
Rafael baru saja menceritakan semua hal yang dulu pernah diceritakan oleh mantan mertuanya yang tak lain adalah Ayah dari wanita di hadapannya. Ia bisa melihat saat ini wajah cantik yang selama ini dipujanya sudah berurai air mata.
Lelehan kulit kesedihan menghiasi di sana dan ia tidak ingin anak laki-laki yang tengah berkonsentrasi ketika bermain Lego tersebut ikut bersedih melihat sang ibu tengah meneteskan air mata, meski tanpa suara tersedu-sedu.
Refleks ia langsung menggendong Arza dan berbicara sesuatu di dekat daun telinga putranya tersebut. "Sayang, Arza pergi dengan paman untuk beli jajan dan mainan baru, ya! Papa kasih uangnya."
Anak laki-laki yang berada di dalam gendongan tersebut seketika menganggukkan kepala dan tersenyum serta menampilkan wajah cerianya.
"Hore! Beli mainan baru dan es krim," seru Arza yang kini langsung bersemangat menuju ke arah mobil.
Rafael langsung berbicara pada sopir yang selama ini bekerja di sana. Kemudian mengeluarkan uang dan menyerahkan pada pria paruh baya tersebut. "Ajak putraku jalan-jalan selama 1 jam dan belikan apapun yang diinginkan."
"Baik, Tuan Rafael." Sang supir kini menggendong anak laki-laki tersebut dan langsung menurunkan di atas kursi penumpang bagian depan sebelah ia mengemudi.
Begitu melambaikan tangan begitu kendaraan berwarna hitam tersebut melewati pintu gerbang utama, Rafael seketika berlari ke dalam untuk mengecek keadaan wanita yang sudah ditebaknya kini menangis tersedu-sedu.
Namun, ia merasa aneh begitu melihat sosok wanita yang saat ini tidak ada di tempat semula yang menjadi tempat duduk. "Ke mana Aealeasha?"
Rafael merasa sangat bersalah sekaligus khawatir dengan keadaan mantan istrinya tersebut karena berpikir jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk, tidak akan bisa memaafkan diri sendiri.
Ia sangat khawatir jika wanita itu yang tengah hamil tersebut kembali melakukan kesalahan seperti 5 tahun yang lalu, yaitu berusaha untuk bunuh diri karena tidak kuat menghadapi masalah yang menimpa.
"Aealeasha!" Rafael berteriak dengan sangat kencang dan berharap suaranya terdengar oleh wanita yang saat ini tiba-tiba menghilang dari pandangan.
Namun, ia merasa sedikit lega karena ada jawaban dari dalam kamar mandi dan seketika membuatnya mendekat sambil menggedor pintu karena khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk di sana.
__ADS_1
"Aku sedang cuci muka di kamar mandi!" teriak Aealeasha yang saat ini menyembunyikan diri karena tidak ingin terlihat lemah di hadapan pria yang seharusnya tidak ia susahkan.
Ia sadar jika selama ini terlalu banyak menyusahkan pria yang berada di luar pesanan dan menyadari bahwa posisinya saat ini salah.
Apalagi status dari mantan suaminya tersebut sudah memiliki seorang istri yang harusnya lebih diperhatikan. Aealeasha sadar diri dan ingin mengatakan pada pria di luar sana agar tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Aealeasha yang saat ini berdiri di depan cermin kamar mandi, Sudah beberapa kali mengusap bulir air mata yang menghiasi wajahnya. Ia bahkan sudah mencuci muka dengan air mengalir tanpa mematikannya.
Berharap wajah sebabnya tidak dilihat oleh Rafael dan membuat pria itu merasa sangat iba pada nasibnya yang miris karena ternyata ada rahasia besar mengenai masa lalu yang melibatkan almarhum ibunya serta orang tua sang suami.
Aealeasha memang sangat membenci sang suami, tapi ia tidak bisa membuang rasa cintanya yang masih bertahta di hati pada pria yang telah mengkhianatinya.
