
Dua minggu sudah perpisahan antara Rafael dan Alesha. Keduanya melanjutkan hidup tanpa bisa melihat satu sama lain maupun berhubungan karena memutuskan kontak dan tidak pernah saling menghubungi.
Seperti yang saat ini dilakukan oleh Rafael sudah menghabiskan waktu untuk kembali seperti biasa menyibukkan diri dengan pekerjaan dan pulang larut malam agar tidak melihat sang ibu.
Ia bahkan hanya bertemu sang ibu di pagi hari ketika sarapan dan itu pun dilalui dengan penuh keheningan karena semenjak wanita yang melahirkannya tersebut mengetahui bahwa ia hanyalah bersandiwara dengan menikahi Alesha untuk menghindari perjodohan, sang ibu tidak lagi banyak bicara padanya.
Ia tidak pernah lagi mendapatkan omelan dari sang ibu yang jauh lebih pendiam. Seolah tidak pernah lagi perduli apapun yang dilakukannya dan hal itu membuatnya merasa sangat bersalah karena merubah wanita paruh baya yang sangat disayangi yang tersebut menjadi pendiam.
Rafael selama ini menahan diri dan tidak memperdulikan hal itu karena jujur saja ia pun merasa sangat pusing menjalani semuanya setelah rumah tangganya terungkap serta Alesha pergi dari rumah.
Rumah yang selama satu bulan ini terasa jauh lebih hangat, kini sudah jauh berbeda karena hanya penuh dengan kesunyian tanpa ada pembicaraan. Sebenarnya ia merasa bahwa rumahnya berubah menjadi sebuah neraka semenjak Alesha pergi.
Namun, ia tidak tahu harus berbuat apa karena mengetahui bahwa sang ibu sangat kecewa padanya. Hingga tidak pernah mengajaknya berbicara seperti dulu lagi ataupun menegur ia pulang larut malam.
Kini, Rafael fokus pada beberapa dokumen yang ada di hadapannya, tidak bisa menahan diri lagi, sehingga langsung menghempaskan semua yang tampak di hadapannya hingga jatuh berserakan di lantai.
"Berengsek! Kenapa semua jadi seperti ini?" Bahkan Rafael sudah menggebrak meja dengan tangannya yang dari tadi mengepal karena menahan amarah yang mengguncang dan bergejolak.
"Aku hanya melakukan pernikahan kontrak dengan Alesha, tapi kenapa seolah aku berubah menjadi seorang bajingan tidak berguna karena mama sangat membencimu saat menipunya."
Rafael bahkan belum puas membuat ruangannya porak-poranda karena saat ini sudah mengangkat laptop dan membantingnya ke lantai hingga berubah bernasib nahas.
Bahkan juga membanting apapun yang dilihatnya hari ini. Kini, ruangan kerja yang tadinya sangat rapi dan bersih, sudah berubah porak-poranda dengan dihiasi barang-barang yang hancur berkeping-keping.
Rafael saat ini berjalan menuju ke arah dinding kaca raksasa di sudut sebelah kiri dan langsung mengeluarkan satu batang rokok dan menyesapnya hingga mengembuskan asap yang menguar di udara sambil menatap padatnya lalu lintas kendaraan di bawah bangunan gedung miliknya.
"Aku hanya ingin menghindari perjodohan dengan wanita yang sama sekali tidak kucintai. Apa aku salah melakukan itu? Aku tidak ingin hidup dengan wanita yang tidak kucintai dan tersiksa seumur hidup."
"Kenapa mama sama sekali tidak bisa mengerti bagaimana perasaan putranya?" Rafael saat ini sebenarnya tidak berniat untuk menyalahkan sang ibu yang terlihat sangat kecewa padanya hingga tidak mau mengajaknya bicara sama sekali.
Ia hanya butuh melampiaskan diri untuk meluapkan amarah yang selama ini ditahan dan sekarang meledak hingga berakhir menghancurkan apapun yang dilihatnya.
Rafael sibuk menikmati benda nikotin yang saat ini asapnya menguar di udara dan memenuhi ruangan kerjanya dengan asap beracun. Ia sesaat mengingat nasihat dari seseorang yang sudah tidak bersamanya.
