I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Perasaan berkecamuk


__ADS_3

Kini sang asisten yang sangat terkejut dengan perkataan dari pria yang diketahui bernama Mark Zuckerberg tersebut, membulatkan mata atas perbuatan dari bosnya yang mengarahkan cekikan pada leher pria itu.


"Tuan, hentikan! Anda bisa membunuhnya!" Refleks langsung menghentikan perbuatan dari bosnya yang seperti sedang kerasukan setan.


Ia bisa melihat bos yang sangat dihormatinya itu sangat kacau dan juga penuh kemurkaan. Akhirnya dengan susah payah, berhasil melepaskan kuasa tangan yang dari tadi membuat pria di lantai itu tengah meringis kesakitan ketika dicekik.


"Saya tidak ingin melihat Anda berakhir di penjara, Tuan Arsenio. Itu akan membuat musuh Anda bersorak kegirangan karena berhasil dengan rencana jahatnya. Mereka akan merasa menang saat Anda terpuruk dan bernasib nahas di penjara."


"Serahkan saja semuanya pada para penegak hukum karena ini adalah tugas mereka!"


Sementara itu, Arsenio yang saat ini seolah kehilangan seluruh tenaga ketika mengetahui apa yang terjadi saat ia tidak sadarkan diri.


Bahkan saat ini ia tengah tertawa terbahak-bahak menanggapi semua hal yang menimpanya. Ia sudah seperti orang gila yang frustasi karena merasa bingung harus berbuat apa saat nasibnya bagaikan telur diujung tanduk.


Membayangkan saja ketika fotonya yang dibuat seolah-olah ia bercinta dengan wanita lain saat tidak sadar, mulai menghinggapi otak dan berpikir jika nasib rumah tangganya akan hancur.


"Apa yang akan terjadi jika istriku melihat foto-foto penuh kepalsuan itu? Apakah lebih baik aku menceraikannya."


Tentu saja pria yang merupakan orang kepercayaan itu seketika membulatkan mata begitu mendengar hal konyol yang baru saja ia dengar hari ini.


Ia berpikir, seharusnya bosnya menjelaskan perihal yang sebenarnya pada sang istri, bukan malah menceraikan dan membuatnya mengungkapkan nada protes dengan berbagai macam pertanyaan.


"Sebenarnya apa maksud Anda, Tuan Arsenio? Bukankah masalahnya sudah sangat jelas, Tuan? Karena ini hanyalah sebuah kesalahpahaman semata? Jadi, Anda tinggal menjelaskan saja jika sampai foto-foto itu."


Sementara Arsenio kini terlihat melayangkan tinjunya ke udara untuk melampiaskan amarah, berharap bisa meringankan beban berat yang tengah dirasakan.


"Andai saja semuanya sesimpel seperti yang kamu bicarakan."


Sang asisten hanya bisa geleng-geleng kepala begitu mendengar perkataan dari pria yang saat ini terlihat sangat kacau tersebut.


"Tuan Arsenio, saat ini Anda benar-benar sedang diliputi emosi dan perasaan sedang kacau."

__ADS_1


Mendengar perkataan dari asistennya tersebut hanya ditanggapi dengan suara Arsenio yang kembali tertawa terbahak-bahak. Namun, beberapa saat kemudian, suara tawa itu berubah menjadi suara yang bergetar.


"Aku ingin mendinginkan kepalaku. Kamu urus saja semuanya!"


Tanpa menunggu jawaban dari asistennya, Arsenio berjalan meninggalkan orang kepercayaannya tersebut.


Sang asisten masih terdiam membisu di tempat karena merasa sangat bingung apa yang akan dilakukan hari ini.


Beberapa saat kemudian, Arsenio sudah berada di dalam mobilnya. Ia mengemudi dengan perasaan berkecamuk dan membuncah.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sebentar lagi akan hancur. Saat aku tidak punya apa-apa, tidak ada yang bisa kubanggakan lagi."


"Aku tidak ingin kehilangan semuanya, tapi juga tidak bisa melakukan apapun."


Saat Arsenio sibuk meluapkan perasaan dengan berbicara sendiri di dalam mobil, beberapa saat kemudian bunyi dering ponsel miliknya berbunyi dan saat ia melihat, ada panggilan dari ayah angkatnya—Giovani Adelardo.


