
Suasana malam bertabur bintang yang menghiasi hari pertama dua insan yang tengah duduk di balkon hotel. Bahkan suara dari bocah laki-laki yang terdengar menggemaskan ketika sesekali tertawa saat melihat video lucu yang ia sukai.
Dua insan yang duduk di kursi tersebut adalah Aeleasha dan Rafael yang dari tadi berbincang tentang banyak hal, sedangkan Arza lebih asyik dengan dunianya, yaitu ketagihan gadget.
Setelah sore tadi puas berkeliling area Mall dan juga berman di time zone, mereka kelelahan dan beristirahat di kamar hotel, sedangkan Arza tadi langsung terlelap setelah pulang dan tidur sampai pukul delapan malam.
Tentu saja akan tidur nanti pada tengah malam dan pastinya begadang. Aeleasha sebenarnya merasa was-was karena takut jika ia kembali muntah-muntah saat di Mall. Jika itu sampai terjadi, pasti Rafael mengetahui penyebabnya.
Ia tidak ingin Rafael memikirkan masalahnya dan akhirnya terulang kejadian di masa lampau. Hal itulah yang membuat ia menyembunyikan kehamilannya dari mantan suaminya itu.
"Apa kamu akan menginap di hotel ini juga?" tanya Aeleasha yang saat ini ingin mengetahui rencana Rafael.
Ia dari tadi ingin pria di sebelahnya itu segera meninggalkannya, tetapi yang terjadi malah tidak ada tanda-tanda jika Rafael akan pergi. Ia tidak mungkin mengusir secara terang-terangan pria yang menolongnya.
Jadi, ia memilih untuk membiarkan Rafael pulang sesuka hati. Tadi memang mengatakan jika besok baru pulang, jadi penasaran di mana pria itu akan menginap.
"Ya, aku sudah booking kamar tadi. Ada di sebelah kiri dari tempat ini. Kenapa? Apa kamu ingin aku menginap di kamar ini juga?" Rafael mengalihkan aura penuh kecanggungan yang terjadi di antara mereka.
Jadi, ia memilih untuk memakai cara seperti seorang pelawak, melucu, sekaligus dibumbui penuh perasaan. Mengungkapkan bahwa ia sampai sekarang tidak bisa mengalihkan perasaan cintanya dari wanita itu.
"Jangan bercanda, Brother! Aku serius bertanya. Kita bukan suami istri, jadi tidak baik tinggal di dalam satu kamar hotel. Itu akan menimbulkan fitnah dan bersatunya para syetan untuk mempengaruhi, agar berbuat buruk."
Tentu saja Aeleasha saat ini masih sadar dan tidak mungkin akan tinggal di dalam satu kamar dengan pria lain. Sementara statusnya tidak jelas, yaitu istri rasa janda.
Ia belum bercerai dari Arsenio, tetapi memilih kabur dari rumah. Ingin sekali ia meminta ponsel miliknya karena berpikir bisa mengetahui. Apakah sang suami menghubungi atau mengirimkan pesan.
__ADS_1
Namun, ia juga ragu sekaligus takut jika pikirannya salah dan malah akan berakhir semakin terluka ketika Arsenio tidak menghubungi dan malah merasa senang.
Berpikir jika sang suami kini tengah bersenang-senang dengan wanita selingkuhan dan bebas berbuat apapun karena ia tidak ada
Rafael hanya tersenyum masam karena kali ini seolah ternodai dengan pikiran buruk Aeleasha atas dirinya. Padahal jelas-jelas jika selama bertahun-tahun menjadi suami wanita itu, tidak pernah menuntut untuk melayani atau pun memaksa.
"Sepertinya perasaan sedihmu itu menjadikanmu amnesia, Aeleasha. Bukankah tiga tahun lebih aku menjadi suamimu dulu? Apa aku pernah memperkosamu? Tidak, kan?"
"Maafkan aku, Brother." Aeleasha menyahut dan ia bisa melihat wajah yang menampilkan raut masam itu. "Ini sudah malam, angin semakin dingin dan menusuk tulang. Lebih baik Brother beristirahat karena besok akan bekerja. Jangan sampai kelelahan dan semoga pernikahanmu berjalan lancar."
"Aku tidak bisa datang karena ingin menenangkan diri. Semoga kamu selalu berbahagia dan rumah tangga kalian akan membentuk sebuah keluarga idaman orang lain."
Aeleasha sangat tulus mengatakan doanya, tetapi yang dirasakan oleh Rafael merupakan sebuah penghinaan. Semua itu karena mantan istrinya tersebut seperti menyindirnya.
