I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Mengulur waktu


__ADS_3

Sementara Adelardo masih tetap bersabar karena ia merasa senang ketika wanita yang ada di hadapannya tersebut bersikap sebenarnya, tanpa berakting.


Ia lebih suka mendapatkan makian secara langsung daripada ditusuk dari belakang. Seperti tadi yang ia dengarkan di ruang gawat darurat ketika saudara dan keponakannya tengah menyusun rencana untuk menyingkirkannya.


"Aku tidak tersinggung saat istrimu marah padaku. Jadi, jangan halangi dia untuk meluapkan emosi," seru Fernando yang saat ini tengah menatap ke arah pasangan suami istri di hadapannya.


"Maafkan istriku, Brother. Wanita memang selalu tidak bisa menggunakan akal sehat karena lebih mengutamakan perasaan." Ia saat ini memasang wajah memelas, agar saudara laki-lakinya tersebut mau memaklumi sikap kasar sang istri.


Saat Angelin yang masih merasa sangat kesal pada sosok pria di hadapannya, ia hendak kembali mengumpat. Namun, tidak bisa jadi membuka mulut ketika pintu ruangan operasi terbuka.


Beberapa detik keheningan dan perasaan yang berkecamuk di hati Adelardo ketika menunggu hasil operasi, dengan berharap kesembuhan dari putranya yang saat ini masih berada di dalam ruangan operasi.


Ia langsung berdiri dan berjalan mendekat saat melihat pintu ruangan operasi telah dibuka dokter yang menangani operasi pemasangan pen pada laki-laki yang sangat ia khawatirkan dari tadi.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dokter? Apa operasinya berjalan lancar?" Adelardo mulai mengeluarkan suaranya karena benar-benar tidak sabar dengan hasil operasi yang dijelaskan dari para dokter.


Sementara Angelin saat ini sibuk mengumpat di dalam hati. 'Semoga pria yang menghancurkan wajah putraku itu mati di meja operasi.'


Sementara pria itu lebih bisa bersikap logis dengan menunggu penjelasan dari dokter ahli bedah tersebut. Meskipun sebenarnya ia ingin segera pergi dari sana secepatnya karena merasa sangat muak.


Hingga suara pria yang masih memakai pakaian operasi itu mulai menjelaskan kepada mereka.


"Operasinya berjalan baik dan lancar. Syukurlah semuanya tidak terlambat, sehingga tidak sampai membuat kaki pasien cacat. Saat ini, pasien masih belum sadar karena kami melakukan bius total saat operasi dan mungkin akan sadar setelah beberapa jam kemudian!"


Akhirnya Adelardo merasa lega dengan penjelasan dari dokter. "Syukurlah semuanya berjalan lancar!"


Tidak lama berselang, tampak para perawat yang mendorong ranjang Arsenio keluar dari ruangan operasi.


Adelardo langsung mengeluarkan suaranya, "Bawa dia ke ruangan terbaik di rumah sakit ini. Aku ingin menjadi orang pertama yang dilihatnya saat sadar nanti karena Arsenio tidak mempunyai siapapun selain aku—ayahnya.

__ADS_1


Sengaja ia menekankan kalimat terakhir dan membuatnya merasa ingin menunjukkan perlindungan pada saudaranya yang berniat jahat tersebut.


Para perawat pun dengan serempak menjawab titah dari seorang pria paruh baya tersebut.


Mereka semua pun berjalan membawa pasien menuju ke ruangan terbaik di rumah sakit, diikuti oleh Adelardo yang mengekor dibelakang mereka.


Pasangan suami istri itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya karena memang tidak ingin mengikuti pasien yang dianggap hanyalah musuh mereka.


"Sialan! Kenapa dia tidak mati saja? Menyebalkan!" ujar Angeline yang geram karena doanya tadi tidak menjadi kenyataan.


Pria yang merupakan suami tersebut hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap sang istri yang tidak bisa menahan diri dari tadi.


"Lain kali, aku tidak akan pernah mengajakmu menemui brother. Kamu hanya akan mengacaukan segalanya."


