I Love You My Sugar Daddy

I Love You My Sugar Daddy
Ibarat kaca yang pecah


__ADS_3

Alesha sudah berada di dalam taksi yang menuju ke tempat kos teman baiknya yang selama ini menjadi sugar baby seperti dirinya. Hanya saja, nasibnya berubah setelah bertemu dengan Rafael yang menyuruhnya hanya menjadi sugar baby pria itu.


Ia awalnya berpikir bahwa Rafael hanya akan menjadi sugar daddy seperti biasa, tapi sama sekali tidak menyangka jika pria itu hanya ingin bekerja sama dengannya untuk menipu publik dan juga khususnya seorang ibu yang menginginkan putranya segera menikah.


Alesha bahkan sudah memiliki rencana akan kembali pada Alex setelah satu bulan Rafael menceraikannya. Namun, semua hancur berantakan hanya dalam semalam. Ia saat ini sudah sibuk meremas kedua sisi pakaian yang dikenakan.


'Apa yang akan terjadi padaku setelah kehilangan kesucianku? Bahkan aku menyerahkan pada pria yang selama ini sama sekali tidak mencintaiku karena belum bisa move on dari mantan istrinya.'


'*Padahal dari dulu aku memimpikan akan menyerahkan kesucian pada suami yang sangat mencintaiku. Kenapa impian kecil itu saja tidak bisa menjadi kenyataan?'


'Bahkan aku rela membuang mimpi kuliah ketika harus membanting tulang demi bisa membiayai pengobatan ibuku*,' gumam Alesha yang saat ini kembali berurai air mata ketika mengingat mengenai masa lalu dan juga hal yang baru saja dialami semalam.


Kini, ia sudah menangis tersedu-sedu di dalam taksi dan sama sekali tidak memperdulikan sopir yang pastinya mendengarkan suara isak tangisnya.


Alesha saat ini sudah bersimbah air mata dengan wajah sembab dan tidak bisa menghentikan tangisan ketika mengingat jika semalam tidak bisa menolak semua yang dilakukan oleh Rafael.


Seperti sudah mengetahui akhir dari nasibnya karena Rafael selama ini tidak pernah mencintainya dan pastinya tidak mau bertanggung jawab untuk perbuatan semalam.


Hal yang terpikirkan oleh Alesha adalah Rafael akan tetap menceraikannya dan memberikan uang sebagai kompensasi dari kegiatan intim semalam. Membayangkan semua itu, Alesha sudah mengarahkan tangan untuk memukul kepala karena menyesali perbuatan ketika sangat menikmati setiap sentuhan Rafael.


'Apa bedanya aku dengan seorang pelacur yang selama ini disebutkan oleh Rafael? Pasti bajingan itu berpikir bahwa aku tak lebih dari seorang wanita murahan karena sama sekali tidak menolak.'


Alesha masih terus mengumpat diri sendiri di dalam hati dengan memukul kepala untuk melampiaskan segala amarah yang membuncah di dalam hati. Hingga ia mendengar suara bariton dari pria di balik kemudi yang menegurnya.

__ADS_1


"Nona, jangan menyiksa diri sendiri saat mengalami masalah. Anda harus berbagi cerita untuk mencari sebuah solusi dari masalah yang Anda hadapi. Tuhan menciptakan Anda bukan untuk menyakiti diri sendiri seperti itu," ujar pria paruh baya yang saat ini tengah menatap sekilas pada spion mobil.


Awalnya tidak ingin menegur wanita yang menangis tersedu-sedu di dalam taksi karena berpikir bahwa penumpang membutuhkan ketenangan dengan cara menangis tanpa mendapatkan komentar dari orang lain.


Namun, ketika mendengar suara pukulan yang dilakukan oleh wanita itu pada kepala sendiri, sehingga membuatnya merasa sangat iba dan kali ini tidak bisa tinggal diam. Ia adalah seorang ayah yang memiliki putri dan sudah menikah serta tinggal bersama sang suami.


Ia membayangkan jika putrinya ada di posisi wanita yang duduk di kursi penumpang tersebut, yaitu menyakiti diri sendiri. Jadi, ia berpikir bahwa kebaikan yang dilakukannya bisa menyelamatkan putrinya dari hal-hal buruk yang tidak diinginkan.


