I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Bermain api


__ADS_3

"Baiklah, aku mempercayaimu sebagai seorang pria sejati sekaligus dosen yang baik. Jadi, aku tidak akan merasa takut saat berada dalam posisi intim seperti ini bersama seorang lawan jenis."


Sebenarnya antara mulut dan hati Alesha, sama sekali tidak sinkron karena ia takut jika apa yang tadi digumamkan menjadi kenyataan.


Kini, Alex mulai merenggangkan kuasa dari atas perut datar di balik kemeja berwarna biru tersebut. "Kenapa tidak dari tadi menjadi seorang anak yang patuh. Jadi, aku tidak perlu memakai cara kekerasan, tapi memang sepertinya kamu lebih menyukai dipaksa."


Alesha saat ini hanya diam saja dan tidak berbicara apapun. Ia saat ini sedang menormalkan degup jantungnya yang tidak beraturan. Bahkan seperti hampir melompat dari tempatnya.


Bagaimana ia tidak merasa gugup jika saat ini dipeluk sangat erat oleh pria pujaan hati di ranjang yang sama.


'Tenanglah, Alesha. Alex tidak akan melakukan apapun lebih dari ini. Ia sudah berjanji, jadi kamu harus percaya padanya.'


Saat Alesha sibuk merutuki kebodohannya karena tidak pernah bisa melawan Alex yang suka memaksa, kini ia kembali merasakan tubuhnya meremang ketika mendengar suara lirih Alex di dekat daun telinga yang membelai urat syarafnya.


"Sebenarnya aku tadi menyuruhmu untuk mengurai rambut karena berpikiran kotor. Aku ingin sekali memberikan kiss mark di leher putihmu. Itulah kenapa ingin kamu menutupi dengan rambutmu yang indah dan berkilat ini."


"Bukankah aku adalah seorang pria yang baik? Jadi, berikan applause padaku." Alex memang sengaja berbicara jujur karena berpikir jika Alesha akan mengaguminya.


Jika awalnya ia berpikir Alesha akan merasa terharu setelah ia berbicara jujur dan menahan diri agar tidak lepas kendali, semuanya tidak seperti yang dipikirkan karena malah merasakan nyeri pada paha. Hingga membuatnya meringis menahan rasa sakit atas perbuatan Alesha.


Sementara Alesha seketika malu ketika berada pada posisi sangat intim dengan pria yang malah membahas mengenai kiss mark dan langsung mengotori otaknya saat ini.


Ya, ia saat ini malah tengah membayangkan jika pria di sebelahnya itu akan melakukan apa yang barusan dikatakan. Memberikan jejak kepemilikan yang merupakan sebuah mahakarya indah bagi pasangan suami istri.


Namun, baginya dan Alex yang sama sekali tidak mempunyai hubungan, merupakan perbuatan terlarang yang tidak boleh dilakukan karena bisa menjadi kebablasan hingga berbuat hal lainnya.


Tidak, ia tidak ingin itu terjadi dan akhirnya memilih untuk memberikan sebuah hukuman atas pemikiran kotor dari Alex. "Dasar otak udang! Jika kamu ingin aku menginap di sini, penuhi janjimu dan ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan."

__ADS_1


Dari tadi Alesha berpikir jika ia malam ini tidak pulang, ibunya pasti khawatir dan berpikir buruk. Jadi, ia meminta Alex mencari alasan untuk ia bisa mendapatkan izin.


"Memangnya aku harus melakukan apa? Berlutut di kakimu? Atau melamarmu, lalu menikahimu untuk bertanggungjawab?" sahut Alex yang saat ini langsung melepaskan tangannya dari atas perut Alesha dan memilih untuk duduk bersila di hadapan wanita yang kini ikut bangkit dari posisi yang berbaring.


Alesha hanya bisa memijat pelipisnya karena merasa jika pertanyaan Alex sangat konyol. Jadi, ia tidak mau membuang waktu karena ingin menjelaskan secara detail.


