
Rafael mengakhiri ceritanya tentang kedatangan Alex ke perusahaan saat menyuruhnya untuk menceraikan Alesha dan sama sekali tidak menyingung mengenai kehamilan. Padahal sudah mengetahui itu dan membuatnya merasa sangat marah.
Sementara itu di sisi lain, Alesha masih merasakan keanehan pada sikap Alex yang tiba-tiba datang ke perusahaan Rafael agar segera mengurus perceraian.
'Apa maksud Alex sebenarnya? Kenapa melakukan itu saat sudah tahu aku sedang hamil? Bukankah ia tahu jika perceraian tidak sah jika sang istri tengah mengandung? Lalu, ia menyuruh Rafael mengurus perceraian di pengadilan?'
'Apa ia ingin menyabotase semuanya demi bisa membuatku segera bercerai dengan Alex? Tidak mungkin karena Alex tidak seperti itu. Lebih baik aku tanyakan saja nanti padanya,' gumam Alesha yang kini masih menatap intens wajah babak belur yang membuatnya merasa iba sekaligus bahagia hari ini.
Hati wanita mana yang tidak berbunga-bunga saat mendengar sebuah kejujuran dari sosok pria yang selama ini diam-diam sangat dicintai. Begitu juga dengan Alesha yang sangat lemah begitu mengetahui bahwa Rafael ternyata hari ini baru menyadari perasaan yang mencintainya.
'Benarkah Rafael mencintaiku? Tapi kenapa aku selalu merasa jika ia masih mencintai mantannya itu?' gumam Alesha yang kini berjenggit kaget ketika mendengar suara bariton dari pria yang semakin mengeratkan genggaman pada tangannya.
"Alesha, aku mohon jangan diam saja seperti ini. Aku ingin mendengarnya secara langsung dari bibirmu bahwa kamu mencintaiku. Aku memang tadi sudah mendengarnya ketika kamu mengungkapkan pada Alex, tapi itu bukan denganku, kan?"
Rafael sadar jika ia adalah orang yang egois karena memaksakan kehendak pada Alesha, tapi ungkapan cinta Alesha secara langsung padanya sangat dibutuhkan karena ia ingin mendengar secara langsung ditujukan padanya.
Ia berpikir jika Alesha mengungkapkan padanya, baru akan yakin 100 persen dan tidak akan ragu lagi karena jujur saja saat ini takut jika harapannya yang melambung tinggi lagi-lagi akan jatuh terhempas dan menyisakan luka di dalam hati seperti saat menyerahkan hati pada mantan istri yang tidak pernah mencintainya.
Trauma dan tidak ingin berada dalam situasi Dejavu adalah hal yang membuat Rafael berharap bisa membuka lembaran baru dalam rumah tangga yang sejati dengan sosok wanita yang selama ini dianggap mencintai pria lain, yaitu mantan sugar daddy-nya.
Namun, suara Alesha yang kini tertangkap indra pendengarannya membuat Rafael merasa sangat kecewa.
Alesha sebenarnya ingin sekali menuruti perintah dari Rafael untuk menyatakan cintanya, tapi rasa ibanya jauh lebih besar melihat wajah babak belur yang sudah membiru dan menghitam itu.
Jadi, ia mengurungkan niatnya untuk mengungkapkan perasaan karena ingin pria yang sangat dicintai tersebut segera diobati.
__ADS_1
"Suster! Tolong obati pasien ini karena wajahnya sudah membiru sampai menghitam!" teriak Alesha yang mengalihkan perhatian dari Rafael.
Meskipun ia tadi sekilas sempat melihat jika bibir Rafael mengerucut dengan wajah masam, sama sekali tidak memperdulikan itu karena satu-satunya hal yang ingin dilakukan adalah berharap luka pria yang sangat dicintai segera diobati.
"Alesha! Aku tidak perlu diobati karena aku akan sembuh hanya dengan mendengar pengakuan cintamu." Rafael yang masih menahan kekesalan, kini menggerakkan tangan wanita yang bahkan memalingkan wajah darinya karena mencari keberadaan perawat.
Hingga ia pun kini melihat perawat yang datang padanya dan makin membuatnya kesal.
"Iya, Nona. Sepertinya luka suami Anda makin parah karena tidak langsung diobati tadi." Sang perawat pun kini beralih menatap ke arah sosok pria yang terlihat sangat mengenaskan. "Silakan berbaring di atas ranjang perawatan, Tuan."
