
Sebuah mobil terparkir di depan perusahaan yang megah, Arsenio turun dari mobilnya dengan wajah yang dingin dan penuh dengan emosi.
Salah satu staf melihat kedatangan pemimpin perusahaan. Dengan terburu ia pun memberikan kode pada earpiece yang dipakai semua pegawai.
“Kode satu, kode satu!” ucap staf itu dan membuat semua pegawai yang tidak jauh berada di lobbi langsung berkumpul.
Saat Arsenio memasuki perusahaannya, semua pegawai menyambutnya dengan berbaris dan menundukkan kepala. Pemandangan itu tidak asing bagi semua orang yang sudah lama bekerja dan menjadi pegawai tetap.
Langkahnya terlihat terburu, bahkan saat seseorang mendatanginya dan membisikkan sesuatu padanya, menghentikan langkahnya, membuat semua pegawai terkejut ketakutan.
“Kau bilang apa?” tanya Arsenio menggeram kesal dengan mendelik tajam pada sekretarisnya itu yang langsung menundukkan kepala.
Arsenio pun mempercepat langkahnya pergi menuju ruangannya. Ia menaiki lift dengan beberapa pegawai berbaris di belakangnya dan mengikutinya menaiki lift.
“Apa yang terjadi? Bagaimana kalian bisa kehilangan tender bernilai hingga ratusan juta dollar?” tanya Arsenio pada sekretarisnya dengan nada amarah.
Semua pegawai yang ada bersamanya saling menundukkan kepala. Mereka takut dan bingung harus menjawab apa.
Berada satu lift dengan pemimpin perusahaan yang dalam emosi yang tinggi, membuat suasana di sana sangat mencekam dan penuh kegelisahan.
Beberapa dari pegawai yang sudah berusia lebih dari empat puluh tahun bahkan mengelap keringat yang bercucuran dengan sapu tangan yang sudah basah sejak tadi.
“Apa kalian tidak punya telinga? Kenapa tidak ada yang menjawab satu pun?” tanya Arsenio lagi geram karena bawahannya itu hanya bisa diam seribu bahasa dan tidak ada yang berani menjawab pertanyaannya.
Mereka kembali bergidik ngeri saat Arsenio menatap satu persatu semua bawahannya itu. Sekretarisnya pun maju dan menunjukkan sesuatu dari dalam ponselnya.
“Perusahan lain meniru proposal kita dan membuat kita gagal karena dianggap melakukan kecurangan,” jelas sekretarisnya.
Arsenio melihat video dalam ponselnya. Ia terlihat sangat marah dan mengepalkan kedua tangannya dengan penuh emosi. Jelas saja hal itu menjadi suasana semakin tidak enak dan nyaman. Namun, salah satu dari mereka memberanikan diri untuk bersuara.
__ADS_1
“Maafkan kami, Tuan Arsenio. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin agar ide proposal itu tidak bocor, tapi sepertinya ada seorang pengkhianat di perusahaan ini,” ucap salah satu bawahannya. Tubuhnya sudah bergetar menahan gugup yang menyelimuti dirinya.
“Jangan salahkan pengkhianat! Jika memang ada, maka kalian yang benar-benar telah dibodohi, sampai tertipu dan gagal seperti ini!" teriak Arsenio menohok semua pegawainya yang sama sekali tidak mendapatkan pembelaan, melainkan disalahkan atas apa yang tidak bisa mereka cegah.
Suasana kembali terasa sangat menakutkan karena Arsenio belum berhenti menatap video yang masih terputar dari dalam ponsel sekretarisnya.
Hingga tak beberapa lama, lift pun sampai di lantai utama. Arsenio pun keluar dari lift dengan wajah yang mengeras. Ia berjalan ke arah ruangannya. Sementara para bawahannya hanya diam di dalam lift dengan menundukkan kepala.
Setelah Arsenio menghilang dari pandangan mereka, semuanya menghela napas lega dan bahkan salah satu dari mereka harus menggunakan inhaler karena asmanya kambuh.
Seorang lagi sampai tidak kuat berdiri dan bersimpuh di lantai lift dengan napas yang tersengal.
Sesampai di ruangannya, Arsenio yang emosi, melempar semua berkas yang ada di atas meja. Meluapkan emosi dengan menggebu-gebu.
“Apa kau sudah menyelidiki, siapa pengkhianat yang sudah membocorkan ide proposal itu?” tanya Arsenio setelah menenangkan diri.
