
Keadaan dari Rafael tentunya sangat berbanding terbalik dengan mantan istrinya. Kehidupan rumah tangga Aeleasha Charlotte dan Arsenio Giovanni Adelardo tentu saja berjalan dengan sangat baik dan penuh kebahagiaan.
Bahkan tidak hanya itu, mereka menjadi pasangan paling romantis sekaligus fenomenal di New York.
Tak lupa para paparazi yang selalu memburu berita tentang mereka. Bahkan putra mereka yang bernama Arza Stevano Adelardo berusia 5 tahun pun kini menjadi selebgram kecil yang selalu menjadi perbincangan di media sosial karena ketampanannya, mewarisi gen orang tuanya.
Seperti hari ini, saat Arsenio menghabiskan waktu liburnya bersama Aeleasha dan Arza di Mall of America yang terletak di Bloomington, Minnesota.
Salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan paling banyak dikunjungi di Amerika Serikat. Dengan 520 toko, 50 restoran dan atraksi termasuk Nickelodeon Universe, taman hiburan dalam ruangan terbesar dan toko American Girl yang baru, pilihan tidak terbatas di Mall of America.
Arza yang tidak mau digendong oleh sang ayah, terlihat sangat ceria saat berlarian di area pusat perbelanjaan terbesar tersebut.
Bahkan Aeleasha pun terlihat sangat bahagia melihat interaksi dari ayah dan anak yang berada di depannya.
Tidak lupa para bodyguard sudah ada di depan dan juga di belakang yang stand by menjaga mereka dari para paparazi yang selalu mengincar saat pengusaha terkenal itu sekedar belanja di hari libur.
Rencana pertama mereka adalah shopping baju-baju Arza karena perkembangan bocah laki-laki berusia 5 tahun itu membuat pakaiannya sudah tidak muat lagi karena kekecilan.
Selama ini, Aeleasha jarang mau diajak shopping karena lebih senang menghabiskan waktu di istananya bersama sang anak. Akan tetapi, karena banyak baju Arza yang sudah kekecilan, membuatnya mau tidak mau harus membelikan putranya beberapa potong pakaian.
Kini, mereka bertiga telah masuk ke area pakaian anak-anak dan terlihat banyak aneka model yang dipajang maupun dipasang di patung manekin.
"Honey, pilih saja pakaian untuk Arza. Lihatlah putra kita yang tidak bisa berhenti, ini." Arsenio menunjuk ke arah Arza yang merengek dengan menggandeng tangannya, meminta untuk berjalan menyusuri seluruh ruangan luas yang penuh dengan pakaian anak-anak tersebut.
Seulas senyum yang terbit dari wajah Aeleasha, seolah mewakili perasaannya yang sangat bahagia saat memiliki dua laki-laki berbeda generasi tersebut.
"Baiklah, ikuti saja kemana pun Arza pergi. Biar aku yang mengurus semuanya."
"Baiklah." Arsenio mengarahkan bibir tebalnya untuk mengecup bibir tipis sang istri. Sebuah ritual rutin yang selalu menjadi candu untuknya karena di negara luar, bebas untuk berbuat apa saja dan sebuah ciuman merupakan hal yang wajar bagi semua orang di sana.
Berbeda saat tinggal di negaranya sendiri yang sangat menjunjung tinggi adat ketimuran dan tidak mungkin akan melakukan itu di tempat umum karena menganggap melakukan perbuatan seperti itu hanya akan membawa pengaruh buruk.
Sementara Aeleasha hanya bisa pasrah pada apapun yang dilakukan sosok pria yang sangat dicintainya tersebut karena di hadapan sang suami, ia selalu lemah.
Apalagi semua perhatian dari Arsenio yang selalu menunjukkan cintanya, semakin membuat Aeleasha merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.
Aeleasha tengah memandang punggung lebar yang baru saja berlalu dari hadapannya dengan wajah berbinar.
"Suamiku adalah pria paling sempurna sebagai sosok suami dan ayah. Terima kasih atas semua kebahagiaan ini, Tuhan. Dulu aku selalu mengeluh karena mengalami penderitaan, ampuni hambamu ini."
