I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Ancaman


__ADS_3

Meskipun merasa sangat bosan dengan pertanyaan yang selalu diucapkan oleh sang ibu tetapi harus dijawabnya, Alex kali ini akhirnya membuka mulut untuk menuntaskan semua keinginan dari wanita yang telah melahirkannya tersebut.


“Nanti, Ma. Wanitanya saja belum ada, bagaimana Alex bisa menikah? Aku pasti akan menikah dan tidak mungkin hanya menjadi pria yang tidak berguna saat memilih untuk menjadi seorang duda selamanya."


"Aku akan menikah, tetapi jangan pernah memaksaku dalam waktu dekat ini. Apalagi perasaanku pada Mikhaila masih cukup kuat di sini." Menunjuk ke arah dada dan terdengar sebuah helaan napas yang berat.


Seolah sangat mewakili perasaan Alex yang benar-benar masih belum berniat untuk mengakhiri status duda bersama dengan seorang wanita.


Alex mengerti tentang perasaan ibunya itu. Hanya saja, ia memang belum bisa menemukan wanita yang tepat. Namun, hari ini, ia merasa aneh setelah bertemu dengan Alesha—mahasiswi baru yang membuatnya tidak bisa melupakan wajah cantik itu.


Ada sebuah keyakinan saat ini mengakar di dalam pikiran, serta hatinya ketika memikirkan tentang mahasiswi baru yang juga membuat perasaan tidak karuan. Apalagi saat ini ia semakin merasa gelisah setelah mengetahui status dari wanita bernama Alesha tersebut ternyata memiliki seorang calon suami.


Apalagi pria yang bernama Rafael terlihat sangat over protektif serta posesif pada Alesha. Hingga bisa melakukan adegan vulgar di tempat umum hanya dengan membuatnya merasa cemburu atau juga mungkin agar sadar diri akan posisinya yang bukan merupakan apa-apa.


Meskipun ia sama sekali tidak menyerah jika benar memiliki perasaan pada Alesha, tetap saja hatinya merasa gelisah karena memiliki seorang saingan.


Bahkan pria itu ternyata memiliki kekuasaan yang cukup untuk mendapatkan wanita manapun yang diinginkan, termasuk Alesha.


Hingga Alex sempat berpikir beberapa saat lalu di dalam kamar. Apakah ia lebih baik kembali memimpin perusahaan sang ayah dari pada harus menjadi dosen di Universitas. Namun, masih merasa sangat ragu karena yang dipikirkan adalah tidak akan bisa bertemu dengan Alesha lagi jika mengundurkan diri menjadi dosen.


Masih ada banyak pertimbangan yang dipikirkan ketika harus mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Hingga Alex saat ini berpikir akan bertanya nanti pada Alesha mengenai perasaannya yang merasa pernah bertemu.


“Kamu pasti masih belum bisa melupakan istrimu, tapi berusahalah untuk melakukannya karena hidup terus berjalan. Ingat itu, Alex."


Ana saat ini tengah berusaha untuk menyadarkan putranya, agar berubah pikiran dan menerima rencananya. Ya, ia akan berencana untuk menjodohkan putranya dengan wanita pilihan yang pastinya berasal dari keluarga konglomerat dan sepadan.


Sejujurnya Alex merasa sangat heran karena sang ibu selalu saja menuntutnya untuk menjadi seorang anak sempurna dan menuruti kemauan wanita yang masih menatapnya dengan tatapan tajam tersebut.


“Ma, jika sudah tahu, kenapa masih bertanya? Mengenai melanjutkan hidup, bukankah aku sudah melakukannya? Aku tidak terpuruk dalam takdir buruk hidupku, tapi tetap beraktivitas seperti biasa. Bekerja dan melakukan semua hal."


“Mama hanya ingin segera menimang cucu. Apalagi di usia saat ini, sudah rentan dan membutuhkan hiburan. Rumah besar ini sangat sepi dan membutuhkan suara dari anak-anak yang lucu."


"Mama ingin kamu segera memberikan cucu yang lucu sebelum ajal menjemput. Jika Mama sudah tidak ada di dunia ini, kamu akan menyadari bahwa tidak menuruti perintah akan membuatmu menyesal seumur hidup."


Sengaja Ana menyebutkan kata yang paling menakutkan agar putranya mau menuruti apa yang diperintahkan. Namun, saat ini yang terjadi adalah ia malah mendapatkan kemurkaan dari putranya.

__ADS_1


"Stop, Ma! Jangan pernah mengatakan kalimat itu karena aku sangat tidak menyukainya. Itu adalah hal yang tidak boleh dikatakan. Jika Mama sekali lagi menyebutkan hal itu, aku akan pergi dari sini. Kematian bukan untuk main-main. Jadi, jangan pernah melakukan itu, oke!"


Meski saat ini pikiran Alex tertuju pada Alesha, tapi wanita itu sudah memiliki pasangan. Mungkinkah Alex akan keluar dari zona amannya? Hal itulah yang menjadi penyebab Alex merasa gundah gulana.


Sementara wanita di hadapan Alex—yang tak lain adalah Ana memiliki pemikiran yang mengkhawatirkan. Ia beberapa saat lalu mendapat pesan dari orang suruhannya tengah mengabarkan bahwa ternyata wanita yang sangat dibencinya kini kuliah di universitas yang sama dengan putranya.


Bahkan putranya-lah yang menjadi dosen wanita tersebut dan semakin membuatnya merasa sangat marah sekaligus kesal.


Setelah mengetahui jika Alesha saat ini menjadi mahasiswi Alex, ia pun tidak ingin jika mereka menjalin hubungan lagi. Selain akan mempermalukan keluarga besar mereka.


