
Tidak kebahagiaan lain yang dirasakan oleh Alesha setelah kalimat terakhir berhasil menembus jantungnya. Bahkan merasa jika itu bagaikan anak panah tepat menusuk jantungnya.
Mana mungkin ia tidak bahagia ataupun terharu dengan ungkapan bernada ketulusan yang baru saja didengarnya dari sosok pria yang saat ini membuatnya percaya sepenuhnya bahwa Rafael memiliki perasaan yang sama padanya.
Bahwa sosok pria yang saat ini menatapnya dengan penuh cinta tersebut benar-benar jujur dan tulus ketika mengungkapkan perasaan yang selama ini dinantikan lolos dari bibir tebal dengan di bagian sudut kiri berdarah dan sudah mengering.
Tentu saja saat ini Alesha tidak kuasa menahan kebahagiaan yang memenuhi jiwanya, sehingga langsung menghambur memeluk pinggang kokoh pria yang sangat dicintai.
"Aku percaya padamu, Rafael. Aku juga sangat mencintaimu dan berharap anak kita akan menjadi anak paling bahagia memiliki orang tua seperti kita. Aku akan memberikan apapun agar ia bahagia menjadi anakku."
Bahkan saat ini terdengar suara serak menyayat hati dari Alesha karena merasa sangat terharu dengan kebahagiaan yang dirasakan hari ini.
Ia merasakan pelukan hangat dari pria yang semakin mengeratkan kuasa padanya. Karena merasa sangat terharu dengan ketulusan Rafael, Alesha saat ini kembali menangis tersedu-sedu karena tidak kuasa untuk menahan kebahagiaan.
Bahkan diungkapkan dengan lelehan bulir kristal air mata yang menjadi bukti bahwa saat ini merasa sangat lega karena tidak bertepuk sebelah tangan. Hingga ia tidak memperdulikan perbuatannya membuat seragam kebesaran Rafael basah hingga menembus kulit.
"Aku juga sangat mencintaimu, Istriku," ujar Rafael yang saat ini berjanji akan membahagiakan wanita yang dinikahinya secara sah itu.
Meskipun semuanya bermula dari perjanjian untuk membuat pernikahan kontrak demi membatalkan rencana sang ibu yang ingin menjodohkannya dengan wanita yang sama sekali tidak dicintai.
__ADS_1
"Terima kasih karena mencintaiku sebesar ini. Aku sudah terlalu banyak menyakitimu, tapi bagaimana bisa kamu mencintaiku." Rafael saat ini menarik diri dan melepaskan kuasa agar bisa melihat wajah sembab yang dihiasi bulir air mata tersebut.
Ia sekali membahas banyak hal dan bertanya mengenai perasaan Alesha padanya karena berharap bisa membalasnya berkali-kali lipat.
"Sekarang katakan padaku, bagaimana bisa kamu mencintaiku saat aku selalu menyakitimu?" tanya Rafael yang saat ini menatap intens sosok wanita yang menurutnya semakin cantik di matanya.
Hingga ia merasakan sebuah cubitan keras pada pinggangnya dan membuatnya meringis menahan rasa nyeri.
"Nih rasakan!" sarkas Alesha yang saat ini ingin memberikan hukuman pada pria yang tidak pernah peka pada perasaannya.
Meskipun ia sendiri juga sama sekali tidak pernah menyangka jika Rafael memiliki perasaan yang sama dengannya dan sudah tidak mencintai mantan istri semenjak dekat dengan Alex.
"Aku jatuh cinta padamu saat ...." Alesha merasa malu untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya jika ia jatuh cinta setelah Rafael menghamilinya.
"Kenapa tidak diteruskan? Kapan kamu jatuh cinta padaku?" Rafael saat ini mengerutkan kening karena merasa sikap Alesha mencurigakan dan membuatnya ingin segera mengetahuinya.
Ia benar-benar merasa sangat penasaran dengan sesuatu yang tidak jadi dikatakan oleh ibu dari calon darah dagingnya. Namun, tiba-tiba terbersit sesuatu di dalam pikirannya dan langsung diungkapkan oleh Rafael pada wanita yang masih diam membisu seribu bahasa tersebut.
"Jangan-jangan, kamu jatuh cinta padaku setelah kita bercinta di malam pertama? Iya, kan?" tanya Rafael yang saat ini benar-benar merasa yakin jika ia melakukan itu saat mabuk di malam pertama karena hanya hari itulah ia tidak sadar dan mengingat jika terbangun di pagi hari tanpa mengenakan sehelai benang pun.
__ADS_1
Sementara itu, Alesha yang tidak ingin ketahuan seperti seorang wanita haus akan belaian, seketika menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan tuduhan yang sebenarnya adalah fakta.
"Iissh ... apaan sih! Apa kamu pikir aku adalah wanita gila ***? Hingga jatuh cinta padamu setelah kamu memperkosaku malam itu." Alesha bahkan mengerucutkan bibir dengan memasang wajah masam karena berusaha meyakinkan Rafael agar percaya pada kebohongannya.
Namun, ia gagal melakukannya saat pria di hadapannya tersebut menggelitiknya di bagian pinggang.
"Kamu bohong, Sayang. Aku yakin jika kamu jatuh cinta setelah kita bercinta, kan? Jangan menuduhku memperkosamu saat kita sama-sama suka. Jika aku memaksamu, pasti saat itu kamu berteriak atau melakukan apapun untuk menghentikanku."
"Jadi, Jangan berbohong dengan mengatakan hal konyol padaku," ucap Rafael yang saat ini tidak berhenti untuk menggelitik kedua sisi pinggang wanita yang sudah bergerak seperti cacing pemanas kepanasan sambil tertawa dan menyuruhnya untuk berhenti.
Alesha berusaha untuk menghentikan perbuatan Rafael dengan menahan tangan pria yang masih berada pada pinggangnya. "Tidak! Aku tidak jatuh cinta padamu saat itu!"
"Rafael, hentikan! Geli!" teriak Alesha yang saat ini tidak kuat lagi hingga tubuhnya terhempas ke atas ranjang sampai telentang.
Hingga ia seketika merasa sangat lega begitu Rafael menghentikan perbuatan yang menggelitiknya dan deru napas memburu terdengar saat ini kala sudah tidak lagi tertawa dan menggeliat.
Kemudian menatap tajam ke arah pria yang berdiri menjulang di sebelah kiri sambil mengangkat kedua tangan ke atas seperti gerakan seorang penjahat yang menyerah ketika ditangkap oleh polisi.
Alesha seketika menunjuk ke arah infusnya yang mengeluarkan darah karena tadi menggerakkan tangan ke atas saat menghentikan perbuatan Rafael yang menggelitiknya.
__ADS_1
"Lihat akibat perbuatanmu ini!" seru Alesha yang sebenarnya ingin tertawa ketika melihat raut wajah penuh penyesalan serta kekhawatiran yang ditunjukkan oleh Rafael.
To be continued...