I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Menghentikan kegilaan


__ADS_3

Pertama kali melihat wanita sebaik malaikat seperti mertuanya itu marah pada putranya, Alesha seketika membulatkan mata saat tamparan keras didapatkan oleh Rafael.


Awalnya ia berpikir bahwa mertuanya tidak akan semarah itu pada putra sendiri, tapi padanya, tapi ternyata semua benar-benar membuatnya merasa berdosa.


'Mama tetap bersikap baik padaku tanpa meledakkan amarah, tapi malah meluapkan semuanya pada putranya. Mama benar-benar adalah mertua yang sangat luar biasa baik.'


Alesha kehilangan kekuatan ketika membayangkan kebaikan ibu mertuanya yang tetap saja baik meskipun ia sakiti perasaannya. 'Mama, maafkan aku.'


Saat Alesha menyesali semua perbuatannya, kini ia melihat Rafael berbalik badan menatap ke arahnya. Ia siap menerima kemurkaan dari pria yang saat ini menatapnya dengan tatapan membunuh.


Hingga berkali-kali saliva terjun bebas ke tenggorokan begitu ia bersitatap dengan iris berkilat itu. Alesha memang merasa sangat bersalah karena mengatakan pada mertuanya tanpa menunggu pria itu yang berjanji akan menyelesaikan semuanya sendiri.


Namun, kali ini ia ingin membela diri sendiri agar tidak sepenuhnya disalahkan oleh pria yang sudah berdiri tepat dihadapan hingga mengikiskan jarak di antara mereka.


"Mama menyuruhku bersumpah atas nama ibuku untuk mengatakan yang sebenarnya. Lalu, tidak mungkin aku terus menyembunyikan kenyataan tentang pernikahan kontrak kita."


Sementara itu, Rafael yang saat ini mengepalkan tangan dengan menahan amarah bergejolak di dada dan ingin sekali meledakkannya pada wanita yang ada di hadapannya.


Seperti yang sering ia bilang bahwa jika yang dihadapi adalah seorang pria, mungkin sudah menuju habis-habisan hingga babak belur tanpa memperdulikan apapun.


Namun, yang dihadapi hanyalah seorang wanita lemah dan keras kepala karena selalu berbuat sesuka hati, kini mencoba untuk tidak menyentuh sehelai ujung rambut pun meski perasaan tidak karuan.


"Jika kau tidak membuat mamaku curiga, mana mungkin akan menyuruhmu bersumpah. Sebenarnya apa yang kau lakukan tadi hingga membuat mama merasa curiga? Bukankah aku sudah mengatakan akan menyelesaikan secara tepat waktu?"


"Apa karena kau sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan kekasihmu itu? Hingga tidak memperdulikan kasih sayang seorang mertua pada menantu yang selama ini sangat luar biasa memperlakukanmu sebagai ratu di rumah ini?"


Rafael memang tidak bisa meledakkan amarah secara fisik pada Alesha, sehingga memilih untuk mengumpat dan meluapkan perasaannya sesuai dengan apa yang dipikirkan olehnya.


Namun, kali ini ia merasa sangat terkejut karena tidak pernah menyangka jika akan kembali mendapatkan sebuah tamparan di pipinya.


Refleks Alesha mengangkat tangannya dan menampar pipi dengan rahang tegas di hadapannya karena kali ini sudah tidak bisa menahan diri lebih lama saat harga dirinya diinjak-injak oleh pria yang selalu saja menuduhnya macam-macam.


Bahkan selama ini ia hanya memikirkan pria yang dianggap sangat egois itu tanpa mengingat Alex sama sekali. Seolah cinta terpendam yang dulu ditujukan pada Alex sudah menghilang begitu saja tanpa bekas karena digantikan oleh pria yang selalu saja menyalahkannya.


Bahkan ia benar-benar sangat menyesal karena tidak bisa mengatur hatinya sendiri agar tidak jatuh cinta pada Rafael yang hanya bisa menyakiti perasaannya.


'Bantu aku untuk menyingkirkan serta memusnahkan rasa ini di hatiku. Aku tidak ingin terluka berkali-kali karena kalimat pedas yang menyakitkan dari si berengsek ini!' gumam Alesha yang saat ini memilih untuk segera menuruni anak tangga sambil mengangkat koper.

