
Saat Adelardo merasa sangat yakin jika keputusannya tidak salah dengan memberikan tanggung jawab besar pada pria di sebelah kanannya tersebut, tengah dirasakan oleh Arsenio.
Arsenio sebenarnya tidak menginginkan semua itu karena hanya berharap anak dan istrinya bisa kembali padanya.
Bagi Arsenio, harta sebanyak apapun tidak akan pernah mampu membuat hatinya bahagia jika anak dan istri tidak ada bersamanya. Namun, ia juga tidak mungkin mengecewakan pria paruh baya yang sudah sangat berjasa pada hidupnya.
Apalagi mempercayainya melebihi siapapun, meski di antara mereka sama sekali tidak ada hubungan darah. Mungkin jika orang lain berada pada posisi Arsenio, sudah bisa dipastikan akan sangat senang dan mungkin berjingkrak bahagia ketika mendapatkan harta melimpah.
Namun, itu sama sekali tidak ditunjukkan oleh pria yang terlihat menampilkan wajah murung. Seolah mendapatkan masalah dan beban berat di pundaknya. Arsenio saat ini berpikir jika tanggung jawabnya semakin besar, bagaimana caranya untuk membawa pulang istri yang sedang marah padanya.
Ia masih menampilkan wajah ditekuk ketika menatap sang ayah. "Aku tidaklah sehebat itu, Dad. Pengalamanku juga masih sedikit jika dibandingkan dengan orang-orang hebat di sekeliling Daddy."
Arsenio mendekatkan wajah karena ingin berbisik pada daun telinga pria paruh baya yang sudah dianggap seperti ayah kandung sendiri tersebut.
"Dad, aku ingin pergi menjemput anak dan istriku. Aku tidak akan bisa berkonsentrasi dalam bekerja tanpa mereka. Mereka adalah sumber kekuatanku. Apa yang harus kulakukan tanpa mereka?"
Arsenio sengaja berbicara lirih karena tidak ingin para wartawan mendengar pembicaraannya. Apalagi saat ini kilatan kamera berkali-kali mengabadikan momen penting itu dan sudah bisa dipastikan jika besok wajahnya akan menghiasi berbagai macam media sosial dan surat kabar.
Ia berharap Aeleasha pun akan melihat tentangnya. Bahwa video dari wanita yang menjebaknya sudah dilihat oleh istrinya dan tidak akan salah paham lagi padanya.
Arsenio berharap bisa mendapatkan maaf dari wanita yang telah ia sakiti karena emosi. Ia merutuki kebodohannya saat tidak bisa menjaga mulut ketika sedang marah. Kali ini, ia menyadari bahwa pepatah 'Lidah lebih tajam daripada pedang' itu memang benar adanya.
Bahwa ucapan seseorang mampu menyakiti hati orang yang diibaratkan rasa sakitnya lebih pedih dari terkena senjata tajam. Mungkin itulah yang saat ini dirasakan oleh sang istri.
Hanya ia yang murni salah karena terpancing emosi ketika dijebak oleh Nick. Mengingat tentang pria yang merupakan keponakan dari sang ayah, Arsenio saat ini kembali membuka suara.
__ADS_1
"Dad, apa aku boleh memberikan pelajaran pada pria itu?"
Sebenarnya tadi Adelardo ingin menanggapi kalimat mengenaskan dari Arsenio, tetapi disambung oleh sebuah pertanyaan. Hingga membuatnya langsung mengangguk perlahan.
Bahwa ia sama sekali tidak keberatan jika Arsenio menghajar habis-habisan keponakannya karena kali ini sudah sangat keterlaluan dan hampir saja membuat perusahaannya bangkrut saat harga saham anjlok.
Mendapatkan persetujuan dari pria paruh baya tersebut, Arsenio kini merasa lega karena tidak harus disalahkan jika membalas dendam pada pria yang telah membuat rumah tangganya berantakan.
Ia beralih menatap ke arah para wartawan yang seolah masih haus akan berita dan enggan untuk beranjak pergi dari perusahaan.
"Sudah cukup untuk hari ini karena ayah saya sudah memenuhi janjinya kepada kalian. Jadi, tolong hormati privasi kami karena sekarang ingin beristirahat. Terima kasih sudah setia menunggu dari tadi hanya demi bisa meliput mengenai hal yang harus saja disampaikan oleh pria hebat ini."
