I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Fakta mengejutkan


__ADS_3

Hanya ada jalanan gelap yang diterangi lampu-lampu jalan, dan mobil melaju pada jalurnya. Rafael bagai melangkah menuju keraguan yang tak pernah ia temukan ujungnya dalam peta mana pun. Namun, ia begitu kesulitan untuk keluar dari lajurnya.


Rafael menyadari ada sesuatu yang membuat Alesha sampai tergesa-gesa seperti itu. Dan mungkin ada sesuatu yang membuatnya semarah itu.


Jika mencari tahu akan hal itu, apakah ia akan terlalu ikut campur?


Lampu merah menyala. Jeda beberapa detik untuk memberi kesempatan pengendara-pengendara lain untuk melewati jalan.


Seperti kebiasaan, Rafael melihat keca spion dalam mobilnya. Bangku kosong di belakang. Tanpa sadar pandangannya beralih pada kantong-kantong yang bertumpuk di belakang. Rafael teringat sesuatu.


Ia merasa jeda beberapa detik itu bukan hanya memberi kesempatan kepada pengendara untuk melewati jalan, tetapi juga kesempatan untuknya berpikir.


Barang-barang itu … harusnya dikembalikan kepada pemiliknya, bukan?


Rafael menancapkan gasnya kala lampu hijau menyala. Ia lantas memutar balik mobilnya, kembali menuju tempat di mana Alesha berada.


Beberapa detik bergulir dengan mobil yang melaju dengan kecepatan maksimum. Rafael sampai di depan area halte dan melihat Alesha menaiki sebuah taksi. Bus-bus mini itu sudah lewat jam operasional terakhir rupanya.


Pria itu perlahan-lahan mengikuti taksi yang baru saja dinaiki Alesha di belakangnya.


Taksi itu melaju dengan kecepatan tinggi, membuat Rafael berkali-kali kehilangan jejaknya. Lelaki itu terus memfokuskan pandangannya sambil terus melihat plat nomor taksi itu hingga tanpa sadar ia hafal.


Taksi itu mengambil jalan kiri di persimpangan dua arah. Sampai di perempatan, taksi itu mengambil langkah ke kanan. Melewati berbagai toko besar sampai pasar tradisional, semakin lama Rafael semakin bisa menyeimbangkan jarak dan laju mereka.


Setelah beberapa menit berlalu, taksi itu mulai memelankan kecepatannya. Rafael pun ikut memelankan laju mobilnya.


Mereka melaju pelan menuju sebuah gedung tinggi dengan nuansa putih itu. Sampai taksi itu berhenti di depan gerbang masuknya. Alesha keluar setelahnya. Ia lantas memasuki gerbang itu dengan langkah cepat.


Rafael pun memasuki gerbang masuk itu setelah satu dua kendaraan mendahuluinya. Kemudian memarkirkan mobilnya asal di tempat parkir yang paling dekat. Ia lantas keluar dan mengikuti langkah Alesha yang hampir saja lolos dari jangkauannya.


Rumah sakit. Di sinilah mereka sekarang. Rafael semakin memelankan langkahnya begitu Alesha semakin dekat dengan langkah yang ditujunya.


Dalam hati Rafael bertanya-tanya. Apa yang sedang dilakukannya? Siapa yang sakit?

__ADS_1


Hingga kemudian Alesha berhenti di depan sebuah ruangan, mengintip dari jendela di mana dokter dan perawat sedang memeriksanya di dalam. Wanita itu terlihat gelisah. Ia kemudian mendaratkan tubuhnya pada kursi yang terletak di luar sambil memainkan buku jarinya.


Beberapa menit menunggu, dokter dan perawat itu kemudian keluar dari ruangan ibunya. Alesha seketika bangkit dan mencegat dokter itu.


"Dokter, bagaimana keadaan ibu saya?" Alesha bertanya dengan tangan gemetaran yang terdengar jelas dari suaranya.


'Ibu Alesha?'


'Bukankah wanita itu mengatakan kalau ibunya sedang berada dalam perjalanan bisnis?'


Rafael tidak mengerti mengapa Alesha lebih memilih untuk berbohong daripada mengatakan yang sebenarnya. Ia tak mengerti apa yang sebenarnya ingin ditujunya.