Sementara itu, Alesha yang tadinya masih sibuk memukul kepala untuk melampiaskan amarah sekaligus penyesalan pada diri sendiri, menatap ke arah sang supir dan mendengar pria itu kembali berbicara.


"Jika Anda tersakiti oleh seorang pria, harus kuat dan tidak menganggap bahwa semua yang terjadi adalah akhir dari hidup. Wanita adalah makhluk mulia paling kuat karena bisa menanggung beban terberat yang ditakdirkan oleh Tuhan, sekalipun itu adalah hal terburuk."


Saat sang supir baru saja menutup mulut, Alesha berniat untuk menanggapi jika ia bukanlah seorang wanita sekuat itu. Namun, suara dering ponsel di dalam tas terdengar memenuhi ruangan di dalam taksi.


Alesha yang akhirnya tidak jadi berbicara, kini membuka tas dan melihat siapa yang menghubungi. Awalnya, berpikir bahwa sahabat baiknya yang menelpon untuk menanyakan kenapa belum sampai juga ke tempat kos.


Namun, ia membulatkan mata begitu pria yang semalam berhasil merenggut kesuciannya menghubungi. Alesha menelan saliva dengan kasar karena saat ini kebingungan untuk melakukan apa.


'Rafael sudah bangun. Apa ia menelponku karena ingin membahas mengenai kejadian semalam?' gumam Alesha yang saat ini masih tidak berniat untuk mengangkat telepon dari Rafael.


Bahkan hanya dengan membaca kontak pria itu, Alesha merasa sangat marah sekaligus menyesal karena bertemu dengan Rafael.


Alesha hanya diam tanpa berniat untuk mengangkat telepon dan mendengar suara sang supir yang kembali membuatnya mengingat mengenai kejadian semalam.

__ADS_1


"Kenapa tidak diangkat, Nona? Sepertinya itu benar adalah telepon dari kekasih Anda. Bukankah itu merupakan pertanda baik saat kekasih Anda menghubungi karena sangat mengkhawatirkan?"


Sang supir yang kini menyadari bahwa kasih yang dikemudikan sudah tiba di tempat tujuan, sehingga tidak bisa lagi berbicara panjang lebar pada penumpang dan menepikan kendaraan di depan sebuah bangunan dengan pintu gerbang besi berwarna putih.


"Sudah sampai, Nona. Apa benar ini tempatnya?" tanya pria paruh baya yang menoleh ke belakang untuk melihat dengan jelas wajah wanita dengan mata memerah dan sembab karena sepanjang perjalanan menangis.


Alesha seketika membersihkan bulir air mata yang membasahi wajah karena tidak ingin terlihat mengenaskan saat berjalan masuk ke tempat kos teman baiknya. Bahkan ia sudah menganggukkan kepala dan mengambil uang dari dalam dompet, selalu menyerahkan pada sang supir.


"Iya, benar. Terima kasih atas semua saran dari Anda hari ini." Alesha mengambil tas selempang miliknya dan langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu tanggapan dari sang supir.


Namun, ia mendengar jika pria di balik kemudi tersebut mengucapkan terima kasih dan suara deru mobil kini menandakan jika kendaraan yang ditumpangi setelah melaju meninggalkan tempat kos.


Alesha yang saat ini berjalan masuk setelah membuka pintu gerbang karena dari dulu sudah terbiasa ke tempat kos sahabat baiknya. Ia merasa lega karena Rafael tidak lagi menelpon setelah tidak diangkat.


Namun, saat mengangkat tangan untuk mengetuk pintu ruangan kamar kos sahabatnya, Alesha mendengar suara notifikasi dari ponsel.


Merasa penasaran siapa yang mengirimkan pesan dan berpikir bahwa itu adalah Rafael, Alesha langsung mengambil benda pipih di dalam tas dan memeriksa. Begitu ia membaca pesan di ponselnya, seketika tangannya gemetar dan benda pipih yang digenggam lolos dan terhempas ke atas lantai hingga layarnya retak.


Bahkan retaknya ponsel seolah mewakili jika saat ini sama dengan hatinya yang hancur berkeping-keping ibarat kaca yang pecah dan tercerai berai.


'Tidak! Ini tidak mungkin,' lirih Alesha yang saat ini jatuh terduduk dengan posisi berjongkok dan bulir air mata kembali menganak sungai di wajahnya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2