Ia yakin jika nanti hanya akan menyakiti hati putranya. Berpikir bahwa wanita itu tidak akan pernah bisa setia pada satu pria karena kebiasaan dengan banyak pasangan.


Berpikir jika nanti putranya menikah dengan Alesha, hanya akan diselingkuhi. Bahkan berakhir menjadi sakit hati dan juga terluka.


Wanita itu teringat dengan kejadian saat Alesha merobek cek yang diberikannya. Meski saat itu Alesha berstatus sebagai sugar baby untuk Alex, tetap saja rasa tidak sukanya pada wanita itu tidak bisa hilang.


Ia juga merasa beruntung karena Alex mengalami amnesia disosiatif. Bukan berarti ia merasa senang saat putranya mengalami musibah. Akan tetapi, pengaruhnya terhadap Alex sangat besar.


Alex tidak bisa mengingat kejadian di mana Alesha menjadi wanita yang selama ini menemani ketika pergi ke mana pun.


Namun, tetap saja ia merasa khawatir jika kebersamaan di antara putranya dan wanita murahan itu malah akan berakhir menjadi benih-benih cinta.


Jika sampai itu terjadi, kemungkinan besar, putranya akan memperjuangkan cinta dan mau melakukan apapun agar bisa bersatu dengan wanita yang dicintai, meskipun berbeda kasta dan derajat.


Ada banyak perbedaan di antara mereka, tetapi putranya seolah tidak memperdulikan hal itu karena saat dulu mencoba untuk menasehati Alex, sama sekali tidak dianggap dan tetap saja menjadikan wanita itu sugar baby.


'Aku bahkan sangat heran karena putraku bisa menjadi sugar daddy. Sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Alex saat itu, aku pun sama sekali tidak tahu,' gumam Ana yang saat ini memilih untuk diam setelah putranya menaikkan nada suara satu oktaf lebih tinggi.


Setengah jam telah berlalu dan selesai dengan kegiatan makan malam, Alex kembali ke kamar.


Ia merenung beberapa saat. Ya, hingga kini pikirannya masih sama, semua tentang Alesha. Tidak perduli jarum jam yang sudah menunjukkan lewat tengah malam.


Bayang akan wajah Alesha seperti hantu dalam kepala Alex. Pria itu pun bertekad menggali lebih dalam tentang Alesha–wanita yang sudah menarik perhatiannya.


Ia yang saat ini berbaring terlentang di atas ranjang dan memandangi langit-langit kamar, kini malah yang tampak di sana adalah wajah cantik Alesha.

__ADS_1


"Sebenarnya siapa kau? Kenapa aku bisa memikirkanmu terus seperti ini? Aku sangat yakin ada hal yang salah, tapi tidak tahu itu apa. Apakah aku harus berbicara dengannya untuk menanyakan sesuatu yang mengganggu pikiranku?"


Alex masih terdiam di ranjang dan berniat untuk bertanya pada Alesha esok hari. Ya, saat ini ia sudah merasa yakin jika ada sesuatu yang tidak beres.


"Amnesia disosiatif yang saat ini kualami, pasti menjadi penyebab aku tidak bisa mengingat tentang wanita bernama Alesha itu. Aku sangat yakin jika pernah bertemu dengannya sebelumnya. Jadi, besok akan bertanya padanya."


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Alex tengah bersiap untuk berangkat ke kampus. Hatinya begitu tegas ingin memastikan kembali tentang perasaan yang dialami semalaman. Setelah penampilannya dirasa sudah rapi, Alex berjalan keluar dan bertemu ibunya di ruang makan.


“Kamu mau ke kampus, Sayang?” tanya Ana yang masih duduk di kursi roda dan tadi memang berniat untuk memeriksa pekerjaan dari para pelayan.


Hingga ia melihat putranya sudah bersiap berangkat pagi-pagi sekali dan membuatnya merasa sangat aneh.


“Iya, Ma. Mau ke mana lagi?” jawab Alex yang merasa risi dengan apa yang saat ini dilakukan oleh sang ibu.


Ia tahu jika sang ibu tengah bertanya padanya hanya untuk menginterogasi karena ingin membahas tentang wanita. Namun, ia merasa sangat lega setelah mendengar suara dari sang ibu.


“Ya sudah, makan dulu.”


Alex yang langsung mengangguk perlahan, menarik kursi untuk duduk. Seporsi nasi goreng telah siap di depannya. Lalu kegiatan mengunyah dilakukan hingga tidak ada satu nasi pun yang tersisa.


Saat menikmati sarapan, Ana mulai membuka suara untuk menghilangkan keheningan di antara mereka di ruang makan. “Hari ini kamu pulang cepat atau masih ada urusan lain selain di kampus?”


“Ada urusan di beberapa tempat. Aku juga masih ada urusan dengan beberapa mahasiswi yang ingin melakukan bimbingan.” Alex sengaja mengarang sebuah kebohongan karena ingin pulang terlambat hari ini.


Sementara Ana yang merasa curiga jika putranya akan berurusan dengan wanita yang sangat dibenci tersebut, membuat rencana untuk menyuruh orang mengintai apa yang dilakukan oleh Alex hari ini.


Namun, ia berpura-pura untuk berakting seolah tidak mempermasalahkan hal itu. “Ya sudah, kalau semua itu sudah selesai, cepat pulang.”


Hanya sebuah anggukan kepala yang menjadi jawaban dari Alex. Ia saat ini tengah menatap ke arah sosok sang ibu terlihat sangat aneh karena tidak banyak berbicara hari ini.


'Sepertinya mama merasa takut karena ancamanku kemarin. Baguslah, aku tidak akan merasa risi lagi jika membahas tentang masalah menikah."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2