
"Selamat untuk pernikahanmu, Brother," ucap salah satu rekan kerja Rafael dulu dan disambung oleh beberapa teman lain.
Sementara itu, Rafael yang baru saja kembali dari kamar setelah mengantarkan Alesha, kini hanya tersenyum simpul. Tentu saja ia tahu apa yang dipikirkan oleh beberapa teman-temannya tersebut bahwa ia akan melakukan malam pertama dengan sang istri.
Padahal malam ini ia berencana untuk menginap di hotel lain setelah semuanya selesai dan ingin membiarkan Alesha merasa nyaman di kamar. Rencananya adalah akan kembali pagi-pagi sekali, agar tidak ada yang tahu. Khususnya sang ibu dan mertua.
Ia belum membicarakan mengenai tempat tinggal setelah menikah dengan Alesha. Jadi, berpikir akan pulang ke rumah utama esok hari.
Rafael kini tersenyum simpul dan mengucapkan terima kasih atas semua ucapan selamat dari beberapa teman baik yang berjumlah lima orang tersebut.
"Ini adalah pernikahanku yang kedua, jadi rasanya tidak seperti ketika pertama kali menikah. Malam ini, kalian bisa makan dan minum sepuasnya."
Sementara itu, para pria muda yang seumuran dengan Rafael tersebut bertepuk tangan dan berbinar.
Hingga salah satu mengucapkan sesuatu yang membuat Rafael merasa kesal.
"Sebentar lagi, teman kita pasti akan seperti para suami yang takut istri. Jadi, biarkan teman kita tidak minum anggur dan kita habiskan saja semuanya hari ini sampai puas," ucap pria dengan setelan jas berwarna hitam tersebut.
"Rafael tidak boleh mabuk karena malam ini harus bekerja ekstra di atas ranjang," sahut pria dengan rambut ikal yang duduk di hadapan Rafael.
Sementara itu, beberapa yang lain hanya tertawa terbahak-bahak karena merasa jika perkataan dari dua temannya tersebut masuk akal dan bukan rahasia umum lagi di kalangan para pria beristri.
"Kalian benar. Bahwa segagah-gagahnya seorang pria yang arogan dan liar, saat menikah, tetap akan kalah di depan seorang istri. Bahkan sekelas preman sekalipun, tetap tidak berkutik ketika seorang istri marah." Pria dengan kulit sawo matang tersebut berbicara sambil terkekeh ketika menatap Rafael.
Saat ini, Rafael yang merasa sangat kesal karena seperti mendapatkan tamparan keras ketika diejek oleh para sahabat baiknya yang dulu merupakan rekan kerja satu kantor tersebut.
Hingga ia menjadi CEO perusahaan setelah mendapatkan peralihan kekuasaan dari Rafael, sehingga kini menjadi atasan teman-temannya tersebut. Memang di kantor, sikap mereka hanyalah sebagai atasan dan bawahan.
__ADS_1
Namun, saat di luar kantor, kembali layaknya teman baik. Refleks Rafael langsung meraih botol anggur dan menuangkannya ke dalam kelas. Tanpa membuang waktu, langsung meneguk hingga habis.
Kemudian mengarahkan tatapan tajam pada semua sahabatnya. "Apa yang kalian katakan tidak akan pernah terjadi padaku."
"Meskipun aku menikah, tetap tidak akan kalah dari istri karena dialah yang tunduk di kakiku. Jadi, jangan berpikir macam-macam."
Semua pria menatap ke arah sang pengantin pria tersebut dan juga saling bersitatap begitu Rafael kembali menuangkan minuman berwarna merah tersebut.
Sebenarnya mereka tahu seperti apa Rafael yang dulu sangat mencintai mantan istri. Hingga rela melakukan apapun demi kebahagiaan wanita itu yang memilih pria lain.
Bahwa sahabat mereka hanyalah seorang pria lemah jika menyangkut masalah cinta. Namun, sama sekali tidak ingin berkomentar karena berpikir jika itu hanya akan membuat seorang Rafael murka.