Puas mengungkapkan apa yang dirasakan, Aeleasha kembali dengan kegiatannya. Kini, ia berjalan ke arah pakaian anak laki-laki yang sebelumnya melewati pakaian anak perempuan.
Sesaat bola matanya menangkap pada gaun mengembang berwarna pink yang menurutnya sangat cantik.
__ADS_1
Jemari lentiknya kini tengah meraba halusnya pakaian yang ada di hadapannya. "Halus dan sepertinya nyaman sekali untuk anak perempuan karena tidak bikin gerah. Gaun ini cantik sekali. Melihat gaun cantik ini, rasanya seperti ingin memiliki anak perempuan."
Baru saja Aeleasha menutup mulut, kakinya sedikit bergerak saat ada seorang anak perempuan yang menabraknya. Refleks ia menunduk menatap wajah cantik nan menggemaskan bocah perempuan yang sepantaran dengan putranya.
Rambut berwarna kecoklatan itu tengah dikuncir dengan pita beraksen bunga berwarna merah. Semakin membuatnya merasa gemas dan ingin mencium bocah perempuan yang sedang berlarian tersebut.
Namun, tak lama berselang, ada wanita kulit putih yang langsung menggendongnya dan memohon maaf padanya.
Ia hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepala tanda tidak mempermasalahkannya. Meskipun bola matanya masih memandang ibu dan anak yang sudah mulai sibuk memilih pakaian di sebelah kirinya.
'Anak itu sangat manis dan menggemaskan. Seandainya aku mempunyai anak perempuan, mungkin bisa memakaikan baju-baju indah ini dan juga mengepang rambutnya dengan beraneka macam model seperti yang dahulu dilakukan oleh mommy."
Seolah tersihir dengan pesona anak kecil perempuan menggemaskan itu, Aeleasha melupakan tujuannya membeli pakaian untuk putranya.
Ia saat ini asyik mengamati bocah perempuan yang dari tadi tertawa riang saat memandangi aneka banyaknya pakaian yang dipajang di hadapannya.
Beberapa saat kemudian, Arsenio menghampiri Aeleasha, untuk memastikan apakah sudah selesai memilih pakaian.
Sementara Arza sudah asyik bermain di arena permainan bersama beberapa pengawalnya. Ia mengerutkan kening saat melihat sang istri berdiri dengan pandangan ke arah pakaian anak perempuan.
"Honey? Kenapa kamu malah ada di area pakaian anak perempuan? Mau membeli baju buat siapa?"
Asenio yang tadinya mengerutkan kening, kini mengikuti arah pandang dari sang istri yang melihat ke arah anak perempuan dan refleks sudut bibirnya terangkat ke atas karena bisa membaca apa yang saat ini tengah dipikirkan oleh sosok wanita yang sangat dicintainya.
"Sayang, tadi anak perempuan cantik itu menabrakku. Melihat anak perempuan itu yang sangat menggemaskan, membuatku seolah seperti tersihir dan ...."
Arsenio memotong perkataan dari sang istri karena mengerti dengan apa yang dimaksud. "Dan kamu sekarang ingin memiliki anak perempuan yang cantik dan lucu seperti itu, bukan?"
Aeleasha dengan malu-malu hanya mengangguk perlahan karena merasa ragu untuk menjawabnya.
"Sebenarnya aku ingin mempunyai anak perempuan, tetapi masih takut."
Arsenio menggigit kecil daun telinga sang istri dan semakin mengeratkan pelukannya, seolah ingin memberikan sebuah ketenangan dan menyalurkan semangatnya.
"Selama ada aku, jangan pernah takut, Honey. Kamu pasti bisa karena merupakan seorang ibu yang tangguh. Ingatlah, ada aku yang selalu ada bersamamu."
Alesha membenarkan perkataan dari pria yang mengeluarkan aroma mint dari mulutnya saat berbicara. "Iya, kamu benar, Sayang. Seharusnya aku tidak takut karena mempunyai suami luar biasa sepertimu."
