I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Teringat masa lalu kelam


__ADS_3

Beberapa saat lalu ketika di kampus, sosok pria yang masih berdiri di tempatnya, tidak berkedip saat menatap kepergian dua orang yang membuatnya merasa sangat penasaran dengan apa hubungan dari wanita yang berhasil menarik hatinya di pertemuan pertama berada di kantin beberapa saat lalu.


Alex bahkan tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya karena merasa penasaran dengan sosok mahasiswa baru yang mengikuti kelasnya hari ini dengan datang terlambat.


Kini, netra pekatnya masih mengamati siluet dari dua orang yang berjalan semakin menjauh tersebut dan mendadak wajahnya berubah keruh begitu memikirkan tentang hubungan antara mahasiswi barunya bersama pria yang baru saja marah-marah padanya.


'Apakah pria itu adalah kekasihnya? Jadi ia sudah punya pacar? Aku kira wanita cantik itu belum punya kekasih. Sayang sekali.'


Alex yang kini beralih menunduk menatap ke arah tumpukan kertas yang merupakan surat permohonan maaf dari wanita yang baru diketahui namanya.


'Aku tidak mengerti kenapa merasa jantungku seolah seperti berpacu lebih cepat ketika berhadapan dengannya? Tadi, saat ia terjatuh tepat di bawah kakiku dan belum sempat aku menolong, melihat wajahnya, rasanya seperti ada yang aneh.'


'Rasanya seperti aku pernah melihatnya, tapi di mana? Apa aku pernah bertemu sebelumnya saat belum hilang ingatan?'


Alex yang hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati sambil sesekali mengangguk perlahan ketika ada beberapa mahasiswa menyapanya.


Merasa ia tidak bisa memecahkan sendiri misteri yang dianggapnya adalah pecahan puzzle, memilih untuk mencari tahu dengan cara bertanya pada seseorang


Alex sudah melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah ruangannya dan meletakkan buku, serta tumpukan kertas permohonan maaf dari Alesha.


Baru saja ia berniat untuk mendaratkan tubuhnya di kursi, tidak jadi melakukannya karena ponsel yang berada di saku celana berdering.


Tidak membuang waktu, kini Alex sudah meraih ponsel miliknya dan menggeser tombol hijau ke atas setelah melihat kontak dari sang ibu yang menghubungi.


"Ya, Ma."


"Alex, pergilah ke rumah sakit sekarang karena mommy tadi tidak sengaja terjatuh ketika menaiki anak tangga."


Refleks wajah penuh kekhawatiran kini tampak jelas dan Alex yang sangat menyayangi wanita di seberang telpon tersebut refleks langsung meraih tas kerjanya.

__ADS_1


"Mama ada rumah sakit mana? Aku segera ke sana sekarang karena kebetulan sudah selesai mengajar."


Alex Clarkson kini memberikan kode pada beberapa rekan yang ada di ruangan itu untuk pergi lebih dulu karena mendapatkan kabar dari sang ibu.


Begitu semua orang mengiyakan, ia buru-buru melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah mobil yang terparkir di area depan kampus sambil masih memegang ponsel di dekat telinga.


"Mama ada di rumah sakit dekat rumah. Sebenarnya tidak mau ke sini karena bukan rumah sakit terbaik, tapi ini yang paling dekat dari rumah, sehingga supir berinisiatif untuk segera mengantarkan ke sini."


"Meskipun aku sangat malas, tapi tadi supir menakuti-nakuti jika tidak segera ditangani, kemungkinan retak. Jadi, menurut saja, yang penting segera ditangani oleh dokter."


Sementara itu, Alex yang sudah masuk ke dalam mobilnya, kini sudah menaruh tas kerja di kursi sebelah dah mulai memasang sabuk pengaman.


"Aku tahu, Ma. Sekarang aku dalam perjalanan ke sana. Mama tunggu sebentar karena aku akan datang."


"Baiklah. Hati-hati saat mengemudi dan jangan ngebut, oke!"


"Iya, Ma. Jangan khawatir," sahut Alex yang kini langsung mematikan sambungan telpon dan mengemudikan mobilnya menuju ke arah gerbang kampus.


Ia sebenarnya ingin tahu seberapa banyak kehilangan memorinya, tetapi tidak menemukan apapun dan merasa tidak melupakan apapun.


