I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Jebakan Arsenio


__ADS_3

Sementara itu di dalam kamar mandi, Aeleasha sudah berdiri di depan cermin dan melihat bekas perbuatan sang suami di seluruh tubuhnya yang memerah dan banyak jejak kiss mark yang sudah memenuhi tubuhnya. Ia sudah sangat hafal jika sang suami seolah ingin menegaskan kepemilikan.


Bahwa ia hanyalah milik pria itu dan tidak akan mengizinkan siapapun mendekatinya, sehingga selalu bersikap over possesive.


Aeleasha bahkan meraba seluruh tubuhnya yang kini memerah dan tidak hanya itu saja, ia merasakan bukti kenikmatan Arsenio mengalir menuruni paha dan membuatnya menunduk menatap ke bawah.


Ia lagi-lagi menelan saliva dengan kasar karena mengingat jika pria yang tak lain adalah suaminya tersebut mungkin sebentar lagi akan membuatnya hamil anak kedua karena hari ini tidak seperti biasanya.


Jika biasanya sang suami selalu memakai pengaman, tadi sama sekali tidak karena keinginannya yang berharap bisa hamil anak perempuan.


Bahkan saat ini ia tahu sedang dalam masa subur dan bisa saja langsung menjadikan keinginannya menjadi kenyataan.


Aeleasha beralih melihat pria yang menuju ke arah bathtub untuk mengisi dengan air hangat dan meneteskan aroma terapi. Berharap dengan berendam di dalam air hangat, membuatnya lebih rileks dan melemaskan otot-otot yang kaku akibat perbuatan mereka beberapa saat lalu.


Kemudian Arsenio kembali untuk meraup tubuh wanita yang masih berdiri di depan cermin tersebut. "Aku akan memijat agar tubuhmu rileks."


Aeleasha yang kali ini merasa sangat terkejut karena tubuhnya sudah berpindah ke atas tangan kekar nan kokoh Arsenio dan menurunkannya secara berhati-hati ke dalam bathtub.


"Tidak perlu, Sayang. Aku tidak butuh itu. Aku akan mandi dan segera keluar dari hotel," sahutnya yang kali ini tidak bisa membayangkan jika pria yang ada di hadapannya benar-benar melakukan apa yang baru saja diungkapkan.


'Jika ia melakukan itu, yang ada malah akan menghajarku lagi. Tidak, ini berbahaya.'


Saat sibuk bergumam sendiri di dalam hati, ia kini sudah merasakan kehangatan tubuh Arsenio yang menempel dengan kulitnya karena berada tepat di belakangnya dan menyuruh untuk duduk.


"Diam dan jangan membantahku, Honey! Kamu sudah berjanji akan patuh padaku untuk memberikan hukuman, bukan?"


Tanpa menunggu jawaban, Arsenio sudah mengarahkan kedua sisi pundak polos itu agar duduk di dalam bathtub berisi air hangat dengan aroma khas wangi yang menenangkan itu.


Sementara itu, Aeleasha yang kali ini lagi-lagi tidak bisa melawan, akhirnya memilih untuk menuruti semua perintah pria yang mulai menggerakkan tangan untuk melakukan pijatan pada punggung hingga ke bawah.


Ia merasa pijatan tangan sang suami benar-benar sangat memanjakannya dan nyaman, sehingga berhasil membuat otot-ototnya yang kaku mulai rileks.


Akhirnya memilih diam dan menikmati saat Arsenio benar-benar membuatnya merasa lebih baik.


Arsenio yang tidak tega pada Aeleasha ketika raut wajah terlihat kelelahan, kini membuatnya fokus memanjakan wanita yang duduk memunggunginya.


Sementara Aeleasha yang kali ini terlihat tersenyum simpul karena merasa senang mendapatkan pijatan lembut dari sang suami. Masih memejamkan mata, ia tidak bisa menahan diri untuk meloloskan kalimat pujian.


