
Kemudian Stella beralih menatap ke arah semua orang untuk berpamitan dan berjalan mengikuti pasangan pengantin baru yang menurutnya sangat serasi karena jujur saja ia lebih menyukai jika sahabatnya bersama dengan Rafael dibandingkan Alex.
Meskipun dua pria itu sama-sama berstatus sebagai duda, tapi ia tahu pasti seperti apa kehidupan rumah tangga dua orang tersebut yang sangat berbeda. Karena Alesha sudah bercerita padanya tentang semuanya tanpa terkecuali.
Apalagi begitu melihat tatapan penuh kebencian dari ibu Alex, membuatnya semakin yakin bahwa Alesha tidak akan pernah hidup bahagia jika memilih bersama dengan sang dosen.
Sementara itu, Rafael dan Alesha yang sudah berjalan keluar dari ruangan perawatan, terus melangkah menuju ke arah lift.
Karena merasa sangat tidak nyaman karena dipeluk oleh tangan kekar yang semalam menjelajahi seluruh tubuhnya dan membuat bulu kuduknya meremang karena mengingat semua kejadian yang terjadi di antara mereka.
Alesha refleks berusaha untuk melepaskan tangan kekar dengan buku-buku kuat tersebut dari pinggangnya. "Kamu bisa melepaskan karena sudah tidak ada lagi yang melihat."
Rafael yang yang merasa geram karena Alesha berani bertingkah saat masih berada di depan teman, dini semakin menguatkan pelukan dan berbisik di dekat daun telinga wanita itu.
"Diamlah dan jangan banyak protes karena saat ini temanmu masih ada di belakang dan mengamati apapun yang kita lakukan. Atau jangan-jangan kau sudah menceritakan mengenai hubungan kita yang hanya sebatas perjanjian? Bukankah itu melanggar isi kontrak karena tidak ada yang boleh tahu mengenai hubungan kita?"
Sebenarnya tadi Alesha ingin mengatakan bahwa setelah sudah mengetahui perihal semua yang terjadi di antara mereka, tetapi kalimat terakhir dari Rafael membuatnya tidak berkutik dan saat ini memilih untuk menggelengkan kepala.
Ia terpaksa berbohong karena tidak ingin Stella mendapatkan masalah karena perbuatannya. "Stella tidak tahu apa-apa. Tadinya aku akan berakting malu saat kamu melakukan seperti ini di depan temanku karena menganggap bahwa yang kamu lakukan sangat lebay."
Saat Alesha baru menutup mulut, mendengar suara dari belakang yang merupakan sahabatnya seperti berusaha untuk menghindar.
"Alesha, kalian pulang saja dulu. Aku akan pergi ke kantin dulu karena haus." Stella sengaja berbohong untuk tidak mengganggu pasangan suami istri yang terlihat berbisik-bisik di hadapannya.
__ADS_1
Ia dari tadi memang berjalan di belakang mereka, tetapi memilih agak menjauh karena tidak ingin membuat mereka tidak nyaman ada dirinya yang hanyalah menjadi obat nyamuk.
Saat Alesha Anda membuka mulut untuk melarang sahabatnya pergi meninggalkannya karena jujur saja ia merasa takut jika berada di dalam lift hanya dengan Rafael. Entah mengapa ia takut jika pria itu mencekik lehernya karena merasa sangat marah atas perbuatannya yang telah berbohong.
Namun, sebelum berhasil mengungkapkan keinginan, mendengar suara bariton dari pria yang baru saja melepaskan kuasa.
Alex mengambil uang dari dalam dompet dan menyerahkan pada sahabat Alesha tersebut. "Ini buat ongkos taksi dan juga membeli makanan serta minuman di kantin. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih padamu karena telah menjaga istriku."
Tentu saja seketika wajah Stella berbinar begitu melihat lima lembar uang berwarna merah yang diserahkan padanya dan langsung diterima dengan senang hati.
"Wah ... ini namanya rezeki nomplok. Terima kasih, Tuan Rafael. Saya tidak mungkin menolak pemberian ini. Kalau begitu, selamat bersenang-senang. Saya pergi." Kemudian Stella beralih menatap ke arah sahabatnya dan tersenyum sambil melambaikan tangan tanpa berbicara apapun.
