I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Ditahan dulu


__ADS_3

Alesha yang tadinya ingin melihat bagaimana reaksi dari pria yang ditolaknya, seketika mengerjapkan mata berkali-kali begitu merasakan sensasi berputar lepas kendali dari seluruh urat syarafnya yang menegang karena perbuatan sang suami.


Ia bahkan sudah mendesah panjang karena saat ini pria yang berada di bawahnya tersebut sudah berhasil meloloskan pelindung terakhir miliknya dan langsung bermain-main di sana.


Bahkan ia meremas bantal sambil memejamkan kedua mata saat menikmati sensasi kenikmatan yang dikirimkan oleh pria yang terlihat tidak sabaran itu.


"Sayang!" rintih Alesha yang saat ini semakin bergerak seperti cacing kepanasan akibat perbuatan pria yang dicintainya tidak pernah melepaskannya walau sedetik pun.


Sementara itu, Rafael yang saat ini ingin membuat Alesha menyerah dan tidak menolaknya saat meminta izin, kini tersenyum menyeringai karena merasa telah berhasil mengalahkan sang istri yang telah pasrah atas perbuatannya.


Ia bahkan kini mendongak menatap wajah memerah yang masih memejamkan kedua mata dan terlihat jauh lebih memesona itu.


"Lain kali, aku tidak akan meminta izin karena respon tubuhmu tidak akan pernah bisa berbohong, Sayang. Bahwa kamu sangat menginginkan dan mendambakan sentuhanku, kan?"


Alesha yang bisa mendengar suara bariton bernada ejekan dari Rafael membuatnya merasa sangat malu. Bahkan ia tidak berani membuka mata untuk sekedar menatap pria yang masih menahan kedua kakinya.


'Menyebalkan sekali suamiku ini. Kenapa berhenti segala hanya untuk mengejekku? Apa sekarang hobinya adalah membuatku malu?' gumam Alesha yang masih memejamkan kedua mata dan berharap Rafael segera menyelesaikannya.


Apalagi saat ini setiap urat syarafnya sudah menegang akibat perbuatan pria yang membuatnya kembali merasakan sensasi kenikmatan luar biasa pada hari ini. Hingga ia pun seketika membuka mata karena Rafael kembali mengejeknya.


"Saat kamu merasa nikmat, jangan menutup mata seperti itu, Sayang. Kamu harus melihat semua yang kulakukan hari ini padamu. Jangan menganggapku seperti pepatah 'Habis manis sepah dibuang'."


Rafael ingin Alesha menikmatinya dengan mata terbuka agar wanita itu tahu apa yang dilakukannya adalah sebuah bukti cintanya. Apalagi mengetahui jika Alesha mencintainya setelah tidak ada jarak di antara mereka.


Bahwa saat ia melakukannya, membuat perasaan Alesha berubah mendambanya dan tidak lagi mencintai Alex.


Meskipun bisa diartikan bahwa cinta sang istri berawal dari gairah, tapi ia sama sekali tidak keberatan dan ingin memperkuat dengan makin memberikan banyak cinta melalui sentuhan penuh kenikmatan.


Hingga ia tersenyum puas begitu melihat kelopak mata yang indah itu terbuka dan bersitatap dengannya.


"Tatap aku, Sayang. Aku ingin kamu menikmatinya dan menjadi saksi atas apa yang kulakukan padamu hari ini."


Alesha yang tadinya ingin meluapkan kesalahan dengan cara menarik rambut hitam berkilat milik pria yang masih berada di antara kedua pahanya, kini tidak bisa melakukannya setelah Rafael kembali melanjutkan apa yang sempat tertunda.


Hingga ia kembali menghiasi ruangan kamar dengan suara ******* dan rintihan yang lolos dari bibirnya. Apalagi ia tidak kuasa untuk menahan agar tidak mendesah atau pun menggeliat dengan sesekali mengangkat pinggang karena perbuatan sang suami.


Bahkan ia sesekali memanggil sang suami dengan panggilan sayang dan juga meremas helaian rambut hitam pria yang berada di bawahnya tersebut.


Hingga beberapa saat kemudian, ia bergelinjang hebat begitu mendapatkan puncak kenikmatan dan suara penuh ******* dari bibirnya mewakili apa yang baru saja dirasakan.


Sementara itu, Rafael yang mengerti bahwa saat ini Alesha mendapatkan puncak pertama akibat perbuatannya, tidak langsung melepaskan dan semakin menyiksa wanita itu.