"Lalu?" tanya Arsenio yang ingin memancing kelanjutan dari perkataan sang istri.
"Aku ingin hamil lagi, tapi ingin anak perempuan."
Refleks Arsenio langsung melepaskan tangannya yang dari tadi melingkar di perut rata Aeleasha. Sebenarnya ia merasa senang saat sang istri memutuskan untuk hamil lagi, tetapi keinginan sekaligus sebuah ancaman itu malah membuatnya merasa pusing karena takut tidak bisa memberikan benih perempuan.
__ADS_1
"Astaga, Honey. Aku mau-mau saja menghamilimu, tapi bukankah semuanya yang menentukan adalah Tuhan? Kalau nanti kamu hamil anak laki-laki, bagaimana? Apa kamu marah padaku?"
Aeleasha yang tidak menyukai perkataan dari sang suami, langsung membekap mulut pria tersebut. "Jangan berbicara seperti itu. Bukankah kalimat adalah doa? Jadi, berdoa saja aku hamil anak perempuan. Kalau nanti hamil anak laki-laki, kita coba lagi. Apa susahnya, sih!"
Wajah yang tadinya penuh kekhawatiran itu kini berubah berbinar dengan senyuman penuh seringai. Refleks Arsenio langsung membungkuk dan meraup tubuh ramping Aeleasha ke atas lengannya.
"Kamu sudah mengatakannya sendiri, Honey. Jadi, suamimu akan siap dan patuh pada perintah dari yang mulia ratu."
Aeleasha hanya tertawa kecil dengan mengalungkan tangannya di balik leher pria tampan tersebut. Bahkan semua orang kini menatap ke arahnya dan membuatnya merasa sangat malu hingga membenamkan wajahnya di dada bidang itu.
"Sayang, turunkan aku. Kalau tidak, sebentar lagi, nama kita akan memenuhi media sosial."
Sementara itu, Arsenio hanya menggelengkan kepala dan sama sekali tidak mempedulikan hal itu.
"Biarkan saja, lagipula aku tidak berbuat dosa. Aku akan menjadi suami idaman paling romantis sepanjang sejarah. Bukankah aku sudah berjanji akan menjadikanmu ratu dalam hidupku dan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia?"
"Sekarang aku akan membuktikannya padamu."
Awalnya Aeleasha yang masih sibuk menyembunyikan wajahnya, tidak berhenti tersenyum mendengar kalimat manis dari sang suami.
Namun, saat mengingat sesuatu, refleks langsung mendongak menatap ke arah wajah dengan rahang tegas tersebut.
"Sayang, Arza di mana?"
"Arza sedang asyik bermain bersama para pengawal, jadi biarkan saja. Lagipula dia pasti akan senang nanti jika diberitahu akan punya adik. Bersiaplah untuk berbulan madu yang kedua, oke!" Arsenio mengedipkan mata dan terlihat sangat bersemangat karena sang istri sudah berubah pikiran ingin hamil lagi.
To be continued...
Halo para pembacaku tersayang...
Hari ini Author membawa karya dari teman yang cocok dijadikan bahan bacaan karena sangat menarik dan menguras emosi saat membaca.
Ini adalah karya dari Author Samudra Lee dengan judul Dimadu Karena Wasiat.
Jangan lupa masukkan ke rak baca, ya! Terima kasih 🙏
Blurb:
Kebahagiaan yang dirasakan oleh Emilia Sarah Ziannisa karena kehadiran calon buah hati yang sudah dinanti selama 3 tahun ini, hancur seketika saat Sang Suami, Bima Ardhaba tiba-tiba pulang membawa wanita yang ia kenalkan sebagai istri keduanya, istri yang ternyata telah diwasiatkan oleh almarhum papanya.
Bisakah Nisa menerima kepetusan sepihak dari Bima yang menikah tanpa seizinnya? Lalu apakah rumah tangga ketiganya bisa dipertahankan ketika si madu mulai menginginkan Bima seutuhnya?
__ADS_1