Apa kau ingin mati dengan cara memenuhi tubuhmu dengan racun? Bukankah saat membuka bungkus rokok, bisa membaca larangan di sana? Bahwa merokok membahayakan kesehatan dan ada gambar tenggorokan yang berlubang? Apa kau ingin berakhir seperti itu?
Rafael seketika tertawa terbahak-bahak saat mengingat perkataan dari wanita yang sudah tidak lagi bersamanya. Ia pun menginjak puntung rokok yang masih tersisa separuh dan sudah dibuangnya.
"Bahkan saat kamu sudah tidak berada di hadapanku lagi, tapi omelanmu masih bisa kuingat, Alesha." Rafael saat ini terdiam dan meraih ponsel miliknya.
Rafael mencari kontak Alesha dan ingin menghubungi wanita itu untuk menanyakan apakah ia mengalami hal yang sama sepertinya, yaitu tidak diajak bicara sang ibu.
__ADS_1
"Apa Alesha sudah berbicara pada ibunya atau masih tinggal di tempat kos sahabatnya?" Rafael yang saat ini merasa ragu untuk menghubungi Alesha, masih menatap kontak wanita yang sudah tidak ada hubungan lagi dengannya.
Namun, beberapa saat kemudian ia kembali memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana karena tidak berani menghubungi Alesha. "Ia pasti akan kembali marah padaku seperti biasanya."
"Wanita itu bahkan sama persis dengan mama saat marah." Kini Rafael tengah memikirkan mengenai pertanyaan sang ibu pagi ini.
Cepat urus perceraian kalian di pengadilan agar Alesha bisa segera menikah lagi karena statusnya tidak kamu gantung.
Rafael saat ini kembali tertawa terbahak-bahak mengingat perkataan bernada perintah dari sang ibu yang terdengar sangat egois.
Bahkan saat ini ia seperti orang gila karena tertawa sendiri di ruangan kerja karena merasa bahwa sang ibu sangat keterlaluan.
"Kenapa selama ini mama hanya mendiamkanku dan tidak lagi bertanya apapun padaku, tapi saat membuka suara, hanya mengenai Alesha dan hanya memperdulikan Alesha yang selalu dianggap seperti putri kandungnya sendiri."
"Bahkan semenjak Alesha datang ke rumah, seolah aku menjadi anak tiri bagi ibuku sendiri." Rafael kembali tertawa miris atas apa yang menimpanya dan membuatnya merasa sangat marah.
Sialnya, ia tidak bisa marah pada dua wanita yang membuatnya sangat frustasi hari ini hingga menghancurkan semua hal yang dilihatnya.
Saat Rafael sibuk tertawa, kini mendengar suara ketukan pintu dari luar dan mendengar suara bariton dari asistennya. Ia sama sekali tidak menoleh pada asistennya yang menjelaskan sesuatu.
"Tuan Rafael, ada orang yang ingin bertemu dengan Anda." Sang asisten yang baru saja masuk ke dalam ruangan bosnya, benar-benar sangat terkejut ketika melihat ruangan kerja pria yang memunggunginya tersebut sudah sangat berantakan.
"Apakah Anda mau menemuinya atau tidak?"
Rafael yang saat ini masih menatap ke arah lalu lalang kendaraan di bawah perusahaan, tanpa menoleh ke arah asisten pribadinya, ini membuka suara. "
"Siapa? Bukankah hari ini aku tidak ada pertemuan dengan klien?"
"Memang tidak ada, Presdir. Orang yang ingin menemui Anda adalah tuan Alex Claire yang mengatakan merupakan dosen dari nyonya Alesha. Sepertinya ini berhubungan dengan kuliah istri Anda, sehingga secara khusus dosennya datang ke perusahaan."
Meskipun ada beragam pertanyaan di kepala sang asisten mengenai istri dari bosnya, tetapi sadar bahwa ia tidak akan mengetahui apapun jika pria yang sangat dihormatinya tersebut tidak menceritakan padanya.
Hingga ia melihat respon terkejut dari bosnya yang langsung menoleh dan menghadap ke arahnya.
"Apa? Alex Claire?" Rafael yang benar-benar sangat terkejut begitu mengetahui siapa yang ingin menemuinya, seketika menatap ke arah ulahnya yang membuat porak-poranda ruangan kerjanya.
