
Bahkan Alesha saat ini hanya diam saja ketika melihat pria itu mencoba untuk memeriksa jarum infus di tangannya. Ia bahkan merasa sangat terharu dengan perhatian yang ditunjukkan oleh sang suami saat ini.
'Rafael masih suamiku karena hanya memberikan talak 1 dan kami bisa rujuk kembali,' gumam Alesha yang sempat mencari informasi mengenai talak dari seorang suami pada istri dan memastikan bahwa ia dan Rafael bisa rujuk tanpa melakukan pernikahan lagi.
"Maafkan aku, Sayang. Tadi aku khilaf," sahut Rafael yang saat ini menutupi kebodohannya karena ceroboh ketika reflek menggelitik tubuh Alesha agar berbicara jujur padanya.
"Biar aku panggilkan dokter atau perawat dulu untuk memeriksanya!" Saat Rafael berniat untuk berbalik badan, tangannya ditahan oleh jemari lentik wanita yang melarangnya untuk pergi.
Alesha seketika menggelengkan kepala begitu bersitatap dengan Rafael yang menoleh ke arahnya. "Tidak perlu! Aku baik-baik saja dan ini akan kembali seperti semula jika tanganku kembali diluruskan seperti ini."
Alesha kemudian menunjukkan jika lama-kelamaan sudah tidak ada lagi darah yang keluar dan perlahan cairan berwarna merah itu menghilang terkena cairan infus.
Hingga ia mendengar suara dari seorang wanita yang sangat dihafalnya dan membuatnya seketika menoleh ke arah sebelah kanan.
"Putriku!" teriak sosok wanita paruh baya yang langsung menghambur untuk memeluk tubuh menantu kesayangan yang sudah dianggap seperti putri sendiri.
__ADS_1
Ia dan besannya tadi berdiri sangat lama di luar karena berbicara panjang lebar mengenai Alesha yang hamil tanpa ada yang mengetahui dan membuatnya merasa sangat bersalah sebagai seorang mertua.
Tiana benar-benar tidak pernah menyangka jika menantu kesayangannya tengah mengandung benih putranya yang dianggap sangat bodoh karena tidak mengetahuinya.
Bahkan karena menyadari sangat marah pada putranya, refleks ia langsung melepaskan pelukan dan berdiri tegak, lalu meraih daun telinga putranya dan memutarnya dengan sangat kuat.
"Dasar suami tidak tahu diri karena menyia-nyiakan menantu kesayangan Mama. Sekarang Mama akan benar-benar menghukummu karena telah menyakiti perasaan seorang wanita yang hamil muda dan butuh perhatian."
Tiana benar-benar sangat marah pada putranya karena telah menghamili Alesha, lalu mengucapkan talak untuk memilih berpisah. Ia tidak bisa mentolerir perbuatan Rafael karena lari dari tanggung jawab sebagai seorang suami dan calon ayah.
"Aduh, Ma! Sakit, Ma! Telingaku bisa putus jika Mama terus memelintirnya!" teriak Rafael yang saat ini tengah menahan rasa sakit luar biasa pada daun telinganya yang seperti mau putus.
Hingga ia merasa sangat lega begitu mendengar perkataan dari Alesha.
"Mama, jangan menghukum Rafael karena ia tidak bersalah. Akulah yang bersalah karena menutupi semuanya dari Rafael," ucap Alesha yang saat ini ingin jujur mengenai hal yang selama ini disembunyikan.
__ADS_1
"Rafael saat itu melakukannya dalam keadaan mabuk dan keesokan paginya sama sekali tidak mengetahui. Jadi, aku saat itu berbohong ketika ia bertanya. Bahwa sama sekali tidak terjadi apapun di antara kami."
"Padahal saat itu ia curiga jika terjadi sesuatu, tapi Aku membantah karena harga diriku terlalu tinggi dan tidak mau mengaku karena merasa malu saat ia sama sekali tidak bisa mengingat apapun." Alesha saat ini membuang ego dan juga harga dirinya agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Alesha tidak ingin hanya karena dirinya, membuat hubungan ibu dan anak itu bertambah buruk karena ia mengetahui bahwa mertuanya sangat menyayanginya seperti putri sendiri.
"Semua ini berawal dari harga diriku yang terlalu tinggi, Ma. Jadi, aku membohongi Rafael bahwa di antara kami tidak terjadi apapun saat ia dipengaruhi oleh minuman beralkohol."
Seketika Tiana melepaskan tangannya dari telinga Rafael dan mengerti pusat permasalahan yang menjadi kesalahpahaman antara putranya serta sang menantu. Namun, saat hendak berbicara, tidak jadi melakukannya karena mendengar suara bariton dari Rafael.
"Aah ... jadi seperti itu? Kamu merasa sangat terhina karena aku tidak bisa mengingat kejadian itu? Jadi, kamu berbohong bahwa di antara kita tidak terjadi apa-apa." Rafael sengaja mengeraskan nada suaranya agar sang Ibu tidak kembali marah dan menyalahkan dirinya sepenuhnya.
Meskipun ia tahu bahwa Alesha memang bersalah, tidak akan pernah menyalahkan wanita yang membuatnya menyadari arti dari cinta sejati. Kemudian menoleh ke arah sang ibu begitu melihat Alesha menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
"Mama salahkan saja aku dan jangan pernah memberikan hukuman pada ibu dari anakku," ucap Rafael yang sengaja ingin membuat semua orang bangga padanya karena melindungi sang istri agar tidak disalahkan.
__ADS_1
To be continued...