
Alesha dan Rafael masuk ke dalam kamar setelah sebagian sanak saudara ikut sang ibu ke tempat besan. Sementara yang lain sudah beristirahat di ruangan yang disediakan.
Sebenarnya Alesha tidak ingin masuk ke kamar bersama Rafael, tapi tidak ada pilihan lain karena pria itu menyuruh untuk mengikuti. Apalagi tadi mengatakan akan beristirahat di kamar bersamanya.
Kini, ia menelan saliva dengan kasar karena merasa bingung harus bagaimana ketika berada di ruangan yang sama.
Alesha kini memilih untuk menormalkan perasaannya dengan duduk di sofa dan bermain ponsel, sedangkan Rafael kini langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun padanya.
Bahkan ia tadi sempat melihat pria dengan bahu lebar itu masuk ke dalam kamar mandi. Alesha kini hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati karena khawatir suaranya bisa didengar oleh Rafael.
'Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa Rafael akan tidur di sini dan aku di ranjangnya? Aku jadi tidak enak padanya.'
Hingga ia kembali mengingat mengenai kejadian yang terjadi beberapa saat lalu. Alesha kini menatap ke arah ranjang king size tak jauh dari tempat duduk.
'Kenapa tadi ia menciumku? Lalu kenapa aku malah membalasnya? Dasar bodoh! Mungkin Rafael bisa saja melakukannya lagi jika tadi ibu tidak datang.'
Membayangkan hal itu, Alesha sampai meremang tubuhnya dan kini mengangkat tangan untuk menyentuh bibir.
Bahkan ia sampai membasahi bibirnya yang kering. Pikirannya selalu terbayang akan ciuman Rafael. Pria yang dulu mencuri ciuman pertamanya tanpa izin. Padahal dulu berpikir hanya akan menyerahkan ciuman pertama pada pria yang dicintai, yaitu Alex.
Namun, semuanya berbeda saat Rafael melakukannya dan saat berciuman dengan Alex, seperti sudah tidak merasakan sensasi berbeda.
'Saat Rafael mencuri ciuman pertamaku dulu, belum berpengalaman karena memang itu juga hal pertama baginya. Sama sepertiku yang bahkan tidak tahu seperti apa rasanya berciuman.'
__ADS_1
'Kami sama-sama baru pertama kali melakukannya. Bahkan saat itu, rasanya jantungku serasa meledak karena merasa asing. Sementara saat pertama kali Alex tiba-tiba menciumku, sudah sangat ahli dan entah mengapa perasaanku tidak sama.'
'Aku saat itu hanya merasa gugup sekaligus terkejut karena mengetahui bahwa Alex adalah seorang pria dingin dan datar. Jadi, merasa sangat aneh melihat perubahan Alex yang bertolak belakang.'
Ketika sibuk memikirkan perasaan mengenai Alex, Alesha sampai tidak menyadari saat Rafael sudah keluar dari kamar mandi.
Rafael yang memilih untuk membersihkan diri sebelum tidur, kini melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah wanita di atas sofa yang seperti sangat tertekan dan berakhir melamun.
"Sepertinya kamu selalu memanfaatkan waktu luang untuk melamunkan Alex."
Seketika Alesha tersadar dari lamunannya dan menatap ke arah sosok pria yang berkacak pinggang tak jauh dari hadapannya.
Alesha mengerjapkan mata begitu melihat pemandangan di hadapannya tersebut. Di hadapannya ada seorang pria yang telah bercinta dengannya hanya memakai handuk sebatas pinggang.
"Itu bukan urusanmu! Lagipula itu adalah hakku untuk memikirkan siapa saja, termasuk Alex." Kemudian ia kembali menoleh dan melihat sosok pria setengah telanjang di hadapannya tersebut.
"Aku bahkan tidak merepotkanmu saat memikirkan orang lain. Tenang saja, aku tidak akan mempermalukan serta mencemarkan nama baikmu. Hari ini adalah yang terakhir."
Setelah mengungkapkan semua pendapatnya, Alesha mengibaskan tangan. "Cepat berpakaian sana! Apa kamu tidak kedinginan daritadi seperti itu?"
Berpikir jika mengatakan hal itu membuat sang suami merasa malu dan segera berpakaian, tapi gagal karena yang terjadi adalah sebaliknya.
"Kenapa? Apa kamu gugup melihat tubuhku yang seksi?" ujar Rafael yang kini merasa punya keuntungan lebih dengan memanfaatkan situasi.
__ADS_1
Ia merasa sangat senang karena wanita di hadapannya seolah tidak mau menatapnya dan langsung mengajak ke tempat yang sesuai.
"Lebih baik cepat mandi sana, daripada sibuk membayangkan tubuh
telanjangku."
"Aku tidak mandi karena tubuhku sedikit demam. Lagipula siapa yang membayangkan tubuhmu? Dasar kepedean."
Sengaja ia berbohong demi bisa menyelamatkan diri, tapi lagi-lagi mati kutu karena tidak bisa lagi berkutik.
"Kalau begitu, tidur sana di ranjang. Aku mau ganti pakaian dulu." Rafael kemudian berjalan menuju ke arah ruangan ganti.
Sementara itu, Alesha kini hanya diam tanpa menanggapi karena jujur saja ia sangat bingung harus bagaimana kala berada di dalam ruangan berdua.
'Mungkin aku tidak akan seperti ini jika malam itu kami tidak melakukannya.'
Karena berpikir lebih baik tidur agar tidak berinteraksi dengan Rafael, Alesha memilih untuk segera bangkit berdiri dari sofa dan berjalan menuju ke arah ranjang.
Kemudian perlahan membaringkan tubuh dan menutupi dengan selimut, lalu memejamkan mata. Berharap bisa segera tidur agar tidak kembali berinteraksi dengan Rafael.
'Apa ia akan benar-benar tidur di sofa? Atau tidur di sini bersamaku?' gumam Alesha yang kini masih merasa gugup dan khawatir jika tiba-tiba pria yang selalu membuatnya gugup itu memilih untuk tidur di sebelahnya.
To be continued...
__ADS_1