I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Mengarang cerita


__ADS_3

Suara bedebum beradu dengan dataran beralaskan bata-bata yang menghampar di pelataran rumah yang sunyi itu terdengar nyaring. Kardus tertutup berisi sampah-sampah anorganik itu terjatuh tak berdaya dijatuhkan empunya.


Tiana tak bisa menahan keterkejutannya melihat perempuan manis yang berdiri beberapa puluh meter di hadapannya itu. Tangannya tiba-tiba saja kesemutan.


Sementara hal berbeda dirasakan Alesha yang masih tercengang di tempatnya karena merasa sangat gugup dan sudah bisa menebak bahwa wanita paruh baya tersebut adalah ibu dari sang CEO yang menjadikannya sugar baby.


Meskipun pada akhirnya semua melenceng dari rencana awal karena sang sugar daddy malah mengikatnya pada pernikahan kontrak yang entah kapan akan terjadi, tetapi ia berencana untuk mengulur waktu sampai sang ibu sudah dioperasi.


Alesha tidak pernah menyangka jika ia akan terjebak dalam pusaran yang membuatnya tidak bisa keluar dari kekuasaan pria yang memberikannya uang untuk biaya operasi sang ibu.


Jantung Alesha kali ini benar-benar berpacu dua kali lipat. Kepalanya dipenuhi aksi-aksi yang berseru. Ada yang menahannya untuk bergerak, ada yang menyuruhnya untuk berlari kabur. Bahkan ada yang menyuruhnya pura-pura pingsan saja.


Alesha mengepalkan tangannya yang berkeringat dingin. Hingga ia melihat wanita itu membungkuk, hendak mengambil kardus sampahnya yang jatuh. Sesaat ia merutuki kepalanya sendiri.


Alesha berlari kecil mendekati wanita itu. "Biar aku saja, Tante," ucap Alesha sambil membantu mengangkat kardus itu dari tangan wanita paruh baya yang akan menjadi mertuanya.


Meskipun hanya menantu palsu, tetapi ia tetap harus berakting secara totalitas kali ini.


Tiana kemudian mencengkram tangannya, sehingga Alesha yang tadinya ingin beranjak, kini berbalik.


Wanita paruh baya tersebut menatapnya tepat di mata, membuat Alesha kembali dibanjiri kegugupan.


"Siapa kamu, Gadis manis?"


Jantung Alesha seketika berdegup nyaring hingga wanita itu merasa ia dapat mendengarnya saking gugupnya.


"Mama?" Rafael yang baru saja keluar dari garasi untuk memarkirkan mobilnya, kini sudah berada di hadapan kedua wanita itu.


Melihat Rafael sudah kembali, Alesha bergegas pergi membawa kardus sampah itu menuju halaman samping rumah mereka.


"Aku permisi, membuang sampah dulu."


Kini, Alesha terlihat sudah membungkuk sebentar untuk pamit dari hadapan ibu dan anak itu. Kemudian melangkahkan tungkainya untuk berlari kecil meninggalkan mereka berdua.


Tiana menatap wanita yang terlihat sangat manis menurutnya, hingga punggungnya menjauh. Ia kemudian menatap Rafael penuh tanya.


"Siapa gadis manis itu, Rafael?"


"Ia adalah wanita yang ingin aku kenalkan padamu, Ma." Rafael menjawab singkat, sengaja ingin membuat sang mama merasa penasaran pada Alesha.


Tiana seketika membulatkan matanya karena tidak pernah menyangka jika putranya benar-benar membawa seorang wanita ke rumah setelah sekian lama tidak pernah dekat dengan wanita setelah bercerai dengan Aeleasha.


"Benarkah?" Ia menutup mulutnya tak percaya.


Rafael hanya mengangguk kecil dan masih bersikap sangat tenang.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu mendapatkan wanita secantik itu?" Tiana kini menatap Rafael takjub dan merasa bersyukur karena akhirnya rencana yang dibuatnya berhasil, yaitu mendesak untuk menikah dan mengancam akan menjodohkan putranya dengan wanita lain demi bisa melupakan Aeleasha.


Rafael tidak menjawab, hanya menatap mamanya dengan wajah masam.


Tidak lama kemudian, Alesha sudah kembali dari halaman samping. Demi menjaga suasana, wanita itu menunjukkan senyum manisnya.


Tiana seketika terpana. Hatinya tiba-tiba saja dipenuhi rasa gembira. Ia tidak menyangka Rafael akan benar-benar membawakan calon istri untuk diperkenalkan kepadanya hari ini.


"Ayo, masuk dulu." Wanita itu menyuruh Rafael dan calon menantu masuk ke dalam rumahnya.


Mereka bertiga lantas masuk melalui pintu dari kayu jati yang besar itu.


Sementara itu, Alesha diam-diam berdecak kagum ketika mereka memasuki ruangan lebih dalam. Interiornya tersusun dengan apik. Indah dan nyaman.


Tiana melihat Alesha yang yang sedang memandangi interior rumahnya. Tanpa sadar, senyuman wanita itu mengembang.


"Ngomong-ngomong, siapa namamu?" tanya Tiana kemudian dan tidak mengalihkan pandangannya pada gadis itu.


Tentu saja mendapatkan tatapan intens, membuat Alesha seketika menoleh gugup.


"Na-nama saya Aeleasha Indira, Tante." Ia menjawab dengan terbata.


Rafael sekilas melirik wanita itu. Ia berpikir akting wanita itu sungguh luar biasa. Sikap polos yang ditunjukkannya saat ini sangat berbanding terbalik dengan sikapnya beberapa saat lalu ketika berdebat dengannya.


