I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Hamil dan cucu


__ADS_3

"Sepertinya hubunganmu dengan calon mertuamu tidak baik. Jadi, kau sudah sangat hafal dengan perbuatan wanita itu, berarti pernah mengalami kejadian buruk." Rafael kini membelokkan mobil ke area kompleks perumahan mewah keluarganya.


Kemudian tanpa harus memencet klakson, security sudah bergerak dari pos untuk membuka pintu gerbang berwarna hitam yang menjulang tinggi tersebut.


Saat Rafael merasa tertangkap basah karena ketahuan tanpa menyebutkan, kini Alesha mengalihkan pandangan yang awalnya mengucapkan terima kasih pada security setelah membuka jendela mobil.


"Jadi, wanita bernama Ana Maria yang menghubungimu untuk datang ke rumah sakit agar bisa mempermalukanku di depan semua teman sosialitanya. Sayang sekali, ia tidak berani jujur pada putranya sendiri. Mungkin jika putranya mengetahui ulah ibunya, akan marah dan melawan."


Alesha sudah terbiasa melihat orang yang berani hanya di belakang dan tidak kaget lagi. Apalagi saat menjadi sugar baby dulu, sering menjadi bulan-bulanan istri sah tanpa sepengetahuan suami.


"Dulu para istri sah selalu menyalahkanku karena menjadi sugar baby suami mereka, tapi tetap saja tidak bercerai dan mempertahankan pernikahan karena tidak ingin kehilangan uang suami yang banyak. Tidak salah, kan jika aku menyebut mereka wanita munafik?"


"Aku memang wanita murahan dan munafik, tapi satu hal yang pasti, jika suatu saat nanti aku menikah sesungguhnya dan suamiku selingkuh, sudah pasti akan meminta cerai dan sama sekali tidak memperdulikan harta mereka."


Entah mengapa Rafael merasa sangat tertampar dengan kata menikah sesungguhnya yang baru saja lolos dari bibir Alesha. Ia benar-benar sangat kesal mendengar itu meskipun merupakan hal yang sesungguhnya.


Ia yang baru saja memarkirkan mobil di garasi, lalu melepaskan sabuk pengaman setelah mematikan mesin mobil. Kemudian menoleh ke arah wanita yang melakukan hal yang sama sepertinya.


"Sepertinya kau ingin menyindirku karena pernikahan kita dilakukan atas dasar surat perjanjian semata."


Refleks Alesha menjentikkan jari untuk membenarkan perkataan dari pria yang berhasil diejeknya dengan membalik keadaan.


"Tepat sekali. Kita menikah hanya karena sebuah perjanjian dan akan bercerai tepat pada waktunya, bukan? Jadi, jangan bersikap berlebihan atas dasar nama baik saat aku bertemu dengan Alex. Aku tetap akan menjaganya dan kau tidak perlu khawatir."

__ADS_1


"Aaah ... aku sekarang baru mengingatnya. Bagaimana jika aku kuliah nanti? Bukankah nanti akan bertemu dengan Alex di kampus?" Sebenarnya Alesha ingin mengambil cuti kuliah agar tidak bertemu dengan Alex sampai satu bulan lamanya.


Namun, sengaja tidak memberitahu Alex dan ingin mengetahui pemikiran pria itu yang selalu egois dan mementingkan diri sendiri.


"Ambil cuti saja selama kita menikah. Kau tidak boleh bertemu pria itu karena aku yakin jika kalian akan melakukan hal-hal tidak senonoh. Jika sampai nama baikku sampai tercemar, kau tidak akan bisa membayarnya dengan seumur hidupmu."


Tanpa menunggu jawaban dari pernyataan yang baru saja diucapkan, kini Alex beranjak dari mobil dan merasa terkejut ketika sang ibu terlihat berjalan mendekat.


"Akhirnya kalian pulang. Kenapa lama sekali? Keluarga dari kampung sudah datang dari pagi tadi dan ini segera melihat pengantin baru," ucap Tiana Aiza yang saat ini sudah mengulas senyuman penuh kebahagiaan melihat putra dan menantunya pulang.


Tadi ia menyuruh pelayan dan sopir datang ke hotel untuk membantu membawa barang milik putra dan menantunya karena saat mengabarkan kedatangan sanak saudara, Rafael mengatakan tengah berada di luar.