Akhirnya ia berubah pikiran dan ingin membalas kekesalan yang dirasakan. Rafael beralih menatap ke arah sosok balita yang ada di sebelah kiri tempat duduknya.
Tentu saja bocah laki-laki itu tersenyum dan mengangguk perlahan. Bahkan sudah bergerak untuk berpindah ke pangkuan Rafael.
Aeleasha yang seketika berubah pucat begitu membaca situasi, kini ia sudah tidak bisa menahan rasa penasaran yang dirasakan olehnya.
"Apa yang Brother katakan pada Arza? Jangan membuat Arza salah paham karena nanti akan membuatnya menangis dan susah untuk ditenangkan. Saat ia menginginkan sesuatu, sungguh sulit untuk menghentikannya."
"Jadi, jangan membuat Arza senang dengan janji dari Brother. Lebih baik segera beristirahat karena aku sangat lelah setelah seharian ini sudah liburan bersamamu. Terima kasih karena telah memberikan sebuah pengalaman menyenangkan sebagai istri seorang Rafael Zafran yang merupakan presiden direktur."
Aeleasha beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya karena ingin menggendong putranya, tetapi membuatnya sangat kesal karena mendapatkan sebuah penolakan.
__ADS_1
"Arza tidur dengan papa."
Bocah laki-laki itu kini beranjak turun dari pangkuan Rafael dan menggandeng tangan pria yang selalu disebut papa tersebut. Mengajak untuk masuk ke dalam kamar dan membanting tubuhnya ke atas ranjang empuk dan sangat nyaman tersebut.
Beberapa saat lalu, hanya ingin bercanda saja, tetapi sekarang sangat serius karena disambut dengan baik oleh Arza. Rafael saat ini merasa sangat terharu karena bocah laki-laki tersebut tengah terlihat bahagia dan ia pun memilih untuk memeluk tubuh mungil itu.
Bahkan saat ini, Rafael tengah mengusap lembut beberapa kali punggung Arza dengan seulas senyuman. Ia seperti tengah kembali pada masa lalu.
Di mana dulu ia selalu menemani Arza sampai tertidur dan Aeleasha ada di hadapannya juga. Jarak begitu dekat, tetapi tidak bisa membuatnya menjadi seorang suami sempurna.
Hanya karena Aeleasha yang lebih mencintai pria lain dan ternyata berakhir seperti ini. Rafael masih sibuk menidurkan Arza dan ia pun bisa melihat jika tak jauh dari ranjang, kini tengah berdiri wanita yang sangat dicintai tengah bersedekap di dada.
"Berbaringlah di situ! Bukankah kamu tadi mengatakan sangat lelah setelah seharian liburan? Hari ini belum selesai balas budi karena besok baru berakhir. Jadi, aku akan tidur di kamar ini."
Aeleasha sudah bisa menebak bahwa inilah yang akan terjadi padanya. Namun, ia kali ini tidak bisa menuruti perintah dari mantan suaminya tersebut. Meskipun atas dasar balas budi sekali pun. Ia masih sangat sadar jika statusnya adalah istri Arsenio.
"Aku masih istri sah Arsenio. Jadi, tidak mungkin berada satu ranjang dengan pria lain. Aku mohon kamu mengerti, Brother."
"Memangnya suamimu itu juga berpikir sama sepertimu saat berselingkuh dengan wanita lain di salah satu kamar hotel? Aku sudah mencari berita mengenai itu saat kamu meminta tolong padaku. Jadi, percuma kamu berbohong dengan bersikap sok kuat di hadapanku."
"Kamu hanyalah seorang wanita lemah di mataku dan itu tidak akan pernah berubah. Jadi, lebih baik berbaringlah di situ. Aku tidak akan membiarkanmu menangis tersedu-sedu sendirian di malam hari. Ada Arza yang menjadi penghalang seperti biasa. Jadi kamu tidak perlu takut."
Rafael sama sekali tidak pernah menyerah untuk membuat Aeleasha patuh padanya. Hingga sudut bibirnya melengkung ke atas saat melihat pergerakan mantan istrinya tersebut yang akhirnya naik ke atas ranjang dan berbaring di hadapannya.
'Rasanya aku ingin menjadi pria berengsek dan bisa hidup bahagia seperti Arsenio,' gumam Rafael yang masih tidak berkedip ketika menatap wajah wanita yang sudah memejamkan mata tersebut.
__ADS_1
Bahkan ia bisa melihat jika ada bulir bening menghiasi pipi putih Aeleasha ketika memejamkan mata.
To be continued...