__ADS_1


Ia bahkan tidak ingin lagi berinteraksi dengan pria yang hanya bisanya menyakiti perasaannya. Bahkan suara bariton dari pria yang kini memanggil namanya, sama sekali tidak diperdulikan olehnya.


Alesha terus berjalan tanpa menoleh ke belakang dan berharap bisa segera keluar dari istana megah yang hanya membuatnya terluka.


'Membusuklah di neraka, pria berengsek!' sarkas Alesha yang saat ini berjalan dengan menarik koper ketika sudah berada di halaman depan dan menyuruh security untuk membuka pintu gerbang.


Sementara itu, Rafael yang tidak pernah menyangka akan mendapatkan tamparan untuk kedua kali dari Alesha, merasa tidak terima dan segera mengejar wanita yang dipanggil-panggil, tapi sama sekali tidak berhenti ataupun peduli padanya.


"Astaga! Dasar wanita keras kepala yang arogan. Ia bahkan pergi dengan membuat jejak di pipiku. Apa ia pikir akulah yang bersalah sepenuhnya? Hingga berani menamparku setelah melihat mama melakukannya?"


Rafael berpikir tidak akan bisa mengejar wanita yang sudah keluar dari pintu gerbang, sehingga memilih untuk masuk ke dalam mobil dan menyusul Alesha.


"Semoga wanita keras kepala itu belum jauh atau naik taksi." Rafael kini mengemudikan kendaraan menuju ke luar pintu gerbang dan melihat kanan kiri untuk mencari keberadaan sosok wanita yang pergi dalam keadaan marah, sama sepertinya.


Begitu melihat siluet belakang wanita yang terus melangkah sambil menarik koper, kini Rafael menginjak pedal gas agar bisa segera menyusul dan langsung membelokkan kendaraan tepat di hadapan Alesha untuk menghalangi jalannya.


Kemudian keluar dari mobil dan menghampiri wanita yang sudah menghentikan langkah. "Aku bahkan belum selesai berbicara denganmu, Alesha!"


Sementara itu, Alesha yang tadi memang sengaja menjauh dari rumah Rafael, karena berniat untuk naik taksi di depan gang yang merupakan jalan raya utama. Ia yakin jika Rafael merasa sangat marah atas tamparannya dan berniat untuk membalas dendam padanya, sehingga mengejarnya.


"Aku ingin bertemu Alex karena sangat merindukannya seperti yang kau bilang tadi!" Alesha memilih untuk mengatakan hal yang sama sekali tidak dipikirkan olehnya demi bisa membalas dendam karena hinaan dari pria yang masih tidak beranjak dari tempatnya tersebut.


Rafael yang merasa sangat kesal sekaligus marah, hanya tertawa terbahak meluapkan perasaan bergejolak yang dirasakan karena tidak bisa melakukan apapun pada wanita yang sudah ia ceraikan.


"Wah ... ternyata benar apa yang kukatakan tadi. Seharusnya tadi nama mendengar kau berbicara seperti itu. Oh ya, aku sangat penasaran bagaimana reaksi mama tadi. Apa kau juga merasakan tamparan dari mama?"


Ingin sekali Alesha terbahak dan tidak mau kalah dengan pria yang dianggapnya sama sekali tidak tahu apa-apa itu. Namun, ia ingin segera pergi dan tidak berurusan lagi dengan pria yang hanya meninggalkan luka di tak berdarah di hatinya.


"Tanya saja pada mama. Atau aku takut jika bertanya pada Mama akan mendapatkan tamparan untuk kedua kalinya? Aah ... sudahlah, aku tidak punya waktu berurusan dengan orang tidak penting sepertimu."


Kemudian Alesha memutar mobil, kini melanjutkan perjalanan dengan menarik kopernya. Ia ingin sekali segera mengakhiri momen yang menyakitkan ketika berhadapan dengan mantan suami.


'Aku akan baik-baik saja tanpa melihat si berengsek itu! Semoga aku tidak bertemu dan melihatnya lagi.'