Apalagi orang tuanya juga tidak mengatakan apapun saat ia bertanya, sehingga memilih untuk tidak mengambil pusing semua itu.


Mungkin jika orang lain, akan merasa trauma mengemudi setelah mengalami kecelakaan, tetapi itu tidak terjadi pada Alex karena ia tetap tenang dan bersikap layaknya seperti biasa.


Mobil yang membawanya menuju ke rumah sakit kini membelah jalanan dengan sesekali menambah kecepatan ketika jalanan sepi dan tidak butuh waktu lama baginya untuk tiba di rumah sakit.


Begitu memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia, Alex sudah berjalan keluar dan menuju ke arah lobi untuk bertanya di mana ruangan unit gawat darurat. Namun, ponselnya kini kembali berbunyi dan membuatnya berpikir bahwa itu adalah pesan dari sang ibu.


Begitu melihat benda pipih yang baru saja diambil dari saku celananya, ia kini tidak jadi menuju ke ruangan gawat darurat karena sang ibu baru saja memberitahu sudah dipindahkan ke ruangan, sehingga memilih untuk masuk ke dalam lift menuju ke lantai paling atas rumah sakit karena ruangan terbaik ada di sana.

__ADS_1


Tentu saja ia sudah sangat hafal dengan sang ibu yang selalu menginginkan semua hal terbaik dan tidak mungkin akan memilih untuk dirawat di kamar biasa.


Alex Clarkson kini sudah berada di dalam lift dan menatap ke arah angka digital yang bergerak. Begitu tiba di lantai yang dituju, ia bersiap untuk keluar.


Namun, begitu pintu kotak besi tersebut terbuka, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sosok pria di kampus tadi saat marah-marah padanya hanya gara-gara surat permohonan maaf dari Alesha.


'Astaga! Kenapa dia ada di sini? Bukankah tadi dia bersama Alesha? Apakah terjadi sesuatu padanya? Jadi pria ini berada di rumah sakit ini?'


Alex yang saat ini masih sibuk bertanya-tanya di dalam hati, sudah bersitatap dengan iris tajam di hadapannya.


Sebenarnya ia ingin bertanya mengenai Alesha, tapi tidak ingin terlihat jelas sangat penasaran kenapa pria itu juga berada di rumah sakit, sama sepertinya.


Ia memilih berjalan keluar dari lift. Awalnya, berpikir jika pria itu akan masuk ke dalam lift, tetapi pemikirannya salah karena tetap tidak beranjak dari tempatnya, sehingga mau tidak mau ia memilih untuk menyapa.


"Kau juga ada di rumah sakit ini? Siapa yang sakit? Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Alex yang memilih untuk sekedar berbasa-basi.


Padahal sebenarnya ia selama ini tidak pernah suka berurusan dengan orang lain karena lebih tertutup. Namun, entah mengapa bisa bertanya pada pria tidak dikenal tersebut.


Sementara Rafael yang masih menatap tajam sosok pria di hadapannya, kini merasa curiga jika pria itu ternyata mengikuti Alesha hingga ke rumah sakit untuk mencari perhatian.


'Tidak akan kubiarkan ada pria lain yang masuk dalam hubungan kami, termasuk dosen mesum ini,' lirih Rafael yang saat ini hendak membuka mulut untuk menanggapi pertanyaan tersebut.


Namun, belum sempat ia membuka mulut, indra pendengarannya menangkap suara yang sangat dihafalnya dan membuatnya menoleh ke belakang karena bertambah semakin kesal.


"Rafael, tunggu! Mama memesan sesuatu," ucap Alesha yang kali ini tengah berlari kecil untuk menghampiri Rafael.


Namun, ia seketika terkejut begitu melihat sosok pria di sebelah Rafael. "Anda? Bagaimana Anda ada di sini?"


"Dia pasti mengikuti kita tadi, sehingga mengetahui bahwa saat ini ada di sini," sahut Rafael dengan tersenyum masam pada pria yang merupakan sugar daddy itu.

__ADS_1


Mengingat dan membayangkan bahwa pria tua merupakan sugar daddy Alesha, tentu saja selalu membuatnya merasa sangat marah karena teringat akan masa lalu kelam yang merupakan penyebab kehancuran impiannya membina rumah tangga penuh kebahagiaan.


To be continued...


__ADS_2