Ia tahu jika pria paruh baya itu pasti akan memarahinya habis-habisan karena kecerobohan yang bisa sampai ditipu oleh orang yang mengaku sebagai investor.


"Ya, Dad?"


"Ada di mana kau sekarang?"


"Aku sedang menuju ke apartemen, Dad."


Arsenio yang tadinya menunggu tanggapan dari pria di seberang telpon, mengerutkan kening begitu tidak ada jawaban dan beberapa detik kemudian, sambungan sudah diputuskan.


"Apa maksud Daddy memutuskan panggilan tanpa berbicara apa-apa? Sepertinya ia akan menghajarku habis-habisan di apartemen."


Arsenio yang saat ini memilih pasrah, kembali fokus mengemudi dan setengah jam kemudian tiba di apartemen.


Kemudian ia memarkirkan mobilnya di tempat tersedia dan langsung beranjak keluar dan berjalan menuju ke arah lobi. Hingga ketika ia hendak masuk ke dalam lift, mendengar suara bariton yang sangat dikenalnya dan membuatnya seketika menoleh.

__ADS_1


Namun, ia seketika terhuyung ke belakang beberapa langkah saat mendapatkan sebuah pukulan yang seketika membuat sudut bibirnya berdarah.


"Dasar bodoh!" sarkas Adelardo yang baru saja berjalan masuk begitu pintu terbuka.


Arsenio mendapatkan beberapa kali tinju di wajah dan perut dari ayah angkatnya.


Bahkan umpatan kasar ia terima karena sang ayah merasa marah dan kesal padanya. Hingga kalimat yang diucapkan oleh sang ayah seperti mengulitinya hidup-hidup.


"Dasar bodoh! Kenapa kau bisa dikalahkan oleh bajingan tengik yang hanya mengincar hartaku itu! Nick tidak boleh menang dan kau harus menyelesaikan semua masalah yang terjadi di perusahaan!" sarkas Adelardo yang tidak ingin melihat Arsenio hancur.


"Bagaimanapun caranya, lawan Nick dan perbaiki perusahaan karena aku percaya padamu," ucap Adelardo yang saat ini benar-benar menaruh harapan besar pada Arsenio.


Setelah mengungkapkan kemurkaannya, Adelardo melangkah pergi meninggalkan Arsenio tanpa menoleh lagi.


Sementara itu, saat ini Arsenio memijat pelipisnya saat mengingat perkataan dari sang ayah semalam.


'Padahal aku ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini karena merasa tidak berguna, tapi daddy menyuruhku untuk mengalahkan keponakannya yang jahat itu. Itu berarti, daddy memberikan aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua dan juga menghancurkan bajingan tengik itu,' gumam Arsenio yang kini tengah memutar otak untuk mencari cara menghancurkan sosok pria yang menjadi penyebab kehancurannya.


Tadi Arsenio memang tidak pulang ke rumah karena ingin menenangkan pikiran di apartemen. Apalagi saat ini benar-benar pikiran dikuasai oleh banyak beban berat.


Mulai dari perusahaan yang terancam mengalami kebangkrutan dan tadi berbuat hal yang kasar pada Aeleasha saat mengingat jika pria itu adalah putri dari wanita yang membunuh orang tuanya.


Arsenio yang merasa sangat marah, kini memilih untuk meluapkan emosi dengan cara menghancurkan semua barang yang dilihat. Hingga beberapa saat kemudian terlihat apartemen berantakan dengan barang-barang yang hancur dan berserakan di lantai.


Hingga ia memilih untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. "Aku lebih baik tidur karena rasanya kepalaku bisa meledak saat ini."


Arsenio berusaha untuk memejamkan mata dan berharap bisa segera tertidur. Sebenarnya merasa tidak nyaman tidur tanpa istri, tapi karena masalah yang dihadapi, sehingga mau tidak mau harus bisa menerima semua ini.


"Aku sangat mencintaimu, tapi orang tuaku pasti akan marah dari sana,' gumam Arsenio dengan perasaan berkecamuk.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2