
Arsenio yang masih tidak berkedip menatap wajah polos sang istri, kini tidak bisa menahan lebih lama untuk menjawab pertanyaan dari bibir sensual selalu menjadi candunya tersebut.
Refleks ia langsung membuka selimut tebal berwarna putih yang melindungi tubuh Aeleasha dan menampilkan kaki jenjang putih mulus tersebut.
'Sayang, kamu sendiri yang telah membangunkan macan tidur. Bagaimana kamu masih tidak mengerti jawabannya? Padahal sering melakukannya padamu,' gumam Arsenio dengan tersenyum smirk.
"Kamu yang memulainya. Aku akan memberitahu jawaban dari pertanyaanmu itu." Arsenio memicingkan mata saat Arsenio melindungi gaun yang hendak disingkap.
Aeleasha yang merasa ada hal tidak beres dari tatapan sang suami, serta senyuman penuh seringai seperti mau memangsanya, mengerti apa yang akan dilakukan jemari dengan buku-buku kuat itu, sehingga tidak ingin jatuh dalam jebakan.
"Sayang, apa yang akan kamu lakukan? Jangan macam-macam!" sarkas Aeleasha yang kini kedua tangannya masih menahan gaun bagian bawah dan mengarahkan tatapan tajam untuk menghentikan kegilaan sang suami.
Masih pada posisi semula, yaitu duduk di sebelah kiri, Arsenio kini hanya tertawa terbahak-bahak. "Sayang, bukankah kamu sendiri yang bertanya padaku? Aku hanya ingin memberitahu jawaban atas pertanyaanmu."
"Astaga! Apa maksudmu?" tanya Aeleasha yang kini memijat pelipisnya karena merasa sangat pusing mendengar kalimat ambigu sang suami dengan tatapan menyeringai tersebut.
Masih tidak berhenti tersenyum menyeringai, kali ini Arsenio mengingatkan sosok wanita yang masih tidak menyadari kebodohan sendiri. "Bukankah kamu tadi bertanya padaku tentang ini?"
Arseneomenjulurkan lidahnya, lalu kembali melanjutkan perkataan. "Aku ingin memberitahukan jawabannya, Sayang?"
Aeleasha yang kali ini masih mengerutkan kening karena belum memahami perkataan dari Arsenio, harus bersabar saat pria tersebut selalu memberikan teka-teki. "Aku meminta sebuah jawaban, bukan menyuruhmu untuk berbuat macam-macam."
'Astaga, sepertinya aku harus selalu bersabar menghadapi suamiku yang sangat nakal ini,' lirihnya yang kali ini hanya bisa mengumpat di dalam hati.
Bukan hanya Aeleasha yang merasa pusing, tetapi hal yang sama kini dirasakan oleh Arsenio saat ini karena merasa bahwa dirinya seperti sedang berbicara dengan seorang bayi.
Kali ini, ia memijat pelipis dan menjelaskan dengan sangat detail mengenai jawaban dari pertanyaan wanita dengan tatapan tajam menusuk tersebut.
"Bukankah aku selalu memakai ...." Kembali menjulurkan lidah, "saat melakukan foreplay sebelum kita bercinta? Bukankah kamu selalu bergerak menaikkan pinggang? Apakah sekarang kamu sudah memahaminya, Istriku?"
__ADS_1
Arsenio mengakhiri perkataannya dengan sebuah kedipan mata untuk menggoda Aeleasha yang terlihat sangat memerah raut wajah dan sudah bisa dipastikan tengah digulung rasa malu karena berani bertanya mengenai kalimat ejekan yang telah ia ungkapkan.
Otak Aeleasha seketika menangkap penjelasan dari sang suami dan refleks membuatnya merasa seperti kehilangan muka lagi. Refleks ia memilih untuk membanting tubuhnya dengan kasar di atas ranjang.
Tentu saja dengan sangat kesal ia memunggungi sosok pria yang semakin membuatnya merasa sangat malu serasa ingin menenggelamkan diri di dasar laut saat ini.
'Dasar bodoh! Astaga, jika aku tahu jawabannya itu, tidak mungkin bertanya tadi. Pasti ia mau praktek untuk kesekian kali. Kenapa aku malah terlihat seperti memancing suamiku untuk bercinta?' umpat Aeleasha yang kali ini memilih untuk menyembunyikan wajah di balik selimut tebal yang baru saja ditarik untuk menutup kaki sampai ujung kepala.
Sementara itu, Arsenio yang kali ini tengah terkekeh geli menanggapi pergerakan sang istri merasa sangat malu padanya karena sudah tidak mengeluarkan suara dan sibuk bersembunyi dengan posisi memunggunginya.
Refleks ia yang sangat gemas pada sosok wanita di bawah selimut tersebut, langsung ikut masuk ke dalam dan memeluk erat tubuh ramping itu. Tidak hanya itu saja, ia kini berbisik di dekat daun telinga Aeleasha sambil tersenyum menyeringai.
"Ini selalu berhasil membuatmu mengangkat pinggang saat mencapai puncak kenikmatan. Ingat itu baik-baik di pikiranmu, Sayang. Kalau kamu mau lagi, katakan saja karena aku akan dengan senang hati membuatmu berkali-kali mendesah tanpa meminta imbalan."