“Belum, Tuan Arsenio, tapi saya masih menyelidiki semua pegawai yang terlibat dalam proposal tersebut,” jawab sekretarisnya dengan sangat gugup.
"Bahkan semua kenalan mereka, siapa saja yang ditemui."
"Kemudian kembali menyelidiki semua latar belakang mereka hingga permasalahan yang sedang dihadapi. Kita tidak pernah tahu, kalau pengkhianat dan penyusup bisa berasal dari mana saja,” ucap Arsenio dengan menggertakkan giginya.
Tentu saja, ia sangat murka karena tender yang sudah lama diersiapkan kini melayang begitu saja. Mereka yang sudah membuatnya berbulan-bulan tanpa henti, harus kalah karena dianggap sebagai peniru dan harus melerakan tender itu menjadi milik orang lain.
“Apa kau sudah menyelidiki orang-orang yang terlibat dalam tender perusahaan lain itu?” tanya Arsenio lagi.
“Sudah, Tuan, tapi tidak ada yang mencurigakan. Namun, saya tetap terus menyelidikinya,” jawab sekretaris.
Tangannya bergetar menahan ponselnya yang terus saja berdering hingga mengganggu Arsenio yang masih dilahap oleh emosinya itu.
__ADS_1
“Kenapa tidak kau angkat! Kau membuatku semakin emosi saja,” ucap Arsenio menatap tajam. Sekretarisnya menahan rasa takutnya.
“Baik, permisi,” ucap sekretarisnya dan mengangkat telepon itu.
Arsenio bisa melihat wajah kecewa dan frustasi dari kerutan dahi sekretarisnya.
Ia bahkan bisa menebak apa yang sedang dibicarakan oleh sekretarisnya dengan seseorang yang menelpon.
Arsenio benar-benar tidak bisa menebak, siapa yang sudah bermain licik di belakangnya. Jika ia menerka-nerka, siapa yang telah berani menusuknya seperti ini? Bahkan semua pegawainya takut dan tidak berani menatap matanya.
Benarkah pengkhianat itu dari dalam perusahaan? Arsenio tidak berpikir demikian dan berasumsi bahwa ada orang lain yang telah mempermainkannya dan sedang menertawakan kebodohannya karena telah gagal mendapatkan tender besar itu.
“Baik, terimakasih,” ucap sekretaris menutup pembicaraannya dan menatap bosnya dengan takut.
“Ada apa? Apa semua pemegang saham meragukan aku sebagai pemimpin perusahaan dan sebagian dari mereka hendak menarik sahamnya?” tebak Arsenio yang sudah mendengar kabar tersebut dari sang ayah yang merupakan pemilik perusahaan.
Sekretarisnya menganggukkan kepala dengan gugup. Ia terlihat sangat menyesal dan ikut bersedih akan akhir dari kegagalan mereka kali ini.
Arsenio menggeram tidak mengerti. Bagaimana mereka bisa langsung memutuskan untuk menarik saham dan membuat perusahaan mulai goyah.
Saat ini, ia terus berpikir dan menerka-nerka dari tujuan si pengkhianat yang telah berhasil menghancurkan prestasi perusahaannya yang selama ini tidak pernah kalah sekali pun.
“Tidak bisa! Mereka tidak bisa melakukan itu! Aku akan mencari siapa dalang dibalik semua ini! Kerahkan semuanya dan terus mencari siapa yang telah berani mempermainkan perusahaanku seperti ini!"
"Jangan pernah, memberikan mereka ampun. Bagaimana pun caranya, aku akan temukan orang itu!” perintah Arsenio penuh dengan emosi. Ia bahkan menggebrak meja saking emosinya.
Satu minggu sudah kembali ke New York dan harus bekerja lebih keras karena ulah seorang pengkhianat. Bahkan saat ia ingin segera mengetahui kabar dari detektif mengenai siapa dari keluarga mertuanya yang menyebabkan kecelakaan orang tuanya, masih belum mendapatkan petunjuk apapun dan semakin membuat Arsenio frustasi.
Matanya melotot merah dengan deru napas yang tidak terhenti. Terus berlomba hingga menyesakkan dada. Arsenio melonggarkan dasinya dan melepaskan satu kancing kemejanya dan membiarkan paru-parunya bisa bernapas lebih bebas.
__ADS_1
Sekretaris Arsenio bahkan terus menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Arsenio yang sedang membara diselimuti amarah yang akan sulit padam.
To be continued...