Tiana seketika terkejut begitu mengetahui bahwa nama wanita yang berada di hadapannya sama dengan mantan menantunya. Bahkan refleks ia menoleh ke arah putranya.


Seolah ingin mencari penjelasan dari kode mata. Bahkan saat ini, ia benar-benar tidak percaya dengan keadaan di depan mata karena Rafael malah membawa wanita dengan nama yang sama_ yaitu Aeleasha.


'Jadi, Rafael tetap saja ingin menyimpan kenangan Aeleasha di dalam hatinya. Meskipun itu hanya akan membuatnya terluka. Bahkan putraku pun sangat terobsesi dengan sebuah nama,' gumam Tiana yang kini sudah menanggapi dengan seulas senyuman.


"Mulai sekarang, panggil aku mama saja, ya. Aku dan Rafael sudah lama hidup bersama dan sebatang kara. Aku tidak terbiasa dipanggil seperti itu." Tiana mengembangkan senyumnya.


Alesha mengulum senyumnya. "Baiklah, Ma."


'Rasanya seperti lidahku terpeleset memanggil wanita yang baru ditemui dengan sebutan mama,' gumam Alesha dengan melemaskan lidahnya untuk membiasakan diri.


Melewati ruang tengah, Tiana membawa mereka menuju ruang makan. Di mejanya sudah tersaji berbagai macam makanan yang tampaknya telah dipersiapkan khusus.


Seperti kebiasaan rutinitas yang sudah menjadi kewajibannya, Rafael selalu mandi terlebih dahulu sebelum makan. Pria itu pada akhirnya menginterupsi.


"Aku mandi dulu. Kalian duluan."


Tiana mengangguk. Ia kemudian membawa Alesha duduk.


"Rafael sudah berjanji padaku untuk membawa calon istrinya datang hari ini." Wanita itu membuka percakapan. "Sungguh tidak disangka ia benar-benar mendengarkan perkataanku." Wanita itu menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Astaga, anak ini. Untuk apa dia susah-susah berdebat denganku kalau pada akhirnya membawa perempuan semanis ini." Tiana menatap wanita muda itu dengan senyuman sumringahnya.


Alesha hanya bisa membalasnya dengan senyuman palsu. Ia sungguh tidak mengerti mengapa ibu Rafael sebegitu senangnya melihatnya datang ke sini. Mereka bahkan baru saja bertemu untuk pertama kalinya.


"Ngomong-ngomong, aku penasaran, bagaimana kalian bisa bertemu?" Tiana kini mulai bertanya penasaran.


Alesha mengingat titah Rafael ketika di mobil tadi, kemudian tersenyum lebar.


"Pertemuan pertama kami … saat itu aku sedang berada di Mall. Aku sedang berjalan-jalan melihat gerai sepatu. Lalu setelah itu, ada seorang pria yang mengiraku pegawai di gerai itu."


"Aku tidak tahu kalau dia mengira seperti itu. Pria itu kemudian meminta saranku untuk memilih model sepatu yang bagus. Karena tidak enak untuk menolak, aku memberikannya rekomendasi, tapi ...."


"Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Tiana penasaran.


"Setelah itu, tiba-tiba ada seorang wanita yang menyeretku dari belakang." Alesha kemudian menatap Tiana. "Tahu apa yang ia lakukan?"


Tiana seketika menegakkan tubuhnya, tertarik dengan pertanyaan Alesha dan menggeleng perlahan.


"Dia menuduhku berselingkuh dengan suaminya." Alesha melanjutkan.


"Astaga." Tiana menutup mulutnya karena merasa sangat terkejut dengan pengakuan wanita yang memiliki paras manis tersebut.


"Setelah itu, wanita itu memarahiku habis-habisan. Aku sudah berkali-kali menyangkalnya, tapi dia sangat keras kepala dan tetap tidak percaya. Temperamennya sangat buruk. Astaga!" Alesha kini mengekspresikan reaksi bergidik merinding.


Tentu saja melihat aksi Alesha, membuat Tiana sedikit terkekeh sambil mengerutkan alisnya.


"Dan lebih parahnya lagi, keributan itu mengundang perhatian pengunjung-pengunjung lain, sampai banyak sekali yang mengerumuni kami." Alesha menunjukkan raut serius.


"Wah, ada juga ya kejadian seperti itu." Tiana memasang wajah merindingnya.


Alesha menganggukkan kepalanya sambil mencebikkan bibir. Ia kemudian menarik napas dalam, bersiap melanjutkan cerita.


"Aku saat itu merasa sangat malu, marah, dan takut. Aku tidak tahu jalan keluar dari sana bagaimana, tapi … setelah itu putra Anda datang dan menyelamatkanku. Dia bahkan membelaku di depan orang-orang dan membuat kerumunan itu bubar."


Tiana memekik gembira sambil menutup mulutnya. "Ya ampun, apa itu sungguh terjadi? Aku seperti sedang mendengar skenario drama!"


Alesha tertawa kecil. "Aku sangat berterima kasih pada putra Anda saat itu. Jadi, aku berjanji untuk membalas kebaikannya dan sejak hari itu … semuanya berlanjut hingga hubungan kami sekarang."


Kini, Alesha memasang wajah tersipu malu. Padahal, dalam hati wanita itu merutuk diri sendiri akan sikapnya yang menggelikan.


Di sisi lain, Tiana tersenyum senang hingga geliginya terlihat. Entah mau diekspresikan seperti apalagi, betapa terhiburnya ia saat ini.


"Anakku satu-satunya ini memang sangat baik hati. Dari luar memang terlihat kaku seperti atap garasi rumah ini, tapi sebenarnya hatinya sangat lembut."


To be continued..

__ADS_1


__ADS_2