Bulu kuduk Aeleasha semakin meremang saat daun telinganya bersentuhan dengan bibir Arsenio yang baru saja mengungkapkan kalimat vulgar. Ia yang dari tadi memejamkan mata, tidak berniat untuk membuka suara membalas kalimat nakal tersebut.
Ia bisa merasakan kehangatan yang disalurkan sosok pria dengan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. 'Sialan. Dia selalu membuatku seperti tidak mempunyai muka lagi.'
"Sekarang istriku yang manis ini kembali merasa malu, hingga tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Baiklah, tidak apa-apa. Kamu hanya diam mendengarkan semua yang ingin aku katakan padamu. Jadi, dengarkan saja semuanya karena malam ini, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Arsenio sengaja menjeda kalimatnya beberapa detik karena ingin memberikan waktu pada Aeleasha untuk menata hati sebelum mengungkapkan perasaan.
Meskipun Arsenio masih belum melihat pergerakan Aeleasha setelah ia berbisik tadi, berpikir bahwa wanita di hadapannya tersebut masih mendengarkan. Ia pun melanjutkan apa yang ada di kepalanya, berharap sang istri akan semakin mencintainya.
"Sayang, aku merasa bahwa apapun yang kulakukan padamu merupakan jembatan untuk membuka pintu hatimu. Perjuangan panjang yang selama ini kulakukan untuk mencarimu tidaklah sia-sia dan sekarang menjadi pemenang sejati."
"Menikah adalah tujuan terakhir yang paling dinantikan dan semakin bahagia setelah mendengar kamu memutuskan untuk hamil lagi, aku merasa menjadi seorang pria yang paling sempurna."
Ia pun kini mengerakkan tubuhnya untuk membuka selimut tebal yang tadi melindungi wajahnya dan berbalik badan. Begitu melihat pria yang saat ini tengah mengarahkan tatapan penuh cinta, kini ingin membahas masalah anak.
__ADS_1
"Sayang, jika aku tidak melahirkan anak perempuan bagaimana? Aku ingin dua anak saja, laki-laki dan perempuan. Namun, jika ternyata yang kulahirkan adalah anak laki-laki lagi, bagaimana?"
Terlihat Arsenio yang kini tengah ber-sitatap dengan sang istri, agak ragu untuk menjawab, tapi hanya mengungkapkan apa yang terlintas.
"Apa lagi. Tentu saja kita akan mencobanya lagi karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan."
Refleks Aeleasha menepuk jidat begitu mendengar jawaban dari sang suami dan membuatnya kesal. "Menyebalkan! Ini saja aku masih takut karena belum melupakan susahnya saat hamil dan melahirkan."
"Kamu membuatku mengingat saat aku hamil Arza dulu tanpamu. Aku selalu menyebutmu seorang pecundang! Pecundang tidak berguna!" ucap Aeleasha dengan terkekeh geli saat melihat respon wajah Arsenio yang memerah seperti sangat kesal mendengar ceritanya.
"Sekarang katakan padaku, dari mana asal kalimat pecundang tidak berguna itu!" sarkas Arsenio dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
Sementara itu, Aeleasha kali ini memilih diam saja karena hanya bisa mengumpat di dalam hati.
'Lebih baik kamu diam saja jika ingin selamat.'
"Aku sangat mengantuk, Sayang." Aeleasha berpura-pura menguap dan memejamkan mata. Berharap sang suami melupakan perkataannya.
Arsenio yang berada di bawah selimut, merasa sangat panas dan menyingkirkan dari atas tubuhnya.
Ia merasa sangat kesal saat melihat sang istri sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang diajukan. Apalagi sosok wanita yang saat ini masih dipeluknya tersebut sama sekali tidak bergerak, atau pun membuka mulut untuk menjawab pertanyaannya.
"Kamu sudah tidur? Aku tahu kalau kamu belum tidur, jadi jangan berpura-pura di depanku." Arsenio mengarahkan tangannya untuk membuat posisi Aeleasha yang dari tadi memunggunginya berbalik badan.
Saat tubuh seksi itu kini berubah telentang dan melihat Aeleasha masih tak kunjung membuka mata, ia kembali beraksi untuk memiringkan ke arahnya. Kini, ia bisa melihat dengan jelas wajah cantik dengan pahatan sempurna yang ada di hadapannya tersebut.
"Jika kamu tetap diam dan tidak mau membuka mata, jangan salahkan aku mengangkat pinggangmu dengan lidahku," ujar Arsenio yang kini tersenyum smirk dan menunggu pergerakan dari wanita dengan posisi mata masih terpejam tersebut.
'Jika istriku diam, itu berarti ingin kembali merasakan sensasi kenikmatan luar biasa saat meledakkan puncak gairah,' lirih Arsenio yang kini melihat pergerakan dari sosok wanita yang mulai membuka mata dan ber-sitatap dengannya.
__ADS_1
"Jangan pernah berpikir bisa kabur atau mengalihkan pembicaraan sebelum menjawab asal muasal dari kalimat umpatan pecundang tidak berguna!" Mengarahkan tatapan tajam dengan aura mengintimidasi.
To be continued...