
Tanpa ada suara di antara dua insan yang sama merasakan kemarahan itu, kini mobil mewah berwarna hitam itu sudah tiba di pelataran rumah sederhana dengan halaman luas.
Tanpa menoleh ke arah Rafael, Alesha sudah membuka sabuk pengaman dan beranjak dari tempatnya. Kali ini ia hanya ingin segera mengurung diri di dalam kamar karena tidak ingin melihat pria yang sudah membuatnya seperti tidak punya harga diri sama sekali.
Bahkan Alesha sudah berjalan masuk sambil sedikit berlari. Hingga ia langsung disambut oleh sang ibu yang berada di atas kursi roda dengan didorong oleh perawat.
"Aku pulang."
Jika biasanya ia akan mencium punggung tangan sang ibu ketika baru pulang ke rumah. Namun, hari ini berbeda karena perasaannya tidak karuan dan hanya ingin segera mengurung diri di dalam kamar.
Sementara sosok wanita paruh baya yang saat ini mengerutkan kening karena merasa ada yang aneh dengan putrinya, refleks memanggil karena ada banyak hal yang ingin ditanyakan.
Namun, ia tidak bisa melakukannya karena putrinya sudah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
Hingga ia belum sempat memikirkan apa yang terjadi pada putrinya, suara sosok pria yang merupakan calon menantu baru saja mengucapkan salam.
Bahkan sudah berjalan masuk dan melakukan ritual mencium punggung tangan dan menyapanya dengan seulas senyuman.
"Ibu baik-baik saja, kan? Apa masih ada yang dikeluhkan?" Rafael memilih untuk sekedar berbasa-basi karena jika membahas tentang Alesha, pastinya akan panjang kali lebar.
Ia sangat malas membahas wanita yang saat ini marah padanya. Apalagi sebenarnya tubuhnya sangat lelah setelah mengemudi selama beberapa jam. Bahkan saat ini ia ingin segera pulang dan beristirahat di dalam ruangan favoritnya.
Namun, yang terjadi saat ini, mendapat banyak pertanyaan dari calon mertuanya. Tentu saja ia hanya bisa mengarang sebuah kebohongan.
"Apa kalian bertengkar karena masalah Alesha tidak pulang ke rumah semalam?"
__ADS_1
"Aku hanya bertanya dan dianggap menginterogasi karena tidak mempercayai Alesha. Jadi, ia kesal padaku dan memilih untuk langsung pergi tanpa mengatakan apapun." Rafael berdoa agar wanita dengan sebagian rambut yang sudah memutih tersebut, tak lain adalah mertuanya percaya.
Ia sangat malas jika harus diintrogasi oleh wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri tersebut.
Kini, wanita berusia 50 tahun tersebut kini bisa memaklumi apa yang terjadi diantara pasangan menjelang hari pernikahan.
"Ada banyak ujian yang selalu dihadapi oleh pasangan mendekati hari pernikahan dan siapapun yang bisa melewatinya, akan menjadikan hidup rumah tangga yang dibina jauh lebih kuat diterjang badai suatu saat nanti."
"Ibu sangat berharap kalian bisa melewati semua ujian yang datang sampai hari pernikahan. Semua pasangan pernah mengalaminya dan kalian tidak sendiri. Bahkan ibu dulu juga demikian."
Rafael memang sering mendengar apa yang dikatakan oleh calon mertuanya tersebut dari orang-orang dan dulu saat menikahi Aeleasha secara siri, tidak mengalami hal itu.
Jadi, ia merasa jika pernikahan yang dijalani memanglah tidak normal karena hanya mempunyai status tanpa kejelasan. Sementara pernikahan yang akan dilakukan beberapa hari lagi, hampir sama karena ada sesuatu yang menjadi alasan untuk menikah.
Rafael saat ini tersenyum simpul dan berakting bahwa hubungan antara ia dan calon istri akan baik-baik saja.
"Ibu tenang saja karena pertengkaran kecil ini tidak akan menyurutkanku untuk menikahi Alesha karena sangat mencintainya. Kami pasti akan menjadi keluarga bahagia setelah menikah nanti."
