mengambil tarikan napas. "Ayahmu sudah tiada sejak kamu masih bayi."


Meski sudah menebaknya, ada satu hal yang masih terus saja mengganjal di benak Alesha. Ia selalu saja menahannya entah sekian lama.


Namun, kali ini ia memberanikan dirinya untuk bertanya. "Ibu, kalau begitu, pasti punya foto ayah, kan? Aku belum pernah melihat wajahnya sama sekali."

__ADS_1


Ibunya mengembuskan napas dengan nada sedih. "Itulah sebabnya aku tidak ingin memberitahumu selama ini. Saat kejadian kebakaran rumah kita waktu kamu masih berumur dua tahun, ibu tidak berpikir apa-apa selain membawamu keluar dari kobaran api."


Namun, pada saat kamu pelan-pelan tumbuh tanpa ayahmu, ibu merasa bersalah karena waktu itu tidak sempat menyelamatkan foto-fotonya."


Mendengar penjelasan ibunya yang merasa bersalah, membuat Alesha jadi merasa menyesal juga telah menanyakannya. Ia lantas menenangkan ibunya dan meyakinkan bahwa Alesha berterima kasih karena sudah menceritakan tentang sang ayah padanya. Meskipun sebenarnya, ia merasa belum puas dengan cerita sang ibu, tetapi menyembunyikannya.


Sejak saat itu, Alesha tidak berani bertanya apa-apa lagi tentang ayahnya. Takut ibunya sedih. Takut menggali luka lama mereka yang pedih.


Dari semua dongeng yang sering didengar, cerita itu seolah menjadi satu-satunya dongeng yang selalu Alesha ingat dengan baik setiap kata berikut titik dan komanya.


Semakin beranjak dewasa, terkadang Alesha begitu merindukan masa-masa kecil yang selalu ditemani dongeng-dongeng yang diceritakan ibunya di penghujung hari menuju tidurnya.


Sekarang, petang menuju jam tidur di masa kecilnya bagai mimpi buruk yang menjadi teman akrabnya. Dunia kelam yang harus ia arungi agar bisa tetap hidup.


Kala orang-orang terlelap, ia terjaga. Bersolek dan memuaskan orang asing demi mendapat lebih banyak uang.


Semuanya berawal dari satu tahun lalu. Tahun di mana kehidupan Alesha berubah drastis. Tahun di mana ia baru pertama kali mengenal kelamnya dunia. Tahun di mana ia baru pertama kali merasakan takut yang teramat sangat. Untuk pertama kalinya, Alesha takut akan kehidupan yang mendadak mengerikan.


Saat itu, ia hanyalah lulusan SMA yang baru saja tamat dari studinya. Ibunya tak mampu membiayainya untuk melanjutkan studi sebab penghasilannya tidak cukup untuk biaya kuliah.


Ibunya pada awalnya ingin memaksakan diri, tetapi Alesha dengan segera meyakinkan bahwa ia akan bekerja dan mengumpulkan uang untuk melanjutkan pendidikannya.


Setelah itu, Alesha berhasil mendapatkan pekerjaan. Gadis itu sangat antusias ketika menceritakan keberhasilannya pada ibunya.


Tentu saja membuat wanita itu tenang meski dalam hatinya ingin Alesha melanjutkan pendidikan. Alesha bahkan selalu menceritakan berbagai hal lucu sepulang ia bekerja.


Alesha bekerja sebagai kasir di salah satu minimarket yang berada tak jauh dari rumahnya. Karena ia hanya memiliki ijazah SMA, lowongan pekerjaan yang ia dapatkan cukup terbatas hingga hanya bisa bekerja di sana.


Namun meski mendapat gaji yang tidak terlalu besar, Alesha tetap bisa menabung dan yakin akan bisa menepati kata-katanya kepada ibunya yang akan melanjutkan pendidikan.

__ADS_1


Alesha pada saat itu adalah seorang gadis yang selalu optimis. Ia selalu bersemangat dalam hal apapun.


To be continued...


__ADS_2