Hingga ia bisa merasakan jika sang istri saat ini meledak dalam gelombang kenikmatan spektakuler sambil meremas kepalanya.

__ADS_1


Ia memang seorang pria yang tidak berpengalaman dalam hal bercinta, tapi tadi merasa kesal dan mengikuti instingnya sebagai seorang pria dan melakukan cara apapun agar Alesha tidak lagi menolaknya.


Bahkan saat sibuk memberikan puncak kenikmatan pada sang istri, hasrat kelelakiannya telah bangkit dan ia ingin segera menyelesaikannya setelah berhasil membuat Alesha meledak dalam api gairah.


Hingga ia yang saat ini bergerak ke atas untuk melihat raut wajah memerah sang istri yang masih terdengar deru napas memburu sambil memejamkan mata, membuatnya melabuhkan sebuah kecupan pada bibir sensual itu dan ********** sesaat.


Kemudian melepaskannya begitu melihat kelopak mata indah itu terbuka dan saling bersitatap. Ia pun merapikan anak rambut yang menutupi wajah sang istri yang diakuinya semakin cantik saat tidak ada yang melindungi tubuhnya.


"Nikmat, Sayang?"


Alesha yang merasa sangat malu untuk mengakuinya, kini menelan saliva dengan kasar dan ingin sekali memalingkan wajah agar tidak bisa bersitatap dengan netra berkilat itu.


"Tidak!" Akhirnya Alesha menjawab dengan wajah kesal karena pertanyaan dari sang suami sangat konyol.


'Bukankah ia sudah melihatnya sendiri? Kenapa masih bertanya, sih! Ya ampun, suamiku ini benar-benar sangat menyebalkan dan nakal,' umpat Alesha yang saat ini seketika meringis menahan rasa nyeri ketika tiba-tiba mendapatkan serangan pada bagian dadanya.


"Aaarggh! Sakit!" teriak Alesha yang kini menarik rambut hitam berkilat sang suami karena meninggalkan rasa nyeri.


Rafael yang merasa kesal, refleks langsung menggigit ujung salah satu bongkahan sintal yang terlihat melambai untuk disesapnya dari tadi.


Jadi, mendapatkan kesempatan, seketika tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membuat sang istri menjerit dan menghiasi ruangan kamar yang penuh keheningan tersebut dengan suara yang menurutnya paling seksi.


"Padahal kamu tinggal menjawab iya, sayang, sangat nikmat. Memangnya apa susahnya mengatakan itu, Sayang? Kalau kamu merasa malu padaku, bahkan saat ini kamu sudah polos seperti ini dan aku sudah melihat semuanya."


Rafael selalu ingin mendengar pendapat Alesha karena ingin memulai rumah tangga tanpa ada sesuatu hal yang ditutupi ataupun dirahasiakan.


Ia berkaca pada apa yang dialami ketika malam pertama dan bertanya pada Alesha, tapi wanita itu malah berbohong padanya. Jadi, kali ini ingin sang istri mengungkapkan semua padanya tanpa ada sebuah kebohongan walau sedikit pun.


"Mulai detik ini, jujurlah padaku dan jangan ada yang kamu tutupi dariku mengenai perasaanmu. Kalau kamu tidak patuh pada suamimu, aku akan memberikan hukuman seperti ini tadi. Sakit, tapi nikmat, kan?"


Refleks Alesha langsung mengarahkan sebuah cubitan cukup kuat pada pria yang masih memakai pakaian lengkap itu.


Sementara ia bahkan saat ini sudah seperti bayi yang baru dilahirkan karena tidak memakai selembar benang pun di tubuh, sedangkan sang suami masih berpakaian lengkap.


Tentu saja ia sangat malu meskipun sudah berstatus sebagai seorang istri yang telah mendapatkan puncak kenikmatan akibat perbuatan sang suami yang dianggap sangat nakal dan curang karena selalu saja mengancamnya untuk memberikan hukuman.


"Rasakan ini! Dasar suami tukang ancam! Menyebalkan sekali!" sarkas Alesha saat ini masih terus memberikan sebuah cubitan sangat kuat untuk memberikan pelajaran dan meluapkan kekesalannya pada sang suami.


Hingga ia mendapatkan hukuman balik karena Rafael menggelitiknya hingga cubitannya terlepas.


"Kamu juga istri tukang bohong!" seru Rafael yang seketika tertawa begitu melihat tubuh Alesha yang bergerak seperti cacing kepanasan karena perbuatannya.