"Saat ini, Alesha memang sedang marah dan kesal padaku, tapi besok pasti akan kembali seperti semula karena cintanya begitu besar. Begitu pula sebaliknya karena kami tidak akan pernah terpisahkan karena saling mencintai dan pastinya merindukan satu sama lain."
Sudut bibir wanita paruh baya tersebut melengkung ke atas dan refleks langsung menepuk lembut lengan kekar di balik kemeja berwarna putih tersebut.
"Terima kasih, Nak. Ibu sudah menganggapmu seperti putra kandung sendiri dan semoga kalian akan menjadi keluarga bahagia selamanya setelah menikah nanti. Alesha sangat beruntung bisa menikah dengan pria baik, sabar dan pengertian sepertimu."
"Ibu akan selalu mendoakan kalian agar rumah tangga yang dibina, diberkahi oleh Tuhan. Maafkan sikap kekanakan dari putriku yang selalu tidak mau mengalah jika sedang kesal."
__ADS_1
"Alesha adalah anak yang sangat kuat dan tegar karena tumbuh tanpa seorang ayah. Jadi, sifatnya sangat arogan dan selalu mengatakan apa yang dipikirkan tanpa menyembunyikan apapun. Meskipun sebenarnya hatinya tidak sekuat itu karena hanyalah seorang wanita lemah."
"Pada dasarnya, semua wanita diciptakan lemah dan mengungkapkannya dengan cara menangis ketika bersedih, tetapi aku tahu bahwa Alesha sangat berbeda karena saat lemah. Ia tidak menangis, tetapi meluapkannya dengan marah."
"Jadi, Ibu harap kamu mau mengerti dan memahami seperti apa sifat calon istrimu, agar tidak terkejut atau pun marah, serta kesal."
Rafael kini hanya bisa menganggukkan kepala, tanda mengerti dan setuju dengan semua perkataan dari wanita paruh baya di hadapannya tersebut. Meskipun semua yang ditampilkan hanyalah kepalsuan.
Namun, saat ini tidak ingin menyakiti hati wanita yang baru sembuh dari sakit tersebut. "Aku akan selalu mengingatnya, Bu. Aku pamit pulang dulu karena baru pulang dari perjalanan bisnis dan sangat lelah."
"Baiklah, beristirahatlah karena beberapa hari lagi akan disibukkan dengan acara pernikahan. Apakah kamu masih akan bekerja sampai satu hari sebelum acara?"
"Hanya besok saja dan akan libur dua hari. Aku juga sudah membicarakan tentang hal ini pada Alesha. Bahwa karena ada banyak pekerjaan di kantor, jadi tidak bisa membawanya pergi untuk bulan madu. Syukurlah Alesha sangat mengerti dan tidak protes karena mengatakan bahwa lebih baik fokus pada pekerjaan karena ada banyak pekerja yang menggantungkan hidup dari perusahaan."
"Alesha adalah seorang wanita dewasa dan selalu memikirkan orang lain. Tanpa mementingkan diri sendiri dan itulah yang membuatku semakin jatuh cinta pada calon istriku."
Rafael saat ini seperti menjadi sosok pria lain ketika berbicara sangat manis di depan wanita paruh baya yang menjadi mertuanya tersebut. Jujur saja ia merasa sangat berdosa karena menipu seorang wanita yang sudah berumur dan juga baru sembuh dari sakit tersebut.
Namun, ia tidak punya pilihan lain karena saat ini yang dipikirkannya hanyalah membuat sang ibu tidak terus-menerus menyuruhnya menikah dengan alasan usia yang sudah banyak dan juga ingin menimang cucu.
Apalagi jika sudah menyangkut masalah usia sang ibu dengan mengatakan mungkin tidak bisa melihat kelahiran dari cucu jika meninggal terlebih dahulu.
Hal yang paling tidak disukai oleh Rafael adalah itu. Ibunya selalu memanfaatkan kelemahannya yang sangat menyayangi wanita paruh baya tersebut.
To be continued...
__ADS_1