Sang dokter kemudian tersenyum tipis, kemudian menjelaskan. "Ibu Anda sudah melewati masa kritisnya sekarang. Kami baru saja melepas beberapa alat yang sudah tidak diperlukan. Anda tidak perlu khawatir."


Masa kritis.


Rafael familier dengan istilah itu. Sejauh yang ia paham, masa itu adalah masa ketika seseorang sedang berjuang untuk bertahan hidup dengan kondisinya yang lemah.


Pria itu mengerjapkan matanya. Mengapa wanita itu sama sekali tidak pernah terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu ibunya yang kritis ketika sedang bersamanya?


Alesha mengembuskan nafasnya lega. "Ah, syukurlah."


"Namun, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Setelah melalui beberapa pemeriksaan, ibu Anda rupanya memiliki tegang pada beberapa otot di tubuhnya."


"Penglihatannya masih berfungsi, pendengarannya pun masih berfungsi dengan baik, indera perabanya pun demikian."


"Sayangnya, ia tampaknya mengalami kesulitan untuk menggerakkan beberapa bagian tubuhnya. Salah satunya, tegang pada otot wajah yang membuatnya tidak bisa bicara." Dokter itu menjelaskan.


Raut Alesha kini berubah serius, sedih dan khawatir menjadi satu. "Apakah keadaannya bisa disembuhkan seperti semula?"


Dokter itu tersenyum. "Tenang saja, Nona. Ibu Anda bisa menjalani berapa terapi ringan untuk memulihkan kembali kondisinya, tapi untuk saat ini, Anda jangan memaksanya untuk berbicara ataupun menggerakkan tubuhnya. Sebenarnya kondisinya yang sudah lolos dari masa kritis saja sudah baik."


Alesha kembali mengembuskan napas lega, tetapi kemudian ia kembali ingin mengutarakan hal yang mengganjal di hatinya. "Dokter, bagaimana dengan operasi jantungnya?"

__ADS_1


Rafael sudah cukup dibuat kaget oleh berbagai fakta yang baru saja ia dengar. Tentang ibu Alesha yang ternyata tidak berada dalam perjalanan bisnis.


Tentang ibu Alesha yang ternyata sakit.


Tentang ibu Alesha yang ternyata kritis. Sekarang, operasi jantung.


'Jadi, ibu Alesha memiliki penyakit jantung.


Apakah wanita itu meminjam uangnya untuk alasan itu? Apakah alasan ia bekerja keras selama ini karena itu juga?'


Meski cukup mengejutkan, sepertinya pertanyaan Rafael sedikit demi sedikit terjawab sekarang.


Dokter itu kembali terlihat memikirkan sesuatu. "Kondisinya masih harus selalu dipantau terlebih dahulu, tapi Anda tenang saja."


"Ibu Anda sudah mulai menunjukkan kondisi yang baik perlahan-lahan. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk operasi jantung ibu Anda." Ia menyimpulkan. "Saya rasa hanya ini yang dapat disampaikan kepada Anda. Saya pamit undur diri dulu."


"Terima kasih, Dokter."


Dokter itu lantas berlalu meninggalkan Alesha yang kini tergeming di depan pintu. Wanita itu ragu-ragu ingin membuka kenopnya. Ia menarik napas dan mengembuskannya berkali-kali. Berhenti sampai ia memberanikan diri masuk ke dalam.


Rafael keluar dari persembunyiannya di balik tembok. Ia kemudian memberanikan diri mendekat, mengintip dibalik kaca pintu ruangan itu.


Wanita itu duduk pada kursi yang berada di samping ranjang ibunya. Ia menatap ibunya dengan perasaan lega di hati karena ibunya sudah membuka mata.


"Ibu," ujarnya lirih, seraya berusaha sekuat tenaga untuk tidak menumpahkan air matanya.


Ibunya kini mencoba membuka mulutnya, berusaha untuk berbicara membalas perkataan Alesha, tetapi wanita itu dengan cepat menghentikannya.


"Ibu, kata dokter tidak baik untuk memaksa berbicara. Tidak usah mengatakan apapun, biar aku saja yang berbicara."


"Oh, iya." Alesha mengambil bunga lavender dari vas di samping nakasnya. "Ibu lihat ini, aku membawa lavender dari pangeran tampan." Ia berbicara dengan nada dibuat jumawa sambil merentangkan tangannya.


Rafael yang melihatnya sontak menautkan alis. Tidak mengerti apa yang dibicarakan wanita ini.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2