
Wanita yang bernama Lyra tersebut menyetujui ajakan temannya untuk memberikan obat perangsang dalam minuman di atas meja karena mengetahui jika pasangan pengantin yang akan menginap di sana menikah karena dijodohkan dan pastinya tidak saling mencintai.
Namun, orang tua kedua belah pihak ingin keduanya segera memberikan cucu dan nantinya akan saling mencintai setelah melakukan hubungan suami istri.
"Dulu aku sangat mengutuk perbuatan kotor ini, tapi begitu mengetahui alasannya, jadi ingin membantu. Kali ini kita tidak akan gagal karena mempelai pengantin akan sama-sama bergairah," ujar Alara dengan terkekeh.
"Seandainya bisa, aku ingin memasang CCTV di ruangan ini, pasti bisa melihat film biru real antara pasangan suami istri yang melakukan **** akibat obat perangsang."
"Astaga! Jangan macam-macam! Kita dibayar mahal untuk tugas ini saja."
"Baiklah, aku tidak akan merasa penasaran dengan mereka karena lebih baik memikirkan daftar untuk barang-barang yang akan kubeli dari uang yang kudapatkan saat menerima pekerjaan ini "
Tatapan matanya mengarah pada teko kaca yang berisi air putih yang berada di atas meja. Di mana air minum itu sudah diberi obat perangsang olehnya.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah memasuki ruangan Ballroom Hotel, di mana acara resepsi pernikahan berlangsung.
Tentu saja saat keduanya melangkah masuk, bisa melihat pandangan semua orang mengarah pada pasangan pengantin baru yang berjalan meninggalkan singgasana.
Keduanya saling bersitatap dan saling high five karena usaha mereka akan berhasil setelah mempelai pengantin masuk ke dalam kamar.
"Aku antar kau ke kamar dulu. Nanti, aku baru kembali ke sini untuk menemui para sahabatku," ucap Rafael yang sudah berjalan dan mengulurkan tangannya.
Rafael tidak ingin membuat semua orang merasa curiga, jika sampai ia bersikap cuek atau datar pada wanita yang kesusahan berjalan saat mengangkat gaun pengantin panjang menjuntai yang dikenakannya.
Sementara Alesha terpaksa menyambut uluran tangan itu dengan tangan kanannya. Sementara tangan kiri ia gunakan untuk mengangkat sebagian gaunnya.
__ADS_1
Kemudian mulai berjalan mengikuti langkah kaki Rafael menuju ke kamar yang akan menjadi tempatnya menginap malam ini.
"Apakah kamu lelah?" tanya Rafael yang saat ini berjalan di sebelah Alesha menuju ke kamar pengantin.
Refleks Alesha menganggukkan kepala. "Iya, hanya sedikit. Sebenarnya aku ingin segera berendam di dalam air hangat di bathtub yang merupakan fasilitas dari hotel mewah ini. Menikmati fasilitas di sini, menjadi impian bagi semua wanita miskin sepertiku."
"Jadi, aku akan memanfaatkan waktu ini sebaik mungkin dan tidak akan menyia-nyiakannya." Alesha mengatakan hal yang jauh dari sisi dirinya yang sebenarnya.
"Kamu bisa berbuat apa saja di kamar." Rafael membuka ruangan kamar hotel begitu tiba di sana.
Beberapa saat kemudian, ia sudah mengarahkan guest key pada mesin yang ada di pintu dan otomatis mulai terbuka. Ia melangkah ke dalam kamar dan menyuruh Alesha masuk.
"Kamu istirahat saja di dalam kamar! Aku akan menghabiskan malam dengan para sahabatku. Jadi, kamu bisa beristirahat dengan tenang. Kamu tidak takut tidur sendirian, kan?" Rafael berbicara di dekat daun telinga Alesha karena baru melangkah masuk ke dalam ruangan terbaik di hotel tersebut.
Embusan napas dari Rafael, berhasil membuat tubuh Alesha meremang. "Tidak perlu berbicara sedekat itu!"
Tentu saja ia tahu jika para sahabatnya ingin membuatnya tersiksa karena menunda malam pertama. Tanpa mengetahui bahwa pernikahan mereka hanyalah penuh dengan kepalsuan karena hanyalah sebuah sandiwara.
"Sekarang nikmati semua fasilitas mewah dari hotel ini. Kamu bisa menelpon staf hotel jika ada yang dibutuhkan nanti dengan memakai telpon di atas meja itu," ucap Rafael yang mengarahkan jari telunjuknya pada telepon di sebelahnya.
Alesha pun kini hanya menganggukkan kepalanya, "Baiklah. Ya sudah, kamu pergi saja. Nanti teman-temanmu terlalu lama menunggu."
"Oke, selamat bersenang-senang. Aku pergi. Kamu sedang mencoba untuk mengusirku, kan?" Rafael berlalu pergi meninggalkan Alesha karena tidak ingin membuat wanita itu merasa sangat tidak nyaman berada di depannya.
Sementara itu, Alesha yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya bisa bersorak kegirangan saat melihat siluet Rafael sudah menghilang di balik pintu. Bahkan ia merasa sangat lega dan senang.
__ADS_1
"Akhirnya ia pergi juga."
Puas mengungkapkan rasa bahagia, yang merasa sangat haus, berjalan ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya di sana.
Kemudian menuangkan air ke dalam gelas yang baru karena tidak ingin memakai bekas dari Rafael dan meneguknya hingga tanpa tersisa.
Setelah rasa kering di tenggorokannya hilang, ia menatap ke arah ranjang king size yang sudah dihiasi bunga mawar merah tersebut. Ia merengut dan merutuki nasibnya. "Aku akan menghancurkan itu"
Ia bangkit dari posisinya yang tadinya duduk di sofa dan tanpa membuang waktu, langsung merebahkan tubuhnya dengan kasar di atas ranjang. Hingga rencananya berhasil karena sudah membuat hiasan itu berantakan.
Alesha menatap ke arah langit-langit kamar hotel yang diketahuinya tidak murah harganya saat menginap satu malam di sana. "Nikmati saja semuanya. Hanya satu malam saja."
Alesha menggerakkan tangannya ke atas dan ke bawah. Seperti orang yang sedang melakukan gerakan berenang di air.
"Nyaman sekali tidur di atas ranjang empuk ini."
Untuk beberapa saat, ia masih memejamkan kedua mata dan saat merasa gerah, tenggorokannya kembali kering, ia bangkit dari atas ranjang.
Kemudian ia kembali mengambil air minum dan meneguknya hingga habis. Namun, rasa panas masih menjalar di sekujur tubuhnya.
"Kenapa panas sekali? Bukankah ruangan ini sudah ada fasilitas AC-nya? Namun, kenapa tubuhku rasanya seperti terasa terbakar."
Alesha yang sudah tidak mampu menahan rasa panas di tubuhnya, kini mulai sibuk melepaskan gaun pengantin yang membalut tubuhnya. Hingga beberapa saat kemudian, gaun indah itu sudah lolos dari tubuhnya dan kini hanya menyisakan pakaian dalam.
Karena merasa sangat panas tubuhnya, Alesha memilih berjalan menuju ke arah kamar mandi karena ingin berendam di dalam bathtub seperti rencananya barusan.
__ADS_1
Berharap jika melakukan itu, rasa panas di tubuhnya seketika menghilang dan tidak lagi merasakan terbakar.
To be continued...