Kemudian melambaikan tangan pada menantu perempuan kesayangan yang diharapkan bisa segera memberikan cucu dan meneruskan garis keturunan keluarga Zafran. Apalagi Rafael adalah putra satu-satunya yang menjadi harapannya.


"Mama merasa jika kamu semakin cantik hari ini. Seolah aura kebahagiaan terpancar dari wajahmu. Pasti semua sanak saudara yang merasa sangat penasaran seperti apa menantu di keluarga Zafran merasa kagum padamu."


Jantung Alesha saat ini seperti mendapatkan sebuah tombak tajam yang menusuk tepat di sana. Ia melupakan sesuatu yang sangat penting setelah melakukan hubungan suami istri.


'Hamil? Cucu? Tidak, aku tidak akan hamil setelah Rafael melakukannya semalam, bukan? Hanya satu kali dan aku tidak akan hamil karena setelah satu bulan, kami akan bercerai dan kami hidup masing-masing dan sama sekali tidak ada yang berubah,' gumam Alesha yang merasa sangat kebingungan dan seketika tersadar dari lamunannya begitu mendapatkan sebuah tepukan dari wanita paruh baya tersebut.


"Sayang? Kenapa melamun? Apa Mama terlalu membebanimu?" Tiana merasa bersalah begitu melihat tatapan kosong dari sosok wanita cantik yang telah menjadi menantunya tersebut.


Bahkan suara bariton dari putranya membuatnya makin merasa bersalah dan masih tidak melepaskan kuasa saat beberapa kali sibuk mengusap lembut punggung tangan Alesha.

__ADS_1


"Mama, bahkan kami baru menikah sehari. Tentu saja istriku merasa terbebani sekarang karena keinginan Mama. Biarkan kami menjalani pernikahan ini dan semuanya berjalan sesuai dengan kuasa Tuhan. Jadi, jika semua tidak sesuai ekspektasi, tidak akan menjadi masalah bagi kami."


Rafael yang berpikir jika keinginan sang ibu tidak akan menjadi kenyataan karena memang hubungannya dengan Alesha hanyalah sebuah sandiwara, jadi tidak ingin wanita yang sangat disayanginya tersebut nantinya kecewa luar biasa setelah ia menceraikan Alesha.


'Maafkan aku, Ma karena sengaja berbohong padamu demi menghindari perjodohan,' gumam Rafael yang kini menarik pergelangan tangan sang ibu agar tidak terus menempel pada Alesha.


"Semenjak ada Alesha, Mama seperti tidak menganggapku sebagai anak. Aku mendadak merasa seperti anak tiri." Rafael kini ingin bermanja-manja pada sang ibu demi mengalihkan topik.


"Astaga! Kenapa kamu sekarang tiba-tiba berubah kekanakan seperti ini?" Tiana kini geleng-geleng kepala dan mengusap rambut hitam berkilat putranya.


Sementara Alesha yang tersenyum simpul melihat kedekatan ibu dan anak itu dan mengingat jika ia tidak pernah melihat hal seperti itu terjadi pada Alex dan sang ibu.


'Ternyata melihat interaksi Rafael dengan Mama terasa menyejukkan dan mendamaikan hati. Seandainya wanita itu sebaik mama, mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia karena dicintai oleh pria yang menjadi cinta pertamaku.'


Lamunan Alesha seketika buyar begitu mendengar suara menyejukkan dari mertuanya.


"Ayo, Alesha. Kita masuk karena semuanya sudah menunggu. Ibumu dari tadi sibuk membantu pelayan, padahal aku sudah mengingatkan agar tidak capek dan duduk saja, tapi tidak mau mendengarkan. Lebih baik kamu saja yang menasihatinya." Tiana kini menggandeng tangan Alesha dengan tangan kiri.


Kemudian beralih menatap putranya yang kembali menunjukkan sifat iri. "Ayo, kamu di tangan kanan."


Rafael tersenyum simpul dan menyerahkan tangannya untuk digandeng sang ibu. "Nah ... begini, dong. Jadi, Mama harus adil dan tidak pilih kasih."


"Iya ... iya! Sudah, jangan membuang waktu dan kita temui keluarga besar dulu." Kemudian Tiana melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke pintu masuk utama bersama putra dan menantunya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2