Saat Arsenio baru saja menutup mulut, ia mendengar suara beberapa orang yang bertanya mengenai tanggapannya tentang wasiat yang melimpahkan semua harta dari sang ayah angkat kepadanya.
"Aku hari ini ada urusan penting yang harus diselesaikan. Jadi, tolong beri jalan untuk kami."
Arsenio memberikan kode pada security dan juga asistennya untuk mengatur semuanya karena ia ingin segera menghancurkan pria yang mungkin saat ini juga sama murkanya karena telah gagal dari rencana licik yang melibatkannya.
Kemudian ia masuk ke dalam mobil bersama sang ayah dan menuju ke perusahaan cabang.
Ya, Nick saat ini memang memimpin perusahaan cabang karena kemewahan yang dinikmati oleh pria tersebut semuanya merupakan kekayaan dari sang paman.
Saat melanda di dalam mobil yang melintas memecah kemacetan jalan utama, Adelardo memilih untuk membahas tentang keinginan akan yang disebutkan tadi.
"Kau fokus aja mengurus perusahaan, Arsenio. Seperti aku katakan tadi, akan menjemput anak dan istrimu. Aku yakin jika Aeleasha tidak akan berani menolak permohonanku agar kembali ke sini lagi. Aku ingin pensiun dari perusahaan karena sudah sangat lelah."
__ADS_1
"Aku menganggap pergi liburan saat menjemput menantu dan cucuku. Aku janji, akan membuat rumah tangga kalian kembali seperti dulu lagi."
Arsenio yang dari tadi terdiam dengan berbagai macam pikiran yang mengganggu otaknya, langsung menggelengkan kepala karena tidak setuju dengan perkataan sang ayah.
"Aeleasha tidak semudah itu untuk dibujuk ketika merasa tersakiti, Dad. Harus aku yang datang sendiri untuk menjemputnya. Aku tidak ingin menjadi seorang pria pengecut untuk kedua kalinya."
"Jadi, setelah perusahaan kembali normal lagi, izinkan aku untuk pergi selama beberapa hari demi mengembalikan rumah tangga kami agar bahagia seperti dulu lagi."
Melihat wajah Arsenio yang terlihat sangat mengenaskan ketika memohon padanya, membuat Adelardo akhirnya menyetujui.
"Lakukan apapun yang menurutmu benar, tetapi tidak untuk beberapa hari ini karena aku yakin, kau akan disibukkan dengan projek besar langsung menyita perhatian banyak orang."
"Pasti kabar itu sudah sampai ke telinga saingan bisnis kita dan tugasmu adalah tidak ada kejadian yang meniru project besar kita." Adelardo kini mengirimkan beberapa nomor orang-orang hebat yang menjadi investor yang tadi disebutkan.
"Simpan nomor para investor ini karena mungkin kau akan dihubungi oleh mereka semua untuk membahas kapan akan dimulai pembangunan gedung yang akan menjadi kebanggaan perusahaan kita nantinya," jawab Adelardo yang beberapa kali menepuk bahu kekar putranya.
Arsenio kini sudah meraih ponsel miliknya dan melakukan apa yang diperintahkan oleh sang ayah. Hingga ia melihat wallpaper Aeleasha dan Arza yang membuatnya sangat rindu.
'Kalian berdua sedang apa saat ini? Sayang, maafkan aku dan jangan membenciku karena tidak akan sanggup menanggungnya. Aku tidak bisa hidup tanpamu,' gumam Arsenio yang saat ini tengah menunduk menatap ke arah benda pipih di tangan dan menggerakkan jari untuk mengusap foto dari Aeleasha dan Arza.
Perasaan membuncah dan berkecamuk saat ini menyeruak dan memenuhi hatinya, tetapi tidak bisa melakukan apapun karena ingin menyelesaikan masalah yang ada di sini terlebih dulu.
Ia mengepalkan tangan kanannya dan bunyi gemeretak gigi terdengar sangat jelas. "Aku akan menghabisimu, Nick. Kesabaran orang juga ada batasnya dan kali ini, aku tidak bisa menahan lebih lama lagi untuk menghancurkan wajahmu!"
To be continued...
__ADS_1