"Suamiku memang sangat pintar memijat. Aku selalu ketagihan dengan tanganmu yang selalu senyaman ini," ucap Aeleasha yang kini masih memejamkan mata menikmati setiap sentuhan tangan dengan buku-buku kuat tersebut.

__ADS_1


Sementara di sisi belakang, Arsenio yang tadinya fokus memijat, kini tersenyum smirk saat mendapatkan pujian, sehingga ia ingin menggoda dengan menyerang titik-titik sensitif.


Tentu saja Aeleasha sangat terkejut dengan perbuatan pria di belakangnya, refleks langsung mencubit tangan nakal itu.


"Sayang, jangan macam-macam!"


"Mana mungkin aku macam-macam," sahut Arsenio yang kini hanya terkekeh geli.


Namun, ia terdiam sejenak ketika mendengar suara wanita yang dianggapnya sangat merdu tersebut.


"Sayang, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu?" Aeleasha yang dari tadi sibuk bertanya di dalam hati mengenai perihal Rafael, ingin mengungkapkan sesuatu pada pria itu karena belum mengatakan semuanya.


"Tentang apa? Katakan saja?" Arsenio mengetahui apa yang akan ditanyakan adalah tentang Rafael. Kini masih melihat sosok wanita yang mulai bergerak untuk menghadapnya. Namun, memilih untuk diam dan mendengarkan.


Seolah menegaskan bahwa sang istri tidak malu padanya ketika sama-sama pada posisi polos di dalam bathtub.


"Sebenarnya wanita bernama Aeleasha itu adalah seorang sugar baby. Aku benar-benar tidak pernah menyangka jika di antara kami memiliki sebuah kebetulan yang hampir mirip. Aku sudah mengetahui seperti apa wanita itu karena pengacaramu mengirimkan fotonya."


"Aku hanya heran dan sekaligus merasa kasihan pada Rafael yang sepertinya ingin mencari wanita mirip denganku. Bukankah kamu tadi mengatakan akan mengurusnya? Memangnya apa yang akan kamu lakukan pada Rafael?"


Dari tadi Aeleasha memang merasa penasaran akan kalimat ambigu dari sang suami, sehingga tidak sabar ingin mengetahuinya.


Ia kini bersembunyi di balik pertanyaan yang baru saja dilayangkan pada sosok wanita di hadapannya.


Wanita dengan tubuh polos tanpa selembar benang pun dan berendam bersamanya di dalam bathtub untuk merilekskan otot-otot tubuh yang beberapa saat lalu diforsir terlalu berat ketika bercinta.


"Apa kamu sangat penasaran dengan apa yang akan kulakukan pada Rafael? Atau kamu ingin mengetahui bahwa mantan suamimu itu masih belum bisa melupakanmu?"


Di sisi lain, Aeleasha yang kini mengerjapkan kedua mata karena merasa kesal kala pertanyaan yang saat ini sudah dilayangkan oleh pria dengan iris tajam mengintimidasi dan mengunci tatapannya.


Tentu saja ia tahu jika itu adalah sebuah bentuk kecemburuan dan sikap over protective dari sang suami.


Aeleasha yang memilih untuk menormalkan perasaannya, kini hanya bisa menelan ludah dengan kasar agar bisa kembali membuka mulut untuk menanggapi.


Meskipun sebenarnya ia merasa sangat kesal karena pertanyaan panjang lebar yang sangat mewakili perasaannya saat ini, sama sekali tidak mendapatkan jawaban.


Malah mendapat pertanyaan yang akhirnya seperti memojokkannya, sehingga memilih untuk berdehem sejenak sebelum berkomentar.


"Panjang lebar aku bertanya dan ingin memenuhi rasa ingin tahu di otakku dengan jawaban darimu, tapi kamu malah balik bertanya satu hal konyol. Mana mungkin aku bisa tenang atau senang saat Rafael tidak bisa melupakanku."