"Aku pun bisa menghukummu, Sayang. Kamu pikir aku tidak bisa, apa?" sarkas Rafael yang saat ini masih terus menggelitik pinggang Alesha hingga bergerak menggeliat kesana kemari.

__ADS_1


"Hentikan! Geli, Sayang!" teriak Alesha yang saat ini memohon agar dilepaskan karena benar-benar merasa kegelian akibat perbuatan pria yang terus menggelitiknya tanpa ampun.


Namun, Rafael membuang kesempatan untuk membuat Alesha berbicara jujur padanya. "Bilang dulu kalau apa yang kulakukan barusan sangat nikmat. Jangan berbohong dan tidak mau mengakui apa yang sebenarnya karena malu!"


"Iya ... iya, yang tadi sangat nikmat. Aku sangat menyukainya dan ketagihan dengan apa yang kamu lakukan padaku." Akhirnya Alesha menyerah dan mengatakan semuanya karena sudah tidak tahan akibat perbuatan pria yang masih terus menggelitiknya tanpa ampun.


Hingga masih terdengar suara napas memburu karena akibat perbuatan Rafael yang menggelitiknya.


Kini, Rafael seketika tersenyum simpul karena merasa puas telah berhasil membuat sang istri mengakui kehebatannya yang hanya mengandalkan kekuatan mulutnya saja sudah sudah membuat Alesha mencapai puncak kenikmatan.


"Bahkan aku belum melakukan hal paling inti, Sayang. Kamu pasti nanti tidak akan bisa berhenti mendesah saat kita menyatu. Bahkan mungkin akan menghiasi ruangan kamar ini dengan suaramu yang seksi."


Kemudian Rafael merubah posisi dengan bangkit dan menahan tubuhnya melalui kedua lutut sambil melepaskan satu persatu kancing kemeja yang membalut tubuhnya sambil tersenyum smirk.


Sementara itu, Alesha kembali menelan ludah dengan kasar begitu melihat sedikit demi sedikit bagian atas dengan otot-otot yang kencang itu menodai matanya.


Ia sebenarnya merasa sangat malu dan berniat untuk memalingkan wajah, tapi suara bariton dari pria yang mengunci tatapannya tersebut membuatnya tidak berkutik.


"Jangan berpaling dariku, Sayang! Lihat semuanya karena ini adalah milikmu. Kamu menjadi wanita pertama yang melihatnya dan merasakan kekuatanku. Jadi, kamu harus bangga karena menjadi istri seorang Rafael Zafran."


Kalimat yang baru saja diucapkan oleh Rafael terdengar sangat manis di telinga Alesha dan tentu saja membuatnya patuh pada semua perintah pria itu.


Bahkan ia saat ini tengah berusaha untuk menahan diri untuk tidak menggerakkan tangannya ke atas demi bisa menelusuri otot kencang pria yang telah berhasil meloloskan kemeja berwarna putih dari tubuh.


Hingga jantungnya berdetak sangat kencang begitu melihat Rafael turun dari ranjang dan mempertontonkan sesuatu yang pernah diperlihatkan di malam pertama mereka.


Alesha bahkan kini sudah tidak merasa malu lagi dan ingin melihat semua yang dilakukan oleh Rafael padanya. Hingga beberapa saat kemudian, melihat bukti sang suami yang sudah menunjukkan gairah membara padanya.


Alesha kini seolah pasrah ketika sang suami kembali naik ke atas ranjang dan melakukan apapun padanya. Namun, ia mengerjapkan kedua mata begitu indra pendengaran menangkap suara dari luar.


"Alesha, Rafael! Buka pintunya!"


Refleks Alesha seketika mendorong kuat tubuh Rafael yang berada di atasnya agar segera menyingkir karena hendak mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai.


"Ibu dan mama datang, Sayang!"


"Sial!" sarkas Rafael yang merasa tubuhnya sangat lemas karena gagal menyalurkan gairah saat sudah diubun-ubun.


"Sayang, bagaimana ini?" Menunjukkan sesuatu miliknya yang bahkan sudah memegang dari tadi.


"Ditunda dulu! Apa lagi?" Alesha buru-buru mengenakan gaunnya yang tadi dilempar ke lantai oleh Rafael.


"Astaga!" Rafael yang memijat pelipis, kini merasa kepalanya seperti mau pecah saja karena harus menahan gairah yang sudah sampai diujung.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2