"Aku pun tidak sudi melihat saudaramu lagi karena akan menjebloskan putraku ke penjara!" Angeline saat ini menampilkan wajah masam dan memilih untuk mendorong kursi roda tersebut.


Angeline saat ini sudah berjalan sambil mendorong kursi roda sang suami menuju ke arah lift.


Sementara di sisi lain, setelah selesai menempatkan pasien tersebut di ranjang yang lengkap dengan segala peralatannya, semua perawat mulai keluar.


Adelardo menatap ke arah putranya yang masih terbaring dengan kedua mata tertutup dan beralih ke kaki yang saat ini sudah tertutup perban tersebut.


"Syukurlah kamu tidak berakhir cacat, Arsenio. Jika sampai terjadi hal buruk padamu, mungkin Aeleasha akan mengumpat padaku."


"Maafkan aku, Arsenio. Gara-gara aku, kamu jadi berakhir seperti ini. Cepatlah sembuh dan kau harus menjadi seorang pria yang lebih kuat dari ini." Adelardo masih mengamati pria yang saat ini tengah terlihat tertidur lelap karena efek bius yang belum menghilang.


Hingga suara dering ponsel miliknya saat ini berdering dan membuatnya menggeser tombol hijau ke atas.


"Bagaimana? Apa kamu sudah memastikan semuanya?"

__ADS_1


"Maaf, Tuan Adelardo, sepertinya nona Aeleasha tidak pulang ke rumah karena ayahnya sama sekali tidak mengetahui hal itu," jawab Rey yang baru saja menyelesaikan tugas dari bos besar untuk mencari tahu keberadaan menantu dan cucunya.


"Apa kamu tadi to the poin bertanya pada ayah Aeleasha?" Adelardo memijat pelipisnya dan berjalan menuju ke arah sofa. Kemudian mendaratkan tubuhnya di sana.


Namun, ia merasa lega begitu mendengar suara bariton dari seberang telpon dan embusan napas kasar berubah menjadi tenang.


"Tidak, Tuan. Tadi saya menghubungi ayah dari nona Aeleasha untuk menawarkan kerja sama atas nama Anda. Kemudian ia menanyakan perihal putrinya bersama tuan Arsenio. Itu sudah bisa membuktikan jika nona Aeleasha sama sekali tidak mengetahui hal itu."


Rey adalah tipe pria cerdas yang bisa membaca peluang dan juga keadaan. Jadi, tidak sulit untuknya ketika ia mendapat sebuah perintah dari bos besar untuk mencari tahu.


Apakah istri dari bosnya pulang ke rumah orang tua, atau memilih bersembunyi.


"Kalau begitu, kau harus suruh orang untuk menyelidiki keberadaan menantuku. Aku sangat mengkhawatirkannya. Aku ingin melindunginya dari orang-orang yang serakah karena kekuasaan."


"Baik, Tuan Adelardo."


Adelardo saat ini langsung mematikan sambungan telepon dan ia terdiam sejenak sambil menatap ke arah sosok pria yang terbaring di atas ranjang.


"Arsenio pasti akan menghubungi mertuanya nanti setelah sadar. Sepertinya aku harus menceritakan tentang hal yang didapatkan oleh Rey. Bahwa Aeleasha saat ini tidak pulang ke rumah."


Adelardo mengetahui bagaimana awal mula hubungan Arsenio dan satu-satunya hal yang dipikirkan saat ini adalah tentang pria yang menjadi mantan suami Aeleasha.


Kemudian ia menepuk jidatnya begitu melupakan poin penting itu. Refleks Adelardo langsung mengarahkan jarinya untuk mengetik pesan.


Suruh orang untuk menyelidiki pria yang merupakan mantan suami Aeleasha. Aku curiga jika saat ini menantuku bersama pria itu. Jika Arsenio tahu kabar ini, pasti akan langsung pergi, tanpa mempedulikan kondisi kakinya.


Setelah memencet tombol kirim, Adelardo langsung membuka suara, "Sepertinya aku harus mengulur waktu dengan membohongi Arsenio. Bahwa Aeleasha saat ini tengah tinggal di rumah ayahnya."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2