__ADS_1


Kini, ia masih mengarahkan tatapan penuh sorot pertanyaan karena ingin pria yang duduk tepat di hadapannya tersebut mau mengobati rasa penasarannya.


Hingga ia saat ini masih mencoba untuk menunggu. Tentu saja menunggu pria yang terlihat tengah cemburu itu mau menjawab semua pertanyaan yang dari tadi menari-nari di otaknya.


Ia berpikir wajar bertanya karena tadi Arsenio mengatakan akan mengurus tegang masalah Rafael, tetapi tidak menceritakan secara detail.


Tentu saja karena ia tengah mengarahkan tatapan tajam dan berharap mendapatkan sebuah jawaban dari Arsenio—pria yang dari tadi tidak berkedip menatap intens wajahnya hingga sanggup menembus jantungnya.


Jika di hati Aeleasha ingin sekali mengetahui penjelasan mengenai rencana sang suami yang hari ini berhasil membuat ia berkali-kali mencapai *******, berbeda dengan yang dirasakan oleh Arsenio yang kali ini sedang sibuk menimbang-nimbang keputusannya.


'Apa yang harus kulakukan? Apa reaksi istriku saat aku menceritakan tentang rencanaku pada Rafael? Apakah ia akan marah padaku? Ataukah mendukungku?"


Selama beberapa saat ia terdiam dan masih belum ada pergerakan dari bibirnya untuk membuka mulut demi menjawab berbagai macam pertanyaan tersebut.


Namun, ia berpikir bahwa itu akan membuatnya merasa sangat lega jika berbicara tanpa menyembunyikan apapun.


Apalagi semenjak menikah dengan Aeleasha, sudah menegaskan jika wanita itu adalah sebagian hidupnya dan membuatnya merasa sangat perlu untuk menceritakan perihal semuanya.


"Baiklah, aku akan mengatakan rencanaku padamu."


Penasaran dan ingin segera tahu apa yang dimaksud oleh pria dengan kalimat ambigu tersebut, kini ia merasakan saat Arsenio membawa jemari lentik itu ke hadapannya dan mengaitkan dengan jemarinya sendiri.


"Dari dulu, kamu hanya milikku, Sayang. Aku tidak akan pernah melepaskan ini!" Arsenio menunjukkan tangannya yang masih menyatu dengan jemari dengan buku-buku kuat itu.


Sementara Aeleasha yang masih kebingungan untuk menjawab, kini hanya diam saja dan sama sekali tidak membuka suara karena asyik mencerna perkataan dari pria yang terlihat sangat serius tersebut.


Meskipun ia kali ini benar-benar sangat khawatir jika pria yang ada di hadapannya tersebut membuatnya merasa bingung. Namun, ia menyadari bahwa kekuatan dan kekuasaan seorang Arsenio akan merantainya begitu kalimat sakral pria itu lolos dari bibirnya.


'Kamu adalah milikku. Bahkan dari dulu ia selalu mengatakan hal itu. Apa ia tidak bosan?'


Kalimat itulah yang membuat Aeleasha kali ini memilih untuk memasang telinga lebar-lebar agar bisa mendengar apa yang akan dikatakan oleh sang suami tanpa ada yang terlewat.


Kemudian Arsenio mulai menceritakan semuanya tanpa terkecuali dan melihat ekspresi wajah wanita yang seketika terlihat murung dan ia tahu bahwa saat ini sedang dipenuhi rasa bersalah seperti biasanya.


"Aku akan ke Jakarta saat jadwalku tidak terlalu sibuk. Saat sudah di sana, aku akan menjebak Rafael dengan wanita itu menggunakan obat perangsang. Itu adalah cara paling mudah untuk menaklukkan Rafael agar bisa melupakanmu."


Aeleasha yang sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu, refleks membulatkan mata dan juga mengarahkan pukulan pada lengan kekar sang suami yang dianggapnya sangat konyol karena akan menjebak seorang pria berhati malaikat seperti Rafael.


"Astaga, kamu benar-benar keterlaluan, Sayang!"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2