I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Restoran


__ADS_3

Rafael memicingkan mata begitu melihat sosok wanita di hadapan tersenyum simpul. "Sepertinya kamu sudah menemukan sesuatu."


Refleks Aeleasha menganggukkan kepala tanda membenarkan perkataan dari mantan suaminya tersebut.


"Aku buka restoran kecil yang murah saja, agar bisa dijangkau oleh semua lapisan orang, baik itu kalangan menengah atas, maupun bawah. Jadi, tidak akan ada perbedaan kasta yang nanti menjadi pembeli. Bagaimana?"


"Sepertinya terdengar menarik. Aku akan menjadi investor utama di restoranmu itu. Memangnya kapan kamu akan mulai mencari tempatnya? Aku akan menemanimu. Kalau bisa, secepatnya." Rafael berniat untuk mencari tempat yang akan disewa untuk usaha baru Aeleasha.


Namun, ia mengingat jika ponsel mereka dinonaktifkan karena tidak ingin terganggu dengan apapun. Akhirnya Rafael tidak jadi melakukannya saat memikirkan akan terganggu kebersamaan dengan Aeleasha.


Rafael kini memilih untuk mengurungkan niat dan menunggu komentar dari wanita yang terlihat seperti tengah memutar otak karena sesekali mengerutkan kening dan tersebut.


Aeleasha tengah mengingat tempat-tempat strategis yang kira-kira akan menjadi pertimbangannya membuka restoran. Sebenarnya ia ingin membuka cafe, tapi berpikir jika itu hanya akan dikunjungi oleh para anak muda saja.


Sementara ia ingin semua orang datang tanpa terkecuali. Mulai dari balita, remaja, dewasa dan orang tua.


"Tempat yang dekat dengan area sekolah seperti kampus lebih bagus dan harus mencarinya mulai sekarang. Aku ingin mencari informasi itu. Mana ponselku tadi?"


Aeleasha berbicara sambil mengulurkan tangan, tetapi tidak menyangka jika Rafael tanpa pikir panjang menolak dan tentu saja membuatnya merasa sangat kesal.


"Waktumu belum habis, jadi aku tidak akan mengembalikannya. Ponselmu aman bersamaku, tidak perlu khawatir." Hal yang ingin dilakukan saat ini adalah ingin segera menuruti keinginan wanita sedingin es tersebut.


Tidak hanya itu saja, ia berencana untuk membelikan nomor baru, agar tidak ada yang mengetahui perihal Aeleasha. Termasuk Arsenio yang ingin sekali dihabisinya.

__ADS_1


Refleks Aeleasha langsung menggelengkan kepala, tanda bahwa ia tidak setuju. "Tidak perlu repot-repot, Brother. Aku bisa mengurus itu dengan meminta bantuan orang lain. Lebih baik kamu fokus pada pernikahanmu karena tinggal menghitung hari. Saat ini, pasti Alesha mencarimu karena tidak memberi kabar sama sekali."


Akhirnya Aeleasha menguap dan menutup mulut ketika alarm pada dirinya seolah memanggil untuk segera beristirahat. "Aku lelah dan ingin tidur, Brother. Mengenai ideku itu, mungkin bisa dilakukan nanti setelah aku benar-benar siap."


"Nanti, aku akan membuat daftar mengenai apa saja yang harus dilakukan. Jadi, jangan terburu-buru. Mungkin setelah kamu menikah, aku akan memikirkannya." Kemudian Aeleasha bangkit berdiri dan ia mulai berjalan menuju ke dalam kamar sambil beberapa kali mengusap lengannya.


"Apa kamu tidak kembali ke kamarmu, Brother?"


"Tidurlah yang nyenyak dan jangan pikirkan apapun, Aeleasha! Aku akan di sini dan tidak pergi ke mana-mana." Rafael sama sekali tidak menoleh pada Aeleasha ketika berbicara. Itu karena ia saat ini ingin memutar otak untuk membantu mewujudkan rencana mantan istrinya yang ingin membuka usaha restoran.


Tidak ingin berdebat, kini Aeleasha memilih untuk melangkahkan kaki telanjangnya menuju ke ranjang. Rasanya ia sangat lelah dan berjalan gontai seperti kehilangan seluruh tenaganya.


Kemudian ia naik ke atas ranjang dan memilih untuk berbaring dengan memeluk erat tubuh Arza sambil memejamkan mata setelah ritual rutin mencium dahi putranya.


Hingga beberapa saat kemudian, suara napas teratur memenuhi ruangan kamar tersebut. Aeleasha yang sangat lelah, kini telah menuju ke alam bawah sadar dan larut dengan bunga tidur.


Sementara Rafael yang masih berada di balkon hotel, memilih untuk menghilangkan rasa stres yang ia rasakan dengan cara mengisap satu batang rokok.


Sengaja ia tidak melakukan itu di depan Aeleasha karena pasti akan mendapatkan omelan dari mantan istrinya. Apalagi dulu tidak pernah menyentuh benda bernikotin itu.


Namun, semenjak patah hati, ia melampiaskan semuanya dengan merokok dan berpikir itu merupakan sebuah hal yang wajar. Ia bukanlah tipe pria yang suka melarikan diri pada minum-minuman keras saat sedang mengalami masalah karena berpikir jika itu akan menjadi sebuah skandal dan menghancurkan nama besar perusahaan.


Jika perusahaan hancur karena ulahnya, ia akan dianggap tidak becus dan dibandingkan dengan Arsenio yang dianggap sangat hebat di mata Aeleasha. Itulah yang membuatnya berusaha untuk bisa lebih baik dari pria itu.

__ADS_1


"Restoran."


Rafael masih mencari sebuah ide yang akan membuat restoran baru Aeleasha nanti menjadi tempat nomor satu yang dikunjungi oleh semua orang.


"Aku akan membantumu dan tidak akan membiarkan kamu sendirian, Aeleasha." Beberapa saat kemudian, Rafael melemparkan puntung rokok yang masih menyala di balik jari ke bawah.


Kini, ia memilih untuk masuk ke dalam ruangan kamar hotel karena rasa dingin semakin menusuk kulitnya.


Kemudian ia kini memilih untuk membaringkan tubuhnya di sebelah Arza yang dipeluk erat oleh Aeleasha.


Selama beberapa saat ia tidak berkedip menatap sosok wanita dengan mata terpejam tersebut. Bahkan sudut bibir melengkung ke atas ketika merasa sangat senang bisa mengulang momen seperti dulu.


Hanyalah sebuah momen kecil yang mungkin tidak berarti bagi wanita itu, tetapi berbeda dengan yang dirasakan oleh Rafael. Hanya dengan berbaring di satu ranjang yang sama dengan Aeleasha, sudah membuatnya merasa sangat senang seperti ini.


"Seandainya bisa seperti ini selamanya," lirih Rafael yang tidak berkedip menatap ibu dan anak dengan posisi berpelukan itu.


Hingga selama setengah jam, Rafael memuaskan indra penglihatannya menatap Aeleasha dan beberapa saat kemudian, kedua matanya sudah tidak lagi sanggup untuk menemaninya.


Akhirnya Rafael pun mulai terbuai dalam alam bawah sadar begitu matanya tidak lagi bisa bertahan karena seperti sedang dilapisi oleh lem.


Hingga suara napas teratur dari tiga orang yang tidur di atas ranjang tersebut memenuhi ruangan kamar terbaik yang menjadi tempat istirahat mereka.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2