Alesha merasa sangat terkejut ketika koper miliknya direbut oleh pria yang malah memasukkan ke dalam mobil dan membuatnya berang.


"Cepat masuk ke dalam mobil karena aku yang akan mengantarmu ke rumah keluarga Alex. Aku ingin melihat apakah kau diterima oleh keluarganya sebaik mamaku menerimamu."

__ADS_1


Rafael yang merasa sangat marah dan tidak bisa mengendalikan emosi lebih lama lagi, sehingga memutuskan untuk melihat sendiri pertemuan sepasang kekasih itu.


Jadi, tanpa pikir panjang, langsung mempunyai keinginan untuk mengantarkan Alesha yang selama ini sangat memuja mantan sugar daddy-nya.


Ia bahkan sudah menaruh koper di bagasi mobil dan berlanjut menarik pergelangan tangan wanita yang berteriak seolah menolak tawarannya untuk mengantarkan.


"Rafael, lepaskan!" sarkas Alesha yang saat ini berusaha untuk melepaskan diri dari kuasa pria yang sudah menariknya untuk masuk ke dalam mobil.


Pemaksaan yang membuatnya sangat marah karena saat statusnya sudah tidak lagi menjadi istri pria itu, masih belum bisa lepas sepenuhnya dari kuasa pria yang sangat ia benci.


"Aku bisa pergi sendiri dan tidak ingin kau mengantarku!" Alesha masih mencoba untuk tidak bergerak dengan menahan berat tubuhnya, tapi tidak bisa melakukannya karena sudah ditarik paksa oleh Rafael yang menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


Ia bahkan ingin berniat keluar, tapi tangannya kembali ditahan begitu Rafael mengunci mobil dan duduk di balik kemudi.


"Apa kau gila! Aku sekarang bukan lagi istrimu dan kau tidak berhak mengaturku! Aku ia pergi sendiri dan tidak ingin kau mengantarku!" Selain marah karena dipaksa oleh Rafael, Alesha pun merasa sangat khawatir karena ia sama sekali tidak berniat untuk menemui Alex.


Bahkan tidak pernah terpikirkan akan pergi ke rumah keluarga yang sama sekali tidak pernah mau menerimanya.


'Astaga! Bagaimana ini? Rafael benar-benar sudah gila karena memaksaku dengan mengantarkan aku ke rumah mak lampir itu.'


Alesha yang saat ini masih mengarahkan tatapan tajam pada pria yang sudah mengemudikan mobil keluar dari cluster mewah keluarga Zafran dan masih berusaha untuk menghentikannya.


"Rafael, apa kau tuli? Aku ingin keluar dari mobil dan pergi sendiri! Apa kau sama sekali tidak punya malu? Bukankah aku sudah bilang sangat muak padamu dan tidak ingin melihat wajahmu?"


"Tapi aku malah senang menampakkan wajahku di hadapanmu!" sarkas Rafael yang masih fokus mengemudi dan begitu sampai di jalan raya, menambah kecepatan untuk segera sampai di rumah keluarga besar Alex.


Ia dulu pernah mencari tahu semua hal mengenai Alex, sehingga mengetahui alamat pria itu. Rafael ingin melihat sendiri bagaimana pasangan kekasih yang dianggap tidak tahu malu itu bertemu untuk pertama kalinya.


'Aku ingin melihat bagaimana perubahan sikapmu ketika bersamaku dan saat bertemu dengan Alex. Aku sangat penasaran dan ingin mengetahuinya dengan mata kepalaku sendiri,' gumam Rafael yang saat ini masih tidak berniat untuk menoleh ke arah sebelah kiri.


Di mana sosok wanita yang tidak berhenti mengomel dan mengumpatnya. Seolah menunjukkan kebencian luar biasa padanya.


"Kau sudah gila, Rafael! Kau adalah pria paling berhasil yang pernah kukenal." Alesha tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menghentikan kegilaan dari pria yang akan mengirimnya ada sesuatu yang tidak diinginkannya.


'Apa yang harus kulakukan untuk menghentikan Rafael? Pria ini benar-benar sangat berengsek!' umpat Alesha yang memutar otak untuk menghentikan perbuatan pria yang mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2