Jika sang pengantin pria tersebut murka, pasti akan mendapatkan omelan dari ibu Rafael. Tadi memang mereka memesan tempat khusus untuk bersenang-senang sebelum melepas sahabat mereka mengakhiri status duda keren.
Hingga mengajak Rafael berbincang dahulu setelah acara resepsi pernikahan berakhir. Kini, begitu melihat Rafael sudah menghabiskan beberapa gelas anggur, merasa khawatir dan saling memberikan sebuah kode.
Tentu saja mereka sangat hafal jika Rafael selama ini tidak pernah minum-minuman beralkohol. Kini, sahabat mereka sudah mabuk dan harus segera dibereskan.
Tentu saja empat orang yang lain segera bangkit berdiri dan berniat untuk membantu Rafael. Namun, melihat sahabat mereka menolak dengan mengigau karena efek mabuk.
"Lepaskan tangan kalian! Aku bisa jalan sendiri ke kamarku! Kenapa rasanya seperti berputar-putar seperti ini?" igau Rafael yang saat ini tengah melihat dua temannya membantunya bangkit dari kursi.
"Kau harus segera ke kamar karena jika para awak media melihatmu mabuk seperti ini, akan menjadi masalah nantinya."
"Biar kami antar karena tidak ingin kau sampai salah kamar."
"Iya. Kami akan mengawalmu sampai di tempat tujuan dan bisa honeymoon dengan istrimu. Pasti sekarang pengantin wanita sudah menunggu."
__ADS_1
Rafael yang berdiri sempoyongan, kini hanya tertawa terbahak-bahak karena merasa jika tidak ada yang tahu mengenai pernikahannya yang dipenuhi kepalsuan. Bahkan saat ini ia mengingat jika Alesha tidak pulang karena bersama Alex.
Berpikir bahwa tidak ada yang diharapkan dari wanita yang telah dinikahinya tersebut, kini Rafael menunjuk ke arah satu persatu sahabatnya.
"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku terpaksa menikah karena dipaksa oleh mamaku. Jadi, ini sama sekali tidak ada artinya bagiku karena aku masih sangat mencintai mantan istriku. Aku yakin jika dia akan kembali padaku setelah menyadari bahwa cintaku jauh lebih besar dari suaminya."
Semua pria yang ada di ruangan khusus tersebut seketika saling bersitatap dan menganggap bahwa karena efek mabuk, membuat Rafael jadi mengigau saat berbicara.
Akhirnya semua orang membiarkan Rafael berbicara sesuka hati dan memilih untuk segera menahan kedua lengan kekar itu agar ikut keluar dari ruangan.
Tentu saja karena ingin segera mengantar ke kamar pengantin. Meskipun ada banyak pertanyaan yang memenuhi kepala mereka, tetapi tidak ingin membahas saat keadaan Rafael yang masih dipengaruhi oleh alkohol.
Rafael yang merasa sangat pusing pada kepala, hanya membiarkan dua temannya memapah ke kamar.
Beberapa saat kemudian, mereka berenam sudah tiba di depan ruangan kamar pengantin. Salah satu teman Rafael mengambil guest key pada saku jas sang pengantin pria tersebut.
Begitu pintu tidak terkunci, salah satu pria langsung menepuk pundak kokoh Rafael.
"Selamat bersenang-senang, Brother. Kami semua pergi dulu." Kemudian menatap ke arah beberapa teman yang lain agar segera pergi bersamanya.
Sementara itu, Rafael berbicara dengan suara yang sangat keras ketika melihat para temannya berjalan menuju ke arah lift.
"Sudah kukatakan jika itu tidak seperti yang kalian pikirkan! Dasar para sahabat yang bodoh!" sarkas Rafael dengan terbahak dan kini memilih untuk masuk ke dalam kamar karena merasa sangat pusing.
Begitu mengunci pintu, Rafael melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah sofa dan langsung mendaratkan tubuh di sana. Merasa sangat haus, ia yang melihat di atas meja ada teko air, segera menuangkan ke dalam gelas dan langsung meneguknya hingga habis.
"Sial! Tenggorokanku sangat kering." Rafael baru saja menutup mulut dan mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.
__ADS_1
To be continued...