"Tidak, Suster. Saya akan baik-baik saja. Nanti saya akan mengobati sendiri. Tolong pergi dari sini karena saya ingin berbicara dengan istri. Bukankah ruangan untuk istri saya belum siap? Makanya belum dipindahkan dari tadi?" tanya Rafael yang kini berbicara dengan nada penuh penekanan.
Namun, ia merasa tertampar dengan jawaban dari perawat dan seketika tidak berkutik.
Sang perawat yang menjadi saksi pertikaian antara dua pria yang terlihat sangat mencintai pasien itu, kini tidak bisa menahan kekesalan dengan mengungkapkan hal yang menjadi gosip di rumah sakit.
Bahkan ini adalah pertama kalinya ada keributan di rumah sakit mengenai hubungan rumit antara pasien dan suami serta orang ketiga.
Jadi, memilih untuk meluapkan semuanya agar pria dengan wajah mengenaskan itu menyadari kesalahan dan tidak menyalahkan pihak rumah sakit.
Namun, saat hendak beranjak pergi, tidak bisa melakukannya karena mendengar suara dari pasien wanita yang tengah hamil trimester pertama itu.
"Jangan dengarkan dia, Suster. Tolong segera obati lukanya karena ia sekarang juga adalah pasien. Bukankah tugas Anda adalah segera mengobati pasien yang terluka?" Alesha tidak mau mendengar berbagai macam alasan Rafael karena satu-satunya yang diinginkan hanyalah kebaikan pria yang menjadi lampiasan amarah Alex.
Bahkan ia kini mengarahkan tatapan tajam pada sosok pria yang ada di hadapannya tersebut agar menuruti perintah darinya. "Kau harus diobati dulu karena mataku sakit saat melihat wajahmu yang jelek itu."
__ADS_1
"Wah ...." Rafael ingin terbahak saat mendapatkan ejekan dari Alesha sekaligus melihat sang perawat seperti menahan tawa.
Bahkan ia menahan rasa sakitnya demi bisa segera mendengar ungkapan cinta Alesha padanya, tapi saat mendapatkan ejekan, membuatnya merasa kesal. Namun, ia sadar tidak bisa membantah perintah Alesha demi bisa membuat wanita itu mengungkapkan cinta padanya.
"Baiklah ... baiklah, aku akan membuat wajahku kembali tampan setelah diobati!" Kemudian Rafael kini langsung naik ke atas ranjang dan menatap ke arah perawat.
"Silakan, Suster. Tolong obati wajah saya agar cepat sembuh dan kembali tampan." Tentu saja ia sama sekali tidak terima saat diejek jelek oleh Alesha.
Bahkan ia pun tidak ingin Alex menyaingi ketampanannya dan membuat Alesha kembali jatuh cinta pada pria itu.
Karena sudah tidak menolak lagi, kini perawat dengan seragam biru yang membawa beberapa troli berisi peralatan untuk mengobati dengan berjalan mendekati sosok pria yang sudah siap diobati.
"Baiklah. Saya akan mengobati Anda." Sang perawat kini mulai membuka peralatan untuk mengobati pasien setelah memastikan luka di wajah pria itu.
Sementara itu, Alesha yang sebenarnya tengah menahan tawa atas sikap Rafael yang menggemaskan, kini menatap ke arah perawat yang sudah mulai mengobati.
Ia bisa melihat saat perawat fokus membersihkan luka di wajah Rafael dengan sedikit menundukkan kepala dan tiba-tiba membuatnya merasa ada perasaan yang muncul di dalam hatinya.
Perasaan cemburu kini dirasakan olehnya saat melihat Rafael disentuh oleh perawat wanita yang bahkan tidak berkedip menatap ketika mengobati. Refleks ia bangkit berdiri dari posisinya yang dari tadi tidur telentang di atas ranjang perawatan.
"Suster, berhenti! Tidak perlu diobati. Biarkan saja wajahnya babak belur seperti itu!" seru Alesha yang tidak rela Rafael disentuh oleh wanita lain selain dirinya.
Sementara itu, sang perawat wanita itu seketika menoleh ke arah pasien yang membuatnya sangat kesal. 'Dasar suami istri gila!' umpatnya di dalam hati.
To be continued....
__ADS_1