"Tolong serius, Alex! Astaga! Ibuku akan khawatir jika aku tidak pulang ke rumah malam ini. Jadi, kamu pikirkan alasan yang tepat untuk mengatakan alasan tidak bisa pulang ke rumah. Saat ini, aku tidak bisa berpikir karena otakku sedang berada dalam fase upgrade."


"Jadi, tidak bisa mencari sebuah ide. Kamu saja yang mencarinya karena aku ingin beristirahat. Saat kamu mendapatkan ide brilian, bangunkan aku."


Alesha berniat untuk mengempaskan tubuhnya ke atas ranjang yang empuk itu, tapi tidak bisa melakukannya saat tangannya ditarik oleh Alex.


"Memangnya siapa yang mengizinkanmu tidur?" Alex masih menahan pergelangan tangan kiri Alesha dengan mengarahkan tatapan tajam.


Sementara Alesha semakin dibuat pusing oleh Alex dan membuatnya mengerutkan kening. Bahkan ia saat ini melirik jam dinding dan sudah menunjukkan pukul delapan. Tadi ia berpikir jika beristirahat satu jam bisa menghilangkan kelelahan yang dirasakan.


"Aku menyuruhmu tinggal di sini karena ingin kamu menemaniku terjaga semalaman. Kenapa aku melakukannya? Itu semua karena aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas berduaan denganmu."


"Aku ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan berencana untuk tidak tidur dan memuaskan indra penglihatan demi bisa menatap wajah cantikmu."


Alesha refleks seketika tertawa terbahak-bahak menanggapi perkataan dari pria yang menurutnya malah sangat lebay ketika merayu.


Namun, itu tidak berlangsung lama karena ia melihat tanda bahaya ketika Alex hendak membungkam bibirnya. Secepat kilat Alesha membekap mulut dengan telapak tangan.


"Alex!"


Alesha berteriak dengan lengkingan suara yang seketika memecahkan keheningan di ruangan kamar tersebut, sedangkan Alex yang hanya ingin mengerjai karena kesal melihat wanita itu malah menertawakannya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan diam dan tidak tertawa lagi, jadi menyingkirlah!" Alesha mendorong dada bidang Alex yang saat ini berada hanya pada jarak beberapa centi saja.


"Aku tidak pernah bercanda pada setiap ucapanku, Alesha. Jadi, sangat tidak suka jika kamu menganggap perkataanku hanyalah sebuah lelucon. Jangan pernah menertawakan cinta seorang pria tulus sepertiku."


"Seharusnya kamu tahu jika aku adalah pria yang tidak pernah dekat dengan seorang wanita ketika amnesia. Jadi, jangan berpikir bahwa rasa kagum, suka dan cinta padamu kamu anggap hanyalah sebuah omong kosong. Aku sangat tersinggung jika kamu seperti itu."


Alex kini meraih ponsel miliknya di atas nakas karena tadi memang meletakkan di sana.


Kemudian menghubungi seseorang yang akan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.


"Halo, Alex. Ada apa?"


"Aku butuh bantuanmu." Alex berbicara dengan sesekali melirik ke arah Alesha yang juga tengah menatapnya.


"Bantuan apa? Katakan saja."


"Pergilah ke alamat yang akan kukirimkan padamu. Beritahu seorang ibu yang tinggal di sana. Bahwa saat ini ada kegiatan mendadak untuk persiapan hari jadi kampus dan mengharuskan mahasiswa untuk menginap di sekolah."


Alex kini berbicara dengan rekan sesama dosen yang merupakan teman baiknya karena wanita itu selalu melakukan apapun untuknya.


"Baiklah. Anggap semua beres. Aku akan beralasan pulang dari belanja untuk kebutuhan menginap di kampus. Aku berangkat sekarang."


Alex memilih untuk segera mematikan sambungan telpon setelah urusan beres.


Alesha yang dari tadi hanya diam karena ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh Alex, kini merasa jika ide kebohongan tersebut terlalu berlebihan.


"Bagaimana jika ibuku datang ke kampus untuk memastikannya? Kamu bermain dengan api, Alex. Ibuku bukanlah seorang wanita yang gampang ditipu."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2