"Iya, Presdir. Tuan Alex Claire saat ini sudah berada di lobi dan menunggu apakah Anda ingin bertemu atau tidak." Masih berdiri di tempat untuk menunggu jawaban dari atasannya dan akan disampaikan pada resepsionis.
Refleks Rafael menatap ke arah kehancuran yang dibuatnya dan mengarahkan jari telunjuk ke sana.
"Suruh cleaning service untuk membersihkan itu terlebih dahulu baru aku akan menemuinya. Aku tidak mungkin menemui tamu dengan ruangan kerja yang berantakan seperti ini, bukan?"
__ADS_1
Dengan membungkuk hormat dan menganggukkan kepala sebagai persetujuan, kini sang asisten segera berjalan keluar untuk segera melaksanakan perintah dari bosnya.
Sementara itu, Rafael saat ini memicingkan mata dan melihat ke arah semua barang-barang yang dibuatnya berantakan.
"Kenapa Alex ingin bertemu denganku? Apakah ia ingin pamer padaku sudah berhasil mendapatkan Alesha? Jika benar seperti itu, aku akan membuatnya menyesal karena berlagak di hadapanku."
"Mereka tidak akan pernah bisa menikah saat aku tidak mau menandatangani surat cerai. Lagipula aku belum mengurus di pengadilan dan masih mempertimbangkannya."
Rafael saat ini tengah bertanya-tanya mengenai apa yang akan dilakukan oleh kekasih dari Alesha, tapi suara ketukan pintu membuatnya menoleh dan melihat ada dua cleaning service yang membawa peralatan kebersihan.
"Permisi, Presdir. Kami akan membersihkan ruangan Anda."
Salah satu pria yang membawa troli kebersihan, mewakili rekannya untuk berbicara pada bos dengan sangat berhati-hati karena tidak ingin membuat amarah pimpinan perusahaan bangkit dan menghabisi mereka.
"Cepat bersihkan karena aku ingin menemui rekan bisnis secepatnya!" sahut Rafael yang saat ini menghempaskan tubuhnya di atas sofa dan memijat pelipis karena merasa sangat pusing atas semua yang terjadi beberapa minggu terakhir ini.
"Baik, Presdir."
Kemudian dua orang pria sudah langsung bergerak dengan cekatan untuk membersihkan ruangan kerja pemimpin perusahaan.
Hingga beberapa menit kemudian ruangan yang tadinya porak-poranda tersebut sudah rapi seperti semula dan dua orang pria itu berpamitan setelah membungkuk hormat pada bos mereka.
Rafael kini menelpon asistennya agar pria yang ditunggu diperbolehkan masuk ke lantai atas dan menuju ke ruangan kerjanya.
Kini, Rafael berjalan menuju ke arah kursi kerjanya dan mendaratkan tubuh di sana. Ia kini berakting seperti orang yang sangat sibuk dengan memeriksa dokumen yang tadi diempaskan ke lantai.
Hingga beberapa saat setelah menunggu, mendengar suara ketukan pintu serta seseorang yang masuk ke ruangannya.
Ia pun menoleh dan melihat pria yang sangat dibenci sudah berjalan mendekat ke arahnya dengan tersenyum menyeringai.
"Selamat siang, Tuan Rafael Zafran!" ujar Alex yang saat ini langsung mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di hadapan pria yang baru saja mengangkat kepala.
"Apa kau sama sekali tidak punya sopan santun karena aku belum menyuruhmu untuk duduk?" Rafael seketika menampilkan wajah masam dan memerah karena dikuasai oleh amarah saat menatap pria yang sudah duduk di kursi.
Hingga Rafael seketika mengepalkan tangannya ketika mendengar suara tawa dari pria yang ingin sekali ia tinju wajahnya.
Alex tanpa memperdulikan kemurkaan Rafael, kini masih tersenyum menyeringai saat menatap pria yang ingin ia habisi dengan sebuah kebohongan.
"Aku hanya ingin menunjukkan bahwa adab dalam memperlakukan seorang tamu adalah seperti ini. Lagipula, aku tidak lama berada di sini karena hanya ingin mengatakan satu hal padamu. Cepat ceraikan Alesha agar aku bisa segera menikah dengannya."
To be continued...
__ADS_1