Begitu berbalik badan dan berjalan menuju ke arah anak tangga menuju ke lobi karena banyak berbohong untuk pergi ke kantin.
Sementara itu di sisi lain, Alesha yang merasa sangat kesal melihat sahabatnya langsung berubah begitu mendapatkan uang, sibuk mengumpat di dalam hati.
'Dasar pengkhianat! Apakah pertemanan kami yang sudah berlangsung selama beberapa tahun bisa dibeli dengan uang lima ratus ribu? Aku benar-benar sangat menyesal mengajaknya pergi ke sini hari ini,' gumam Alesha yang kini sudah melihat bayangan dari sahabatnya menghilang di balik anak tangga.
Rafael yang baru saja memasukkan dompet ke dalam kantong celana belakang, kini beralih menatap ke arah sosok wanita yang saat ini berdiri di sebelahnya.
"Apa maumu sekarang? Apa kamu ingin kita bercerai sekarang?" Rafael sengaja mengatakan itu karena ingin mendengar jawaban langsung dari Alesha.
Merasa terluka ketika mendapatkan teriakan bernada menghina dari Rafael, Alesha saat ini benar-benar sangat marah, tetapi tidak bisa melakukan apapun karena menyadari bahwa yang dilakukan memang salah.
__ADS_1
Namun, ketika pria yang telah merenggut kesucian mengatakan akan menceraikan, hatinya pakai teriris pisau tajam dan merasakan sakit luar biasa, tapi tak berdarah.
'Mungkin jika semalam kau tidak melakukannya, aku tidak mungkin merasa seperti ini. Aku bahkan masih perawan saat kau melakukannya, tapi hal yang merupakan paling berharga milikku sama sekali tidak kau ketahui,' gumam Alesha mencoba untuk menenangkan perasaan yang terluka.
Kini, ia yang sedikit merasa lebih tenang Meskipun tidak bisa menyembuhkan luka hati akibat perbuatan pria di hadapannya tersebut, Alesha saat ini memberanikan diri untuk menaikkan pandangan menatap Rafael.
"Lakukan saja semua yang kau inginkan karena aku akan menyetujuinya." Kemudian Alesha berbalik badan dan berjalan menuju ke arah lift.
Kemudian menekan tombol agar terbuka. Beberapa saat kemudian, pintu kotak besi tersebut terbuka dan ia langsung berjalan masuk. Tentu saja mendengar suara langkah sepatu pantofel berkilat milik Rafael ketika ikut masuk ke dalam dan seketika bersitatap dengannya karena berdiri tepat di hadapan.
Bahkan jarak di antara mereka hanya beberapa senti saja dan membuat Alesha menelan saliva berkali-kali saat gugup. Ia bahkan merasa sangat bingung kenapa perasaan tidak menentu melihat sosok pria yang memiliki bibir tebal berwarna agak sedikit kehitaman tersebut.
Menandakan bahwa bibir tersebut sering mengisap benda bernikotin dan semalam berkali-kali menciumnya serta menelusuri setiap inchi kulitnya.
'Dasar bodoh! Lupakan semua hal yang bahkan sama sekali tidak diingat oleh si berengsek ini. Dasar wanita menjijikkan! Kenapa aku tidak bisa melupakan semua kejadian semalam?'
Sementara itu, Rafael yang merasa sangat marah karena jawaban dari Alesha benar-benar membuatnya seperti sampah. Bahkan semua orang menghormatinya karena ia memiliki kekuasaan dan juga uang, tapi wanita di hadapannya tersebut sama sekali tidak takut padanya saat berbicara.
"Baiklah, aku akan menceraikanmu di depan ibumu dan mengatakan alasan apa yang membuatku mengakhiri pernikahan ini. Kau berselingkuh dengan Alex dan menemuinya diam-diam tanpa meminta izin padaku," ucap Rafael yang kini mengarahkan tatapan menusuk.
"Kalau begitu, aku juga akan mengatakan jika aku setuju menikah karena ada perjanjian di antara kita," sarkas Alesha yang tidak ingin kalah dan juga tidak ingin diinjak-injak harga dirinya di depan pria yang telah membuatnya merasa menjadi seorang wanita tidak berharga.
To be continued...
__ADS_1