"Berikan aku waktu 5 menit dan akan keluar setelah selesai! Aku tidak akan berbuat hal-hal buruk!" Aealeasha kembali berteriak agar Rafael tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Ia sangat hafal dengan mantan suaminya yang selalu perhatian dan bersikap layaknya seorang saudara laki-laki yang menyayanginya.
"Baiklah. Lima menit lagi harus keluar karena jika tidak, aku akan mendobrak pintunya," sahut Rafael dari luar ruangan dan sedikit merasa lega karena wanita yang sangat dikhawatirkan masih bisa menjawab pertanyaannya.
'Semoga Aealeasha tidak menyayat tangannya dengan benda tajam di kamar mandi,' gumam Rafael yang saat ini masih berdiri di depan pintu karena tidak berniat untuk pergi dari sana meskipun mengizinkan mantan istrinya tersebut berada di dalam.
Sementara itu di dalam ruangan kamar mandi, Aealeasha masih membiarkan keran air terbuka dan memenuhi wastafel. Ia ingin menangis tanpa terdengar dari luar, tapi menahan agar suaranya tidak sampai ke telinga Rafael.
Mungkin jika dulu, akan selalu menangis tersedu-sedu layaknya anak kecil ataupun remaja. Namun, kali ini berbeda karena ia berusaha untuk menjadi wanita dewasa karena usianya juga sudah tidak lagi muda.
Aealeasha hanya membiarkan lelehan kristal air mata membanjiri wajahnya yang sudah berubah sembab. "Aku bukan anak kecil lagi yang harus menangis tersedu-sedu karena mengetahui semua kenyataan pahit diantara almarhum ibuku dan juga orang tua suami."
__ADS_1
"Aku sudah 25 tahun dan akan melahirkan anak kedua, jadi harus kuat serta tidak lemah seperti enam tahun yang lalu." Aealeasha yang saat ini menatap wajah sembabnya di cermin, kini berpikir mengenai kelanjutan hubungannya dengan sang suami.
"Ternyata sekarang aku merasa lega karena bisa menjadikan ini sebagai alasan untuk bercerai jika sampai suamiku tidak ingin menceraikanku hanya karena ia berselingkuh."
"Papa pasti juga merasa sangat bersalah padaku begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya mengenai orang tua suamiku ternyata adalah korban dari tabrak lari yang dilakukan oleh almarhum mama."
Mengingat tentang wanita yang sangat disayangi dan sudah meninggal karena memikirkan rasa bersalah akibat melakukan kesalahan pada orang tua Arsenio.
Aealeasha kali ini benar-benar merasa sangat berdosa sekaligus bersalah pada wanita yang telah. "Mama, maafkan putrimu. Aku bahkan menikah dengan putra dari korban kesalahan mama."
"Mama pasti selalu menangis dari atas sana karena melihatku menikah dengan Arsenio. Aku akan memperbaiki semuanya dan membuat mama bahagia dari surga sana."
Aealeasha saat ini berpikir untuk menghubungi sang ayah dan membicarakan mengenai masalah yang dihadapi. Ia kini bertekad untuk bercerai dengan sang suami dengan beberapa alasan.
Meskipun menyadari bahwa itu tidak akan bisa dilakukan saat ini karena tengah mengandung, jadi perencana untuk menggugat cerai Arsenio setelah melahirkan.
"Ya, setelah melahirkan, aku akan menyuruh papa mengurus semuanya. Aku makan tinggal di sini selamanya bersama dua anakku."
Saat baru saja menutup mulut, Aealeasha mendengar suara bariton dari pria yang terdengar dipenuhi kekhawatiran.
"Waktumu telah habis, Aealeasha. Cepat keluar!" Rafael kini bahkan menggedor pintu dan ingin segera melihat wajah wanita yang dari tadi sangat dikhawatirkan melakukan hal-hal buruk.
Karena tidak ingin membuat mantan suaminya khawatir berlebihan, seketika Aealeasha membuka pintu dan keluar dari kamar mandi.
"Aku baik-baik saja dan tidak akan bunuh diri seperti dulu."
__ADS_1
To be continued...